
Seminggu berlalu setelah kejadian di mana Alin harus merelakan dirinya masuk ke dalam perangkap Dhyo waktu itu? Ah, bukan. Tepatnya dialah yang telah membuat perangkap itu sendiri dan masuk ke dalamnya dengan sendirinya. Tidak bisa terus menyalahkan Dhyo karena dialah yang mengajak Dhyo ke kelab pada malam itu.
Hanya karena hatinya hancur oleh Rey yang tidak mengabarinya waktu itu dan pria itu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Maka, Alin membuat dirinya sendiri mabuk berat dan kejadian itu harus terjadi tanpa pernah diinginkan olehnya.
Sejenak, dia berhenti tepat di depan ruangan Dhyo. Dia ke kantor Dhyo setiap hari dan terus berada di sisi pria itu untuk beberapa waktu karena takut jika sesuatu terjadi pada dirinya dan juga dia tidak ingi jika Dhyo telah menidurinya dan pergi begitu saja.
Setelah mendapatkan perintah masuk dari sekretaris pria itu. Alin langsung masuk ke dalam ruangan Dhyo dan duduk dengan kesal dan melemparkan tasnya ke atas sofa dengan raut wajah yang benar-benar kesal.
“Kenapa lagi sih?” tanya Dhyo yang beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Alin begitu saja kemudian merangkul perempuan itu.
“Semua berantakan gara-gara kamu, aku jadi nggak bisa dekati Rey sekarang,”
“Kenapa nggak bisa?”
“Bagaimana kalau perbuatan kamu itu menghasilkan Sesuatu yang sama sekali nggak aku inginkan?”
“Maksud kamu hamil?” tanya Dhyo kemudian dibalas dengan anggukan oleh Alin. Pria itu tertawa dengan keras seperti dipaksakan dan langsung menggenggam tangan Alin. “Aku bakalan tanggung jawab kok. Aku sudah bilang kalau selama ini aku serius sama kamu,”
“Tetap saja aku nggak bakalan pernah mau sama kamu,”
“Alasannya?”
“Karena aku nggak pernah sayang sama kamu, Dhyo. Harusnya kamu ngerti dengan hal itu. Dan nggak seharusnya kamu maksain diri untuk ngelakuin hal bodoh itu yang tentu saja merugikan aku. Bahkan aku sendiri nggak bisa terus bahagia kalau kamu seperti ini. Buktinya sekarang aku nggak bisa dekati Rey,”
Dhyo melepaskan tangannya yang baru saja dipegannya. Pria itu menggertakkan giginya dengan keras karena tidak suka jika perempuan itu terus saja menyebutkan nama Rey seolah-olah dia tidak berharga sama sekali. Bagaimanapun juga dia mencintai Alin. Tidak mau jika perempuan itu jatuh ke dalam pelukan pria lain.
“Lakukan saja apa yang kamu mau, Alin. Bahkan saat kamu mau mendekati, Rey silakan saja. Asal jangan pernah kamu usik istrinya. Kamu harus tahu bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan yang hamil dan tidak ditemani oleh suaminya. Justru suaminya sedang asyik bersama perempuan lain,” ucap Dhyo dengan kesal kemudian berdiri memunggungi Alin.
Perempuan itu terdiam dan menatapi punggu Dhyo yang berkata demikian. “Apa hak kamu untuk larang aku lakukan ini?”
“Karena aku nggak mau kamu jadi perebut suami orang, kamu masih punya harga diri,”
“Aku kemari untuk mastiin kamu tanggung jawab atau nggaknya. Bukan untuk ngurus semua apa saja yang bakalan aku lakuin. Bukan berarti kamu bebas kekang aku setelah apa yang kamu lakuin waktu itu. Dhyo, harusnya kamu sadar diri kalau selama ini aku nggak pernah cinta sama kamu. Kamu saja yang terlalu memaksakan diri untuk terus berada di sisi aku,” ucap Alin dengan kekehan yang dipaksa.
Pria itu tentu saja tidak akan peduli lagi apa yang akan diperbuat oleh Alin. Akan tetapi dia telah merekam kejadian malam itu sebagai senjata untuk menggertak Alin jika dia sudah mulai dengan tingkah gilanya dan kelewatan batas.
“Pergilah! Jika kamu hamil, maka kembalilah,”
“Rey yang bakalan tanggung jawab. Jadi kamu tenang saja,”
Dhyo tetap tidak mau menatap Alin dan membiarkan perempuan itu pergi dari sisinya. Lihat saja nanti siapa yang akan hancur dengan sendirinya oleh perbuatannya. Alin tidak akan pernah bisa untuk menghancurkan Rey dan juga Marwa. Rencana Dhyo selanjutnya adalah untuk membuat Alin sadar dengan apa yang diperbuatanya. Dia tidak akan pernah melepaskan Alin. Cukup mengawasi gerak-gerik perempuan itu dan membuat Alin perlahan menyadari apa saja yang telah diperbuatnya.
Alin keluar begitu saja dan pergi ke kantor Rey. Dia tidak akan pernah menyerah untuk hal ini. Bagaimana pun juga caranya dia harus mendapatkan pria sebaik Rey yang begitu menghargainya. Seminggu dia tidak pernah ke tempat itu karena perbuatan Dhyo yang waktu itu sempat membuatnya down. Tapi, dia tidak akan menyerah saat ini. Apa pun yang terjadi, dia akan memikirkan berbagai cara melakukan itu semua demi memenangkan hati Rey.
Dia pun tiba di kantor Rey dan masuk begitu saja. Tapi, dia tidak ditanggapi oleh Rey. Justru pria itu sibuk dengan pekerjaannya.
Rey tidak menatapnya sama sekali. “Bisa keluar? Aku sibuk,” perintahnya dengan dingin. Inilah waktu di mana Alin benar-benar kesal dengan tingkah laku yang dilakukan oleh Rey yang sekarang.
“Rey kamu apa-apaan sih?”
“Belum puas juga kamu Alin? Aku udah bilang aku nggak mau lanjutin ini semua dan mau semua ini berakhir. Kamu harusnya ngerti, gimana selama ini aku udah berusaha hindari kamu,”
“Oh, itu alasan kamu? Itu yang buat kamu selama ini nggak pernah hubungi aku hanya karena kamu mau putus? Ingat Rey aku nggak pernah setuju dengan putus sebelah pihak,”
“Keluar!”
“Tapi Rey, aku mau ngomong sama ka-“
“Maaf Pak, ada Pak Azka yang datang,” ucap sekretaris Rey yang kemudian membuat pria itu langsung terkejut. Tidak pernah ada pemberitahuan sebelumnya, “Alin, please sebelum Papa lihat. Kamu sembunyi, oke nanti aku susul ke restoran aku. Tapi aku mohon sekarang kamu keluar dan sembunyi di resepsionis sebelum Papa aku lihat,” ucapnya buru-buru untuk menyembunyikan Alin.
“Pak Azka ada di luar, Pak. Dia sedang ngobrol dengan manager bapak,” ucap sekretarisnya.
“Bukannya bagus kalau Papa kamu lihat calon menantuya di sini?”
Rey benar-benar kesal dengan tingkah laku, Alin. Dia pun langsung memutar tubuh Alin dan menyuruh perempuan itu keluar. Baru saja dia meminta Alin keluar, papanya datang. “Oh, kamu ada tamu, Rey?” tanya papanya dan langsung mundur beberapa langkah membiarkan perempuan itu keluar.
“Nggak, Pa. ini udah selesai kok. Papa kok mendadak banget datangnya tanpa ngasih tahu aku lebih dulu,” Rey benar-benar gugup hari itu. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan itu semua kepada papanya. Karena dia tidak pernah sebelumnya berlaku seperti itu kepada tamunya.
“Harusnya kamu jamu tamu itu dengan baik. Bukan justru ngusir seperti itu, Rey. Nggak baik tahu kalau kamu seperti itu sama tahu. Gimana nanti kalau dia tersinggung terus itu orang penting dalam bisnis kamu. Yang ada kamu bakalan frustrasi nama kamu jelek karena bakalan terkenal dengan menjamu tamu seburuk itu,”
“Ibu Alin terima kasih atas kunjungannya,” ucap sekretaris itu dan kemudian keluar bersama dengan Alin.
Rey merapikan setelannya. Dan Azka yang baru saja tidak merasa asing dengan nama itu karena pernah disebut oleh Nabila dan juga Salsabila. Kali ini dia ingat bahwa Alin adalah nama perempuan yang pernah membuat Rey mau meninggalkan istrinya.
“Papa ada urusan apa kemari?”
“Gaya bicaramu sepertinya tidak suka kalau Papa kemari, Rey. Papa kemari itu untuk mastiin kalau nggak ada perempuan simpanan kamu yang datang ke kantor untuk nyariin kamu,” ucap papanya dengan ketus.
Rey yang tadinya berusaha menenangkan diri kali ini benar-benar merasa terpojokkan dengan jawaban papanya. Dia tidak pernah menyangka bahwa papanya akan berkata demikian dan membuatnya mati kutu begitu saja di sana.