RICH MAN

RICH MAN
LAMARAN BURUK



Malam harinya, Azka


memberanikan diri untuk mengunjungi rumah Nagita karena tidak ada


pilihan selain bertanggung jawab dan mengakui perbuatannya. Bahkan ia


tidak ingin dihantui dengan rasa bersalah karena telah menelantarkan


calon anaknya meski tidak pernah diinginkan olehnya. Setelah bertemu


dengan Eva, dia kini menjadi sedikit menyadari perbuatannya.


Dengan begitu tenang Azka keluar dari mobil dan langsung melangkahkan kakinya menuju rumah Nagita.


Setelah


mengetuk pintu beberapa saat keluarlah Dimas yang menyambutnya malam


itu, dan ia langsung dipersilakan untuk masuk dan duduk di ruang tamu.


Nagita


menjamunya dengan secangkir teh dan pergi begitu saja. Ia melihat ke


arah perut perempuan itu yang sedikit membuncit.


"Apa ada yang begitu penting hingga membuat anda kemari, pak?"


"Dimas, saya


meminta maaf sebelumnya. Ini bukan tentang pekerjaan, melainkan tentang


Nagita dan juga bayi yang dia kandung." Ucap Azka tanpa basa-basi.


"Dari mana anda tahu tentang adik saya?"


"Jauh


sebelum mengenal kamu, saya mengenal adikmu. Dia pernah bekerja di


tempat saya, dan bayi yang dia kandung adalah anak saya," ucap Azka


sedikit menurunkan volume suaranya.


"Laki-laki


bajingan," tanpa ada sedikit pertimbangan. Sebuah bogem langsung tertuju


padanya begitu saja. Azka tersungkur di sofa dan begitu pun dengan


amarah Dimas yang memuncak tak peduli dengan orang yang dia pukul yaitu


bosnya sendiri. "Lo yang buat dia begini dan yang waktu itu lo yang


minta dia buat gugurin kandungan seandainya dia hamil, lo sekarang


datang hanya untuk mengakui perbuatan lo tanpa adanya tanggung jawab? Lo


lebih buruk dari bajingan yang berkeliaran dan yang ada dalam pikiran


lo cuman bisa menyelesaikan semua dengan uang yang lo punya?"


"Saya datang kemari untu bertanggung jawab dan menikahi, Nagita!"


Azka tidak


melawan karena tidak mungkin baginya membuat keributan dari kesalahan


yang telah ia perbuat dan justru menambah masalah baru lainnya dengan


cara bertengkar dengan Dimas. Terihat ketika Azka bangun, perempuan itu


justru berdiri di samping pintu sambil menggigit jari. Ia hanya melempar


senyum ingin mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan akan bertanggung


jawab atas kesalahan satu malah tersebut.


"Nagita,


kemari!" Terlihat dari raut wajah Dimas, ia begitu kecewa dengan


kedatangan Azka yang tiba-tiba datang untuk meminta Nagita begitu saja.


Azka menahan rasa sakit di wajahnya karena pukulan Dimas.


"Benar dia orang yang telah melakukan perbuatan keji itu sama kamu?"


Nagita terdiam.


"Jawab!" Dimas tidak bisa mencerna apa pun lagi.


"Jawab,


Nagita. Setelah ini saya akan bertanggung jawab dan menikahi kamu


sebagai bentuk tanggung jawab saya. Dan untuk perjanjian kemarin, kita


batalkan. Saya mau dia tetap lahir,"


"Perjanjian apa?" Dimas menyeka di tengah-tengah pembicaraan mereka.


"Menggugurkan kandungan itu. Jika saya pernah berpikir untuk tidak


membiarkan anak itu lahir. Namun hari ini saya berubah pikiran dan


berniat menjadi ayah untuk dia,"


"Anda mencintai adik saya?"


"Perihal


cinta akan tumbuh dengan seiring berjalannya waktu, saya akan usahakan


untuk menghadirkan hal itu. Setidaknya saya akan bertanggung jawab


dengan segera, bila perlu pernikahannya kita adakan besok sore," Azka


tidak ingin menunggu lama-lama karena ia tahu jika terus saja menunda,


perut Nagita akan semakin membesar.


"Nagita,


kamu mau kan? Demi anak kamu, dek," Dimas berusaha meyakinkan saat


Nagita terus menggeleng karena tidak mau. Azka mengerti jika beberapa


hari yang lalu dia memaksa perempuan itu menggugurkan kandungan. Namun


ia tidak ingin tidak bisa menghamili istrinya kelak jika menggugurkan


kandungan Nagita. Setelah lahir, bisa saja ia menceraikan Nagita.


"Gita, bisa


urus anak sendiri. Enggk apa-apa dia enggak kenal sama ayahnya," Nagita


menunduk tanpa melihat wajah Azka.


"Dek,


bagaimana pun juga Azka ayah dari anak kamu. Anak kalian, kalau dia


macam-macam bilang sama kakak,"


"Nagita,


kamu mau anak kamu lahir tanpa tahu siapa ayahnya? Saya tidak mau


tidaknya kamu, kita harus tetap menikah."


Azka menegaskan kepada Nagita agar mau menerima lamarannya yang terbilang memaksa.


Beberapa saat kemudian, "I-iya, aku mau,"


"Besok saya


kemari dan menyiapkan semuanya. Saya pulang," Azka langsung berpamitan


dan keluar karena sudah cukup baginya mendengar pernyataan Nagita yang


menyetujui lamarannya.


****


Dikediaman


Nagita, ia merasakan begitu rasa sakit ketika akan menikah dengan orang


yang sudah melukai hatinya. Ia memeluk tubuh Dimas begitu erat untuk


mencari perlindungan, tidak ada lagi yang ia miliki selain Dimas.


"Kak, aku taku,"


"Takut


kenapa? Nagita, bagaimana pun juga, Azka itu ayah dari anak yang kamu


kandung. Setidaknya dia mau bertanggung jawab, jika terjadi sesuatu kamu


bisa bilang ke kakak,"


"Tapi kak,"


"Nagita,


apa yang bisa kakak katakan lagi? Kakak bekerja di tempat dia. Berarti


kesehariannya kakak tahu. Jika dia macam-macam tentu kakak akan


memata-matai dia. Suatu waktu kakak akan keluar dari perusahaan itu jika


dia sampai menyakiti hatimu, kakak hanya enggak mau kamu itu hamil


tanpa suami, setidaknya dia mau bertanggung jawab untuk kalian berdua.


Kakak enggak akan pernah jauh-jauh dari kamu,"


Nagita


tersenyum ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas. Memang benar


bahwa ia tidak mungkin hamil tanpa suami, terbilang umurnya masih sangat


muda dan orang-orang pasti mengatakannya perempuan murahan karena hamil


tidak didampingi suami.


Perutnya


yang sedikit membuncit, membayangkan wajah Azka membuat Nagita sedikit


merasa malu karena beberapa waktu yang lalu mereka berdebat dan tidak


berhasil saling meyakinkan. Namun kini tanpa di yakinkan, laki-laki itu


datang dengan sendirinya. Ia tahu bahwa itu hanyalah bentuk dari


tanggung jawab, bukan karena dicintai. Bahkan Nagita sendiri harus lebih


sadar diri jika maksud dari kedatangan Azka adalah hanya untuk


bertanggung jawab. Tidak lebih dari itu.


"Jadilah


istri yang baik, lakukan tugasmu sebagai seorang istri. Menyiapkan


pakaian sebelum dia berangkat bekerja, menyiapkan sarapan dan makan


malam. Ketika kamu berdebat usahakan dengarkan dulu apa yang dia


katakan, jangan potong pembicaraannya. Kakak yakin kamu pasti bisa


melakukannya,"


"Orang enggak berpengalaman pasti bisa ngelakuinnya kan kak?"


"Nanti kamu


juga akan terbiasa, jangan capek-capek. Jaga kandungan kamu dengan baik,


tentu Azka juga tidak mau kalau kandungan kamu kenapa-kenapa nantinya.


Meski kedatangannya tanpa etika, tapi kakak yakin kalau dia serius,"


"Iya kak. Kak aku enggak pernah berpikir untuk menikah karena aku takut,"


"Tapi kenapa tadi kamu mau menerimanya?"


"Karena aku mencintai dia,"


"Sejak kapan?"


"Sudah lama,


dia itu orang baik kak. Cuman caranya yang sering kali buat orang salah


paham, dia baik banget sama aku dulu,"


"Sekarang kamu belain dia karena kamu mencintai dia, begitu?"


"Kakak gitu aja malah marah, bukan begitu. Tapi Nagita enggak bisa jelasin tentang dia,"


"Ya udah


sih, terserah kamu. Sebentar lagi kamu akan jadi istri orang, ingat


tetap jaga sikap kamu. Buat dia mencintai kamu, jangan hanya kamu yang


mencintai dia."


"Caranya?"


"Jadilah


yang menakjubkan, meski tidak dicintai. Buatlah seseorang tidak bisa


jauh dari kamu, intinya buat nyaman. Jangan hanya tanggung jawab, dia


harus tetap sama kamu. Buat keluarga kecil kamu bahagia. Enggak mungkin


kan kalau dia hanya tanggung jawab terus kabur gitu aja, dia harus dapat


kasih sayang dari kedua orang tuanya, jangan sampai jadi anak korban


broken home."


"Bagaimana kalau dia mencintai perempuan lain,"


"Maka dari itu tugas kamu buat dia nyaman. Dan jadi kamu jadi rumah untuk dia."