
"Bintang!" panggil Rey pelan. Namun tetap saja gadis itu tak mempedulikan Rey. Dia justru fokus membaca buku. "Aku ganggu ya?"
"Enggak,"
Jawabannya selalu saja singkat dan baru pertama kali ini dia tertarik untuk menyapa temannya terlebih dahulu. Walaupun dia merupakan siswa favorite, Rey tak pernah menyombongkan dirinya.
"Kak, bisa minta bantuannya? Ajarin ini dong!" Rey menolah sejenak saat adik kelasnya duduk disampingnya sambil membawa buku.
"Lanjutin saja, aku mau ke kelas,"
Melihat Bintang yang beranjak dari tempat duduknya, ingin sekali Rey menahan gadis itu, tapi dia juga tidak bisa mengusir adik kelasnya saat dimintai bantuan, mau tidak mau dia harus membantu adik kelasnya terlebih dahulu sebelum mengejar Bintang ke kelas.
Sebagai salah satu siswa yang berprestasi, Rey juga tidak mungkin untuk bersikap angkuh. Barangkali ada yang jauh lebih pintar darinya, atau bahkan akan ada yang menyainginya nanti. Rey memikirkan bahwa terkenalnya itu bisa saja lenyap dalam suatu waktu.
Setelah selesai mengajari adik kelasnya. Rey langsung bergegas menyusul Bintang ke kelas, dan tetap saja gadis itu seolah sedang mengasingkan diri dari semua teman-temannya, Rey hanya tak mengerti dengan temannya yang satu itu. Apakah memang tidak memiliki teman karena menjadi murid baru atau memang enggan untuk bergaul bersama yang lainnya?
Rey keluar dari kelasnya dan ke kantin. Ia membeli susu dalam kemasan kotak, rasa vanila dan juga cokelat. "Mau ke mana sih?" Protes Fendi yang masih berada di sana.
"Haus,"
"Okelah, pergi sana! Gue mau ngobrol dulu sama calon istri gue, Rey. Ini juga Rista di sini jadi nyamuk doang," keluh Fendi.
"Gimanapun juga kan kalian itu teman. Kita juga teman, jangan gitulah. Nanti ketahuan pacaran, bisa botak lo sama Bu Wulan,"
"Diam, kampretlah,"
"Gue balik duluan ya,"
Rey pamit kepada teman-temannya untuk kedua kalinya. Dia masuk ke kelasnya lagi dan duduk tepat di depan Bintang, sementara penghuni tempat itu belum ke kelas. Rey memberikan susu cokelat kepada Bintang.
"Enggak suka cokelat,"
"Ini mau?"
Bintang mengangguk pelan. Rey menukarnya dan duduk di depan gadis itu, setidaknya kali ini dia bisa lebih akrab dengan gadis itu.
"Demi apa gue lihat Rey dekati cewek? Yang biasanya dia yang dikejar-kejar cewek, sekarang malah dia yang ngejar," ucap salah satu temannya.
"Diamlah kalian itu, jangan sebar gosip yang enggak-enggak."
Rey justru merasa malu dengan ucapan temannya yang seperti itu, dengan poni yang menggantung dan rambut yang dikuncir seperti ekor kuda, bibir yang merona serta pipi yang sedikit tembam, Rey tersenyum melihat gadis itu sangat cantik.
"Kenapa senyum?"
"Memangnya kamu keberatan kalau aku senyum?"
"Aku enggak suka,"
"Enggak suka kenapa?"
"Kamu terlihat mesum," jawab gadis itu dingin. Rey mengerutkan dahinya setelah gadis itu berkata demikian. Baru kali ini dia dikatakan seperti itu oleh temannya.
"Waaah, Bintang kamu ini gadis langka yang nyebut aku mesum,"
"Biarin. Panggil aku Aira, jangan panggil aku Bintang,"
"Kalau aku maunya kamu jadi Bintang cuman buat aku, memangnya aku salah?"
Terdengar begitu sangat konyol saat Reynand berkata demikian, tapi bagaimana pun juga Rey hanya ingin akrab dengan teman sekelasnya bukan bermaksud untuk gombal terhadap temannya.
"Kamu Rey, kan?"
"Iya, aku Rey,"
"Bisa panggil aku dengan nama Aira saja? Aku enggak suka panggilan Bintang!"
"Aku pastikan bahwa aku saja yang manggil kamu seperti itu,"
"Aku enggak suka,"
"Kenapa?"
"Pokoknya aku enggak suka,"
Gadis itu langsung tersenyum begitu manis, jantung Rey berdetak kencang begitu saja saat gadis itu menyipitkan matanya ketika tersenyum ke arah Rey.
'Tuhan, apa ini?' Rey berusaha menyembunyikan ekpresi bahagianya saat Bintang tersenyum hanya untuknya. Bahkan dirinya yang pertama kali melihat senyum teman sekelasnya itu.
"Rey,"
"Hmmm?"
"Bisa ajari aku pelajaran yang lainnya? Aku sudah ketinggalan sangat jauh, aku telat masuk,"
"Boleh, tapi di perpustakaan waktu jam kosong atau waktu istirahat, kamu enggak masalah kan?"
"Hmm, bisa,"
Rey menyangga dagunya dan Bintang langsung menunduk membaca buku, padahal Rey tahu bahwa buku Bintang sedang terbalik, tidak ingin merusak suasana menjadi canggung, Rey pun pura-pura tidak tahu hal itu dan bangkit dari tempat duduknya.
"Bel masuk, jangan lupa buang sampahnya ya! Kalau kamu kesulitan, kamu bisa hadap belakang, nanya ke aku,"
"Terima kasih, Rey,"
"Sama-sama. Jangan sungkan, jangan mengasingkan diri juga sama yang lainnya. Kita ini teman sekelas, kalau nantinya ada apa-apa dijalan, masa mau tetap diam? Aku harap kamu lebih aktif lagi dalam bergaul,"
"Rey!"
Rey yang tadinya hendak pergi untuk membuang sampah minumannya itu pun langsung berhenti karena dipanggil oleh Bintang. Sesaat ia berbalik. "Sekali lagi, terima kasih. Kalau aku mau temanan sama kamu aja, boleh?" ucap perempuan itu sambil tersenyum.
"Boleh," ucapnya singkat dan langsung pergi begitu saja.
Jam pelajaran berikutnya pun di mulai, dan kini giliran Fisika. Sudah menjadi suatu kebiasaan jika setiap harinya kelas IPA bertemu dengan hitung-hitungan, kali ini adalah pelajaran dari pak Suhirdi, yang di mana guru tersebut kadang selalu membuat tingkah konyol di kelas untuk membuat suasana kelas yang membosankan menjadi sangat terhibur.
Disebelah Bintang ada Fendi yang tengah asyik mengobrol dengan teman yang lainnya.
"Fendi, kerjakan nomor 21, sekarang!"
"Eh, kok saya?"
"Dari tadi Bapak perhatiin kamu ngobrol dan ketawa-ketawa sama teman yang dibelakang kamu, dan kamu Satria, kerjakan 25-30, Sekarang!"
"Lah, Fendi dapat 1, kok saya banyak banget, Pak?"
"Kamu yang ngajak Fendi ngobrol, jadi kamu dapatnya yang paling banyak. Kalau enggak mau, berarti harus berdiri di depan kelas sambil angkat sebelah kaki dan saling pegang telinga!"
"Saya kerjakan, Pak," Fendi berdiri dan langsung menuju ke depan untuk mengerjakan soal yang disuruh oleh Pak Suhirdi.
Fendi memang anak yang tidak bisa diremehkan. Walaupun jarang belajar, tapi sangat mudah mengerti. Waktunya terlalu banyak tersita karena pekerjaan, namun kini semenjak bekerja di bengkel milik orang tua Rey, anak itu menjadi ada waktu untuk fokus pada sekolah meskipun menjadi tulang punggung keluarga. Setidaknya gajinya tetap sama dengan yang lainnya dan pekerjaannya tidak seberat di tempat pertama dia bekerja.
"Tuh ngerti, jawabannya juga benar. Malah mau diajak ngegosip di belakang, awas loh nanti nilai kamu bisa hancur kalau terus ngobrol, Fen,"
"Saya akan berusaha untuk tidak tergoda sama setan pojokan kelas, Pak,"
Fendi menyeringai saat temannya yang mendapatkan tugas lebih banyak darinya justru menarik telinganya saat berkata demikian.
"Calon lo, Jenn, dia pintar juga ternyata. Enggak salah jatuh cinta deh, lo," ledek Rey sambil berbisik dan seketika membuat pipi Jenny merona.
"Setelah kita pulang, habis lo, Rey. Lihat aja,"
"Fen, sikat. Ajakin kencan!"
"Tenang calon masa depan, minggu ini aku libur, kita kencan, oke? Rey boleh pinjam motor, kan?"
"Bolehlah,"
"Dengerin Baby, kita bakalan kencan," bisik Fendi.
"Rey, minggu ini aku ke rumah kamu, ya?" ucap Widya.
"Berani ke rumah, siap-siap lo bakalan gue cuekin seumur hidup, Wid," ancam Rey. Karena bagaimanapun juga dia masih patuh kepada mamanya dan tidak ingin membawa teman perempuannya ke rumah. Apalagi Widya, perempuan yang sangat dia benci selama ini karena tingkahnya yang selalu saja menggoda Rey.
"Rey, boleh ya?"
"Enggak."