
Azka dan Nagita pergi ke rumah Dimas untuk meminta izin melanjutkan pernikahan mereka berdua. Walaupun awalnya hanya demi Reynand, tetapi kini alasannya adalah karena mereka berdua saling mencintai. Awalnya memang terlihat tidak meyakinkan, tetapi setelah melihat perubahan yang ada pada Azka, akhirnya Dimas pun mengizinkan untuk kembali lagi. dan memikirkan bagaimana Rey kedepan jika mereka benar-benar berpisah.
Sepulang dari rumah Dimas, mereka berdua pergi ke dokter untuk konsultasi. Butuh dua hari untuk memikirkan semua itu agar dijalani dengan baik oleh keduanya. Terlebih Nagita, pada awal Azka membahas soal kehamilan, ia sempat ragu karena takut jika suatu waktu Azka bertindak seperti dulu lagi dan mencampakkan dirinya dan buah hatinya. Seperti waktu itu menyia-nyiakan Reynand.
Usaha Azka untuk meyakinkan Nagita berhasil, hingga dirinya benar-benar mau dan berkonsultasi langsung dengan dokter. Kedua mertua Nagita belum tahu tentang kabar bahwa mereka sudah berbaikan dan menjalin hubungan suami istri lagi seperti dulu. tidak harus dengan pura-pura.
Mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua Azka untuk menjemput Rey, Nagita merasa sangat bersalah karena harus bertengkar di depan Rey dengan Azka waktu itu. Kesepakatan mereka berdua adalah, untuk tinggal dengan keluarga kecil mereka.
Tiba di rumah mertuanya. Azka mengajaknya untuk masuk dan tidak menemukan Rey maupun mamanya di sana.
"Mama."
"Mama."
Hingga panggilan yang kesekian kalinya tidak ada sahutan.
"Ya sudah, Nagita. Sekarang kamu istirahat, aku cari Mama sama yang lainnya, barangkali ada dihalaman belakang. Hati-hati lengan kamu!" peringat Azka karena ia tadi mencabut implant yang ada lengan kirinya.
Nagita berdiam diri di kamar yang biasa ia tempat ketika mengajak Rey menginap. Walaupun mengajak Rey, tetapi mereka tidur terpisah. Azka akan tidur bersama dengan Rey, dan Nagita tidur sendirian di kamarnya. Mertuanya tak pernah mempermasalahkan hal itu. sebenarnya niat Nagita bukan untuk benar-benar berpisah. Akan tetapi lebih condong pada memberi pelajaran bagi Azka. Bisakah pria itu membuktikan ucapannya atau tidak. selama lima tahun pula, Azka terus mencari putranya dan Nagita tak pernah melarang hal itu.
"Kok di sini lagi?" Nagita terkejut karena Azka tak mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kan aku mau istirahat. Orang rumah mana?"
"Istirahat di kamar aku, memangnya mau pisah ranjang lagi? tega banget kamu. hmm, orang rumah lagi ngajakin Rey jalan-jalan kata Bibi. Ya sudah sementara mereka balik, kita tidur oke?"
"Hmm, terserah. Tapi aku khawatir sama Rey,"
"Kenapa?"
"Dia lihat kita bertengkar waktu itu,"
"Sudah jangan terlalu di pikirkan. Nanti kita omongin lagi, jangan sampai dia mikirnya kalau kita bakalan pisah,"
Ponsel Azka berbunyi.
"Siapa?"
"Damar. Sebentar ya,"
Nagita menaikkan selimut hingga menutupi dadanya dan mulai memejamkan mata. Karena Azka belum juga kembali setelah beberapa menit yang lalu berbicara dengan Damar.
****
Azka berada di dalam ruang kerjanya, semenjak Damar menghubungi tadi, ia mulai memantau pekerjaannya dari rumah. Tidur siangnya ia batalkan demi pekerjaannya dan membiarkan Nagita beristirahat sendirian tadi.
"Mas, kopinya,"
Azka menoleh melihat Nagita membawakan kopi ke ruang kerjanya. Azka mulai menggoda Nagita seperti dulu. "Tahu nggak, ini rasanya sama kayak buatan kamu waktu itu,"
"Yang mana?"
"Waktu kamu sering bikinin aku kopi di kantor. Saat kamu masih kerja,"
"Memangnya masih ingat? Itu kurang lebih hampir enam tahun,"
"Masih, Nagita. Bukankah dulu aku selalu marah kalau kopinya nggak enak, belum lagi melemparkan gelas. Siapa sangka tukang bikin kopi yang sekarang jadi istri yang cantik, ibu dari anakku,"
"Oh jadi aku cuman tukang buat kopi?"
"Buat anak juga, tapi nanti," ia terkekeh saat melihat ekspresi Nagita mulai terlihat kesal.
Ceklek
Mereka berdua langsung mengalihkan pandangan ke arah pintu yang terbuka. Di sana muncul malaikat kecil mereka yang berlarian menuju keduanya.
"Mommy, Daddy," panggil Rey yang berlari menuju arah mereka.
Azka yang tadinya memeluk Nagita langsung melepaskan pelukannya dan menyambut kedatangan Rey.
"Rey, ke mana saja? Mommy sama Daddy nungguin dari tadi,"
"Rey main sama Oma, aunty Naura juga. Daddy kapan kasih adik buat, Rey?" ucap anak itu parau sambil menunduk dan mencoret-coret kertas yang ada di meja kerja Azka.
"Sabar ya. Tunggu Mommy sembuh, dan lagi Rey juga harus berdoa. Biar di kasih adik sama Tuhan, Mommy juga sehat. Rey kesepian?" jawab Azka lembut dan mengelus kepala anaknya.
"Tapi Daddy bilang bakalan baik-baik saja. lengan Mommy harus di perban gitu," Rey menunjuk lengan kiri Nagita yang terlihat begitu jelas. "Daddy pukulin Mommy ya? Daddy bilang sayang sama Rey dan Mommy, tapi Daddy buat Mommy sakit," tangis Rey mulai keluar.
"Kok nangis?" tanya Azka pelan.
"Daddy nggak sayang sama Mommy dan Rey, iyakan? Rey nggak mau punya papa tiri, nggak mau punya mama tiri, teman Rey dipukulin tiap hari di sekolah sama papa tirinya, ada juga yang dipukulin sama mama tirinya, itu pasti sakit banget, Daddy. Rey nggak mau Mommy sama Daddy pisah kayak orang tua teman Rey, mereka berantem di sekolah, hiks," Rey berlari keluar sebelum Azka dan Nagita menjelaskan.
Mereka berdua berusaha mengejar, "Pelan-pelan, Nagita. Biar aku yang kejar,"
Azka berlarian dan memanggil nama Reynand berkali-kali tapi tak dihiraukan oleh anaknya. Ia ditahan oleh mamanya di ruang tamu, di sana ada Naura bersama dengan anak-anaknya sedang bermain.
"Azka, kamu marahin Rey?"
"Rey salah paham, Ma. Dia mikirnya aku mukulin Nagita sampai lukanya di perban,"
"Terus?"
"Aku antarin Nagita ke dokter buat cabut implant di lengan kirinya, karena Nagita mau hamil lagi, Rey lihat itu dan ngira aku mukulin Nagita," pegangan itu di lepaskan oleh Novi.
"Azka, kamu lagi nggak bercanda kan?"
"Buat apa aku bercanda, Ma. Mama ingat waktu itu Rey minta adik?"
"Ingat,"
"Aku sama Nagita sudah baikan. Jadi dia bilang mau hamil lagi, nurutin kemauan Rey. Tapi anak itu kenapa cepat sekali ngambek sih, Ma?"
Azka melirik mamanya dan langsung mengejar Rey. Ia mendapati anaknya menangis di ayunan belakang rumahnya.
"Rey!" panggilnya pelan.
"Rey nggak mau sama Daddy,"
"Rey, dengerin dulu Daddy ngomong!"
"Nggak. Daddy sering bohong sama Rey, Daddy selalu saja bilang kalau Daddy pulang tengah malam, berangkat kerja pagi-pagi sebelum Rey bangun, tapi Daddy nggak pernah pulang nemein Mommy sama Rey kan? Daddy selalu sibuk, Daddy nggak sayang sama Rey. Daddy nggak pernah tahu kalau Rey sedih, Rey kesepian, Mommy juga selalu sendirian urusin Rey. Rey nggak pernah tanya sama Mommy tentang Daddy karena Rey nggak mau buat Mommy sedih,"
Azka merasa hatinya sangat sakit mendengar pentuturan Rey. Selama ini ia berbohong seperti itu. tapi tak pernah di duga bahwa anaknya akan berkata demikian. Mengingat bahwa ia selalu saja berusaha dengan Nagita nampak seperti orang yang tak ada masalah sama sekali.
"Rey? Apa Rey tahu Daddy juga sedih Rey ngomong begini?" ucap Azka parau.
"Daddy?" lirihnya.
"Apa Rey tahu, Daddy juga pengin tidur sama Rey. Antarin Rey sekolah setiap hari, makan bareng Rey, seperti Om Reno nemenin Leo dan Clara tiap hari. Daddy sibuk juga demi kalian, soal luka di lengan Mommy, bukan Daddy yang pukul. Tapi itu karena Rey bakalan punya adik,"
"Daddy?" lirih Rey kedua kalinya.
"Daddy sedih Rey seperti ini, Mommy sama Daddy akan luangin waktu buat Rey. Daddy janji nggak bakalan sibuk lagi, Daddy bakalan pulang kerja cepat, nemenin Rey belajar, kalau mau liburan juga pasti di temani, Rey nggak bakalan sendirian lagi-"
Azka yang tadinya duduk di kursi dekat ayunan tiba-tiba dipeluk oleh Rey. Ia membalas pelukan putranya.
'Maafkan Daddy yang membuatmu menjadi seperti ini, andai saja dulu Daddy tidak pernah membuat mengkhianati Mommy, pasti Rey bakalan selalu bahagia, benar bahwa apa yang dikatakan oleh orang bahwa harta yang sesungguhnya adalah keluarga, sejauh apa pun pergi, keluarga adalah tempat untuk pulang. Dan Mommy adalah tujuan untuk Daddy kembali. Daddy janji akan mengawasi setiap pertumbuhanmu sepanjang waktu hingga Mommy dan Daddy tua nanti, andai saja dulu Mommy tidak mempertahankanmu, pasti Daddy adalah orang yang paling menyesal seumur hidup karena hampir menggugurkanmu karena Daddy benci hadirmu dulu. tapi saat ini, Daddy sangat butuh Rey untuk kelangsungan hidup. Terima kasih, karena telah menjadi anak yang lahir di dunia ini sebagai penyatu Mommy dan Daddy' Azka memeluk putranya dan hatinya begitu nyeri saat Rey menangis di pelukannya.
"Jadi Rey nggak marah sama Daddy?"
"Maafin, Rey, Daddy!"
"Nggak ah. Rey udah marah-marah tadi sama Daddy," ledeknya. Sambil memeluk tubuh kecil Rey.
"Mas, nanti nangis lagi lho,"
Azka melepas pelukannya dan menarik Nagita untuk ikut duduk di pangkuannya. Ia menaikkan Rey dipaha kirinya dan Nagita di sebelah kanan.
"Lihat, Mommy sama Daddy nggak bakalan pisah!" ucap Azka menunjukkan kemesraannya pada Reynand.
"Daddy, Rey minta tiga ya. Satunya cowok, dua cewek. Biar adil!" ucap Rey saat Azka menghapus air mata anaknya.
"Kasihan Mommy dong?"
"Terus?"
"Berapa aja yang di kasih Tuhan, kita harus bersyukur,"
"Tapi Daddy, kata aunty, kalau banyak saudara itu enak. Nggak kayak Daddy sama aunty, terus kata Oma, Daddy itu dulu bandel. Sering mecahin kaca, nggak mau sekolah, sering pipis di dalam mobil,"
Azka mengernyit dan menutup telinga Nagita.
"Anak kamu aja tahu kejorokan kamu, Mas." Nagita menepis tangannya.
"Sssst, jangan ikuti ya! Nggak baik, nanti Daddy nggak jadi buatin adik lho,"
"Ya udah, nanti Mommy yang buat,"
"Mana bisa kalau nggak ada Daddy," protes Azka.
"Nggak mau pokoknya Daddy, kalau bikin adik harus tiga lagi, titik!"
"Oke deh oke. Iyain aja Nagita, dikira enak apa ngidam,"
"Nggak apa-apa sayang. Mommy siap melahirkan, asal Daddy siap muntah setiap pagi, kayak waktu itu ngidamin Rey sampai ngesot katanya,"
"Sakit ya Daddy?"
"Iyalah. Makanya jangan sering marah-marah. Masih kecil sudah marahin Daddy. Dan tahu nggak dulu makanan yang bisa masuk itu cuman nasi goreng buatan Mommy,"
"Kapan?"
"Kamu lupa? Bukannya nasi goreng yang waktu itu kamu titipin sama Dimas itu untuk bosnya Dimas dan itu adalah aku,"
"Oh, pria yang kaya raya yang sombong itu?"
"Daddy, nggak boleh sombong lho. Di marah sama Tuhan, kan apa-apa itu titipan? Mobil, uang, anak berbakti juga titipan harus diajarin baik-baik Daddy, apalagi istri," Azka menoleh ke arah putranya dan langsung tersenyum.
"Siapa yang ngajarin anak Daddy kok pintar?"
"Mommy, terus Rey di ajarin doa sebelum makan, doa sebelum masuk toilet, di ajarin ngaji juga Daddy. Terus sholat juga,"
Azka merasa sangat terpojok dengan kata-kata Rey. Selama ini yang hanya ia pikirkan adalah perihal bagaimana cara membahagiakan istri dan anaknya. Hingga ia tidak pernah peduli dengan kewajibannya sendiri.
"Nanti kita sholat bertiga ya! Daddy imamnya, oke!"
Azka mengelus kepala Rey dan mencium anaknya.
"Terima kasih Nagita, kamu sudah mengajarkan hal sejauh ini yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya."
"Kita akan tetap kembali kepada-Nya. Dan lagi, lupakan kejadian dulu. Bukankah kita manusia biasa yang penuh dosa? Sekarang, cobalah untuk menjadi lebih baik, demi kita dan keluarga, jangan terlalu sibuk perihal hartamu, Mas. Didik Rey karena harta yang sebenarnya adalah dia, karena setelah tiada, dia yang mendoakan."
Azka tersenyum miris mendengar pernyataan Nagita. Istrinya benar, selama ini ia menganggap bahwa hartanya mampu membeli segala yang ia inginkan. Tetapi kebahagiaan Rey dan juga mendidik Rey tidak akan terulang lagi. kini ia paham, bagaimana Rey memahami tentang kehidupan yang lebih luas. Karena itu semua adalah didikan dari Nagita.
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah menyempatkan untuk membaca ini.
Semoga ada pelajaran yang dapat dipetik. Bukan bermaksud menggurui, tetapi harta yang paling berharga adalah KELUARGA.