
“Rey
ayo buruan! Ngapain aja sih lama banget di kamar?” ucap Nagita karena sudah
hampir setengah jam yang lalu ia mendapatkan kabar bahwa Naura akan menginap di
rumah orang tua Azka. Yang pastinya Nagita juga akan menginap jika Naura berada
di sana. Terlebih karena Rey yang meminta, jika kedatangan Leo dan juga Clara
sebagai teman yang menemani Rey bermain nanti di sana. Namun hingga saat ini
anaknya belum juga keluar dari kamarnya.
“Rey
ngapain?” Nagita menghampiri anaknya yang tengah mempersiapkan barang yang akan
dbawanya. Hari itu juga ia telah memberitahukan kepada Azka bahwa ia akan
menginap di rumah Mama Novi, selaku mertuanya. Tentu saja jika sudah berkumpul
di sana suasananya akan semakin ramai. Rey yang tidak akan rewel lagi dan juga
Leo pasti akan menemani Rey bermain.
“Mommy ini kan Rey lagi siapin mainan
buat main bareng nanti sama adek Leo. Tunggu sebentar aja, Mom!”
Nagita
memegang kepalanya yang sedikit pusing karena telah menunggu sangat lama dan
mainan yang dibawa oleh Rey juga tidak pernah sedikit. Terkadang di dalam mobil
mereka sering berantem sekadar meributkan mainan saja. Tetapi Nagita kini telah
terbiasa dengan kebiasaan anaknya. Mau tidak mau ia harus mengikuti apa yang
akan diinginkan oleh anaknya.
Nagita
menunggu di ruang tamu. Hingga anak itu keluar dengan mendorong koper kecilnya
yang dikhususkan untuk tempat mainan. Nagita menggeleng melihat tingkah anaknya
yang seperti itu. Tetapi ia tidak bisa memarahinya karena itu sudah menjadi
kebiasaan anaknya yang membawa banyak mainan ke sana.
“Rey
yakin mau main ini sama Leo?”
“Iyalah.
Nanti Rey berangkat sekolah juga dari rumah Oma ya, Mommy sama Daddy lama
banget buatin adek buat Rey. Kayak aunty
Naura dong, Mom dia turuntin apa yang dimau sama Leo. Mommy janji melulu sama Rey, bosan tahu nggak,”
‘Untung
anak kesayangan kamu, nak. Kalau nggak sudah Mommy gigit kamu nak ngegemesin gini’ ucapnya dalam hati. Sungguh Nagita
sangat bersyukur telah mampu merawat Rey hingga sebesar sekarang. Meski waktu
itu ia harus memisahkan anak itu dari ayah kandungnya. Tetapi melihat ketulusan
Azka yang sudah mulai berubah, ia menjadi semakin yakin bahwa memberikan Azka
kesempatan memang tidak ada salahnya.
Nagita
membantu Rey memasukkan barangnya ke dalam mobil dan ia menyetir sendiri menuju
rumah mertuanya. Sepanjang perjalanan Nagita menanggapi beberapa pertanyaan
Rey, ia tidak menjawab semuanya karena takut tidak fokus menyetir jika terus
menanggapi putranya.
Hingga
tiba di rumah mertuanya. Anak itu langsung turun dan meninggalkan dirinya di
garasi, ia menghela napas panjang dan melihat tingkah anaknya yang super aktif
itu. Walau terkadang ia harus curi-curi waktu hanya untuk berduaan dengan Azka.
“Siang,
Ma.”
Nagita
langsung di sambut oleh mertuanya. “Ayo, Naura masih di kamarnya tidurin Clara.”
“Ma,
dulu Mas Azka juga gini banget ya?”
“Gimana
sayang?”
“Kayak
Rey. Ya ampun Ma, dia kerjaannya protes melulu akhir-akhir ini, belum lagi dia
sering ngomel sama Mas Azka kalau nggak ditemani main, kasihan lihat dia baru
pulang kerja, Rey minta digendong segala macam, nggak diturutin dia nangis, aku
juga kadang kecapean Ma. Dia itu nggak bisa dibilangin kalau sudah ganggu Mas
Azka,”
Mereka
duduk di sofa dan punggungnya dielus oleh mama mertuanya, “Sabar ya sayang. Rey
begitu juga karena dia jarang ketemu sama Azka. Jadi sekarang waktunya dia
bermanja-manja dan nggak bisa dibilangin tentunya karena dia juga butuh waktu
sayang. Jangan pernah dimarahin ya, kamu tahu sendiri kan dia itu kesepian
waktu kalian pisah. Dia sering banget curhat kalau kamu selalu hindari Azka
setiap kali dia di sana, dan Rey cerita kalau kamu nggak pernah mau tidur sama
mereka,”
Nagita
terdiam dan merasa bersalah selama ini, niatnya menghukum Azka dan melihat
betapa kesungguhan pria itu. Tetapi justru berdampak kepada anaknya. Hingga ia
merasa sangat malu ketika mertuanya mengatakan hal itu. Dan seharusnya tidak
semestinya ia mengeluh dengan keadaan tersebut. Lebih dari tiga hari Nagita
merasa sangat lelah dengan tingkah Rey yang sekarang dan begitu banyak main. Anak
itu tidak mau ditemani oleh orang lain. Terkadang Nagita seringkali ketiduran
di sofa dan dibawa ke kamar oleh Azka karena kelelahan menjaga Reynand.
“Gimana?
Sekarang udah isi belum?”
“Hmm,
belum kayaknya Ma,”
“Semoga
segera ya, kayaknya kalau dia punya adik, dia nggak bakalan seaktif sekarang. Lihat
saja dia main sama Leo kayak gimana,” Novi menunjuk ke arah Leo dan Rey yang
tengah bermain kejar-kejaran.
“Pernah
nyesel nikah sama Azka?”
“Nggak
Ma,”
“Mama
harap, jika suatu saat rumah tangga kalian diterpa masalah lagi. Jangan pernah
lalui semuanya sendirian, karena rumah tangga itu dibangun berdua, pondasinya
kalian berdua. Jangan pernah meninggalkan satu sisinya hingga bangunannya
miring sebelah karena tidak ada tiang yang menopang. Apa pun yang terjadi, kamu
harus jalani. Jangan pernah lari lagi dari masalah dan membiarkan anak jadi
korban keegoisan orang tua. Azka juga berubah banget waktu kalian pisah,”
“Aku
usahain, Ma. Akan selalu berusaha untuk terima apa pun, tapi terkadang aku itu
khawatir dengan masa lalu dia yang tiba-tiba kembali nantinya, Ma. Takut banget
kalau dia itu seperti dulu lagi,”
“Cerita
sama Mama. Naura juga ada yang bakalan jadi pendengar kamu. Mama nggak akan
belain anak Mama jika dia salah. Kamu sudah seperti anak kandung Mama sendiri,
Rey bukti bahwa kamu itu mencintai Azka. Kalau memang kamu nggak cinta, dan
nggak sayang sama Rey maupun Azka, mungkin kamu dari dulu sudah setujui
permintaan Azka untuk gugurin Rey. Tapi lihat sekarang, anak itu tumbuh jadi
anak yang sangat hebat, itu juga berkat kamu. Kamu itu tangguh, istri paling
baik, istri yang tepat untuk anak Mama yang brengsek itu,”
“Mas
Azka nggak brengsek Ma,”
“Seandainya
Mama tahu dia hamili kamu, Mama hajar dia habis-habisan. Gini-gini Mama pernah
jago silat, jadi kalau dia macam-macam, jangan pernah pendam semuanya sendirian
sayang. Seenggaknya kamu itu cerita apa yang harus Mama bantu. Jangan cuman
dipendam sendiri, eh tiba-tiba Mama dapat kabar kamu malah pergi gitu aja, tapi
Mama sempat kaget waktu itu, waktu kamu bilang pengin pisah, semuanya Azka yang
setuju mau punya keturunan lagi, bahagia banget rasanya,”
Nagita
hanya tersenyum kecut mendengarnya. Ia sungguh berharap juga untuk segera
hamil. Tapi hingga saat ini belum juga ada tanda-tanda. Bahkan Azka sering kali
curi waktu walau hanya sebentar.
“Ucapan
Mama nggak usah ditanggapi sayang!”
Nagita
mengangguk pelan. Walau sebenarnya ia benar-benar ingin memberikan seorang adik
untuk Rey. Melihat Clara, terkadang ia sangat iri kepada Naura yang mendapatkan
keturunan anak ketiganya, meski hamil pertamanya keguguran.
*****
Waktu
sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Yang di mana Azka belum pulang. Nagita
telah diminta untuk menunggu suaminya di dalam kamar oleh mertuanya. Naura yang
tidur duluan karena lelah. Rey dan Leo tidur di kamar khusus mereka berdua. Kini
setiap kali menginap, mereka tidak akan pisah ranjang lagi.
Nagita
mematikan lampu di kamarnya dan menggantinya hanya dengan lampu tidur sambil
meringkuk di atas ranjang sambil bersandar. Ia kepikiran tentang ucapan
mertuanya siang tadi. Setelah ia mengizinkan Azka melakukan kewajibannya lagi,
Nagita berusaha untuk melayani suaminya dengan baik. Namun belum juga diberikan
hingga saat ini. Ia mengelus perutnya yang datar. Dahulu saat tidak
menginginkan, Tuhan justru memberikannya. Kini saat penantian itu telah tiba,
mereka belum juga dikaruniai seorang anak lagi.
Nagita
berbaring dan menutup kepalanya dengan selimut berusaha memejamkan matanya. Malam
itu ia sangat merindukan Azka, tidak habis pikir bahwa kerinduannya membuncah
begitu saja saat Azka belum pulang bekerja hingga saat ini. Sesekali ia menatap
ke arah jendela kamarnya menantikan mobil suaminya masuk ke dalam area rumah
mertuanya.
Jika
menyangkut soal perasaan. Nagita selalu mencintai Azka dengan sangat. Tidak perlu
orang baru yang hadir ke dalam hidupnya untuk membuatnya bahagia. Terkadang untuk
melupakan seseorang, kita hanya perlu memberikan kesempatan bagi orang untuk
masuk ke dalam hidup kita menggantikan kenangan dengan orang yang dulu pernah
menyakiti. Tetapi prinsip yang dipegang teguh oleh Nagita sungguh berbeda. Membiarkan
rasa bersalah itu membuat seseorang menyesali perbuatannya dan tidak
mengulanginya lagi dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Tidak ada
salahnya memberikan kesempatan, karena terkadang orang yang diberikan
kesempatan adalah orang yang benar-benar berusaha untuk menjadi lebih baik. Bukan
justru ingin memperkeruh keadaan yang ada.
Baru
saja Nagita berusaha terlelap. Pintu kamarnya di buka hingga cahaya begitu
terang masuk ke dalam kamarnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung bangun dari
atas ranjangnya dan menampakkan Azka yang berdiri di ambang pintu. Ia langsung
berhamburan memeluk Azka yang berkeringat.
“Rey
sudah tidur?”
“Sudah.
Kamu kenapa lama banget pulang?”
“Iya
ada kerjaan yang harus diselesaikan. Kenapa tiba-tiba meluk?”
“Kangen,”
“Aku
mandi dulu kalau begitu, sayang.” Azka mengecup singkat bibir Nagita dan
berlalu.
“Nggak
usah mandi, pengin tidur. Tapi meluk kamu, boleh?”
Azka
menggaruk kepalanya karena bingung dengan tingkat Nagita kali ini.
“Oke
deh.”
*****
Pukul
dua belas malam. Azka terbangun dari tidurnya karena badannya terasa sangat
lengket. Ia harus mandi apa pun alasasnnya. Ia tidak peduli lagi dengan
keinginan Nagita yang memintanya untuk tidak mandi. Daripada dirinya tidak bisa
tidur malam itu, ia melepaskan pelukan Nagita secara perlahan dan langsung
beranjak ke kamar mandi.
Azka
berendam begitu lama, hingga akhirnya menyelesaikan mandinya. Ia duduk di
pinggiran ranjang menatapi wajah polos Nagita ketika tertidur.
Sambil
mengeringkan rambutnya, ia teringat dua bulan lalu bertemu dengan Deana. Tetapi
perempuan itu seolah bukan Deana yang ia kenal. Perempuan itu sedikit berbeda
dan lebih formal ketika berbicara dengannya.
‘Aku
masih belum bisa seutuhnya lupain kamu’ gumamnya. Sesekali ia melirik ke arah
Nagita yang tertidur sangat pulas. ‘Sebenarnya aku mencintai dua hati, tetapi
bagaimana mungkin bisa aku memilikinya dengan begitu angkuh. Pasti salah
satunya akan terluka’ lanjutnya.
Azka
langsung berbaring di dekat Nagita dan menatapi raut wajah istrinya yang polos.
Jika dulu yang tidur di sampingnya adalah Nagita yang berusia sembilan belas
tahun. Kini perempuan yang bersamanya adalah perempuan yang tumbuh menjadi
perempuan dewasa, perempuan ibu satu anak itu membuat Azka tidak bisa jauh. Tetapi
ketika bertemu dengan Deana lagi, ia akan benar-benar merasakan kerinduan itu. Jika
bersama Deana dulu ia memikirkan Nagita, pun sama dengannya ketika bersama
Nagita, ia memikirkan Deana. Sungguh hatinya sangat bergejolak menemukan titik
terang siapa sebenarnya yang ia cintai.
Ia
senang jika saat ini perempuan yang disampingnya adalah istri dan juga ibu dari
anaknya. Tetapi terkadang ia harus menyendiri untuk berusaha menyingkirkan
pikirannya mengenai perempuan lain. Tetapi tetap saja bahwa ia menginginkan
Deana, seperti dulu lagi. Meski awalnya Deana adalah pelampiasannya, tetapi
saat ini perempuan itu ia inginkan berada di sampingnya. Mengingat tentang Rey,
Azka benar-benar merasa bersalah kepada ketiganya.
Azka
mengelus pipi Nagita dengan ibu jarinya. Hingga perempuan itu bergerak dan
terbangun.
“Kamu
ngapain, Mas?”
“Tidur
sayang. Maaf Mas bangunin kamu,”
“Peluk!”
Azka
langsung menarik selimutnya dan memeluk Nagita. Rasa bersalahnya kian menjadi
saat ia memeluk perempuan itu, justru hatinya bersama orang lain padahal ia
tidak tahu bahwa Deana sudah menikah atau tidak. Tetapi Azka tidak bisa melepas
perempuan itu begitu saja. Suatu waktu ia akan mencari kebenarannya sendiri. Ia
mencintai Nagita, namun menyayangi Deana. Hatinya sungguh keterlaluan dengan
kenyataan ini.
Azka
berusaha memeluk Nagita dan mencium ujung kepala istrinya berkali-kali.