RICH MAN

RICH MAN
MENGURUNGKAN NIAT



Jangan lupa baca With You juga. Terima kasih sudah bersabar menunggu. Saya sibuk untuk siapin Crazy Up With You... Hehehe maaf ya


Marwa sudah benar-benar mengurungkan niatnya meninggalkan Rey karena melihat buah hatinya yang tumbuh semakin sehat. Kali ini Audri berusia enam bulan yang di mana sudah diberikan makanan pendamping. Tugasnya sebagai seorang ibu selalu diringankan oleh suaminya.


Awalnya dia berniat menceraikan Rey karena sakit hatinya dulu. Tapi, semenjak Rey menceritakan masa kecilnya yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua karena terjadi sesuatu yang tidak dimengerti oleh Rey hingga saat ini. Marwa sedikit berpikir, andai saja dia memilih utnuk tetap menceraikan Rey, pasti itu juga akan dialami oleh anaknya.


Bertemu dengan orang tua hanya pada saat dibutuhkan. Tidak bertemu setiap harinya seperti keluarga pada umumnya.


Marwa juga menceritakan mengenai dirinya yang sempat menggugat Rey. Tapi suaminya justru tersenyum dan menciumnya. Kemudian mengatakan bahwa itu adalah masalah yang tidak perlu diungkit lagi.


Memang pada awalnya kesakitan itu memang luar biasa. Di mana ketika Marwa hamil justru mendapati suaminya berselingkuh.


Pelan-pelan dia mencoba mengerti dengan apa yang terjadi. Marwa sadar bahwa yang dia lakukan untuk melepaskan Rey itu adalah kesalahan terbesar. Anaknya butuh kasih sayang orang tua yang lengkap. Mertuanya juga mendukungnya untuk tetap melanjutkan pernikahan itu.


Rey juga sering bercerita mengenai masa kecilnya yang dirawat oleh Omnya.


Pasti sulit untuk melewati semua itu. Sulit untuk menerima perpisahan orang tua. Apalagi ketika Audri sakit, Rey bertemu dengan mantan papa tirinya. Mulai dari sana, suaminya menceritakan masa-masa sakitnya yang tidak mengerti apa-apa dan paling takut dengan Om Dimas. Raut wajah suaminya yang ketika itu bercerita dengan mata berbinar membuat Marwa sepertinya merasa luluh dengan tingkah suaminya saat Audri berusia genap dua bulan waktu itu.


“Mama sayang,” panggil Rey sambil menggendong Audri yang baru saja selesai dimandikan. Rey memang sering melakukan kegiatan itu jika dia tidak sibuk. Atau kadang sengaja pulang lebih awal ketika bekerja hanya untuk memandikan Audri.


Suara gelak tawa Audri ketika Rey bermain pesawat-pesawatan dengan tubuh mungil anaknya. “Mas, kebiasaan! Nanti jatuh,” tapi bukannya merespon justru suaminya tetap melakukan hal itu.


“Anak Papa nggak bakalan jatuh dong, ya kan sayang,” Rey jsutru berbicara dengan Audri dan mendaratkan Audri diatas ranjang kemudian memangkunya sambil mengeringkan rambut sikecil.


Marwa juga sangat gemas ketika melihat putri kecilnya yang giginya tumbuh lebih awal dan gigi anaknya sudah tumbuh diatas dan dibawah walaupun tidak semuanya. Tapi, Audri tetap diberikan bubur atau makanan yang bisa dicerna oleh bayi seusianya.


“Kita ke lumah nenek, ya sayang ya,” ucap Rey dan tetap membuat Audri tertawa dan suaranya sangat nyaring hingga membuat Marwa juga tertawa mendengar kebahagiaan anaknya. Bagaimana mungkin dia tega melihat anaknya berpisah dari Rey jika saat ini keduanya sangat akrab dan bahkan malam pun Rey yang lebih banyak berjaga.


Audri memang tidak dia berikan ASI karena air susu Marwa sudah tidak keluar lagi semenjak usia Audri dua bulan. Bahkan semenjak melahirkan air susunya memang sedikit, Rey sudah berusaha mencarikannya obat. Tapi tetap saja, bahkan pada saat usia Audri baru menginjak dua bulan. Benar-benar air susunya tidak keluar lagi hingga Audri sakit karena tidak mau meminum susu formula dan sempat membuat keduanya panik.


Untuk sekarang ini beruntunglah anaknya mau meminum susu formula dan Rey selalu berjaga-jaga setiap kali susu Audri habis ditengah malam.


“Ambilin bajunya Audri ya!” pintanya.


Marwa mengangguk dan mencarikan pakaian untuk anaknya.


Melihat anaknya yang tumbuh sehat dan sangat aktif, bahkan ketika ditinggal bekerja Audri sering menangisi papanya hingga pada akhirnya Rey mengalah dan menggendong anaknya kemudian harus mencari cara agar bisa berangkat bekerja tanpa diketahui anaknya. Kadang Marwa merasa lebih baik Audri belum bangun dan suaminya berangkat bekerja, dibandingkan jika pagi hari dia harus diributkan dengan suara tangis anaknya.


Mereka tinggal bertiga dan memilh rumah baru untuk menjadi tempat tinggal mereka. Orang tua Marwa bahkan seringkali meminta agar mereka ikut tinggal di sana. Tapi, mereka memilih untuk membeli rumah agar keluarga kecil mereka bisa diurus sendiri. Belajar saling mengerti lagi untuk memberi kesempatan pada kesalahan yang pernah lalu.


“Kamu pakaiin bajunya ya! Mas mau mandi dulu,” ucap Rey kemudian Marwa mengambil alih memasangkan baju untuk anaknya.


Berselang beberapa lama kemudian suaminya keluar dari kamar mandi yang sudah mengganti pakaiannya.


“Mas, dia tidur,”


Rey mengangkat sebelah alisnya dan langsung menghampiri Audri dan istrinya yang ada diatas ranjang.


“Nggak apa-apa. Biarin aja dia tidur nanti selama diperjalanan,” jawab suaminya sambil mengeringkan rambutnya. “Duplikat aku banget nih bocah,”


“Iyalah, Papanya,”


Rey tertawa ketika itu melihat anaknya yang diatas ranjang tertidur miring memegang botol susunya.


Mereka sudah pasrah ketika waktu itu air susu Marwa tidak bisa keluar lagi dan harus mencari cara agar anaknya tetap tumbuh sehat.


“Jadi nginap di rumah, Mama?” tanya Rey kepada istrinya yang saat itu tersenyum sambil mengangguk.


“Jadi dong, Mas juga ya!”


“Tapi kalau Mas pulang agak larut nanti, Mas pulang ke rumah orang tua Mas ya. Nggak enak kalau Mas pulang larut ke rumah Mama sama Papa,”


“Iya, Mas,”


Seiring berjalananya waktu perasaan cinta itu begitu kuat tumbuh lagi diperasaan mereka masing-masing. Tidak ada lagi perasaan benci seperti dulu. Kini mereka fokus membesarkan sang buah hati yang terus saja tumbuh sehat.


 


 


Tidak ingin jika anaknya mengalami perpisahan orang tua seperti yang mereka rasakan dahulu. Keduanya pun sudah berjanji tidak membahas itu lagi di depan anak mereka. Cukuplah waktu itu menjadi pelajaran berharga untuk mereka berdua.