
Makan malam bersama dengan istrinya adalah hal yang paling menyenangkan bagi sosok Rey. Dia sangat senang bisa pulang dengan cepat dan makan malam bersama dengan orang yang paling dicintainya.
Dilayani dengan sangat baik. Dari dia bangun dari tidurnya. Setelan kerja yang selalu rapi dan wangi. Serta sarapan yang tidak pernah telat disiapkan oleh istrinya. Bagaimana lagi dia bisa bersyukur kepada Tuhan dianugerahi istri yang begitu sempurna. Apalagi di saat hamil seperti sekarang ini bukan menjadi halangan bagi istrinya untuk memenuhi semua kebutuhannya.
Makan malam pun berjalan dengan begitu romantis. Dia tidak pernah absen dalam menemani istrinya makan malam, walaupun dia makan malam di luar dengan klien. Tetapi tetap saja dia akan makan di rumah bersama istrinya.
Baru saja Rey mengangkat sendok ke mulutnya, ponselnya tiba-tiba berdering. Dan nama Alin terpampang di sana.
“Siapa, Mas?”
Rey melihat ekspresi Marwa yang tidak biasa. Ia juga sadar setiap hari perempuan itu menyusulnya ke kantor. Rey tidak ingin jika itu menjadi boomerang bagi rumah tangganya nanti. Apalagi terlihat dengan jelas bahwa Alin mendekatinya dengan keterlaluan.
“Angkat, Mas! Barangkali aja penting, kasihan loh!”
Rey meletakkan sendok dan garpu kemudian meninggalkan Marwa sendirian di tempat makan. Perempuan itu langsung terdiam kala suaminya yang baru pertama kali menjawab telepon dan menghindar seperti sekarang ini. Tidak seperti biasanya, bahkan jika ponsel itu berada di dekat Marwa. Maka Rey akan meminta istrinya untuk menjawab telepon. Tapi barusan itu apa? Marwa sampai terdiam melihat tingkah suaminya yang begitu aneh dari gelagatnya berbicara.
Pria itu sadar bahwa istrinya mungkin berpikir yang tidak-tidak dengan dirinya. Pasalnya dia tidak ingin jika istrinya cemburu. Bagaimanapun juga dia tidak suka jika Alin terus saja datang ke kantornya. Hingga membuat beberapa orang sempat menaruh curiga terhadapnya. Jika saja bukan karena proyek besar yang didapatkan oleh Rey, maka dia tidak akan pernah mau bersama dengan Alin.
Rey akui, bahwa masakan Alin memang enak. Apalagi dia tahu bahwa Alin chef sekaligus pelukis. Beberapa restoran terkemuka itu juga milik Alin yang dibuatnya melalui hasil melukisnya. Ia begitu bangga terhadap perempuan mandiri itu. Tapi jika berhubung dengan kelakuan Alin kepadanya, jujur saja dia tidak ingin membuat istrinya berpikiran buruk mengenai dirinya.
“Mau ke mana?” tanya Rey yang baru saja balik setelah menelepon dan melihat istrinya yang hendak beranjak dari tempat duduknya. Barangkali pikirannya mengenai Marwa yang cemburu adalah hal yang benar-benar terjadi kali ini.
Marwa tersenyum dan menampilkan raut wajah yang begitu cantik dan imut. Mewarisi dari mama mertua Rey. Dan kelak anaknya akan secantik serta sebaik, Marwa. “Aku udah selesai makan, Mas. Kamu enggak apa-apa aku tinggal? Biarin aja nanti kalau udah selesai makan kamu diamin di sini. Nanti aku cuci,”
Dia sadar bahwa perilaku Marwa berbeda dari sebelumnya. Tadi perempuan itu masih menghangat, tidak dengan sekarang ini yang sepertinya hanya berpura-pura saja. Rey sadar bahwa ini adalah hal yang sangat dia takutkan, melukai hati istrinya hanya karena orang baru. Rey tidak ingin hanya karena Alin, Marwa menjadi orang asing di dalam hidupnya.
Selesai makan, Rey langsung membereskan sisa makan mereka. Tidak ingin jika istrinya terlalu lelah. Rey kembali lagi membuka ponselnya setelah melihat beberapa chat dari Alin yang begitu perhatian terhadapnya. Mulai dari mengingatkan makan dan sebagainya.
Rasa risih memang ada, akan tetapi mau bagaimana lagi. Rey tidak menanggapi sama sekali. Bahkan tadi setelah telepon di tutup. Banyak chat yang masuk.
Seusai mencuci piring dan menaruh makanan sisa di dalam kulkas. Rey membuatkan susu sebelum tidur kepada istrinya. Bagaimana perasaan Marwa? Hanya itu yang ada di dalam pikirannya saat itu. Rasa bersalah kian menggerogoti Reynand.
Membawa segelas susu untuk ibu hamil. Sejenak dia memelankan langkahnya dan membuka pintu secara perlahan. Sadar jika makanan tadi tidak dihabiskan oleh istrinya. Dan beberapa saat dia masuk ke kamar. Marwa telah tidur, dengan mematikan lampu. Tidak seperti biasanya. Kali ini rasa itu kemudian datang lagi.
Rey pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi. Susu yang dia buat ditaruh di atas nakas dan kemudian berlalu. Rey meletakkan ponselnya di dekat susu yang dibuatkan untuk Marwa. Di dalam cermin yang memantulkan tubuhnya, Rey bicara kepada dirinya sendiri.
Keluar dari kamar mandi, Rey melihat Marwa mengambil ponsel milik Rey dan dia takut jika ada chat macam-macam dari Alin dan justru itu membuat istrinya merasa sakit hati. “Apa yang kamu lakukan?”
Marwa tercengang mendengar Rey yang berteriak hanya karena dia hendak mengambil ponsel. Tidak seperti biasanya, hari-hari yang sudah berlalu biasanya Marwa bermain ponsel milik Rey dan tidak pernah dimarahi sama sekali. Akan tetapi kali ini bahkan Rey membentak istrinya sendiri.
Sejujurnya tidak ada maksud sama sekali pria itu membentak istrinya. Hanya karena takut jika ada chat dari Alin yang macam-macam kemudian membuat istrinya sakit. Dan benar saja setelah merebut ponsel itu. Banyak chat dari Alin apalagi disertai dengan emoticon love yang membuat Rey terkejut andai saja Marwa lihat, pasti mereka berdua akan bertengkar hebat.
Rey menatap lurus kemudian menghapus pesan yang dikirim oleh Alin. “Kenapa nggak boleh, Mas?”
Suara perempuan itu parau, itu tandanya Marwa menahan tangisnya. “Marwa, aku nggak bermaksud marah, tapi…”
“Tapi apa, Mas? Apa aku nggak boleh sekadar lihat ponsel kamu?”
“Boleh,”
“Tapi kenapa kamu rebut sampai bentak aku?”
‘Karena aku nggak mau buat kamu nangis. Enggak mau lihat kamu bersedih, dan tidak pernah ada niat aku mau nyakitin hati kamu.’ Ucap Rey di dalam hati dan langsung mendekati istrinya kemudian meletakkan ponsel itu ke atas meja.
“Ada hal yang harus aku kerjakan, Marwa,”
“Apa?”
“Aku dapat proyek besar dan semua uang itu akan aku gunakan untuk kita beli rumah baru nantinya setelah kamu melahirkan anak kita. Aku sengaja nggak kasih tahu kamu mengenai proyek itu karena aku mau ngasih kejutan,” ucapnya berbohong. Istrinya menatap matanya dengan lekat. Rey berbohong untuk pertama kalinya. Karena tidak ingin menyakiti hati istri dan membuat istrinya stress. Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan oleh Rey kepada Marwa.
‘Andai kamu tahu bagaimana usaha aku untuk membuat keluarga kita tetap utuh. Aku mencintai kamu. Sekaligus mencintai calon buah hati kita. Dan aku tidak ingin menyakiti kalian berdua hanya karena pekerjaanku diluar sana yang barangkali sudah melebihi batas’