
Pukul tujuh malam, keduanya memilih untuk pulang sedangkan di sana ada Leo yang menjaga. Azka pulang ke rumah mamanya dan menjelaskan sebenarnya Leo bukan menghambur-hamburkan uangnya waktu itu, uang yang ditabung remaja itu digunakan untuk membiayai Amanda. Azka pulang ke rumah orang tuanya untuk menjelaskan hal itu.
Namun, setelah waktu jam makan malam tiba, dia memilih pulang bersama dengan Rey yang dia biarkan menyetir. Sedangkan dia masih memikirkan bagaimana cara untuk mencari waktu berduaan dengan Nagita seperti dahulu, semalam dia sudah membuat kesalahan karena memperlakukan istrinya seperti dulu. Yaitu dia minum alkohol lagi, dan sebagai tanda permintaan maaf, kini Azka memutar kepalanya berusaha untuk mencari ide, bagaimana dia harus meminta maaf kepada istrinya.
"Papa kenapa dari tadi garuk kepala melulu?"
"Papa, Papa cuman mau minta maaf sama Mama soal kejadian semalam karena minuma minuman beralkohol,"
"Lagian Papa cari masalah sih, coba aja kalau Mama itu beneran serius marah sama Papa. Pasti bakalan ditinggal deh Papa, untung Mama masih ngerti sama keadaan kita yang sekarang,"
"Rey, apa-apaan ini?" Azka terkejut saat Rey meminggirkan mobilnya dengan tiba-tiba tanpa pemberitahuan dan berhenti mendadakak.
"Turun, Pa!"
"Gila kamu, Rey. Papa di suruh turun di sini, kita belum sampai rumah,"
"Tuh!" Rey menunjuk toko bunga yang ada beberapa langkah dari tempat mereka berdiri. Azka menoleh anaknya sejenak dan turun karena paham apa tujuan Rey yang tiba-tiba berhenti dan membuatnya kaget barusan.
Azka memilih bunga Lily untuk Nagita. Dia membelikan bunga terserbut, bunga yang cukup langka. Karena berwarna putih, biasanya dia menemukan bunga Lily warna lain. Dan kali ini dia beruntung mendapatkan bunga Lily seperti yang disukai oleh istrinya.
"Pa,"
"Kenapa, Rey?"
"Hehehe, aku cuman pengin lihat Papa tuh sama Mama selalu baik-baik aja. Tapi berusahalah untuk tetap tenang, Pa. Tadi Papa itu malu-maluin di Om Teddy tahu,"
"Rey, nanti kamu juga bakalan ngerti gimana rasanya jadi, Papa,"
"Semoga aku enggak cemburuannya kayak, Papa,"
"Kita sama-sama pria, jadi yang buat Papa enggak bisa tenang itu karena Papa tahu bahwa Om Teddy dulu ngejar Mama banget waktu Mama sama Papa belum balik,"
"Jadi itu penyebab Papa dulu sama Mama sering berantem waktu pacaran? Terus jadiin aku alat sebagai alasan kalian bisa ketemu, Papa alasannya aku yang kangen Mama, tapi sebenarnya yang kangen Mama itu, Papa. Tapi karena enggak berani sama Om Dimas, jadi aku cuman jadi alasan Papa doang?"
"Ah Rey, kamu tuh tahu aja kalau kamu cuman alat yang Papa manfaatin dulu,"
"Papa kok lama-lama ngeselin?"
"Anak sama Papa itu enggak ada bedanya, Rey. Jadi sudah jangan banyak komentar!"
"Semoga adik-adik aku enggak nular deh dari, Papa,"
"Hohoho, enggak bisa gitu. Papa yang buat,"
"Mama yang hamil,"
"Jangan debat Papa soal ini, Rey!"
Azka menjewer telinga Reynand yang membuatnya kesal. Hingga anaknya itu mengaduh beberapa kali namun dia tetap berusaha menyuruh Rey fokus menyetir. Dia membiarkan anaknya menyetir karena keinginan anak itu sendiri, dan dia juga mudah meminta bantuan Rey jika sopir sedang berhalangan. Dia akan meminta anaknya yang mengantarkan istri dan juga putrinya jalan-jalan.
Setibanya di rumah, Azka meminta Rey untuk masuk terlebih dahulu agar tidak mengganggu aktivitasnya yang akan merayu istrinya meminta maaf soal kejadian semalam yang membuat istrinya kesal, tapi dia tahu bahwa istrinya sedang menyembunyikan hal itu.
"Papa," ucap kedua anaknya. Padahal dia sudah berusaha untuk bersembunyi dan memberikan kejutan itu kepada Nagita. Tapi anaknya lebih dulu melihatnya yang sedang membawa bunga itu.
"Pa, mandi dulu!" perintah istrinya. Namun, Azka menyembunyikan bunga tersebut di belakang punggungnya dan mendekat, Azka memeluk istrinya dari belakang.
"Mama, tentang kejadian semalam Papa minta maaf,"
Nagita memegang tangan kiri Azka yang memeluk tubuh istrinya. "Papa, jangan ulangi kejadian yang seperti itu lagi. Mama enggak suka, apalagi nanti kalau Papa emosian, terus lampiasin ke anak-anak Papa, itu yang buat Mama marah,"
"Tapi Papa janji enggak bakalan ngulangin,"
"Jangan janji sama, Mama. Janji sama diri Papa sendiri, kalau Papa janji sama Mama terus khianatin janji itu gimana? Lebih baik Papa janji sama diri Papa sendiri, kalau Papa ingkar, itu artinya Papa aja yang kecewa, kalau Papa janjikan orang lain, itu artinya Papa merugikan orang lain,"
"Ma, Papa sayang sama, Mama. Sayang sama kedua anak kecil itu, dan juga sayang sama Rey," Azka mengeluarkan bunga Lily tersebut dan memberikannya kepada Nagita yang sontak membuat istrinya melepaskan pelukan Azka dan menatapnya dengan tatapan yang terlihat bahagia.
"Papa, makasih banyak,"
"Tapi, Pa,"
"Tapi apa, Ma? Papa mau minta maaf dengan tulus,"
"Ini tuh kurang banyak, Pa. Masa sih cuman enam tangkai doang, yang lainnya mana?"
"Mama nyari itu aja susah,"
"Ah Papa enggak tulus minta maaf,"
"Pa, beliin boneka," Azka melirik kedua anaknya yang berali dan menempel memeluk paha Azka yang sedang berusaha merayu istrinya karena kejadian semalam. Setiap kali dia berbuat salah, baik diketahui oleh Nagita atau tidak. Azka tetap meminta maaf, itu karena dia tidak ingin menyembunyikan suatu kebohongan besar yang dapat membuatnya kehilangan suatu saat nanti.
"Pa, beliin cincin kek," ucap Rey yang sudah turun dengan keadaan yang jauh lebih segar. Sedangkan Azka masih berusaha untuk meyakinkan istrinya.
"Papa, Mama pengin liburan sama anak-anak, bisa enggak?"
"Boleh, tapi anak -anak di titip sama Oma mereka ya,"
"Bilang aja mau bulan madu, Pa? Karena kalian kan enggak pernah bulan madu dari dulu, waktu ada aku, Papa enggak bulan madu, waktu nikah lagi, kalian juga enggak bulan madu,"
"Rey, masuk lagi ke rahim Mama!"
"Sayangnya rahim enggak bisa telan anaknya lagi, Pa. Kalau bisa, Papa sudah dimasukin ke rahim Oma sama tante Naura,"
"Hah, kenapa?"
"Kata tante, dulu Papa bandel. Makanya tante Naura sering bilang kalau dia pengin masukin Papa ke rahim Oma lagi,"
"Awas aja si Naura,"
"Lagian Papa sih, di kasih hidup enak. Ada aja masalah yang Papa timbulkan, kenapa Papa itu suka banget bikin masalah, sih?"
"Rey, dulu zaman Papa itu seru, gimana enggak ngerusuh coba tiap waktu,"
"Tapi Pa, aku tertarik sama kisah hidup Papa. Nanti kalau ada waktu, Papa ceritakan ya!"
"Boleh, tapi tunggu Nabila sama Salsabila gede dulu, biar menceritakan sekaligus,"
"Mama juga penasaran tuh, Pa," tunjuk Rey kepada Nagita yang mencium aroma bunga tersebut berkali-kali.
"Mama enggak penasaran sama hidup Papa, Rey. Dari waktu Mama hamil aja udah kelihatan, anaknya bakalan nular ke Papanya. Tapi malah kebalikannya,"
"Rey, Mama itu hebat banget bikin Papa ciut,"
"Aku suka Papa yang ngalah,"
"Tapi Papa kalau udah marah beda, Rey. Dia natap doang Mama langsung pingsan,"
"Si pesek ini lebay banget. Suka melebih-lebihkan. Di depan anak juga ngomong dusta,"
"Lah semalam apa?"
"Mama, ih Papa udah minta maaf,"
"Kurang banyak, Pa,"
"Oke besok kita beli, Ma. Sekalian kita tanam di taman, ya!"
"Terima kasih, Pa," Nagita menyambar pipi Azka dan menciumnya begitu saja.
"Mama, enggak lihat anak di sini, main cium-cium segala," protes Reynand. Azka yang menyaksikan tingkah anaknya yang mengalihkan pandangan itu pun hanya tersenyum.
"Papa bahagia kita kumpul seperti ini."
Azka mengelus kepala Reynand dan berjongkok kemudian menggendong kedua putrinya ke ruang makan.