
Hari di mana pelaksanaan pernikahan Dimas yang dilakukan semua serba mendadak. Bahkan Damar juga membantu segala keperluan Dimas. Mulai dari tempat resepsi dan sebagainya. Nagita juga yang tidak terbiasa harus ikut andil dalam membantu melancarkan pernikahan saudara satu-satunya yang dia miliki.
Acara akad nikah yang dilakukan di kediaman Viona. Mereka berada di dalam kamar Viona. Suasana yang terasa begitu asing membuat Nagita ikut gugup meski yang akan menikah adalah saudaranya sendiri. Dimas yang sudah berada di depan, sementara Viona berada di kamarnya sedang di rias.
“Nagita kamu kenapa dari tadi mondar-mandir kayak setrikaan gitu?”
“Aku yang gugup, Mar. Ngomong-ngomong Kak Dimas di mana? Bukannya tadi di ada di luar?”
“Dimas beberapa kali ke toilet tahu nggak. Dia gugup dari tadi, semoga aja sih acaranya lancar. Ini mendadak banget sih, nggak lucu banget Dimas itu nikah tiba-tiba dadakan gini. Pasti teman-teman perempuan yang ada di kantornya patah hati berjamaah, secara Dimas itu idola banget katanya di kantor,”
“Eh, benar begitu?”
“Kamu nggak tahu gimana populernya kakak kamu dikalangan para wanita? Kalau aku juga jadi perempuan pasti mau sama kakak kamu. Itu kalau aku perempuan lho ya, garis bawahi perempuan,” Damar menekankan kata perempuan pada Nagita. Perempuan itu mengangguk.
“Beruntung banget malah Viona dapat kak Dimas,”
“Tapi nggak asyik cara dia ngelangkahi aku, Nagita,”
“Siapa suruh lama, yang ada umur udah empat puluh baru kamu punya anak, Mar,”
“Nggak apa-apa kok. Yang penting aku itu setia sama satu perempuan. Nggak macam-macam walaupun lama nikah,”
“Nggak usah cicip ini itu, nanti malah kejadian sama kayak sahabat kamu itu,”
“Semenjak kejadian itu menimpa kamu, aku nggak lakuin lagi Nagita. Aku nggak mau rusak perempuan lagi,”
“Nah gitu. Kalau bisa sih udahan, kalau memang sayang ya nikahin kayak Kak Dimas,”
Nagita yang terlihat begitu cantik mengenakan kebaya berwarna putih. Dengan rambut yang di konde. Dandanannya tidak terlalu menor. Beberapa saat kemudian Viona keluar dari kamarnya dan langsung di sambut oleh Nagita dan di antarkan ke depan penghulu. Terlihat jelas senyum Dimas yang begitu mengembang saat melihat Viona yang begitu cantik. Bahkan Nagita sendiri merasa sangat begitu bahagia melihat kakaknya akhirnya memilih untuk mengakhiri masa lajangnya dan menjatuhkan pilihan pada Viona. Perempuan yang selama ini menjadi sahabatnya.
Awalnya Nagita ingin mengundan Naura dan juga Reno untuk hadir di acara pernikahan kakaknya. Tetapi Damar melarangnya, bukan karena tidak mau melihat kedua pasangan itu hadir. Tetapi lebih condong pada ketidak inginan Damar mengungkit masa lalu. Dan itu pun di setujui oleh Nagita.
Jeda sejenak. Nagita duduk dibelakang kedua calon mempelai tersebut. Saat acara di mulai. Nagita terisak dengan hal itu. Sungguh ia bahagia dengan pernikahan kakaknya, akan tetapi kejadian itu membuatnya merasa sangat terpukul mengingat bahwa pernikahannya dengan Azka berakhir. Kala itu pernikahannya pun mendadak. Namun kini, ia berusaha menepiskan ingatan itu dan fokus pada kakaknya yang tengah mempersunting sahabatnya.
Dalam satu kali helaan napas. Dimas telah berhasil menjadikan Viona sebagai istri sahnya. Acara pun dilanjutkan dengan saling memasangkan cincin pengikat mereka berdua.
Terakhir acara tersebut, Dimas mencium kening Viona dan itu membuat Nagita sangat terharu.
Sebaik-baiknya cinta adalah diikat dengan pernikahan. Dan dijalankan sebagai ibadah terlama yang akan dijalani selama hidup. Bukan hanya berlandaskan kepada perasaan cinta. Penyempurna separuh agama, dan menjadikan pernikahan sebagai bukti bahwa cinta itu ada.
“Nagita, terima kasih.” Nagita terharu saat Dimas memeluknya. Ia pun membalas pelukan Dimas saat itu juga. Bergiliran dengan Viona.
Beberapa saat acara pun selesai. Para tamu perlahan meninggalkan kediaman Viona. Damar dan juga Nagita berdiri untuk melepaskan para tamu yang mulai pergi meninggalkan acara tersebut sebagai tanda terima kasih karena mereka telah hadir.
“Om sama Mama kapan kayak Om Dimas dan tante Viona?” tanya Rey tiba-tiba yang membuat Nagita justru terkekeh karena pertanyaan putranya yang ia anggap sangat tidak masuk akal itu.
“Memangnya Rey mau Om jadi Papanya, Rey?”
“Kalau Om nggak pukulin, Mama. Silakan aja!”
“Kode keras dari calon anak tiri, ayo Nagita kapan kita juga seperti mereka berdua?”
Pletak
Damar mengaduh seketika saat jidatnya disentil oleh Nagita. Hingga pria itu meringis kesakitan. Rey tertawa melihat Nagita menyentil jidat Damar.
“Rey, jangan ngomong hal yang aneh-aneh deh. Mama nggak bakalan nikah sama Om Damar,”
“Kenapa? Om Damar itu baik kok, Rey suka,”
“Om Damar bentar lagi mau nikah, sayang,”
“Terus Mama kapan?”
“Rey, sayang, kenapa Rey itu pengin banget lihat Mama nikah sayang?”
“Karena percuma punya Papa, tapi Papa justru nyakitin Mama terus. Pukulin Mama, terus pergi kerja, kerja dan kerja. Kayak Papa itu nggak sayang sama Mama, buktinya sekarang Papa nggak kunjungi aku di sini, Ma. Terus nggak jemput Rey pulang sekolah lagi, terus nggak pernah jengukin Rey di sini, Ma.”
Perasaan Nagita sangat tersentuh oleh ucapan Rey. Hatinya menjadi resah dengan ucapan Rey tadi. Ia memejamkan kedua matanya berusaha mengenyahkan pikirannya tentang Azka yang sudah tidak ada lagi hubungannya dengan dirinya. Bahkan saat itu juga ia sempat berpikir bahwa akan menghidupi Rey sendirian.
“Rey jangan ngomong seperti itu sayang! Jangan pernah bilang gitu sama Papa, nggak baik,”
“Jangan pernah larang Rey, Nagita. Apa yang dia katakan itu benar kan? Dia nggak salah kok, apa yang dia bilang itu benar. Bahwa selama ini jika memang Azka sayang, nggak mungkin dia bakalan ngilang gitu aja tanpa mengunjungi darah dagingnya sendiri,”
Nagita terdiam.
“Liburan ke Lombok mau?”
“Serius, Mar?”
“Iya. Karena kakak kamu bakalan bulan madu ke Bali. Jadi nggak ada salahnya kita itu ke tempat berbeda. Jangan ganggu keharmonisan rumah tangga mereka. Istilahnya jangan jadi nyamuk, hehehe,”
“Hari ini berangkat. Mungkin nanti sore,”
“Haaaah? Aku nggak dikasih tahu,”
“Karena dia nggak mau kamu jadi nyamuk. Ngomong-ngomong ini sudah siang, sana buruan kamu itu siap-siap. Aku sudah pesan tiketnya untuk kita bertiga,”
“Damar kenapa semua ini selalu saja mendadak sih?”
“Karena kalau direncanakan itu semuanya bakalan batal. Jadi lebih enak juga mendadak kan, aku yang ngasih hadiah bulan madu buat Dimas. Dan kita bakalan ke tempat yang nggak kalah bagusnya,”
“Ayo Rey, kita pulang. Kita siap-siap. Om Damar itu suka banget bikin Mama kesal,”
“Gini-gini aku Papa idaman Rey, Nagita,”
Nagita mencubit pinggang Damar hingga pria tersebut mengaduh. Para tamu sudah mulai sepi. Bahkan Dimas dan Viona sudah meninggalkan mereka berdua ke kamar terlebih dahulu.
Mereka berdua menyusul hendak memberitahukan tetapi baru saja di depan pintu, Damar dan Nagita berhenti setelah mendengar ringisan dari dalam. “Akh, sakit. Pelan-pelan, Kak Dimas!”
Mereka berdua beradu tatap. “Dimas, apa nggak bisa ditahan?” goda Damar.
Beberapa detik berikutnya, Dimas membuka pintu. “Apaan sialan?”
“Dilanjutin aja, sorry ganggu,”
“Damar, gue lagi bantuin dia buka resleting gaunnya. Bukan ngapa-ngapain,”
“Oh, kalau mau langsung juga nggak apa-apa sih,”
“Brengsek,”
“Kalian ngapain?” Viona keluar dari kamar.
“Ayo Nagita, kita pulang. Sebentar lagi kita juga bakalan berangkat, kalian tahan dulu. Di sini banyak nyamuk yang gangguin kalian. By the way, yang banyak ya!”
“Damar, di sini ada Rey, tolong jaga bicara lo. Kalau nggak tuh mulut gue sumpal pakai sepatu lama-lama. Otak lo mesum banget,”
“Ya nggak apa-apa. Lagian Rey udah bisa diajak kompromi soal ini. Ngomong-ngomong Rey minta gue nikahin Nagita,”
“Berani lo nikahin dia, gue gibeng kepala lo, Damar,”
“Santai. Kalau adik lo juga mau, gue nggak masalah sih,”
Mereka berempat tertawa. Hingga Nagita berpamitan untuk pulang. Setelah menceritakan bahwa dirinya diajak liburan ke Lombok oleh Damar. Dimas hanya mengiayakan dengan syarat bahwa Damar harus menjaga Nagita dengan baik. Tidak ada salahnya bahwa Nagita juga butuh liburan.
“Rey ikutnya sama Om Dimas, nggak mau sama Mama dan Om Damar,”
“Nah lho. Dapat nyamuk bocah, lo,”
“Sssst, Rey, dengerin Om. Kalau Rey sekarang ikut sama Om Dimas, nanti tante nggak bisa kasih Rey adik sepupu dong,”
“Emang Rey bakalan punya adik?”
“Tentu, tapi bukan adik kandung. Kayak Leo sama Clara gitu,”
“Oh, ya udah. Yang penting bukan diperut Mama,”
“Good job, Damar,” timpal Dimas.
“Ya udah sayang, pulang yuk!” ajak Nagita. Mereka berdua memilih untuk pulang di antar oleh Damar. Sebentar lagi mereka akan langsung berangkat ke bandara untuk pergi liburan. Nagita bersyukur meski liburan dadakan. Rey bisa diajak liburan. Selama ini ia juga tidak pernah liburan ke tempat jauh. Namun karena dihari bahagia saudaranya. Dimas memberikan izin kepada mereka.
*****
Nagita membuka matanya dengan sangat berat saat Damar membangunkannya karena mereka telah tiba di Bandara International Lombok pada malam hari. Beberapa kali penerbangan di tunda hingga akhirnya pukul sepuluh malam mereka baru tiba.
Damar telah memesan taksi yang akan mengantarkan mereka menuju hotel terdekat untuk beristirahat. Tujuan mereka saat ini adalah pantai mandalika yang terletak di Lombok tengah. Tempat yang kini begitu terkenal dengan wisatanya karena beberapa tahun lagi tempat itu akan dijadikan sebagai tempat moto GP di adakan. Tidak salah Damar mengajaknya liburan ke sana.
Tiba di salah satu hotel. Damar langsung mengangkat tubuh Reynand yang tengah tertidur. Beberapa pegawai hotel membantu mereka mengangkat barang-barang bawaan mereka.
“Kamu istirahat ya!”
Nagita mengangguk sesaat setelah Damar mengantarkan mereka berdua ke kamar. Pria itu sungguh baik kepada dirinya dan juga Reynand. Bahkan liburan tanpa rencana itu berjalan dengan baik. Segalanya telah dipersiapkan dengan sangat baik.
Sejak beberapa bulan setelah perceraiannya dengan Azka. Sesekali Nagita menatap ke arah Rey yang tengah tertidur di sampingnya. Ia memeluk putra semata wayangnya yang kini telah tumbuh begitu sehat. Walau suatu saat nanti ia akan menerima kenyataan bahwa Rey akan memprotes dirinya tentang perceraian tersebut. Itu sudah sering ditemui oleh Nagita pada teman-temannya.
“Selamat tidur, sayang. Kamu nggak akan pernah sendiri. Ada Mama, walau hidup ini sangat berat. Walaupun kamu sendiri akan mengeluh nantinya, tetapi selama ada di sisi kamu. Semua akan baik-baik saja. Mama akan memastikan Rey akan hidup bahagia sampai kapan pun itu. Rey adalah satu-satunya harta yang paling berharga. Sakit, bahagia, semuanya akan kita hadapi bersama sayang, namun tentang sakit Mama. Cukup Mama yang tahu, Rey hanya boleh bahagia, semenjak dalam kandungan Rey sudah sangat menderita, sayang. Waktunya Rey bahagia selamanya.”