RICH MAN

RICH MAN
PERSIAPAN



Mulai terdengar kabar di kantornya, bahwa Rey akan dijodohkan dengan seorang perempuan yang sama sekali tidak dia kenal. Dan itu semua adalah rencana dari papanya sendiri.


Pria itu berdiri menghadap jendela dan melihat ke arah bawah, kendaraan berlalu lalang begitu ramai. Sambil menarik napas panjang dan melonggarkan dasinya, dia sedikit kesal dengan keputusan itu, bahwa orang tuanya membuat keputusan tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu kepada dirinya.


Perlahan Reynand kembali lagi menuju meja kerjanya, membuka laci dan menemukan buku kecil yang selalu dibawanya ke mana pun. Banyak tulisan-tulisan dari Bintang, foto bersama dan juga kenangan manis yang dulu pernah terjadi antara dirinya dengan gadis itu.


"Sebenarnya kamu ke mana? Kalau begini terus, aku enggak bisa tepati janji aku buat nungguin dan ketemu sama kamu seperti yang kamu bilang. Bahkan orang tua aku sudah jodohin aku, kalau kamu menghilang seperti ini terus, aku enggak bisa temukan kamu. Walaupun aku selalu datang ke taman itu, kamu sendiri tidak pernah hadir," ucapnya sambil memegang foto ketika dirinya bersama dengan Bintang. Gadis itu bersandar pada bahunya waktu itu.


Ada sesuatu hal yang ingin disampaikan oleh Rey mengenai perjodohannya bersama dengan perempuan lain, dia ingin mengakhiri itu semua dan tidak akan menunggu lagi. Bagaimanapun juga dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya, walaupun belum pernah melihat perempuan yang akan menjadi istrinya kelak. Rey percaya, pilihan orang tuanya adalah pilihan terbaik.


Kenangan demi kenangan berputar kembali pada ingatan lalu, dia berusaha untuk ikhlas atas apa yang terjadi pada dirinya.


Jika dia menerima perjodohan itu, kemudian Bintang kembali lagi, apa yang harus dia lakukan? Sedangkan jauh di dalam hatinya perempuan itu masih melekat begitu erat dalam kenangan maupun dalam ingatannya.


Rey menutup kembali buku kecil itu beserta menaruh foto yang ada di dalam buku tersebut.


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, yang di mana waktu karyawannya pulang. Sedangkan dirinya masih sering disibukkan dengan pekerjaan yang masih bisa dikerjakan besok. Tetapi dia sengaja melakukan itu untuk bisa meredakan sedikit rindunya pada perempuan yang mengacaukan hatinya.


Membuka hati untuk perempuan lain merupakan hal yang paling sulit untuk dilakukan oleh Reynand. Pernah ia lakukan membuka hati untuk Widya selama satu tahun menjalin hubungan walaupun tanpa status, dia ingin memastikan bahwa dia bisa mencintai perempuan lain. Akan tetapi semua itu hanya sia-sia dan membuat Widya menyerah waktu itu.


Reynand masih mengingat jelas kalimat di mana Bintang mengatakan bahwa dia akan tetap menunggu Rey. Tapi, hingga saat ini kabarnya pun sudah mulai menghilang.


Drrtt


Getar ponsel Reynand membuatnya sedikit tersadar dari lamunannya, telepon dari mamanya, yang barangkali kali ini akan memintanya pulang untuk membicarakan hal itu.


Pria itu menarik napas, kemudian menjawab telepon. "Iya, Ma?"


"Malam ini pulang ya! Ada yang mau Papa sama Mama omongin sama kamu," ucap perempuan itu dari seberang sana.


Rey pun mengiyakan dan menutup telepon itu.


Ia merapikan beberapa berkas yang berserakan di atas mejanya. Dia berencana segera kembali.


Sedari tadi dia berusaha untuk fokus untuk menyetir.


Tiba di rumah. Rey bersalaman kepada orang tuanya dan menghampiri adiknya yang sedang membaca komik sambil tengkurap di ruang keluarga.


"Kakak," panggil keduanya serentak. Rey memang mengasingkan diri hingga membuat adiknya begitu terkejut ketika dirinya pulang ke rumah.


"Apa kabar kalian?"


"Baik, kakak kenapa enggak pernah pulang? Kangen sama kakak," ucap Salsabila yang langsung memeluknya.


Rey duduk di sofa dan memeluk kemudian mencium kening adiknya bergiliran. "Maafin kakak yang enggak pernah pulang ya, kakak sibuk banget soalnya,"


Nagita melihat raut wajah Rey yang kelelahan itu merasa sangat kasihan. "Enggak seharusnya kamu terus merasakan hal yang seperti ini, Nak," ucapnya pelan.


"Mama, Papa mana?"


Pria itu menggeleng. "Papa sama Mama melakukan hal yang benar kok, maaf juga karena sudah jarang pulang ke rumah,"


Nagita mendekati putranya dan mengelus punggung anaknya. Biarlah segala sakit itu dia dan Azka yang merasakan, asal jangan Reynand yang menanggung semua itu.


"Masuk kamar ya, biar adik kamu sama Mama," perintahnya pada Reynand yang benar-benar kelihatan sangat kelelahan.


"Iya, Ma. Kalau gitu aku pamit ya," jawab Reynand.


Nagita mengangguk pelan. "Ayo bantu Mama siapin makan malam, Nabila, Salsabila!" ajaknya pada putri kembarnya yang saat ini sedang duduk di bangku kelas lima SD. Hanya mereka berdua yang kini menemani Nagita dan Azka selama berada di rumah.


Mengenai perjodohan itu, Nagita sudah sangat sepakat. Apalagi melihat perempuan calon menantunya yang begitu cantik akan tetapi begitu membuka cadarnya dan dilihat oleh semua orang, perempuan itu menunduk dan pamit ke kamarnya. Bahkan orang tua perempuan itu meminta maaf karena tingkah anaknya mereka yang masih pemalu.


Di sana Azka juga sempat kagum melihat kecantikan calon menantunya, Nagita yang juga waktu itu langsung tersenyum. Leo juga yang melihat perempuan itu langsung tersedak begitu saja.


Nagita dan Azka yakin bahwa kali ini pilihan yang tepat adalah menjodohkan anaknya dengan perempuan itu.


"Mama, dari tadi Papa panggil enggak nyahut," Nagita menoleh ketika melihat suaminya duduk di kursi ruang makan mereka.


Nagita yang tadi fokus untuk memasak dan tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian waktu lamaran minggu lalu.


"Mama ngelamunin apa sih?"


"Mama ngelamunin Rey sama Marwa kalau nikah nanti," jawab Nagita polos.


"Ohya, Ma. Naura sama Reno sudah persiapkan semuanya. Undangan juga sudah disebar?"


"Hah, yang benar saja, Pa? Kita belum ada persiapan loh?"


"Ini semua rencana Leo sama Fendi. Papa juga enggak tahu, lihat nih, tanggalnya itu lusa, Ma," Azka menyerahkan kartu undangan pernikahan dan langsung melihat tanggal yang sudah ditentukan.


"Yang dua ini sudah gila ya?"


"Papa juga enggak tahu, makanya pulang telat karena Leo masuk ke ruangan Papa sama Fendi, soal pesta Reno sama Naura yang siapin,"


"Gila, kita bahkan belum ngomong sama, Rey,"


"Nah itu dia yang bikin Papa juga kaget sama semua ini, terus Rey sendiri di kamar kan? Papa lihat mobilnya di luar," tanya Azka memastikan.


"Iya, dia lagi mandi sih. Mama suruh masuk tadi, mau masakin dia untuk makan malam. Ya ampun, Pa. Gimana ini?"


"Gimana apanya? Leo sama Fendi yang salah, kalau soal gaun pengantin, sepertinya Jenny yang persiapkan, udah ada sih katanya,"


"Kenapa hidup kita dikelilingi sama orang-orang gila seperti mereka, Pa? Bahkan kita sendiri belum apa-apa. Mereka main gerak cepat aja, Papa juga nanti yang kerepotan. Ini mendadak banget,"


"Udahlah, Ma. Mungkin sahabatnya Rey mau lihat dia itu buruan nikah deh, enggak usah nunda gitu. Siapa tahu ini memang bertanda baik untuk anak kita."


Kali ini Nagita hanya bisa pasrah dengan semua yang sudah disiapkan oleh orang-orang terdekat Reynand.