Be Mine

Be Mine
Pelukan Hangat



Arthur tidak mau berlama-lama di sana karena dia melihat beberapa orang di sana memandang Kiara dengan tatapan yang sinis.


Di perjalanan Kiara hanya bisa menang, dan Arthur hanya bisa sesekali melihat ke arah gadis itu.


Mobil Arthur sudah sampai di basement apartemennya. "Apa mau bercerita, sebenarnya apa yang terjadi tadi?"


Kiara menggeleng pelan dan masih terisak. "Aku mau tidur saja," ucapnya terbata.


"Ya sudah, kalau begitu kita keluar sekarang."


Arthur membuka pintunya kemudian berjalan mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk Kiara.


Kiara masih duduk terdiam, dia mendongak melihat ke arah Arthur. Kaki Kiara perlahan melangkah keluar dan sekarang dia berdiri saling berhadapan dengan Arthur.


Jujur saja, saat melihat keadaan Kiara seperti ini dia sangat ingin memeluk erat gadis itu untuk menenangkannya, tapi Arthur mencoba menahan dirinya mengingat saat Kiara berpelukan dengan Elang.


"Sebaiknya kita naik agar kamu bisa beristirahat." Arthur menggandeng tangan Kiara, tapi gadis itu malah melepaskan tangan Arthur.


Arthur yang merasa mungkin Kiara tidak mau dekat dengannya karena dia sudah memilih akan bersama Elang, dia akhirnya tidak mau memaksa.


"Aku tunggu kamu di pintu lift."


Arthur seolah berat melangkah tanpa Kiara, tapi dia harus mulai terbiasa karena jika nanti Kiara tetap memilih pergi darinya, Arthur harus bisa merelakan Kiara.


Kiara melihat pria yang baru saja membelanya di acara pesta itu sedang berjalan menuju lift.


Kiara tiba-tiba berlari dan ...


Blup!


Terdengar suara tangis Kiara yang semakin menjadi. Arthur pun tampak terkejut, tapi dia juga terpaku karena ada tangan yang memeluknya dari belakang.


Arthur membiarkan istri kecilnya itu menangis sampai dia lega. Dia juga tidak akan bergerak dari tempatnya.


Pemandangan di sana seketika tampak indah walaupun ada suara tangisan.


Beberapa menit kemudian, suara tangisan Kiara sudah mulai tidak terdengar. Dia sepertinya malah ketiduran sambil berdiri.


"Kiara," panggil Arthur pelan, tetapi tidak ada jawaban dari Kiara.


Perlahan Arthur merasakan tangan Kiara yang mulai terlepas dari tubuhnya langsung memegangnya dan dia perlahan membalikkan tubuhnya.


Ya! Gadis itu memang tertidur. Dia menangis sampai ketiduran sembari memeluk Arthur.


"Bisa-bisanya dia ketiduran." Arthur tersenyum kecil.


Dia menggendong tubuh Kiara dan membawanya naik ke lantai atas. Arthur membaringkan tubuh Kiara di atas tempat tidurnya, tapi saat dia hendak pergi. Kiara malah menahan tangan Arthur dia seperti mengigau tidak mau ditinggal sendirian.


Arthur berpikir jika dia pasti masih takut atas kejadian tadi.


"Besok pagi aku harus tau apa saja yang pria brengsek itu katakan pada Kiara."


Arthur melepaskan tangan Kiara. Dia juga melepaskan sepatu Kiara dan menutupi tubuh Kiara dengan selimut.


Arthur masuk ke dalam kamar mandi. Di bawah guyuran air hangat dari showernya dia teringat dengan Kiara dan Elang yang tadi berpelukan.


"Aku harus mengambil keputusan secepatnya, dan tidak membuat keadaan semakin buruk."


Arthur menyudahi mandinya dan dia keluar untuk memakai kaos polos dan celana pendeknya.


Arthur yang akan berbaring di sofa mendengar suara rintihan seperti orang menangis.


Ternyata itu Kiara, Kiara menangis dalam tidurnya. Arthur yang melihat hal itu merasa kasihan. Dia mendekat ke arah Kiara dan mencoba mengusap wajah Kiara pelan. "Kamu sudah aman, Kiara," ucapnya mencoba membuat Kiara tenang.


"Jangan pergi! Jangan!" serunya dengan masih memejamkan kedua matanya.


Tangan Arthur dipegang erat oleh Kiara. Arthur yang tidak mau mengganggu tidur Kiara. Dia akhirnya duduk di samping ranjang istrinya itu karena dia tidak mau meninggalkan Kiara juga sebenarnya.


***


Sinar matahari pagi tepat mengenai wajah Kiara dan akhirnya membuat kedua mata gadis itu mengerjap perlahan.


Dia merasakan salah satu tangannya yang tertahan oleh sesuatu, dan seketika dia melihat ke arah di mana seseorang dengan tidur dengan posisi duduk dan memegang tangannya.


"Arthur? Dia kenapa tidur di sini dan memegang tanganku?"


Kiara yang merasakan pergerakan Arthur tiba-tiba, dia langsung memejamkan kedua matanya pura-pura masih tidur.


"Sudah pagi." Arthur melihat pada Kiara yang kedua matanya masih terpejam. Dia bangun dan perlahan melepaskan tangannya dari tangan Kiara.


"Aku akan membuatkan sarapan pagi untukmu."


Arthur mendaratkan kecupannya pada dahi Kiara dan berjalan pergi dari sana.


Kiara membuka kedua matanya dan tersenyum kecil namun tersirat ada rasa bahagia dari kecupan kecil yang Arthur baru saja berikan padanya.


"Dia memang pria yang manis sekali." Kiara malah menarik selimutnya sampai leher dan terlihat sekali lagi rasa bahagia dari wajah Kiara vvbu


Arthur berkutat di dapurnya. Dia pagi ini akan membuatkan Kiara bubur ayam dan semoga Kiara menyukainya.


Beberapa menit kemudian, Kiara turun dan lihat pria yang adalah suaminya sedang membuatkan susu hangat.


"Kamu sudah bangun? Aku mau membawakan makanannya ini ke kamarmu."


"Aku makan di sini saja agar kamu tidak makan sendirian, Arthur."


Arthur malah tersenyum miris. "Aku sudah terbiasa dengan menjalani kegiatanku ini dengan sendirian."


Kiara akhirnya duduk di meja makan bersama dengan Arthur. Mereka berdua makan pagi bersama.


"Kiara, bagaimana keadaan kamu sekarang?"


"Aku baik-baik saja."


"Apa kamu yakin?"


"Iya, aku tidak apa-apa Arthur. Arthur, terima kasih sudah membelaku kemarin di acara pesta ulang tahun Mega."


"Sudah tanggung jawabku untuk menjagamu, Kiara, meskipun nanti kita berpisah, aku akan masih tetap memastikan keadaanmu baik-baik saja."


"Kenapa membahas tentang perpisahan? Kamu sudah mengatakan jika tiga bulan ke depan ini kita tidak boleh membahas tentang perpisahan."


Arthur mengangguk perlahan. "Kalau begitu kamu habiskan sarapan pagimu."


Sekarang Kiara gantian yang mengangguk perlahan. "Arthur, kenapa kamu kemarin langsung percaya jika bukan aku yang berbohong? Bukannya pria itu adalah rekan bisnis keluargamu.


"Aku percaya padamu, Kiara. Kamu bukan gadis yang gila akan harta sampai bisa memanfaatkan segala cara untuk mendapatkannya, dan juga aku selalu mencari tau lebih dulu siapa rekan kerja yang akan aku ajak berbisnis dan si pria brengsek itu aku sudah tau bagaimana perilakunya."


"Aku waktu itu sedang mencari di mana kamu berada karena aku ingin mengajak kamu pulang, tapi kamu tidak terlihat di sana dan aku tidak sengaja menabrak pria yang aku kira itu baik dari segi penampilannya yang tampak sederhana, tapi ternyata dia memiliki yang sangat jahat."


"Apa yang dia katakan padamu, Kiara?"


"Dia ingin menawariku sejumlah uang yang sangat banyak, tapi aku harus menemaninya malam itu."


"Apa?" Arthur yang marah mendengarkan apa yang Kiara katakan seketika menggenggam sendok makannya.


"Aku sudah katakan padanya kalau aku bukan seperti gadis yang menjual dirinya, bahkan aku mengatakan jika aku sudah menikah dan mendapat gaun mahal yang aku pakai dari suamiku, tapi dia malah menganggap aku adalah simpanan om-om."