RICH MAN

RICH MAN
BAGAIMANA JIKA



"Rey, sebenarnya hubungan lo sama Bintang itu apa? Lo sama dia dekat banget dan sering jalan bareng, apa enggak ada satu senti pun perasaan lo itu berusaha untuk dekat sama dia?"


Pukul delapan malam, Rey menyempatkan dirinya untuk mampir di bengkel menemui Fendi. Sahabatnya yang satu itu masih bergelut dengan pakerjaan sambil belajar, setidaknya kini nilai lelaki itu menjadi lebih baik dari biasanya. Dan juga keadaan ekonomi keluarganya membaik. Tidak perlu menunggu menjadi yang paling baik untuk membantu sesama, itulah yang selalu diajarkan oleh orang tua Rey kepada dirinya. Hingga kini kebaikan itu mengalir pada Rey.


Mendengar ucapan Fendi barusan, Rey tidak tahu harus menjawab apa. Karena dia dan Bintang memang tidak memiliki hubungan apa apun. Mereka berdua hanya berteman dengan baik. Tidak ada hubungan spesial seperti yang dipikirkan oleh sahabatnya.


"Kenapa lo diam? Kalau emang lo sayang sama dia, ya udah lo ajak pacaran. Cuman saran gue, ya lo harus pikir-pikir lagi. Apalagi setelah mengingat bahwa Bintang itu anak yang memiliki kasus perceraian orang tua, apalagi dia tinggal sendirian di apartemen.


Bisa jadi suatu waktu dia memilih untuk mencari keberadaan mamanya, kemudian setelah bertemu, dia ninggalin lo gitu aja.


Rey hanya ber-oh ria. Fendi benar, bisa saja gadis itu pergi meninggalkan dirinya tanpa kejelasan yang pasti. Dan mendengar curhatan Bintang tadi ketika makan di restoran, Rey ingat bahwa gadis itu inign mencari keberadaan mamanya. Rey hanya cerita kepada Fendi mengenai status Bintang yang sama seperti dirinya dahulu. Akan tetapi Rey tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti yang didapatkan oleh Bintang. Sebab Teddy dahulu hanya mendiaminya dan menyelingkuhi mamanya. Rey tidak pernah dendam, tetapi dia mengerti mengapa kini dia sangat paham mengapa Papanya begitu mencintai mamanya yang sudah dua kali dikhianati. Mungkin itu adalah cara papanya untuk mengembalikan kebahagiaan yang pernah padam dahulu.


"Fen, tidak peduli seberapa hebatnya gue mau jujur sama dia, kalau ternyata perasaan gue sama dia enggak pernah ketemu sekalipun, itu percuma saja. Apalagi gue udah berusaha buat nanyain, ternyata dia enggak dengar sama sekali, tadi sore waktu di kafe, gue kan nanya sebenarnya status hubungan gueini apa,"


"Mana ada sih Rey cewek duluan yang nembak lo. Kalau itu benar terjadi, ya gue akui itu keberanian cewek hebat. Tapi kebanyakan cewek itu gengsi sama perasaan mereka sendiri, kalau dia sampai nembak lo duluan, yang ada nanti malah lo mudah nyakitin dia karena lo udah tahu kalau dia cinta sama lo, tapi mending lo duluan deh yang ungkapin tuh perasaan,"


"Kalau gue bilang, nanti dia nolak gimana? Yang ada Bintang jauhi gue, kalau ternyata dia anggap gue cuman teman doang, bukan yang spesial. Buat berubah menjadi biasa itu yang susah, sekarang gue nembak dia misalnya, terus dia nolak. Gue yakin keadaannya enggak bakalan sedekat sekarang, atau bisa jadi dia jauhi gue, Fen,"


"Balik lagi sama diri lo sendiri. Kalau memang lo yakin bahwa dia punya rasa yang sama seperti yang lo rasakan, pastinya lo bakalan berusaha untuk buktiin perasaan lo sama dia,"


"Sudahlah, gue enggak mau bahas hal yang seperti itu. Gue mau lanjut pendidikan dulu, ntar kalau udah banyak duit, gue bisa bahagiain dia. Walaupun gue tahu enggak selamanya duit itu bisa bahagiain, gue juga bakalan usahain buat ngasih waktu terbaik gue nantinya,"


"Man, sebenarnya apa yang ada diperasaan lo sekarang ini? Apa yang lo rasain sama Bintang, itu aja dulu. Kalau lo bisa jawab sama diri lo sendiri, berarti perasaan lo emang ada untuk dia. Enggak perlu dijelasin sama gue, lo tinggal jawab pertanyaan gue di dalam hati lo sendiri," Fendi duduk di sebelah Rey sambil meneguk minumannya.


Malam semakin larut, menatap langit malam dengan bintang-bintang yang berkelip bergiliran. Lelaki itu masih sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri, tidak tahu harus menjawab apakah gadis itu ada dalam hatinya atau tidak, rasa nyaman yang ditimbulkan setiap kali bersama dengan Bintang. Tetapi tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hanya perasaan ingin selalu bertemu yang memenuhi hatinya.


Rey memutuskan untuk pulang meninggalkan Fendi bersama dengan beberapa pekerja di sana. Rey tidak ingin pulang terlalu larut karena takut mamanya khawatir, selama perjalanan pulang. Dia berusaha untuk fokus berkendara.


Lima belas meniit kemudian, dia tiba di rumah. Seperti biasanya, Rey sudah tidak menjumpai papanya yang pulang tengah malam seperti dulu lagi. Kini papanya selalu pulang tepat waktu, pekerjaan pun sering kali di bawa ke rumah jika belum kelar di sana.


"Rey, dari tadi Mama telepon kok enggak di angkat?"


Rey yang baru pulang langsung mengeluarkan ponselnya dan melihat bahwa ponselnya dalam mode diam, dia menyeringai sambil mencium mamanya untuk menghilangkan kekhawatiran itu, ekspresi mamanya yang berubah tadi membuat Rey merasa bersalah. Terlalu asyik mengobrol dengan Fendi, hingga dirinya lupa untuk mengabari.


"Kakak ke mana, hm?" ucap papanya sambil mengelus kepala Rey yang baru pulang dan bersalaman.


"Biasa Pa. Aku ke bengkel,"


"Tadi teman Papa lihat kamu jalan sama cewek, itu siapa?"


Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Papanya bertanya pada inti, tidak basa basi dan langsung membuat Rey tidak bisa menjawab itu semua. Padahal, dia hanya perlu menjawab dengan jujur bahwa Bintang adalah temannya, tapi justru dia masih ragu untuk mengatakan hal itu.


"Papa enggak marah, yang penting Rey masih tahu batasan, Rey janji sama Mama kalau Rey enggak bakalan ngulangin kesalahan yang pernah papa perbuat waktu itu, kan?" ucap papanya.


"Pa, aku janji. Tapi jangan bahas itu lagi, aku udah maafin Papa. Aku juga enggak bakalan ngecewain Papa sama Mama, terlebih kalau aku main perempuan, aku enggak tega sama Nabila dan Salsabila kalau suatu saat mereka berdua dipermainkan,"


"Ternyata anak Papa sudah besar, jadi perempuan tadi itu pacar kamu?" selidik papanya. Rey menatap papanya dengan tatapan yang tidak suka.


"Bukan, dia teman aku, teman sekelas. Cuman tadi minta di temani,"


"Oh, ya kirain gitu mau ngikutin jejak papa jadi playboy dulu waktu sekolah,"


"Walaupun Papa playboy, tetap aja jatuhnya ke pelukan Mama. Mau pacar Papa sebening apa pun, ujung-ujungnya sama Mama, sekarang pun kalau Papa mau nyari lagi, ya pasti bakalan balik lagi sama Mama," ucap Rey meledek Papanya. Semenjak menikah lagi, papanya lebih menjadi pria penyayang dan meluangkan waktu bersama keluarga.


"Rey, kalau Papa mau selingkuh lagi, ya kita pergi dari rumah ini. Kita ngilang dari hidupnya Papa. Ajak Nabila sama Salsabila," ucap mamanya, Rey justru mengiyakan ucapan Mamanya dan seketika itu papanya langsung memeluk mamanya dan mencium pipi perempuan itu berkali-kali.


"Enggak sayang, Papa enggak bakalan macam-macam lagi, udah cukup yang dulu oke. Udah ada si kembar juga, enggak bakalan terulang,"


"Lepasin, Pa. Enggak malu sama anak?"


"Biarin, Rey udah terbiasa lihat kita begini dari dulu, ya kan?"


"Tapi noh dua bocah lihatin Papa terus," ucap Rey sambil menunjuk kedua adiknya yang tiba-tiba berdiri disamping mamanya.


"Papa jangan peluk Mama!"


"Ya ampun anak Papa enggak suka banget lihat orang tua lagi senang,"


"Lagian Papa dari dulu kebiasaan banget, enggak lihat tempat pelukan sama Mama,"


"Enggak apa-apa, yang penting Papa itu sayang sama Mama, mau peluk di mana pun Papa sanggup,"


"Yang enak Papa. Yang malu itu, Mama. Tapi ya Pa, Papa semenjak nikah malah kelihatan lebih muda dibandingkan yang dulu waktu Papa sama Mama pisah," ucap Rey. Mereka menuju ke sofa dan duduk di sana. Sedangkan pelukan papanya tak lepas dari tubuh mamanya.


"Masa sih, Rey. Kan Papa sekarang udah lebih berumur,"


"Ya mungkin karena terlalu bahagia, Pa. Bisa jadi, kan. Makanya Papa kalau udah sayang sama, Mama. Enggak usah deh macam-macam lagi, nanti nangis lagi, Papa dulu kan cengeng,"


"Ma, lihat anak kamu ngeledekin,"


"Iya Rey memang anak Mama, Pa,"


"Anak Papa juga,"


"Papa yang hamili, Mama,"


"Tapi Mama yang lahirin, Rey. Jadi dia anak Mama,"


"Kalau Papa enggak hamili, Rey mana bisa ada, Ma," kedua orang tuanya terus memperdebatkan hal itu. Rey memangku kedua adiknya dan menciumnya bergilirian.


"Ya udah, aku anak Om Dimas aja,"


"Rey!" ucap orang tuanya serentak.


"Kalian sih, gitu aja diributin,"


"Mama tuh,"


"Papa,"


"Ya ampun, Pa, Ma. Kalian ini ya, apa kalian enggak pernah gitu berduaan ya dulu? Makanya pas tua gini malah pada manja,"


"Iyalah, Papa selalu sibuk kerja, Mama urus kamu. Terus waktu pisah pikiran Papa cuma tertuju sama Mama, mana ada waktu dulu, Rey. Keburu pisah, kan," jelas Papanya yang terus memeluk mamanya semakin erat.


Mamanya yang juga terlihat nyaman berada dipelukan papanya membuat Rey tersenyum, jarang-jarang mamanya mau diperlakukan seperti itu di depan anak-anaknya.


"Pa, Ma kita bobok cama kakak ya,"


Rey mengusap puncak kepala adiknya yang ingin tidur bersama dengan dirinya.


"Kesempatan nambah adik, Ma, Pa," ledek Rey.


"Enggak Rey, kamu enggak tahu perjuangan Papa nemenin Mama waktu lahiran si kembar, udah tobat Papa hamili Mama kamu, Rey,"


"Syukurlah, berarti si kembar yang terakhir. Aku sih maunya nambah, Pa. Tuh dek, suruh Papa sama Mama buatin adik, kalian mau?"


"Papa cama Mama mau buat dadek?" ucap Salsabila.


"Pelut Mama becal, telus ada dadek, kak?" tanya Nabila.


"Iya, perut Mama besar. Ada adik kita di dalam, kalian mau?" jawab Rey.


"Rey, jangan ajari adik-adiknya yang aneh-aneh deh," ucap papanya.


"Dulu aku enggak pernah ngebayangin bakalan punya adik dari Papa. Terima kasih ya, Ma, Pa. Kalian juga sudah kembali,"


"Demi putra pertama kesayangan,"


"Jadi Papa mau balik sama Mama cuman demi, Rey?" ucap Mamanya dengan kesal.


Papa Rey justru mengeratkan pelukannya, "Ya ampun, Mama. Papa mau balik itu karena Papa sayang sama Mama dan juga Rey. Itu buktinya nambah dua,"


"Awas aja, Pa,"


"Mama, Mama tuh yang mau balik sama Papa cuman demi Rey,"


"Kalau Mama balik cuman demi Rey, Nabila sama Salsabila enggak bakalan ada, Mama juga enggak bakalan mau urus Papa,"


"Ya sudah, Pa, Ma. Aku ajak yang dua ini tidur dulu, ya,"


"Rey sudah makan?"


"Sudah tadi, Pa. Sama Fendi di bengkel,"


"Ya sudah kalian istirahat, sini Papa sama Mama cium dulu!" ucap Papanya dan kedua adik kembar Rey turun dari pangkuan Rey, dicium bergiliran. "Rey juga mau?" tawar papanya.


"Papa mulai lagi konyolnya, Ma,"


"Rey, Papa enggak pernah cium kamu loh dulu,"


"Siapa suruh dulu bandel, yakali mau cium anak udah gede gini, Pa. Yang ada diketawain sama orang,"


"Udah sana tidur! Papa bercanda, mending Papa cium Mama,"


"Dek, tidur sama Mama dan Papa ya!" ucap Rey dan melihat ekspresi papanya langsung murung.


"Rey?"


"Hehehe, bercanda, Pa. Aku masuk ya, Pa. Selamat malam, Ma, Pa."


Rey menggendong kedua adiknya menuju kamar. Sudah lama sekali dia tidak tidur bersama dengan adiknya dan bercanda bersama sebelum tidur. Hal yang sering dilakukan oleh dirinya selama ini, menyayangi adiknya dengan sepenuh hati. Jika sudah bersama dengan kedua adiknya, Rey berusaha untuk tidak bermain gawai dan meletakkannya di atas nakas. Benar saja, baru saja tiba di kamar kedua adiknya sudah bermain di atas ranjang sambil lompat-lompat. Rey yang tak mau kalah pun langsung lompat hingga membuat kedua adiknya terjatuh kemudian tertawa.


"Rey, ajak adik tidur! Jangan diajak bercanda!"


Terdengar suara mamanya mengingatkan, Rey langsung menyuruh adiknya tidur disebelahnya. Rey menempelkan ranjangnya pada tembok karena semenjak insiden Nabila jatuh dari tempat tidur, Rey memutuskan untuk menempekan ranjang dengan tembok dan dia tidur di pinggiran.