
“Sekarang kamu mau
korbanin Rey untuk perempuan jalang itu? Begitu Teddy? Ingat nggak gimana
usahaku buat besarin Rey sendirian, bangkit dari keterpurukan dan percaya lagi
soal cinta itu juga karena kamu. Dan ingat, sekarang aku sedang menandung anak kamu,”
“Nagita, kamu salah
paham. Aku cuman bilang seandainya, aku nggak bilang kalau Rey harus donor
untuk Syakila. Oke aku memang salah, tapi aku nggak bisa larang Rey ketemu sama
Syakila karena mereka saudara,”
“Saudara kamu bilang?
Kamu bilang saudara? Rey udah nggak ada ikatan apa-apa lagi sama Azka, dia
punya aku dan kamu sekarang. Dia nggak ada hak lagi untuk bisa sama Azka.
Terlebih Syakila, kenapa kamu nggak biarin anak itu mati. Aku nggak peduli,”
Plak
“Kamu hanya mikirin
gimana kondisi kamu sendiri tanpa pernah mikirin gimana orang lain, Nagita,”
“Teddy!”
Dimas langsung
menghampiri Teddy dan Nagita yang tengah bertengkar. Ia paling tidak suka jika
adiknya dipukuli. Ia memeluk Nagita dan Damar di sana langsung menghajar
adiknya.
“Sudah gila kamu
sekarang? Lebih peduli sama orang lain dibandingkan perasaan adik kamu
sendiri?”
“Nggak gitu, kak. Aku
bisa jelasin,”
“Apa yang mau kamu
jelasin saat semuanya dengan jelas aku lihat, di sini.” Damar di sana tidak
bisa mengontrol emosinya.
“Ayo pulang, Nagita!”
“Kak aku bisa jelasin.”
Dimas tak peduli dengan
Teddy yang tadinya menahan. Pria itu langsung membawa Nagita pergi dari rumah
Teddy. Bahkan Damar saat itu yang pergi bersama dengan Dimas tiba-tiba langsung
memarahi adiknya yang sudah bersikap kurang ajar terhadap Nagita.
“Jangan kejar! Kamu
tahu kan kalau Nagita itu trauma terhadap pukulan? Kenapa kamu lakuin sih,
dek?”
“Aku cuman bilang
seandainya, anak itu skarat,”
“Sudahi saja semuanya
Teddy. Jangan terlalu ikut campur, Nagita tentu juga terluka dengan masa lalu.
Wajar jika dia berkata seperti itu karena Deana juga tidak pernah memikirkan
bagaimana kondisinya dulu. Cukup aku yang tahu bagaimana usaha Nagita untuk
bisa pulih dari luka masa lalunya dia, sekarang kamu nambah masalah untuk dia?
Sekarang kamu berniat untuk mempertemukan mereka bertiga? Kamu mau kasih tahu
Rey kalau ternyata saudaranya Syakila?”
“Aku kasihan,”
“Nggak ada istilah
kasihan. Tapi kamu nggak mikirin hati istri kamu sendiri. Niat kami datang
untuk menyelesaikan masalah karena kamu selalu mengeluh kenapa rumah tanggamu
seperti sekarang, tapi kamu sendiri nggak bisa jaga hari Nagita. Tolong kali
ini aja Teddy, jangan buat hati Nagita sakit, aku yang tahu gimana dia Teddy.
Cukup aku yang tahu, bahkan Dimas pasti akan terluka karena tindakan kamu
tadi,”
“Aku harus bagaimana?”
“Teddy, ini adalah hal
yang harus kamu tahu. Pertama Nagita dan Azka pergi makan, karena di sana ada
Deana, Azka langsung meminta Nagita untuk menemaninya, tahunya mereka ke salah
satu kelab malam dan Azka mabuk. Setelah di bantu masuk ke dalam apartemennya,
dia perkosa Nagita. Oke mungkin kamu akan marah dengan ini, Azka yang merenggut
kehormatan sekaligus menghancurkan hidup Nagita. Di sana ada aku, dia dengan
tenangnya memeluk Nagita, sedangkan perempuan itu berantakan. Dia di perkosa,
ingat Teddy istri kamu pernah di perkosa. Bahkan demi Rey, ia mengorbankan
perasaannya, memberanikan diri untuk sembuh dari trauma. Kamu tahu dulu Azka
pernah mencintai Nagita, setiap kali Azka menceritakan Nagita, pria itu dengan
raut wajah yang begitu bahagia, Nagita telah bersusah payah untuk sembuh, tetap
saja trauma akibat diperkosa lama sekali hilang. Bahkan beberapa bulan waktu
itu, kalau tidak salah sampai Nagita melahirkan, Azka menunggu Nagita di
rumahnya demi mengobati rasa takut Nagita. Setelah melahirkan, Nagita pergi
dari hidup Azka dan membiarkan anaknya tetap bertemu dengan Azka, tapi setelah
itu kita tidak pernah tahu bahwa selama ini Azka berselingkuh di belakang
Nagita. Sekarang kamu mau buat luka lama itu terulang lagi?”
Damar tak habis pikir
dengan apa yang ada dikepala adiknya selama ini. Menyetujui adiknya menikah
dengan Nagita bukan berarti itu atas dasar cinta semata. Tetapi karena ia ingin
hidup yang layak untuk Nagita dan juga Rey. tetapi Teddy justru mengukir luka
baru lagi dalam hati perempuan itu. Dimas memang lebih banyak diam, tetapi
sekali bertindak, maka bisa menyelesaikan segalanya. Termasuk pernikahan itu
langsung bisa selesai begitu saja.
“Jemput dia! Omongin
baik-baik, jangan sampai kamu bahas Azka lagi dan apa pun yang menyangkut
tentang Azka, tolong Teddy!”
“Mereka berdua berharga
bagiku, terlebih sekarang Nagita hamil,”
“Tentu saja kamu harus
bisa bertindak adil dan bijak. Sekarang kamu jemput istri dan anak-anak kamu,”
“Iya, sebentar lagi aku
jemput,”
“Kamu mau ke mana
memangnya?”
“Beliin Nagita kado,
Nagita ulang tahun,”
“Dasar, sana pergi.
Jangan kembali lagi ke rumah ini kalau kamu belum bisa bawa istri kamu kembali
sama Rey!”
Damar langsung
berpamitan kepada adiknya. Seketika ia pergi menyusul Dimas dan hendak
menjelaskan semuanya yang terjadi.
Tiba di rumah Dimas. Ia
masuk begitu Viona mempersilakannya masuk.
“Nagita, sudah! Jangan
dipikirkan lagi, dia memang kurang ajar atas sikapnya yang sudah seperti itu
sama kamu. Tapi bagaiamanapun juga, pikirkan janin yang ada di perut kamu
sekarang! Teddy hanya belum mengerti, barangkali setiap rumah tangga itu pasti
ada rasa yang membuat kita bertengkar hebat, bahkan ingin bercerai. Sama kayak
aku dan Luna, sering terjadi masalah. Bahkan Luna pernah meminta untuk bercerai
ketika itu jalan-jalan ke Mall, terus ketemu sama masa lalu, dia meluk. Luna
ngamuk dan sampai rumah dia dalam keadaan emosi dan langsung pengin cerai,”
“Tapi Teddy
keterlaluan. Aku nggak mau Rey jadi korban lagi, sudah cukup!”
“Aku ngerti, Nagita.
Aku ngerti dengan hal itu, memang tidak semua masalah sama yang kita hadapi.
Tetapi aku mencoba untuk mengertikan kamu, dan nanti mungkin Teddy bakalan
kemari, dia bakalan minta maaf sama kamu,”
“Jangan di depan Rey,
aku nggak mau anak itu tahu tentang semua ini,”
“Nanti aku bilang sama
dia, aku pergi dulu ya. Dimas sorry tentang adik gue tadi,”
“Oke, itu masalah
mereka berdua. Gue nggak ikut campur.”
******
Azka berbaring di atas
ranjangnya sambil memikirkan bagaimana caranya agar Rey bisa kembali lagi ke
dalam pelukannya. Terlebih Nagita, tentang perempuan itu, sehebat apa pun
Mamanya berusaha untuk menjodohkannya lagi agar bisa lebih baik, tetap saja
pilihannya tetap pada Nagita. Pilihannya sudah bulat, bahwa selama ini cintanya
memang sudah dibutakan oleh Nagita.
Usianya yang semakin
bertambah, hampir kepala empat. Tetapi ia belum juga bisa merelakan kepergian
Nagita dalam hidupnya. Dari awal niatnya menyingkirkan Nagita adalah karena
ingin membuat perempuan itu bahagia. Tetapi pilihannya adalah salah, justru ia
semakin terpuruk karena menceraikan Nagita merupakan petaka baginya.
“Azka!” ia langsung
beranjak dari tempat tidurnya setelah mendengar mamanya memanggil. Ia melangkah
menuju sumber suara.
“Ada apa, Ma?”
“Deana kemari, nyariin
kamu,”
Azka memejamkan matanya
dan menarik napas panjang. Sebenarnya ia sudah tidak peduli lagi dengan
perempuan itu. Meski pernah mencintai, tetapi ia berusaha untuk menghilangkan
perempuan itu dari ingatannya. Perlahan, ia mengikuti mamanya dari belakang dan
menemui Deana yang menunduk di ruang tamu.
“Ada apa, Deana?”
“Kita bisa ngomong di
luar?”
Azka menuruti ajakan
Deana dan langsung keluar dari rumah. Mereka berbincang di halaman belakang.
Nampak dari mata Deana bahwa perempuan itu sedang tidak baik-baik saja.
“Sebenarnya ada apa?”
“Bisa ketemu Syakila?
Di sana juga ada Rey dan Nagita,”
“Syakila siapa? Dan
kenapa Rey sama Nagita di sana?”
anak kamu. Ingat waktu aku pergi ninggalin kamu?”
Azka mengangguk. “Itu
aku kabur karena hamil,” ia menatap Deana dengan perasaan yang kacau.
“Sekarang tujuan kamu
apa?”
“Dia sedang skarat di
rumah sakit, Azka. Syakila sakit, aku mohon!” Deana bersimpuh di depannya. Azka
sebenarnya tidak percaya dengan ini dan hendak pergi meninggalkan Deana sendirian.
Tetapi melihat keyakinan itu ada pada Deana, akhirnya mau tidak mau ia
menyanggupi.
Di dalam perjalanan,
Deana tak berhenti menangis. Azka juga ingat waktu itu ia bercinta dan
membayangkan Nagita bercinta dengannya hingga lupa menggunakan pengaman. Bahkan
selama dengannya, Deana pernah ia ikat dengan suatu perjanjian. Salahnya memang
karena mengkhianati saat Nagita menghukumnya, ia justru melampiaskan nafsunya
pada Deana dan membayangkan sedang melakukan hubungan itu dengan Nagita.
Setibanya di rumah
sakit. dengan perasaan yang tidak enak, Azka langsung masuk ke ruangan di mana
anak itu di rawat. Di sana ada Rey dan Nagita, beserta Teddy.
“Daddy?”
Ia menoleh ke arah Rey
yang menangis di samping Syakila. Tidak mungkin kali ini Deana berbohong
padanya. Bahkan di sana ada Nagita yang mengabaikan kehadirannya.
“Aku minta waktu sama
Rey dan Syakila bertiga!” semua orang keluar begitu saja. Melihat keadaan
Syakila yang sangat buruk. Azka merasakan dadanya begitu sesak, ia tidak tahu
bahwa ia memiliki anak dari perempuan itu hingga sebesar seperti sekarang.
“Papa?”
Anak itu berusaha untuk
bangun dari tidurnya. Azka membantu dan langsung memangku anaknya. Di sana Rey
yang tak berhenti menangis memeluk
Syakila.
“Rey tahu ini siapa?”
“Dia adiknya Rey kan,
Daddy? Mama yang ngasih tahu Rey, selama ini Rey setiap hari nemenin Syakila.
Tapi Rey nggak pernah tahu kalau ternyata Rey punya adik dari Daddy,”
“Rey, maafin Daddy?”
“Daddy nggak salah sama
Rey. Daddy salah sama Syakila,”
“Papa, beneran Papa
Kila kan?” anak itu terisak. Tubuhnya yang lemah, Azka tak kuasa menahan
tangisnya. Selama diperjalanan tadi menuju rumah sakit, Deana telah
menceritakan semuanya kepadanya. Entah percaya atau tidak, tetapi semenjak
melihat anak itu, Azka merasakan getir yang sama seperti yang ia rasakan pada
Rey.
“Syakila, kakak di
sini. Kila janji waktu itu pengin sekolah kan?” Rey terus menangis. Azka
menarik kepala anaknya dan membawanya ke dalam pelukannya. Selama ini Azka
hanya tahu bahwa anaknya adalah Reynand, anak yang pernah ia telantarkan. Dan
kini, Syakila adalah anak kedua yang ia telantarkan dari Deana.
“Syakila, harus sembuh
biar bisa main sama kakak dan Papa,”
“Kila capek, Pa,”
“Syakila nggak boleh
nyerah. Papa bakalan ajak Kila ke luar negeri. Kita berobat ya sayang,”
“Papa Atha sudah bawa
Kila berobat ke banyak tempat, Pa. Tapi Kila tetap nggak bisa sembuh,”
“Pasti bisa sayang.
Kita coba ya,”
“Kila pengin ketemu Papa
sudah lama. Mama akhirnya pergi jemput Papa. Kila tahu kalau Papa Atha bukan
Papanya Kila,”
“Sejak kapan Syakila
sakit?”
“Sejak lahir Kila capek
ke dokter, lihat tangan Kila banyak selang sama kabel, Pa!”
Azka kali ini percaya
dengan apa yang dikatakan oleh Deana. Ia melihat mata Syakila yang begitu mirip
dengannya. Rey yang ada di sebelahnya pun ikut menangis. “Rey, percaya kalau
Syakila bisa sembuh kan?”
“Iya Daddy, Rey
percaya. Tapi kenapa Syakila nggak mau sembuh?”
“Dengar sayang! Kakak
pengin Syakila itu sembuh, Papa janji bakalan kumpul sama Syakila kalau kita
sembuh, kak Rey juga,”
“Kila capek, Papa. Kila
senang banget bisa ketemu sama Kak Rey dan Papa. Akhirnya Kila punya kakak, ini
berkat Om dokter yang bilang kalau Kila nggak sendirian,”
“Om dokter bilang apa?”
“Om dokter bilang kalau
Kila bakalan ketemu sama Kak Rey setiap hari,”
Azka memeluk Syakila
yang semakin melemah. Detak jantungnya yang terlihat jelas di monitor juga
semakin melemah.
Hanya rasa sesal yang
tertinggal pada dirinya kini. Anak yang sudah ia sia-siakan hanya ingin bertemu
dengan dirinya. Rey beberapa kali berusaha untuk membuat Syakila tetap kuat,
tetap saja anak itu hanya tersenyum.
“Papa, Syakila bahagia
bisa ketemu, Papa,”
“Maafin Papa sayang!”
Azka menangis saat Syakila membalas pelukannya. Ia masih memangku gadis kecil
itu.
“Papa, Kila mau tidur
dipelukan, Papa.”
Azka berusaha menahan
air matanya saat anaknya berkata demikian. Rey tak berhenti menangis saat itu,
ia pun tak kalah terlukanya melihat kedua anaknya hancur karena perbuatan
dirinya di masa lalu.
Tiiiiiitt
Azka langsung menoleh
ke monitor. Tangan Syakila terlepas dari pelukannya begitu saja. Rey menangis
histeris dan dokter masuk ke dalam ruangan begitu saja.
Ia membiarkan dokter
mengambil tindakan dan memeluk Rey.
“Mohon, maaf. Syakila
sudah tidak ada.” Tubuh Azka langsung tumbang di lantai. Salahnya tidak pernah
tahu bahwa ia memiliki seorang anak yang lain, air matanya tak berhenti keluar,
kehilangan yang ia rasakan tak sebanding dengan penderitaan yang dirasakan oleh
putri kecilnya.
“Dee, kenapa kamu nggak
pernah bilang?”
“Karena aku tahu,
Syakila nggak ada artinya di mata kamu. Dan lagi, aku mau kamu tetap bahagia
dulu sama Nagita, setelah Syakila di rawat di sini. Teddy suaminya Nagita yang
mengatakan bahwa Rey adalah saudara Syakila, dan harus mencari kamu untuk
terakhir kalinya. Ikhlaskan dia, Azka. Aku sudah ikhlaskan Syakila sebelum dia
pergi, karena dia sudah terlalu banyak menderita,”
“Bagaimana denganku,
Deana? Apa aku bisa memaafkan diriku sendiri setelah perginya Syakila?”
“Anak itu tidak pernah
membencimu, Azka. Bahkan dia meninggal dalam pelukanmu bukan? Dia ingin
merasakan bagaimana hangatnya pelukan Papa kandungnya, dan kamu Nagita, aku
minta maaf untuk yang dulu,”
“Dek ayo bangun!
Syakila nggak boleh pergi ninggalin Rey sendirian!” Rey menangis dan
mengguncangkan tubuh Syakila. Semua alat telah dilepas oleh Teddy.
“Rey sudah, Syakila
sudah pergi dengan tenang. Selama ini dia cuman pengin lihat Papanya,” Nagita
memeluk Rey yang menangis di sana. Melihat itu, ia tidak bisa membendung air
matanya. Ia pikir Rey adalah satu-satunya anak yang ia hasilkan dari Nagita.
Tetapi ia bertemu dengan anaknya diujung kematian anaknya.
Semua orang
meninggalkannya, termasuk Deana.
“Syakila, baru beberapa
menit kita bertemu. Sekarang kamu ninggalin Papa sendirian di sini. baru
beberapa menit Papa peluk kamu, sekarang kamu sudah tiada.”
Azka meminta izin untuk
membawa jenazah Syakila ke rumahnya. Pertama ia menghubungi Mamanya dan
memberitahukan semua ini. Mamanya yang tak kalah terkejutnya saat itu langsung
jatuh pingsan.
Tiba di rumahnya, Rey
juga ikut pulang untuk menemani Syakila.
“Daddy, Rey nggak punya
adik lagi.” Rey menangis di samping jenazah Syakila.
Jika hidup adalah
tentang membuat kesalahan lalu memaafkan adalah jalan untuk menyelesaikannya.
Semua orang pasti akan membuat kesalahan lalu meminta maaf, dan semuanya akan
selesai. Tetapi barangkali ada manusia yang memang diberikan penyesalan agar
lebih paham tentang menghargai hidup orang lain.
*NOTE : Sekadar menulis dan menyampaikan arti kehidupan dan menghargai selagi ada. Bukan menyesal saat ia telah tiada. Jangan protes hanya karena ini terlalu rumit. Semoga mengambil pelajaran dari kisahnya, agar tak terjadi dalam kehidupan kita. Takdir memang Tuhan yang menentukan, tetapi setidaknya jangan menjadikan kebahgiaan sesaat menghancurkan segalanya di masa yang mendatang.