
'Katanya semakin sering seseorang itu bersama, semakin dekat juga perasaan itu akan tumbuh dalam dada'
Suasana di kediaman orang tua Reynand begitu ricuh pagi itu. Dengan kesalahan Rey yang telat bangun, apalagi hari senin, yang di mana upacara di lakukan. Justru dia akan datang terlambat. Salahnya sendiri yang semalam begadang teleponan bersama dengan Bintang, apalagi dia juga begitu senang dekat dengan gadis itu. Bukan berarti Rey sedang menaruh harapan pada Bintang, tetapi dia peduli dengan sangat kepada gadis itu.
Rey memasang sepatunya dengan terburu-buru. Berharap bahwa ia tidak akan telat datang ke sekolah. Rey meraih tas dan juga helmnya, berlari melewati anak tangga yang bahkan tidak peduli apakah kakinya tersandung nantinya. Beberapa kali adiknya berusaha untuk membangunkan tadi, tetapi justru dia meminta waktu sebentar saja. Ditambah lagi dengan mamanya sendiri yang membangunkan, Rey hanya mengulur waktu.
"Rey sarapan dulu!"
"Aku berangkat, Ma. Ini udah telat banget," Rey meraih roti yang sudah diolesi selai dan menggigitnya, satu tangannya memegang helm dan satunya lagi bersalaman kepada kedua orang tuanya. Lelaki itu berlari begitu saja ke arah bagasi.
Rey segera menghabiskan rotinya dan langsung menancap gas membelah jalan kota Jakarta dengan motor merah kesayangannya. Rey melihat ke arah jam tangan, yang di mana dia sudah terlambat beberapa menit. Dan hukuman bagi yang terlambat tentu saja dihukum selama jam pelajaran pertama berlangsung sambil menghormati bendera.
Sekitar lima belas menit, Rey tiba di sekolah. Satpam masih memberikan izin untuk masuk, tetapi di sana sudah ada guru BP yang menunggu dan berdecak pinggang. Untuk pertama kalinya selama sekolah dia terlambat seperti sekarang ini. Tadi setelah subuh mamanya mengingatkan untuk tidak melanjutkan tidurnya, tetapi Rey masih bersikeras hingga akhirnya benar-benar terlambat.
Dia membuka helm dan langsung berlari, di sana sudah ada beberapa siswa-siswi yang berbaris di depan gerbang kedua yang menghubungkan halaman sekolah dengan area parkir.
"Rey, tumben telat?"
Rey bersalaman dan langsung ikut berbaris, beruntunglah seragamanya sudah dia rapikan sedari rumah. Baju putihnya telah masuk ke dalam celana abu-abunya. Dengan napas yang terengah-engah, Rey berbaris pada barisan paling belakang. Mengikuti upacara dari luar lapangan sekolah, Rey pun hanya mengatur napas karena lelah berlari tadi.
Dua puluh menit berlalu, upacara pun selesai. Namun mereka masih dihukum karena terlambat, beberapa menit kemudian, Rey menoleh ke sampingnya. Ada Widya yang ikut terlambat, "Jodoh lo, Rey," bisik teman sekelasnya yang juga terlambat, yaitu Doni. Rey hanya menyikut temannya.
"Jodoh masa depan aku ada di sini ternyata,"
Rey tak menghiraukan itu, justru dia tetap fokus pada ceramah Pak Hilman selaku guru BP. Widya terus menggodanya, "Pak, bisa enggak saya pindah barisan? Ulat bulu ada di belakang, Pak," keluh Reynand. Ulat bulu yang dia maksud adalah Widya, tak henti-hentinya gadis itu bergelantungan di lengan kirinya. Rey yang merasa risih berusaha untuk menghindar. Tetapi baru saja dia hendak pindah, dia benar-benar melihat ulat bulu tepat di rok, Widya.
Rey yang langsung mengibaskan tangannya tepat pada bokong Widya hingga gadis itu berteriak.
"Pak, Rey pegang pantat saya," teriak Widya.
"Ada ulat, Pak, sumpah,"
"Bohong, Pak. Rey pegang pantat Widya kok," ucap Bima, salah satu teman sekelas Rey yang sudah tidak asing lagi dengan kata terlambat.
Pak Hilman mendekati Rey dan juga Widya. Rey merasa bersyukur akan dipindahkan dari hadapan gadis itu, namun keduanya justru di seret ke tempat berbeda.
"Bersihkan kamar mandi, semuanya!" Pak Hilman datang dengan memberikan ember, kain pel dan juga sikat. Rey melotot ke arah Widya.
"Kampret, ini nih kalau ulat bulu enggak tahu terima kasih, malah buat masalah lagi," ucap Rey dengan nada dingin. Dia bena-benar kesal dengan Widya kali ini.
Rey mengambil sikat dari tangan Pak Hilman dan pergi meninggalkan Widya. Sebelumnya Rey ke kelas untuk menaruh tasnya, tidak mungkin kabur karena Pak Hilman mengikuti mereka berdua. Rey hanya bisa bersabar dengan ujian hidup yang dia hadapi kini bersama dengan ulat bulu.
"Lah iya, ini nih karena si kampret malah bilang gue pegang bokong dia. Padahal niat gue cuman ngusir tuh ulat dari bokong dia,"
"Bilang aja kamu tergoda sama pantat aku sayang, kan gede. Nanti juga buat kamu,"
Rey membuang wajah dan menampilkan ekspresi jijik. Bintang meliriknya sejenak, Rey langsung keluar dari kelas dan langsung menuju kamar mandi yang ada di dekat ruang guru. Widya terus saja mengikutinya, Rey yang tidak tahan dengan bau itu langsung melilitkan dasi untuk menutupi bau yang ada di sana. Bau kencing dari seorang perokok yang teramat menyengat, Rey benci itu. Beberapa kali dirinya muntah, bahkan sarapan tadi itu pun keluar semuanya.
Rey melihat kantin sekolah mulai buka, namun dirinya sudah lemas karena hukuman itu membuatnya mengeluarkan banyak keringat, ditambah lagi karena dia muntah-muntah.
Rey mencuci tangannya dan langsung menuju ke kantin untuk membeli masker. Meski salah paham, Rey menuruti hukuman, karena teman sekelasnya juga membenarkan hal itu. Padahal niat Rey sama sekali tak bermaksud untuk seperti itu.
Ia menyodorkan masker kepada gadis yang berambut panjang yang sedari tadi berusaha menutupi hidung dengan lengan kiri sambil mengepel sembarangan, yang lebih parah justru Reynand, dia yang harus menyikat itu semua. Sedangkan Widya harus mengepel dan juga menyiramkan pengharum kamar mandi di sana.
"Aduh sayang, aku capek banget tahu enggak," keluh Widya. Rey menoleh senejak dan melanjutkan aktivitasnya.
"Kamu sendiri yang nuduh aku pegang bokong kamu, tanggung sendiri akibatnya sekarang, padahal akutuh lagi beneran usir ulat di bokong kamu,"
"Tapi kamu pegang,"
"Ya terserah, lanjutin kenapa sih? Kamu tuh ya ngomel melulu, semua ini gara-gara kamu tahu enggak sih?" bentak Reynand yang membuat raut wajah Widya berubah menjadi cemberut.
"Sayang kok marah sama aku?"
Reynand terdiam sejenak. Dia menarik napas panjang, mencari cara untuk menyemangati Widya agar hukumannya cepat kelar.
"Widya, tahu enggak? Kalau seorang istri itu harus bisa segalanya, misal kalau pembantu enggak ada, jangankan bisanya masak doang, bersihin toilet juga harus bisa, enggak malu nanti kalau mertua datang gitu untuk ngunjungin?"
"Maksudnya, Sayang?"
"Ya kan kamu tuh pengin banget aku jadi suami kamu, tapi aku enggak suka sama perempuan manja. Dia harus bisa urus rumah juga, aku kasih bonus nanti dia bakalan bisa belanja-belanja. Tapi jangan bisanya belanja doang, tapi ngurus rumah enggak bisa. Harapan akutuh ya dapat istri yang serba bisa, kalau pemalas dan suka ngeluh, mana ada sih yang mau,"
Widya merebut sikat yang ada pada tangan Rey dan langsung menyikat kloset itu. Kini Rey yang bergiliran bertugas mengepel dan memberikan pengharum di kamar mandi itu.
Setidaknya cara seperti itu mampu membuat Widya menjadi orang yang lebih bersemengat lagi. Rey tidak ingin menghabiskan waktunya hanya dengan hukuman. Dia ingin belajar, percuma dia ke sekolah jika hanya menjalani hukuman atas kesalahan yang tidak bisa dia buktikan kebenarannya.
Aku bakalan tetap up. Tapi tolong jaga jari-jarinya. Gimanapun juga nulis itu butuh ide. Nanti kalau kalian nemu ada yang mirip sama cerita ini, silakan tulis di kolom komentar.
Jangan berkata kasar apalagi DM-DM di IG minta crazy up. Aku bakalan tetap up kok. Asal jangan kasar 😘