RICH MAN

RICH MAN
SETIA



Hasil diskusinya dengan Marwa telah sepakat bahwa mereka berdua akan membeli rumah sederhana. Sebagai kepala keluarga, bagaimanapun juga dia ingin membahagiakan istri dan calon buah hati. Namun, untuk soal rumah. Ia tidak bisa berbuat banyak karena permintaan Marwa ingin memiliki rumah sederhana.


Siang itu, ia sengaja pulang lebih awal untuk mengecek lokasi di mana ia akan tinggal dengan istrinya nanti. Dibantu oleh Leo dan Jenny untuk menemukan rumah itu, mereka telah berjanji untuk bertemu di sana. Ketiganya membuat janji melalui telepon semalam.


Rey keluar dari mobilnya sedangkan Jenny dan Leo telah tiba di sana lebih dulu. Rumah yang cukup sederhana seperti yang diinginkan oleh istrinya. Padahal bisa saja Rey membeli rumah yang jauh lebih besar, tetapi dia tidak ingin bertengkar dengan istrinya hanya karena kemauan Marwa tidak dituruti.


Mengetahui emosi istrinya yang tidak pernah stabil semenjak hamil, semaksimal mungkin dia bersabar menghadapi istrinya tanpa melibatkan emosi dan memberi makan ego yang hingga pada akhirnya perpisahan yang menang, Rey tidak mau akan hal itu. Sebaik mungkin dia menjaga hati istri tercintanya.


Bagaimana mungkin Rey berpaling ke lain hati saat Marwa istri yang paling cantik, baik serta selalu membuatnya merasa resah setiap kali berada jauh dari istrinya. Apalagi saat dia melakukan perjalanan ke luar kota. Satu hari saja dia tidak pulang, Rey akan sangat merindukan istirnya itu. Penampilan sederhana setiap kali di rumah dan ketika mereka berpergian. Marwa hanya akan berhias diri di depannya saja. Dan ia bersyukur, hanya dia yang melihat kecantikan istrinya, tidak ditampilkan untuk orang lain.


Jika diluaran sana Rey terbiasa bertemu dengan wanita-wanita cantik bahkan di kantornya sekalipun Rey setiap hari bertemu dengan mereka yang berhias dan selalu tampil cantik. Berbeda halnya dengan istrinya, maka istrinya akan tetap berhias diri hanya untuknya.


Terkadang setiap mengingat istrinya, Rey tersenyum sendiri. “Gila nih orang, kumat lagi deh,” celetuk Jenny yang menyadarkan lamunan Reynand yang baru saja melamun mengingat tingkah istrinya yang kadang manja saat bersama dengan dirinya.


Rey langsung menghampiri Jenny dan Leo yang sudah lebih dulu masuk bersama orang yang menawarkan rumah itu. “Kamar tidurnya berapa?” tanya Rey yang baru saja menyusul dan langsung menanyakan hal itu.


“Kamar tidurnya ada dua. Ruang keluarga, ruang tamu dan ruang makan tersedia walaupun rumah ini nampak begitu sederhana.


Rey mengangguk sambil memeriksa kamar yang lainnya. Setelah melihat itu semua, dia langsung tertarik karena terlihat mewah walaupun tidak sebesar rumah yang dahulu mereka tempati. Marwa selalu mengeluhkan rumah yang besar akan tetapi tidak ada kebahagiaan di tempat itu. Itulah yang menjadi penyesalan Rey dahulu. Rumah mewah yang diberikan orang tuanya justru dijual karena tidak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi. Apalagi dahulu Rey begitu menyia-nyiakan Marwa sebelum mengetahui bahwa itu adalah Bintang.


Rey mengurus untuk pembayarannya nanti. Leo dan Jenny merasa lega karena dari beberapa yang ditawarkan, hanya rumah itu yang menjadi daya tarik bagi sosok Rey. “Uh, bentar lagi jadi Papa,” ledek Jenny yang perutnya sudah cukup membesar.


“Lah, situ sendiri bentar lagi mau jadi, Mama. Tuh lihat hasil perbuatan kalian berdua,”


“Kayak lo nggak menghasilkan aja, Rey,” jawab Jenny dengan judes. Wataknya memang seperti itu, galak dan bahkan membuat Rey terbiasa dengan sikap sahabatnya yang satu itu.


“Sesekali main ke rumah dong! Kasihan Marwa nggak ada teman ngobrol,”


“Yaelah lo kan tinggal sama orang tua, jadi malu dong gue sama laki gue mampir ke tempat lo. Mau ngomong ya pasti nggak bebas gitu,”


“Ya udah nanti kalau gue pindah. Lo sama laki lo janji harus main ke rumah, gue mau ngadain syukuran,”


“Itupun kalau suami gue nggak sibuk diganggu sama laki gue. Tahu kan sekarang suami gue sering ke luar kota, pulangnya pasti minta dimanjain sama gue,”


Rey memutar bola matanya dan langsung memukul bahu Jenny pelan. “Aw, sakit tahu,” keluh Jenny.


“Lo ngomong nggak ada saringannya. Minimal adalah gitu basa-basinya, lo ceplas ceplos mulu dari dulu,”


Jenny geram dengan ucapan Rey. Tidak seperti biasanya sahabatnya dan sahabat suaminya itu berkata demikian terhadapnya. Semenjak bersama dengan Marwa, hidup Rey yang pernah berantakan itu tertata begitu rapi sekarang. Ada bahagia tersendiri juga bagi Jenny setelah mengetahui hidup sahabatnya yang begitu baik sekarang ini.


Jenny yang merindukan masa-masa bersahabatnya dengan Rey, ia mengepalkan tangan kanannya dan langsung memukul perut Rey hingga pria itu mengaduh.


“Ah sialan, lo tuh gila ya?”


“Lo yang gila,”


Rey memegang perutnya yang dihajar oleh Jenny barusan dan berusaha berdiri dengan tegak dan merapikan setelan kerjanya. “Anak lo kalau keluar gue yakin bakalan jadi preman. Mamanya aja udah ngeri gitu, ini gara-gara Papanya yang terlalu lembut sama Mamanya, makanya ngidamnya tuh kayak gini,” celetuk Rey dan membuat Leo terkekeh mendengar candaan kakak sepupunya itu.


“Kalian berdua tuh ya, kalau punya anak yang ada anak kalian itu musuhan kalau orang tuanya bersahabatnya kayak gini,” seka Leo ditengah-tengah perdebatan mereka yang tidak ingin kalah satu sama lain.


Rey merasa perutnya begitu sakit akibat pukulan dari Jenny. Tidak pernah berubah dari dulu, masih mending dibandingkan dengan dahulu ketika Jenny mencekiknya karena pernah batal mendekati Marwa semasih sekolah. Rey sudah terbiasa dengan sikap galak yang ditampilkan oleh temannya itu.


Orang-orang yang menjadi pengurus bagian pemasaran rumah itu sudah berpamitan kepada mereka seusai Rey mengurus soal kesepakatan tentang membeli rumah itu.


“Nggak keren lagi gue kalau lo bercandanya kayak gini,” ucap Rey sambil mengelus perutnya. “Ngomong-ngomong lo kapan lahiran?”


“Masih lama, Rey. Jadinya juga baru kemarin-kemarin,”


“Gimana mau jadi kalau lo ditinggal melulu sama laki lo, dulu aja waktu pacaran lo udah kayak prangko, nempel mulu. Lah, pas udah nikah. Kasihan banget nasib lo udah kayak magnet dengan kutub yang sama. Saling tolak menolak,”


“Ini semua kan demi cita-cita dan masa depan gue dan calon anak gue. Suami gue rajin kerja, jadi nggak masalah dong kalau dia pergi gitu,”


“Pergi sih pergi, tapi nggak ninggalin lo kayak gini juga. Gimana kalau si kampret itu selingkuh dari lo?”


“Hohoho, jangan salah Rey. Laki gue bukan mata keranjang macam Leo,”


Leo langsung menatap Jenny dan, “Enak aja lo,”


“Tuh buktinya lo dari tadi perhatiin tuh cewek yang jalan sendirian,” tunjuk Jenny kepada perempuan yang jalan kaki dengan mengenakan rok pendek dan baju yang sedikit terbuka.


“Sialan, lo ngomong gini di depan Amanda, bisa mampus gue,”


“Lo yang dulunya mata keranjang sekarang takut sama istri?”


“Gue bukan takut sama bini. Cuman gue hargai hati dia, apalagi sekarang gue udah punya anak,”


“Libur dapat jatah nih ye. Makanya tadi lirik-lirik,”


“Nggak minat gue, bini gue melahirkan dan belum boleh di apa-apain, bukan berarti gue mau nyari orang buat lampiasin nafsu gue kali. Mending gue temenin dia jaga anak gue yang ngompol tengah malam,” ucap Leo dengan bangga kepada dirinya yang masih bisa setia kepada istrinya.


“Dengerin Leo noh!”


 


 


“Tanpa lo suruh juga gue dengerin, Jen.”


 


Note : Buat teman-teman yang menunggu lama. Mohon maaf sebelumnya. Dan selamat menikmati chapter selanjutnya. Semoga puas membacanya.