RICH MAN

RICH MAN
PELUKAN PERTAMA DAN TERAKHIR



“Sekarang kamu mau


korbanin Rey untuk perempuan jalang itu? Begitu Teddy? Ingat nggak gimana


usahaku buat besarin Rey sendirian, bangkit dari keterpurukan dan percaya lagi


soal cinta itu juga karena kamu. Dan ingat, sekarang aku sedang menandung anak kamu,”


“Nagita, kamu salah


paham. Aku cuman bilang seandainya, aku nggak bilang kalau Rey harus donor


untuk Syakila. Oke aku memang salah, tapi aku nggak bisa larang Rey ketemu sama


Syakila karena mereka saudara,”


“Saudara kamu bilang?


Kamu bilang saudara? Rey udah nggak ada ikatan apa-apa lagi sama Azka, dia


punya aku dan kamu sekarang. Dia nggak ada hak lagi untuk bisa sama Azka.


Terlebih Syakila, kenapa kamu nggak biarin anak itu mati. Aku nggak peduli,”


Plak


“Kamu hanya mikirin


gimana kondisi kamu sendiri tanpa pernah mikirin gimana orang lain, Nagita,”


“Teddy!”


Dimas langsung


menghampiri Teddy dan Nagita yang tengah bertengkar. Ia paling tidak suka jika


adiknya dipukuli. Ia memeluk Nagita dan Damar di sana langsung menghajar


adiknya.


“Sudah gila kamu


sekarang? Lebih peduli sama orang lain dibandingkan perasaan adik kamu


sendiri?”


“Nggak gitu, kak. Aku


bisa jelasin,”


“Apa yang mau kamu


jelasin saat semuanya dengan jelas aku lihat, di sini.” Damar di sana tidak


bisa mengontrol emosinya.


“Ayo pulang, Nagita!”


“Kak aku bisa jelasin.”


Dimas tak peduli dengan


Teddy yang tadinya menahan. Pria itu langsung membawa Nagita pergi dari rumah


Teddy. Bahkan Damar saat itu yang pergi bersama dengan Dimas tiba-tiba langsung


memarahi adiknya yang sudah bersikap kurang ajar terhadap Nagita.


“Jangan kejar! Kamu


tahu kan kalau Nagita itu trauma terhadap pukulan? Kenapa kamu lakuin sih,


dek?”


“Aku cuman bilang


seandainya, anak itu skarat,”


“Sudahi saja semuanya


Teddy. Jangan terlalu ikut campur, Nagita tentu juga terluka dengan masa lalu.


Wajar jika dia berkata seperti itu karena Deana juga tidak pernah memikirkan


bagaimana kondisinya dulu. Cukup aku yang tahu bagaimana usaha Nagita untuk


bisa pulih dari luka masa lalunya dia, sekarang kamu nambah masalah untuk dia?


Sekarang kamu berniat untuk mempertemukan mereka bertiga? Kamu mau kasih tahu


Rey kalau ternyata saudaranya Syakila?”


“Aku kasihan,”


“Nggak ada istilah


kasihan. Tapi kamu nggak mikirin hati istri kamu sendiri. Niat kami datang


untuk menyelesaikan masalah karena kamu selalu mengeluh kenapa rumah tanggamu


seperti sekarang, tapi kamu sendiri nggak bisa jaga hari Nagita. Tolong kali


ini aja Teddy, jangan buat hati Nagita sakit, aku yang tahu gimana dia Teddy.


Cukup aku yang tahu, bahkan Dimas pasti akan terluka karena tindakan kamu


tadi,”


“Aku harus bagaimana?”


“Teddy, ini adalah hal


yang harus kamu tahu. Pertama Nagita dan Azka pergi makan, karena di sana ada


Deana, Azka langsung meminta Nagita untuk menemaninya, tahunya mereka ke salah


satu kelab malam dan Azka mabuk. Setelah di bantu masuk ke dalam apartemennya,


dia perkosa Nagita. Oke mungkin kamu akan marah dengan ini, Azka yang merenggut


kehormatan sekaligus menghancurkan hidup Nagita. Di sana ada aku, dia dengan


tenangnya memeluk Nagita, sedangkan perempuan itu berantakan. Dia di perkosa,


ingat Teddy istri kamu pernah di perkosa. Bahkan demi Rey, ia mengorbankan


perasaannya, memberanikan diri untuk sembuh dari trauma. Kamu tahu dulu Azka


pernah mencintai Nagita, setiap kali Azka menceritakan Nagita, pria itu dengan


raut wajah yang begitu bahagia, Nagita telah bersusah payah untuk sembuh, tetap


saja trauma akibat diperkosa lama sekali hilang. Bahkan beberapa bulan waktu


itu, kalau tidak salah sampai Nagita melahirkan, Azka menunggu Nagita di


rumahnya demi mengobati rasa takut Nagita. Setelah melahirkan, Nagita pergi


dari hidup Azka dan membiarkan anaknya tetap bertemu dengan Azka, tapi setelah


itu kita tidak pernah tahu bahwa selama ini Azka berselingkuh di belakang


Nagita. Sekarang kamu mau buat luka lama itu terulang lagi?”


Damar tak habis pikir


dengan apa yang ada dikepala adiknya selama ini. Menyetujui adiknya menikah


dengan Nagita bukan berarti itu atas dasar cinta semata. Tetapi karena ia ingin


hidup yang layak untuk Nagita dan juga Rey. tetapi Teddy justru mengukir luka


baru lagi dalam hati perempuan itu. Dimas memang lebih banyak diam, tetapi


sekali bertindak, maka bisa menyelesaikan segalanya. Termasuk pernikahan itu


langsung bisa selesai begitu saja.


“Jemput dia! Omongin


baik-baik, jangan sampai kamu bahas Azka lagi dan apa pun yang menyangkut


tentang Azka, tolong Teddy!”


“Mereka berdua berharga


bagiku, terlebih sekarang Nagita hamil,”


“Tentu saja kamu harus


bisa bertindak adil dan bijak. Sekarang kamu jemput istri dan anak-anak kamu,”


“Iya, sebentar lagi aku


jemput,”


“Kamu mau ke mana


memangnya?”


“Beliin Nagita kado,


Nagita ulang tahun,”


“Dasar, sana pergi.


Jangan kembali lagi ke rumah ini kalau kamu belum bisa bawa istri kamu kembali


sama Rey!”


Damar langsung


berpamitan kepada adiknya. Seketika ia pergi menyusul Dimas dan hendak


menjelaskan semuanya yang terjadi.


Tiba di rumah Dimas. Ia


masuk begitu Viona mempersilakannya masuk.


“Nagita, sudah! Jangan


dipikirkan lagi, dia memang kurang ajar atas sikapnya yang sudah seperti itu


sama kamu. Tapi bagaiamanapun juga, pikirkan janin yang ada di perut kamu


sekarang! Teddy hanya belum mengerti, barangkali setiap rumah tangga itu pasti


ada rasa yang membuat kita bertengkar hebat, bahkan ingin bercerai. Sama kayak


aku dan Luna, sering terjadi masalah. Bahkan Luna pernah meminta untuk bercerai


ketika itu jalan-jalan ke Mall, terus ketemu sama masa lalu, dia meluk. Luna


ngamuk dan sampai rumah dia dalam keadaan emosi dan langsung pengin cerai,”


“Tapi Teddy


keterlaluan. Aku nggak mau Rey jadi korban lagi, sudah cukup!”


“Aku ngerti, Nagita.


Aku ngerti dengan hal itu, memang tidak semua masalah sama yang kita hadapi.


Tetapi aku mencoba untuk mengertikan kamu, dan nanti mungkin Teddy bakalan


kemari, dia bakalan minta maaf sama kamu,”


“Jangan di depan Rey,


aku nggak mau anak itu tahu tentang semua ini,”


“Nanti aku bilang sama


dia, aku pergi dulu ya. Dimas sorry tentang adik gue tadi,”


“Oke, itu masalah


mereka berdua. Gue nggak ikut campur.”


******


Azka berbaring di atas


ranjangnya sambil memikirkan bagaimana caranya agar Rey bisa kembali lagi ke


dalam pelukannya. Terlebih Nagita, tentang perempuan itu, sehebat apa pun


Mamanya berusaha untuk menjodohkannya lagi agar bisa lebih baik, tetap saja


pilihannya tetap pada Nagita. Pilihannya sudah bulat, bahwa selama ini cintanya


memang sudah dibutakan oleh Nagita.


Usianya yang semakin


bertambah, hampir kepala empat. Tetapi ia belum juga bisa merelakan kepergian


Nagita dalam hidupnya. Dari awal niatnya menyingkirkan Nagita adalah karena


ingin membuat perempuan itu bahagia. Tetapi pilihannya adalah salah, justru ia


semakin terpuruk karena menceraikan Nagita merupakan petaka baginya.


“Azka!” ia langsung


beranjak dari tempat tidurnya setelah mendengar mamanya memanggil. Ia melangkah


menuju sumber suara.


“Ada apa, Ma?”


“Deana kemari, nyariin


kamu,”


Azka memejamkan matanya


dan menarik napas panjang. Sebenarnya ia sudah tidak peduli lagi dengan


perempuan itu. Meski pernah mencintai, tetapi ia berusaha untuk menghilangkan


perempuan itu dari ingatannya. Perlahan, ia mengikuti mamanya dari belakang dan


menemui Deana yang menunduk di ruang tamu.


“Ada apa, Deana?”


“Kita bisa ngomong di


luar?”


Azka menuruti ajakan


Deana dan langsung keluar dari rumah. Mereka berbincang di halaman belakang.


Nampak dari mata Deana bahwa perempuan itu sedang tidak baik-baik saja.


“Sebenarnya ada apa?”


“Bisa ketemu Syakila?


Di sana juga ada Rey dan Nagita,”


“Syakila siapa? Dan


kenapa Rey sama Nagita di sana?”


anak kamu. Ingat waktu aku pergi ninggalin kamu?”


Azka mengangguk. “Itu


aku kabur karena hamil,” ia menatap Deana dengan perasaan yang kacau.


“Sekarang tujuan kamu


apa?”


“Dia sedang skarat di


rumah sakit, Azka. Syakila sakit, aku mohon!” Deana bersimpuh di depannya. Azka


sebenarnya tidak percaya dengan ini dan hendak pergi meninggalkan Deana sendirian.


Tetapi melihat keyakinan itu ada pada Deana, akhirnya mau tidak mau ia


menyanggupi.


Di dalam perjalanan,


Deana tak berhenti menangis. Azka juga ingat waktu itu ia bercinta dan


membayangkan Nagita bercinta dengannya hingga lupa menggunakan pengaman. Bahkan


selama dengannya, Deana pernah ia ikat dengan suatu perjanjian. Salahnya memang


karena mengkhianati saat Nagita menghukumnya, ia justru melampiaskan nafsunya


pada Deana dan membayangkan sedang melakukan hubungan itu dengan Nagita.


Setibanya di rumah


sakit. dengan perasaan yang tidak enak, Azka langsung masuk ke ruangan di mana


anak itu di rawat. Di sana ada Rey dan Nagita, beserta Teddy.


“Daddy?”


Ia menoleh ke arah Rey


yang menangis di samping Syakila. Tidak mungkin kali ini Deana berbohong


padanya. Bahkan di sana ada Nagita yang mengabaikan kehadirannya.


“Aku minta waktu sama


Rey dan Syakila bertiga!” semua orang keluar begitu saja. Melihat keadaan


Syakila yang sangat buruk. Azka merasakan dadanya begitu sesak, ia tidak tahu


bahwa ia memiliki anak dari perempuan itu hingga sebesar seperti sekarang.


“Papa?”


Anak itu berusaha untuk


bangun dari tidurnya. Azka membantu dan langsung memangku anaknya. Di sana Rey


yang tak berhenti menangis  memeluk


Syakila.


“Rey tahu ini siapa?”


“Dia adiknya Rey kan,


Daddy? Mama yang ngasih tahu Rey, selama ini Rey setiap hari nemenin Syakila.


Tapi Rey nggak pernah tahu kalau ternyata Rey punya adik dari Daddy,”


“Rey, maafin Daddy?”


“Daddy nggak salah sama


Rey. Daddy salah sama Syakila,”


“Papa, beneran Papa


Kila kan?” anak itu terisak. Tubuhnya yang lemah, Azka tak kuasa menahan


tangisnya. Selama diperjalanan tadi menuju rumah sakit, Deana telah


menceritakan semuanya kepadanya. Entah percaya atau tidak, tetapi semenjak


melihat anak itu, Azka merasakan getir yang sama seperti yang ia rasakan pada


Rey.


“Syakila, kakak di


sini. Kila janji waktu itu pengin sekolah kan?” Rey terus menangis. Azka


menarik kepala anaknya dan membawanya ke dalam pelukannya. Selama ini Azka


hanya tahu bahwa anaknya adalah Reynand, anak yang pernah ia telantarkan. Dan


kini, Syakila adalah anak kedua yang ia telantarkan dari Deana.


“Syakila, harus sembuh


biar bisa main sama kakak dan Papa,”


“Kila capek, Pa,”


“Syakila nggak boleh


nyerah. Papa bakalan ajak Kila ke luar negeri. Kita berobat ya sayang,”


“Papa Atha sudah bawa


Kila berobat ke banyak tempat, Pa. Tapi Kila tetap nggak bisa sembuh,”


“Pasti bisa sayang.


Kita coba ya,”


“Kila pengin ketemu Papa


sudah lama. Mama akhirnya pergi jemput Papa. Kila tahu kalau Papa Atha bukan


Papanya Kila,”


“Sejak kapan Syakila


sakit?”


“Sejak lahir Kila capek


ke dokter, lihat tangan Kila banyak selang sama kabel, Pa!”


Azka kali ini percaya


dengan apa yang dikatakan oleh Deana. Ia melihat mata Syakila yang begitu mirip


dengannya. Rey yang ada di sebelahnya pun ikut menangis. “Rey, percaya kalau


Syakila bisa sembuh kan?”


“Iya Daddy, Rey


percaya. Tapi kenapa Syakila nggak mau sembuh?”


“Dengar sayang! Kakak


pengin Syakila itu sembuh, Papa janji bakalan kumpul sama Syakila kalau kita


sembuh, kak Rey juga,”


“Kila capek, Papa. Kila


senang banget bisa ketemu sama Kak Rey dan Papa. Akhirnya Kila punya kakak, ini


berkat Om dokter yang bilang kalau Kila nggak sendirian,”


“Om dokter bilang apa?”


“Om dokter bilang kalau


Kila bakalan ketemu sama Kak Rey setiap hari,”


Azka memeluk Syakila


yang semakin melemah. Detak jantungnya yang terlihat jelas di monitor juga


semakin melemah.


Hanya rasa sesal yang


tertinggal pada dirinya kini. Anak yang sudah ia sia-siakan hanya ingin bertemu


dengan dirinya. Rey beberapa kali berusaha untuk membuat Syakila tetap kuat,


tetap saja anak itu hanya tersenyum.


“Papa, Syakila bahagia


bisa ketemu, Papa,”


“Maafin Papa sayang!”


Azka menangis saat Syakila membalas pelukannya. Ia masih memangku gadis kecil


itu.


“Papa, Kila mau tidur


dipelukan, Papa.”


Azka berusaha menahan


air matanya saat anaknya berkata demikian. Rey tak berhenti menangis saat itu,


ia pun tak kalah terlukanya melihat kedua anaknya hancur karena perbuatan


dirinya di masa lalu.


Tiiiiiitt


Azka langsung menoleh


ke monitor. Tangan Syakila terlepas dari pelukannya begitu saja. Rey menangis


histeris dan dokter masuk ke dalam ruangan begitu saja.


Ia membiarkan dokter


mengambil tindakan dan memeluk Rey.


“Mohon, maaf. Syakila


sudah tidak ada.” Tubuh Azka langsung tumbang di lantai. Salahnya tidak pernah


tahu bahwa ia memiliki seorang anak yang lain, air matanya tak berhenti keluar,


kehilangan yang ia rasakan tak sebanding dengan penderitaan yang dirasakan oleh


putri kecilnya.


“Dee, kenapa kamu nggak


pernah bilang?”


“Karena aku tahu,


Syakila nggak ada artinya di mata kamu. Dan lagi, aku mau kamu tetap bahagia


dulu sama Nagita, setelah Syakila di rawat di sini. Teddy suaminya Nagita yang


mengatakan bahwa Rey adalah saudara Syakila, dan harus mencari kamu untuk


terakhir kalinya. Ikhlaskan dia, Azka. Aku sudah ikhlaskan Syakila sebelum dia


pergi, karena dia sudah terlalu banyak menderita,”


“Bagaimana denganku,


Deana? Apa aku bisa memaafkan diriku sendiri setelah perginya Syakila?”


“Anak itu tidak pernah


membencimu, Azka. Bahkan dia meninggal dalam pelukanmu bukan? Dia ingin


merasakan bagaimana hangatnya pelukan Papa kandungnya, dan kamu Nagita, aku


minta maaf untuk yang dulu,”


“Dek ayo bangun!


Syakila nggak boleh pergi ninggalin Rey sendirian!” Rey menangis dan


mengguncangkan tubuh Syakila. Semua alat telah dilepas oleh Teddy.


“Rey sudah, Syakila


sudah pergi dengan tenang. Selama ini dia cuman pengin lihat Papanya,” Nagita


memeluk Rey yang menangis di sana. Melihat itu, ia tidak bisa membendung air


matanya. Ia pikir Rey adalah satu-satunya anak yang ia hasilkan dari Nagita.


Tetapi ia bertemu dengan anaknya diujung kematian anaknya.


Semua orang


meninggalkannya, termasuk Deana.


“Syakila, baru beberapa


menit kita bertemu. Sekarang kamu ninggalin Papa sendirian di sini. baru


beberapa menit Papa peluk kamu, sekarang kamu sudah tiada.”


Azka meminta izin untuk


membawa jenazah Syakila ke rumahnya. Pertama ia menghubungi Mamanya dan


memberitahukan semua ini. Mamanya yang tak kalah terkejutnya saat itu langsung


jatuh pingsan.


Tiba di rumahnya, Rey


juga ikut pulang  untuk menemani Syakila.


“Daddy, Rey nggak punya


adik lagi.” Rey menangis di samping jenazah Syakila.


Jika hidup adalah


tentang membuat kesalahan lalu memaafkan adalah jalan untuk menyelesaikannya.


Semua orang pasti akan membuat kesalahan lalu meminta maaf, dan semuanya akan


selesai. Tetapi barangkali ada manusia yang memang diberikan penyesalan agar


lebih paham tentang menghargai hidup orang lain.


 


*NOTE : Sekadar menulis dan menyampaikan arti kehidupan dan menghargai selagi ada. Bukan menyesal saat ia telah tiada. Jangan protes hanya karena ini terlalu rumit. Semoga mengambil pelajaran dari kisahnya, agar tak terjadi dalam kehidupan kita. Takdir memang Tuhan yang menentukan, tetapi setidaknya jangan menjadikan kebahgiaan sesaat menghancurkan segalanya di masa yang mendatang.