RICH MAN

RICH MAN
KETENTUAN-MU



Seorang perempuan berusia dua puluh lima tahun baru saja selesai mengambil air wudhu dan siap untuk membaca Al-Qur'an sebelum tidur. Sebuah rutinitas yang sudah dilakukannya sejak beberapa tahun terakhir.


Menenangkan hati adalah dengan cara mendekatkan diri pada sang pencipta.


Menjaga hati selama bertahun-tahun. Bahkan dia tidak pernah pacaran sekalipun itu, dia memantapkan hatinya untuk seseorang yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya di masa depan.


Seusai membaca Al-Qur'an. Kedua orang tuanya mengetuk pintu dan Marwa membukakan pintu mempersilakan kedua orang tuanya untuk duduk di sana.


Mereka duduk di pinggiran ranjang.


"Marwa, ada yang mau Papa bilang,"


Marwa menunduk dan saat itu dua membuka cadarnya jika bersama dengan orang tuanya. "Mama sama Papa mau ngomong apa? Bukan tentang pasangan lagi, kan?"


Keduanya saling melempar tatap begitu saja. "Marwa, Mama sama Papa kemari karena ingin memberitahukan bahwa besok malam, tepatnya pada malam jum'at ada keluarga dari seorang pemuda yang akan datang meminta kamu. Dalam arti, melamar kamu,"


"Papa?" dia melirik ke arah Papanya yang nampak sedang serius kala itu.


"Percayalah kalau yang ini dia akan menjadi baik buat kamu, Marwa. Mulai dari mendidik kamu, dan juga dia adalah pria yang bertanggung jawab. Sebelum bicara seperti ini, tentu saja Papa sudah ngomong sama keluarga mereka terlebih dahulu, mengenai kamu dan juga mengenai dia yang diceritakan oleh Om dia sendiri. Percayalah bahwa kali ini adalah pilihan Allah juga, kamu percaya kan?"


Marwa menggigit bibir bawahnya. Mengapa tiba-tiba orang tuanya menginginkan dia segera menikah? Apakah tidak ada cara lain selain menjodohkan dia? Pasalnya dia sendiri belum pernah tahu tentang pria itu sebelumnya.


"Barangkali besok yang datang itu adalah keluarga dia. Dia sendiri enggak ikut, tapi satu hal yang Papa mau minta sama kamu, bisa buka cadar di depan mereka? Mereka pengin banget lihat kamu. Marwa, mereka berhak melihat kamu, jangan sampai setelah menikah kamu baru mau buka cadar. Kamu itu cantik, dan Papa berharap banget kali ini saja, sayang,"


"Papa, apa ini pria yang terakhir yang bakalan Papa undang ke rumah? Kalau ini adalah yang terakhir, maka dari itu Marwa buka dan akan membuka ini untuk pertama kalinya kepada orang lain selain kalian berdua," ucapnya pelan.


Kedua orang tuanya pun mengangguk. "Ini yang terakhir, Insya Allah. Marwa jika ini yang Allah kirim untuk kamu, betapa bahagianya hati orang tua ketika melihat anaknya begitu baik, mendapatkan pasangan yang begitu baik pula. Hal yang buat Papa setuju adalah ini didikan Om dia. Walaupun dia yang didik, kita enggak pernah tahu apakah itu baik atau enggak, hanya saja Papa ingin kamu mendapatkan pria yang bertanggung jawab. Mungkin kalian akan bertemu nanti saat menikah," jelasnya.


"Jika memang itu adalah pilihan Papa, maka Marwa terima, Pa. Apa balas budi Marwa selama ini sama Papa dan Mama. Kali ini apa yang Papa mau bakalan Marwa turuti," ucap perempuan itu sambil menarik napas agar dadanya tidak sesak mendengar kabar bahwa dia akan dilamar oleh pria yang sama sekali tidak dia ketahui sekalipun. Orang tuanya sudah memilihkan itu, walaupun dia berhak tahu. Tapi kali ini dia benar-benar ingin menolak lagi, tapi entah sampai kapan dia terus menolak. Dan jika itu terjadi lagi. Barangkali orang tuanya akan marah.


"Usianya sama seperti kamu, jangan khawatir, Nak. Dia pekerja keras, dia bertanggung jawab. Dia bahkan enggak pernah pacaran sama kayak kamu,"


"Reynand, nama lengkapnya Papa kurang tahu. Mungkin nanti kamu bakalan tahu dengan sendirinya,"


Marwa mengangguk pelan. Pria asing, bahkan dia sendiri belum pernah melihat calon suaminya sendiri.


"Mama sama Papa keluar dulu, kalau memang ada yang mau ditanyakan perihal dia. Silakan saja tanyakan!"


Marwa menggeleng pelan, dia tidak ingin bertanya banyak hal. Sudah cukup informasi singkat itu dia dapatkan dari orang tuanya.


Kedua orang tuanya berpamitan begitu saja.


Marwa yang memegang dadanya sambil membaca istighfar. Entah mengapa hatinya merasa sangat nyeri ketika mendengar kabar bahwa orang tuanya setuju begitu saja dengan lamaran yang belum terjadi. Dia juga tidak tahu mengapa orang tuanya dengan sangat mudah percaya bahwa pria itu yang terbaik baginya. Lalu, dia tidak pernah membalas kebaikan kedua orang tuanya. Barangkali menerima lamaran itu mampu membuat kedua orang tuanya bahagia.


Tengah malam, dia bangun untuk melaksanakan sholat disepertiga malam.


Marwa menengadahkan tangannya sambil berdoa dan meneteskan air mata. Dia begitu tidak mengerti dengan orang tuanya yang mengambil keputusan tanpa persetujuan dari Marwa sebelumnya.


"Ya Allah jika Mas Reynand yang terbaik. Maka damaikan hati hamba dengan ketentuanmu. Hamba tahu apa yang kadang hamba minta tidak sesuai dengan yang engkau berikan. Kali ini hamba ingin berbakti kepada kedua orang tua hamba Ya Allah. Jika memang dia adalah yang terbaik, semoga dia bisa membimbing hamba menjadi wanita yang jauh lebih baik dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya. Ya Allah, hamba tidak berhak menolak jika memang dia yang engkau sandingkan untuk hamba, hamba hanya meminta bahwa dia yang engkau kirimkan menjadi pendamping sehidup semati,"


Marwa meneteskan air mata yang tak kunjung selesai. Ketika bersama dengan yang lain, dia selalu saja cerita. Tapi jika seperti sekarang ini, dia adalah manusia biasa yang kadang lemah. Seperti sekarang ini, dia untuk pertama kalinya menangis saat mendoakan seseorang yang bahkan tidak dia kenal sekalipun. Dadanya hanya terasa sesak belum pernah bertemu dengan pria itu.


Dia mengusap wajahnya sebagai penutup doa.


Sembari menunggu subuh dia memilih untuk tidur sebentar dan menghidupkan alarm di ponselnya. Selama bergaul pula, Marwa berusaha untuk tidak terlalu dengan dengan laki-laki. Hatinya entah mengapa terasa begitu sesak ketika ada pria yang berusaha untuk mendekatinya. Yang dia tahu selama ini dia tidak pernah pacaran sekalipun. Barangkali dia belum pernah menerima orang asing masuk ke dalam hidupnya.


Marwa sendiri ketika bergaul seringkali dikucilkan oleh teman-temannya. Karena mengenakan cadar dan itu yang membuatnya seringkali di ledek oleh teman-teman kuliahnya. Barangkali jika teman SMA-nya mengerti dengan apa yang dia lakukan. Tetapi tidak dengan teman kuliahnya dahulu. Maka dari itu, dia jarang memiliki teman. Bahkan tidak memiliki teman yang bisa menghargainya. Terkadang ketika dia pergi ke suatu tempat, dia ditertawakan dan dikatakan sebagai ninja dan sebagainya. Tetapi Marwa tetaplah Marwa yang di mana dia percaya bahwa semua itu merupakan ujiannya dalam hijrah.


Memantapkan hati untuk dimiliki oleh satu pria selama hidupnya. Berusaha untuk tetap menerima walaupun pada awalnya itu merupakan suatu keterpaksaan. Kali ini dia ingin sekali berbakti kepada kedua orang tuanya untuk menerima lamaran itu. Apalagi tujuannya adalah menikah. Menikah merupakan suatu ibadah yang paling lama dijalani semasa hidup.