
Ia terbangun dari
tidurnya, ia langsung bangkit dari tempat tidunya dan menarik handuk
yang tertata rapi di dekat lemarinya. Azka sudah terbiasa dengan suasana
apartemennya yang rapi setiap hari. Ia membuka pintu dan betapa
terkejutnya ia menemukan Nagita sedang mandi, ia menganga saat melihat
Nagita bertelanjang bulat di depannya.
Perempuan itu menjerit karena kaget. "Bapak ngapain?" Nagita langsung meraih handuk untuk menutup tubuhnya.
"Ma-maaf. Kamu lanjutin aja!"
Azka langsung keluar dan
menutup pintu. Dibelakang pintu ia mengelus dadanya karena untuk
pertama kalinya ia melihat tubuh polos istrinya dalam keadaan sadar. Ia
tersenyum saat itu juga dan lebih memilih untuk keluar dari kamarnya.
Ia menuju dapur sambil
menunggu Nagita selesai mandi. Salahnya sendiri yang tak hati-hati saat
masuk ke kamar mandi. Padahal ia tahu sendiri bahwa ia berbagi kamar
mandi dengan istrinya saat ini. Bukan sendiri lagi.
Beberapa saat kemudian
Nagita keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Lagi-lagi Azka hanya
melewati istrinya begitu saja. Hanya dengan mengenakan daster dan
perutnya yang sudah terlihat jelas, ia hanya sesekali memperhatikan.
Tetapi tidak pernah mampu peduli lebih nyata lagi. Sebab ia tak ingin
seperti orang yang terlihat peduli meski sebenarnya ada rasa khawatir
meski sedikit saja dalam hatinya.
Azka langsung kembali ke
kamar mandi dengan handuk yang bertengger di lehernya. Ia membasuh diri
di bawah shower untuk terus tetap merasa baik-baik saja. Bayangan tadi
masih belum membuatnya lupa begitu saja.
Hampir setengah jam ia
berada di kamar mandi, ia pun keluar dan menemukan pakaian yang akan
dikenakannya ke kantor sudah tertata rapi di atas ranjang seperti biasa.
Namun Azka justru mengembalikkan jas dan kemeja tersebut ke dalam
lemari dan menggantinya dengan pakaian santai.
Ia keluar dari kamar dan langsung menemui Nagita yang tengah memasak.
"Masak apa?"
Tak ada tanggapan, Azka
menarik napas. Untuk pertama kalinya ia menyapa istrinya di pagi hari.
Bahkan meski berdua, ia jarang sekali ngobrol dengan Nagita.
"Masak apa?" Azka langsung berbicara di dekat telinga Nagita.
"Ba-bapak. Ngagetin aja, ada apa?"
"Kamu ditanya dari tadi nggak nyahut,"
"Maaf, sa-saya fokus masak,"
"Hari ini kita pergi ya?"
"Ke mana?"
"Periksa kandungan. Kita belum pernah melakukannya, saya ingin tahu jenis kelaminnya," masih dengan bawaannya yang dingin.
"Baik, Pak."
Azka menunggu di ruang tamu. Mengabari Damar untuk menggantikan posisinya.
Azka:
Mar, handle perusahaan
hari ini ya. Gue mau pergi ke dokter sama Nagita. Sekalian mau ngajakin
dia jalan-jalan. Kayaknya dia bosan di apartemen.
Azka menyalakan televisi dan beberapa saat kemudian pesan singkat dari Damar.
From: Damar
Syukur deh kalau lo sudah sadar. Semoga anak lo jagoan ya, biar ada yang gebukin lo kalau lo macam-macam.
Azka tersenyum saat
mendapat pesan dari Damar. Namun hubungannya dengan Deana tentu saja
masih baik-baik saja. Bahkan semalam ia masih tidur bersama perempuan
itu, meski di rumah sudah ada istrinya yang menunggu. Ia masih
mengkhianati istrinya, entah sampai kapan hal itu akan terjadi. Azka
sendiri tidak peduli dengan perselingkuhan. Sebab baginya menikahi
Nagita adalah kesalahan.
"Pak, sarapannya sudah siap!"
Azka menoleh dan langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menyantap sarapan pagi bersama dengan istrinya.
Untuk pertama kalinya ia
menatap wajah Nagita, manis. Meski terlihat kaku, Azka sadari bahwa
perempuan itu memang cantik. Lebih seksi dari perempuan mana pun,
apalagi kini istrinya tengah hamil, itu membuatnya sedikit merasa
tergoda dengan kehadiran Nagita. Tapi untuk melakukan kewajibannya
sebagai seorang suami, ia tidak bisa menuntut akan hal itu. Ia juga tahu
betapa bencinya perempuan itu terhadap dirinya, meski tak pernah
dinampakkan. Ia tahu bahwa sesungguhnya tidak pernah ada cinta yang
terlahir di antara mereka.
"Kamu nggak keberatan soal tadi di kamar mandi?"
Uhuk uhuk
"Pelan-pelan! Maaf, saya nggak bermaksud buat kamu tersedak. Cuman saya takut kamu marah,"
Nagita menggeleng. Tak ada jawaban selain gelengan tersebut.
Selesai makan. Nagita langsung membereskan meja dan Azka justru hanya membantu mencuci piring kotor.
"Ganti bajumu, kita pergi sekarang."
Nagita hanya mengangguk.
Sungguh Azka benar-benar merasa penasaran dengan bayi yang ada dalam
kandungan Nagita. Jika tidak bisa mencintai Nagita, setidaknya berbuat
baik walau sesaat adalah pilihan yang baik.
Mereka pun keluar dari
apartemen bersama, Azka menggenggam erat tangan kanan Nagita dan
menyatukan jemarinya. Untuk pertama kalinya ia melakukan hal itu, untuk
berjaga-jaga jika Nagita terjatuh.
Tiba di tempat Eva,
sahabat dari Azka. Mereka berdua langsung dipersilakan untuk masuk
karena sebelum berangkat tadi ia sudah mengadakan perjanjian dengan
temannya itu.
"Kamu tunggu di luar! Saya ada perlu sebentar." Selesai pemeriksaan ia menyuruh Nagita untuk menunggu di luar.
"Gimana?"
"Lo kenapa nggak ikut waktu pemeriksaan?"
"Tahu sendiri kan, gue nggak pernah mau buat nemenin dia. Gue cuman khawatir sama bayi gue,"
"Dia laki-laki. Tapi
kuasa Tuhan kita nggak tahu, bisa jadi nanti kalau dia sudah lahir malah
dia banyak pikiran. Kelihatan dari ekspresinya, nggak banyak omong. Apa
lo cuman peduliin anak lo terus nggak peduliin dia?"
"Gue cuman pengin anak itu lahir. Gue mau nikah, Va,"
"Dia bakal lo ceraikan gitu aja?"
"Entah. Gue nggak cinta, sampai sekarang pun perasaan gue nggak ada ke dia. Justru gue masih sama cinta lama gue,"
"Jangan bilang lo sama Deana lagi?"
"Kenyataannya memang begitu, Va. Gue balikan sama dia, bahkan gue kumat lagi kalau sama dia,"
"Lo cuman diperbudak
sama kecantikan dan tubuh dia. Tapi lo nggak bisa lihat ke hati tulus
istri lo. Jangan sampai lo nyesel buat bersikap brengsek lagi, lo itu
bakal jadi ayah. Sebentar lagi punya anak, lo punya istri. Tapi lo malah
nyari perempuan lain, apa lo juga menuhin kebutuhan biologis lo sama
dia?"
"Tanpa gue kasih tahu pun, lo udah tahu jawabannya,"
"Sama istri lo nggak pernah?"
"Nggak pernah lagi. Kejadian sialan itu membawa petaka bagi gue,"
"Terserah lo. Cuman
saran gue, ya lo harus awasi terus perkembangannya dia, jangan sampai lo
lupa tanggung jawab lo. Makannya harus lo perhatiin, harus bergizi,
jangan di omelin kalau dia makan banyak, tidurnya sudah mulai
mendengkur?"
"Kalau urusan itu gue
serahin sama dia. Secara selama ini gue nggak tahu dia makan apa aja,
kalau mendengkur sih nggak, memangnya kenapa?"
"Nggak apa-apa. Orang hamil itu tidur mendengkur, tapi sebagian. Kadangitu juga karena kelelahan, Az. Dia rajin minum susu?"
"Kayaknya,"
"Bangke. Lo suaminya malah nggak tahu tentang apa-apa,"
"Gue pergi pagi pulang petang,"
"Makanya jangan selangkangan aja yang lo pikirin,"
"Mulut lo, sialan. Gue pamit ya, nggak ada obat gitu buat dia?"
"Nggak, dia baik-baik aja. Cuman saran gue banyakin makan buah sama makanan bergizi lainnya."
Azka bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada Eva.
Ia memperhatikan Nagita
duduk diruang tunggu sambil mengelus perutnya. Azka mengernyit dan
sedikit merasa terganggu dengan hal itu. Semakin Nagita menyayangi
bayinya, itu berarti akan membuatnya sedikit lebih sulit untuk mengambil
anaknya nanti. Rencana konyol itu sudah direncanakan oleh Azka dengan
Deana. Bagaimana pun caranya ia harus mendapatkan anak itu nantinya,
tidak ada yang tidak bisa bagi Azka. Uang adalah raja bagi hidupnya.
"Ayo pulang!"
Ia menggandeng tangan
Nagita lagi. Kali ini ia akan membawa perempuan itu ke mall, untuk
membeli beberapa pakaian. Sangat tidak adil jika dirinya hanya
membelikan kepada Deana, tetapi kebutuhan istrinya sendiri tak pernah
dihiraukan.
"Katanya pulang, kita ngapain di sini?"
"Beli baju. Jahat banget saya kalau lihat baju kamu hanya beberapa biji di lemari."
"Nggak usah pak,"
"Jangan bantah. Saya nggak suka di bantah."
Ia mengajak Nagita masuk
dan membawanya ke salah satu toko baju. "Pilihkan baju apa saja yang
cocok buat dia!" perintahnya kepada salah satu karyawan dan ia menunjuk
Nagita untuk memberitahukan kepada karyawan tersebut.
Azka berkeliling sembari
menunggu Nagita dipilihkan baju oleh beberapa karyawan yang ikut
membantu. Ia berhenti di salah lingerie paduan warna hitam dan merah.
Pikiran kotornya menyeruak begitu saja.
"Cocok untuk istri anda
tuan, apalagi dia sedang hamil. Pasti tambah seksi." Azka menoleh saat
mendengar salah satu karyawan mengatakan hal itu.
"Bungkus. Jangan sampai dia tahu!"
Bukan Azka namanya jika
tak menyukai pakaian seksi. Apalagi digunakan oleh perempuan cantik,
putih dan berisi. Tentu gairahnya akan memuncak begitu saja. Sebagai
pria normal, tentu saja kebutuhan biologisnya harus terpenuhi. Meski
sudah ada Deana, tetapi tidak ada salahnya walau hanya melihat Nagita
menggunakan pakaian yang ia belikan.
Sambil memainkan ponselnya, Nagita datang menghampirinya. "Sudah pak,"
Azka mengernyit ketika
melihat belanjaan Nagita hanya dua setel. Ia mengambil pakaian sembarang
dan mencocokkan dengang tubuh Nagita. Dibantu oleh beberapa karyawan
untuk membawa belanjaannya.
"Jaga penampilanmu walaupun kamu hamil. Jangan urakan begitu, saya nggak suka,"
"Baik pak. Tapi itu kebanyakan."
"Sudah tanggung jawab saya untuk belikan ini itu untuk kamu. Jangan khawatir."
Azka mengajak Nagita menuju kasir dan langsung membayar pakaian-pakaian yang dibelikannya untuk Nagita.
"Total keseluruhan 78 juta 235 ribu rupiah tuan,"
Bukan hal yang sulit baginya. Itu adalah setengah belanja dari Deana. Azka tak masalah jika harus membeli lebih banyak lagi.
"Pak, belinya kebanyakan."
"Tolong kamu hanya perlu
nurut. Jangan protes. Setidaknya jangan sampai kamu lewatkan satu pun
pakaian dari saya. Jangan pernah kamu hanya simpan dalam lemari. Tanpa
kamu kenakan,"
"Iya, Pak."
"Tolong bawakan barang saya ke mobil!"
Azka seperti biasa lagi.
Mulai mengabaikan Nagita. Setiap kali bersama Nagita, selalu ada Deana
yang membayangi pikirannya. Namun ketika dengan Deana, sedikit pun tak
pernah terlintas tentang Nagita. Hal itulah yang menjadi perbedaan.
Cinta yang tulus dan cnta yang berusaha untuk dipaksakan. Seberapa
hebatnya Azka untuk belajar menghargai, tetap saja hatinya begitu mati
jika sudah berhadapan langsung dengan Nagita. Sikap dinginnya tak bisa
berubah, sesaat berubah. Namun berikutnya akan berubah lagi pada hal
yang biasa.