
Dimas beberapa kali melihat ke arah jam tangannya, dia sudah berjanji untuk menemani Rey ke pondok pesantren di mana dia akan menimba ilmu nanti.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, yang di mana dia sudah terlambat untuk menemani keponakannya ke sana. Dia membuat janji sekitar dua jam yang lalu.
Dimas batal menemani Reynand karena dia harus menemani owner perusahaan ke rumah sakit untuk menjenguk anaknya. Dan setelah itu dia langsung pulang.
Tiba di rumah, dia langsung masuk ke dalam rumah. Di sana sudah ada Lyla yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.
"Assalamu'alaikum sayang,"
Gadis kecil itu menoleh dan langsung turun dari atas sofa menghampiri pria yang baru saja pulang kerja itu.
"Wa'alaikumussalam Papa. Papa kok pulang telat? Kak Rey dari tadi nungguin Papa," ucap gadis kecil itu. Dia pun langsung duduk di sofa disusul oleh anaknya.
"Mama mana?"
"Mama lagi antarin kue ke rumah tetangga, Pa,"
Dimas ber-oh ria. Beberapa menit kemudian istrinya datang dan bersalaman pada pria itu.
"Sayang kok pulangnya telat banget?"
Dimas membuka sepatunya dan melonggarkan dasinya. "Maaf sayang, tadi tuh aku antarin owner aku ke rumah sakit. Anaknya sakit, jadi aku lama karena nungguin dia selesai meeting dulu, sekarang Rey di mana?"
"Rey pergi tadi sama Erlangga, katanya mau ke rumah temannya,"
"Azka atau Nagita telpon enggak tadi?" Dimas baru melihat ponselnya dan begitu banyak panggilan tak terjawab dari keduanya. "Mereka mulai kesusahan hubungi anak mereka kalau sudah di sini, sebagai orang tua pastinya khawatir atau rindu gitu sama anaknya. Rey juga kalau sudah di sini enggak pernah mau main Hp," ucap Dimas. Dia juga sempat kesal karena Reynand jarang sekali bisa dihubungi oleh orang tuanya sendiri. Dimas sudah mengingatkan tetapi lelaki itu tetap saja menolak dan tidak mau mengambil ponselnya yang ada di atas meja belajarnya. Sudah beberapa kali Dimas menemukannya di sana.
"Mau gimana lagi, dia ke sini mau belajar,"
"Enggak gitu juga kali, orang tuanya juga kangen sama dia. Gimanapun juga kan dia harus ngasih kabar gitu sama kedua orang tua. Dia enggak mau dihubungi gitu,"
"Ya sudah mending kamu mandi dulu!"
Baru saja Dimas beranjak dari tempat duduknya. Terdengar suara mobil sedang berhenti di luar. Dimas pun mengintip dari balik jendela dan sangat mengenali bahwa itu adalah mobil Azka.
"Lyla, si kembar datang tuh."
Lyla berdiri dari tempat duduknya dan langsung menyambut kedatangan Nabila dan Salsabila yang langsung berlari masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan apa pun. Termasuk mereka tak memperhatikan jalan.
"Kakak, adik, pelan-pelan dong!" peringat Nagita kepada kedua anaknya.
Dimas pun menyambut kedatangan keluarga itu. Dan pamit beberapa saat untuk membersihkan tubuhnya dari keringat yang menempel sedari tadi.
Di sana Nagita mulai menceritakan keluh kesahnya karena Reynand mulai tidak memberikan kabar, bagaimana pun juga dia butuh kabar selaku orang tua. Terlebih Azka yang selalu saja lebih khawatir terhadap Rey.
Viona keluar dari dapur sambil membawa beberapa minuman dan cemilan untuk keponakannya yang lain.
"Tante, Kakak Angga, mana?" tanya Nabila sambil memegang gelas yang berisi jus jeruk yang sangat mereka berdua sukai.
Viona yang selalu saja gemas melihat kedua keponakannya pun memangku Nabila, "Kak Erlangga pergi sama Kak Rey ke rumah temannya,"
Nagita tersenyum sambil mengelus kepala anaknya. "Siapa bilang enggak punya teman, kan teman-teman Nabila banyak. Nanti kalau sekolah pasti banyak teman kayak Kak Erlangga dan Kak Rey," jelas Nagita pada si kecil. Sementara itu Azka sedang menelepon dan sengaja menjauh karena anaknya seringkali ribut ketika menelepon.
Nagita memangku Salsabila dan Lyla duduk di sebelah kanan Viona. Nagita mengambil gelas yang dibawa oleh Nabila, ia takut anak itu akan menjatuhkan gelas karena dia tidak terbiasa membiarkan anaknya dengan peralatan makan dari kaca seperti gelas dan piring yang mudah pecah.
Sebagai orang tua yang sangat antisipasi terhadap kedua anaknya, Nagita tidak pernah sembarangan dalam memberikan apa pun kepada anaknya.
"Mama, becok kita pulang cama kakak?" tanya Salsabila.
Kini giliran Viona yang hendak menjawab semua itu. "Enggak sayang, Papa sama Mama kan mau sekolahin Kak Rey. Enggak mungkin dong kita bakalan pulang sama kakak. Lagian ya Kak Rey bakalan lama di rumah tante Viona,"
"Kita nginep cini ya, Ma!" ajak Salsabila.
"Boleh, kalau kalian enggak nangis pasti nginap di sini kok," jawab Nagita. Beberapa menit kemudian Azka kembali lagi dan bergabung bersama dengan mereka.
Suasana di rumah itu masih tetap ada yang kurang karena tidak ada keberadaan Reynand. Sembari menunggu Dimas kembali lagi dari kamarnya karena pamit membersihkan diri. Kini Azka sedang menikmati sajian yang disuguhkan oleh Viona.
"Maaf selalu saja merepotkan kalian semua perihal, Rey," ucap Nagita.
"Kayak orang asing aja ngomong gitu. Rey juga keponakan aku, kan. Dia udah terbiasa di sini, jadi enggak mungkin aku ngerasa bahwa dia adalah beban untuk aku. Apalagi dia di sini hanya beberapa hari, sebentar lagi dia akan ke pondok pesantren kan,"
"Tapi tetap saja setiap kali aku gagal gitu didik dia, aku selalu saja datang ke mari untuk ngadu hal seperti ini. Aku sama Mas Azka selalu gagal,"
"Nagita, gagal atau enggaknya itu kan tergantung dia juga. Jadi apa yang bisa aku katakan kalau ternyata aku juga gagal sebagai orang tua? enggak ada orang tua yang mau gagal dalam mendidik anak, termasuk aku. Oke sekarang ini Erlangga mungkin nurut aja sama Papanya. Apa pun yang di larang, dia jauhi. Itu karena Kak Dimas selalu ajari dia dengan baik, tapi sekali marah kak Dimas itu gila banget tahu enggak, Erlangga pernah bolos sekolah terus ketahuan, malah di diami beberapa hari. Anaknya sampai nangis gitu karena perbuatan dia,"
"Ya itulah kak Dimas. Kalau udah marah kebiasaan banget main diam-diaman,"
"Kadang aku juga sering berantem karena dia yang enggak pernah marah, tapi diamnya itu yang paling parah. Marahnya itu diam, dan itu yang jauh lebih menyakitkan, Nagita. Aku sama anak-anak pernah pergi dari rumah karena dia,"
"Ku kira suamimu itu selalu saja bersikap manis, Viona. Ku pikir dia yang selama ini sering main kasar ternyata kalau sama istri perlakuannya beda. Dulu aku masih muda sama Nagita, tiap kali aku kunjungi Nagita di pukul terus," keluh Azka tiba-tiba ikut nimbrung disela pembicaraan mereka.
"Iyalah, itu ceritanya beda. Karena dulu kamu kan playboy enggak ketulungan banget, cewek sana sini. Untung Nagita mau nerima lagi," Dimas tiba-tiba keluar dari kamarnya dan langsung bergabung bersama mereka dan melempar bantalan sofa ke arah Azka.
"Iyalah harus nerima, itu buktinya 2 bidadari kecil yang menggemaskan itu adalah bukti cintaku pada, adikmu,"
"Nagita enggak mual?" tanya Dimas.
"Mual kenapa kak?"
"Mual sama tingkah suami kamu. Dia yang selama ini aku enggak pernah lihat dia manis gini tiba-tiba manis. Setahu aku dulu dia ini semacam es batu yang enggak pernah bisa ramah sama orang, sekitar belasan tahun yang lalu," ledek Dimas.
Azka yang merasa tersindir langsung meraih minuman dan meneguknya kemudian meletakkan kembali gelas itu di atas meja. Dia membenarkan posisi duduknya kemudian, "Jadi begini Dimas. Dulu itu yang buat aku jadi orang yang enggak bisa ramah bukan karena aku dingin banget, aku cuman jarang ngomong sama orang,"
"Lihat twins Papa kalian ngeles sama sifatnya yang sok ganteng dulu waktu muda," panggilnya pada kedua anak Nagita dan Azka. Kedua putri itu pun melirik dan tidak menyahut.
"Mereka mana ngerti sih, Pa. Aku aja enggak ngerti," protes Lyla.
Azka tertawa melihat ekspresi Dimas yang berubah begitu saja di saat anaknya berkata demikian.