RICH MAN

RICH MAN
PEREMPUAN YANG KAMU CARI



Rey berjalan setengah berlari menuruni tangga. Dengan perasaan yang berusaha sebisa mungkin dia buat ceria walaupun hatinya begitu rapuh karena perasaannya yang kacau karena kepergian istrinya. Masih ada waktu beberapa hari lagi sebelum dia memutuskan untuk menceraikan Marwa. Barangkali, saat ini dia perlu berbicara empat mata bersama dengan papanya tentang hal ini. Sebagai sesama pria, mungkin dia bisa mendapatkan arahan dari papanya.


Kemarin dia tidak bekerja karena ingin meluangkan waktu untuk dirinya sendiri berpikir tentang masalahnya sendiri. Tetapi itu bukan cara efektif yang bisa membuat Rey lebih tenang, justru membuatnya menjadi semakin berantakan dan semakin hancur dengan masalah tersebut.


Jika melepaskan Marwa bisa membuatnya sedikit lebih lega, tetapi kebiasaan yang dahulu bersama dengan perempuan itu sulit dilupakan. Jika dia berusaha untuk tetap keras kepala untuk melupakan Marwa dan Bintang dengan waktu yang bersamaan, tentu saja itu akan sangat sulit karena satu saja dia sudah kehabisan akal sehatnya. Apalagi melupakan dua orang sekaligus.


Rey turun menghampiri keluarganya yang ada di ruang keluarga. Menunggu dirinya untuk makan malam.


Dengan mengejutkan, Rey menghampiri kedua adiknya yang asyik menonton televisi, dan satunya lagi tidur di paha mamanya.


"Minggir ah! Biar kakak yang tidur dipangkuan, Mama," ucapnya pada Salsabila.


"Enggak, tuh sama Papa aja!" perintah adiknya.


"Adik sana yang sama Papa, kalau kakak maunya sama Mama," ucap Rey sambil menarik kaki adiknya.


"Papa lihat kakak mulai lagi tuh!"


"Udah punya istri masih aja dari dulu enggak pernah berubah gangguin adiknya melulu. Rey, kamu tuh ya suka banget gangguin yang dua ini, kenapa sih enggak ngasih cucu aja sekalian?" singgung Nagita sengaja.


"Mama ngomongin cucu, Mama itu masih muda. Kalau Mama punya cucu yang lucu banget dong, dih dipanggil Oma. Terus Oma itu punya cicit, enggak lucu tahu, Ma," seka Reynand.


"Ngapain juga mikirnya gitu, toh tante kamu bentar lagi mau punya cucu juga kok. Amanda bentar lagi melahirkan, enggak pengin gitu kamu tuh ngasih keturunan sama Marwa?"


"Mama, kami juga lagi usaha tahu enggak? Mungkin emang belum dikasih aja, jadi sabar, Ma,"


Nagita yang tahu bahwa anaknya belum pernah melihat wajah Marwa dan ia hanya mengangguk pelan. Padahal maksudnya itu adalah agar anaknya lebih penasaran lagi kepada Marwa. Jika Rey tahu bahwa Marwa adalah Bintang. Barangkali Rey tidak akan pernah berlaku seperti itu kepada istrinya sendiri dan menyakiti hati perempuan itu dengan sangat keterlaluan dan membuat Nagita juga sakit.


Azka melihat istrinya yang geram hanya menggeleng pelan sambil bercerita bersama dengan Nabila di sana. "Pa, kalau Kak Rey punya anak, berarti kita jadi Onty kecil dong?" tanya Nabila dan membuat Azka geli sendiri mendengar ucapan anaknya.


"Apaan?" ucap Rey yang mendengar hal itu dan langsung menimpali adiknya.


"Kalau kakak punya anak, kita jadi Onty, iya kan?"


"Auntie, Nabila?"


"Biarin aja, yang penting dipanggil gitu kok," jawab adiknya yang tidak mau kalah dengan jawaban Reynand.


"Terserahlah,"


"Jadi kapan Kak Marwa hamil?" tanya Salsabila yang ikut ke dalam perbicangan mereka. Kedua orang tuanya juga menatap dengan tatapan penuh harap.


"Nanti deh, tunggu aja waktunya," jawabnya pelan. "Ya udah ayo makan, aku lapar banget,"


Nagita dan Azka mengerti bahwa setiap kali membahas anak, Rey akan menghindar dan mencari berbagai macam alasan untuk bisa menghindar dari pertanyaan seperti itu. Walau sebenarnya Azka juga sangat berharap bahwa Rey memiliki anak dengan segera seperti Leo. Tapi keadaannya sangat berbeda, ia pikir bahwa menikahkan Rey akan membawa dampak baik. Tapi justru membawa masalah besar bagi anaknya karena menikah dengan perempuan masa lalunya tanpa dia ketahui.


Mereka pun ke ruang makan dan mengambil posisi duduk masing-masing. Kumpul bersama dengan keluarga yang selalu di rindukan. Akan tetapi itu menjadi sangat kurang karena tidak ada satu orang yang biasa mengisi kursi di sebelahnya.


Nagita mengambil gelas yang ada di sebelah Rey, dia lupa bahwa Rey tak bersama dengan Marwa. Dia segera memindahkan gelas itu ke tempat lain.


Makan malam pun berlangsung seperti biasa. Rey yang memaksakan dirinya mengisi perutnya agar tidak terlalu kosong karena memikirkan perempuan yang masih pergi itu.


"Besok enggak usah kerja, Rey. Cari Marwa! Papa lihat kamu tuh kayak orang linglung kalau enggak ada, Marwa,"


Rey menyantap makanannya hingga tandas tanpa mempedulikan ucapan orang tuanya.


"Rey, pikirkan tentang kamu yang akan menceraikan, Marwa!" jawab Mamanya.


"Mama tahu dari mana?"


"Mama tahu dari Om Dimas, kenapa kamu sembunyikan semua ini? Kamu mau buat rumah tangga kamu hancur tanpa pernah kamu melihat istri kamu,"


Azka terkejut mendengar ucapan istrinya yang membuat kedua putrinya menatap ke arah Nagita yang sedang diselimuti oleh emosi.


"Nabila sama adik masuk kamar ya!" perintah Azka ketika melihat keduanya selesai makan.


Azka berusaha mengajak mereka duduk di ruang keluarga menenangkan Nagita yang lepas kendali.


"Rey, apa sebenarnya yang ada di kepala kamu sampai kamu berpikir untuk menceraikan, Marwa?"


Rey terdiam sejenak kemudian, "Aku sudah terlalu jauh menyakiti hati, Marwa. Apalagi yang bisa aku pertahanin jika terus menyakiti hati dia, Ma? Aku enggak tahan lihat dia nangis hanya karena aku,"


"Karena kamu buat dia nangis, maka dari itu harusnya kamu berusaha untuk jatuh cinta sama dia,"


"Seberapa besarnya usaha aku untuk mencintai Marwa, pada akhirnya aku hanya menyakiti hati dia tanpa bisa menyentuh hatinya sedikit pun, Ma. Jangankan aku, Ma. Tanya sama Papa kalau laki-laki udah sayang sama perempuan, gimana dia akan bertindak. Papa juga dulu cerai sama Mama karena masalah pribadi papa yang enggak bisa lupain masa lalunya, kan?" ucap Rey yang juga waktu itu kesal karena merasa terpojokkan.


"Rey!" bentak Papanya.


"Aku salah ngomong, Pa? Enggak kan? Kenapa aku mau pisah sama Marwa kalian enggak setuju? Daripada aku hanya nyakitin dia dan terus berusaha memaksakan diri mencintai orang lain, Pa. Sementara hati aku sudah mati karena Bintang, apa Papa enggak ngerti juga? Kita sama-sama pria pasti ngerti tentang hal ini,"


Nagita sudah tidak tahan lagi dengan sikap anaknya yang malam itu sudah membuatnya emosi. Dia pergi dari tempat itu dan menuju kamarnya mengambil barang yang mungkin bisa membuat Rey sadar.


"Kenapa Papa dulu balik sama, Mama? Itu karena Papa menyesal menyia-nyiakan dia. Sekarang kamu mau ngerasain hal yang sama lagi seperti Papa? Ingat, Rey! Bahwa Papa pernah ngerasain itu dan enggak mau kamu ngerasain hal yang sama dan buat kamu menderita dengan penyesalan. Ingat kamu waktu kita begitu susahnya untuk bisa bertemu waktu Om Dimas enggak bolehin kamu ketemu, kalau seandainya orang tua Marwa larang kamu ketemu sama dia saat kamu menyesal nanti, apa yang bisa kamu lakukan Rey? Menyesal itu adalah perasaan paling sakit diantara semua rasa sakit itu,"


"Oh jadi semua ini aku yang salah, Pa? Aku salah mau pisah sama, Marwa?"


Nagita datang dengan air mata yang tidak bisa dibendung lagi. Dia melemparkan foto dan Rey memungutnya langsung.


Azka yang melihat foto yang dilempar istrinya adalah foto Marwa yang membuka cadarnya bersama dengan Nabila dan Salsabila. Azka mengusap wajahnya kasar.


"Ma," ucap Azka pelan. Tapi dia tidak ingin menyalahkan istrinya karena tindakan Rey yang sudah berani melawan mereka berdua.


"Marwa?" Rey langsung menjatuhkan foto itu.


"Sekarang puas? Hah, puas kamu Rey? Silakan ceraikan Marwa kalau kamu mau mati dalam perasaan bersalah itu! Lakukan apa pun yang kamu mau, Rey,"


Nagita bersembunyi dibalik bahu suaminya sambil menangis sesenggukkan, tak kalah dengan Rey yang waktu itu meneteskan air mata dengan spontan.


"Ini alasan Papa selalu suruh kamu buka cadar dia! Kamu bilang enggak mau karena belum siap terbayang sama kenangan masa lalu, Rey. Dia hilang ingatan, Rey. Bukan karena dia enggak mau bahas ini sama kamu, waktu dia mau ketemu sama kamu dia dipukuli sama orang. Orang tuanya benci sama kamu karena kamu yang ditemui oleh Bintang tapi mengalami hal yang mengerikan seperti itu,"


Rey menjambak rambutnya. Selama ini dia tidak pernah memperhatikan bahwa persamaan-persamaan itu pernah dia alami. Sama halnya ketika dia memeluk Marwa dan rasanya sama seperti ketika memeluk Bintang dulu.


"Kamu enggak bisa terus seperti ini, Rey. Perempuan yang kamu nikahi itu adalah Bintang kamu yang dulu. Hanya saja orang tuanya sengaja mengganti nama dia agar kamu enggak nemuin dia, tapi hal yang buat kami semua terkejut adalah ketika kamu resepsi, justru Leo mengatakan itu dengan jujur. Dia sembunyikan itu semua demi kebaikan kamu. Karena orang tuanya Marwa atau Bintang cerita bahwa dia enggak mau punya menantu yang sudah buat anaknya menderita. Alasan dia mempercepat pernikahan kamu dulu karena itu, Rey. Mama sama Papa bahkan enggak pernah menduga bahwa perempuan yang delapan tahun udah buat kamu menderita justru kamu nikahi dalam perubahan yang drastis gitu. Leo bahkan terkejut juga waktu kami tiba-tiba lamar perempuan itu, dan justru dia nerima kamu,"


Penjelasan orang tuanya semakin membuat Rey sakit. "Selama ini kalian bohongi aku?"


"Rey, enggak ada yang bohong,"


"Marwa juga bohongi aku," ucapnya dingin.


"Dia lupa ingatan, dan sekarang dia enggak ingat sama kamu sama sekali,"


"Dan itu semua bohong, dia mau nyiksa aku lebih parah lagi untuk buat aku hidup lebih menderita lagi? Setelah dia pergi tanpa alasan, dia datang dengan sosok lain? Apa itu masuk akal, Pa?"


Rey tidak bisa lagi mengendalikan emosinya yang sudah terlanjur itu. Selama dua bulan orang tuanya menyembunyikan kenyataan bahwa selama ini Marwa adalah Bintang. Dan bahkan perempuan itu juga selalu bersikap manis dihadapannya setiap hari. Ternyata adalah pembohong.


"Papa sembunyikan ini semua karena Papa tahu kamu enggak bakalan percaya, Rey," ucap Azka berusaha menenangkan emosi anaknya.


"Sekarang terserah kamu, Rey. Mau menderita dengan penyesalan kamu? Sekarang silakan cari Marwa kalau kamu bisa temukan! Kamu sendiri yang mengusir dia," jawab Nagita dengan ucapan yang sangat menyakitkan bagi Reynand.


Rey yang masih sulit percaya dengan hal itu. "Mama jangan pernah bercanda! Ini Mama edit, kan?"


"Tanya adik-adik kamu kapan foto itu diambil! Tanya Jenny, Fendi, dan juga Clara, bahkan Leo. Mereka yang pernah melihat wajah Marwa."


Rey beranjak dari tempat duduknya dan berteriak.


Azka berusaha menenangkan emosinya agar tidak tersinggung dengan perbuatan anaknya yang keterlaluan itu.


"Sudah, Ma! Sekarang kita ke kamar. Biarin aja, Rey. Dia butuh waktu, mungkin mau nyari keberadaan istrinya."


Azka membantu istrinya bangun dari tempat duduknya dan menenangkan Nagita yang menangis.


Biarlah Rey tahu hal itu meskipun sangat menyakitkan. Dibandingkan mereka berdua harus saling menyakiti karena tidak mengenal satu sama lain.