
Kiara mengajak Arthur duduk di atas tempat tidur. Dia ingin membuat suaminya lebih tenang.
"Mas, aku cerita sama kamu, tapi kamu jangan marah sama aku."
"Ada apa? Apa itu diberikan oleh Kiano?" tanya Arthur dengan nada yang meninggi.
"Itu dari Elang, Mas."
"Apa?" Arthur langsung mendelik kaget. "Dari Elang? Apa kalian diam-diam masih berhubungan?"
"Ih ...!" Kiara malah mencubit dada Arthur.
"Kiara sakit."
"Biar saja! Habisnya Mas Arthur bisa bicara seenak begitu?"
"Lalu, kenapa dia memberimu itu?"
"Itu dia beli sebelum aku putus sama dia. Dia beli sudah lama, tapi mau memberikan saat di hari ulang tahunku, tapi aku sama dia keburu putus. dan ini dia berikan setelah bicara sama Mega. Dia bilang walkman ini diisi music classic yang katanya baik untuk bayi di dalam perut. Tadi aku mendengarkan music itu pada bayi kita."
"Jangan! Nanti aku yang akan membelikan walkman yang lebih bagus dari itu. Jangan mendengarkan bayiku dengan walkman pemberian pria lain. Enak saja! Itu anakku, bukan anaknya Elang."
Kiara gemas sekali melihat wajah suaminya dengan bibir yang agak monyong-monyong kesal.
"Ini bukan pemberian pria lain, tapi pemberian calon pamannya."
"Tapi dia mantan kamu dan aku tidak suka."
"Ya sudah, terus mau dibuang ini? Jangan, Mas! Sayang sekali ini." Kiara malah mendekap walkman itu.
"Eh! Kenapa malah dipeluk begitu?" Arthur mencoba merebut walkman dari tangan Kiara.
"Mas! Jangan dibuang! Sayang, Mas!"
"Tidak aku buang, tapi disimpan saja dan jangan dipeluk seperti itu." Arthur akhirnya mendapatkan walkman itu dan menyimpannya di dalam koper yang ada di atas lemari.
"Cemburu sekali, padahal itu hanya walkman dan untuk bayi kita juga." Bibir Kiara mengerucut.
"Sekarang kita tidur saja dan tidak perlu membahas masalah ini."
Arthur menggendong kembali istrinya dan menidurkan di atas tempat tidur.
"Mas, mandi dulu."
Arthur melihat pada Kiara. "Mau menemani aku mandi?"
"Tidak mau, ini sudah malam, nanti kalau aku masuk angin dan sakit, kamu dimarahi bibi Yaya."
"Ada air hangat."
"Tetap saja, Mas! Aku waktu itu juga pernah, kan, mandi agak malam dan mendapat omelan dari Bibi Yaya. Orang hamil jangan mandi larut malam.karena tidak baik untuk kesehatan."
"Iya juga. Ya sudah! Kalau begitu aku mandi dulu."
"Aku akan menyiapkan baju tidur kamu, Mas."
"Tidak perlu, kamu jangan turun dari tempat tidur. Biar aku yang menyiapkan sendiri."
Beberapa menit kemudian, Arthur keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju walk in the closetnya. Dia mengambil piyama tidurnya yang berwarna hitam. Setelah memakainya, dia berbaring di samping istrinya.
"Dekat sini, Sayang, aku ingin tidur dengan memeluk kamu."
Kiara mendekat dan dia bersandar pada dada suaminya. Tangan Kiara pun memeluk perut suaminya. "Mas, kamu apa akan terus setia denganku suatu hari nanti?"
"Kenapa kamu bertanya hal seperti itu? Aku tentu saja akan setia sama kamu sampai kapanpun."
"Biasanya, wanita akan mulai terlihat jelek dan membosankan saat sudah memilik anak, dan suami merasa tidak dipedulikan. Alhasil suami mencari wanita lain di luar sana yang masih cantik dan sexy."
"Itu pemikiran suami yang picik. Aku tidak mau terlalu yakin mengatakan ini, tapi aku akan berusaha untuk tetap menjadi suami yang baik dan mencintaimu setiap hari. Kiara, kamu adalah duniaku saat ini dan nanti saat bayi kita lahir, maka kalian berdualah adalah duniaku. Jika aku meninggalkan kalian, maka sama saja aku meninggalkan duniaku. Itu yang sekarang aku tekankan pada diriku."
"Aku hanya punya kamu di dunia ini, Mas." Kiara mengeratkan pelukannya dan Arthur pun memberikan kecupan manis pada dahi Kiara. Mereka berdua tidur dengan perasaan bahagia.
Keesokan harinya Kiara yang sudah bangun dan membangunkan suaminya. Hari ini Kiara ingin makan masakan suaminya. Arthur pun tampak heran, kenapa tiba-tiba istrinya itu meminta Arthur yang membuatkan makanan?
"Sayang, kamu tumben sekali menyuruhku membuat masakan pagi ini?"
"Tidak tau, saat bangun tidur tadi tiba-tiba bayi kecil di dalam perutku itu menginginkan makan, masakan ayahnya. Mas tidak mau buatkan, Ya?" Kiara langsung bibirnya monyong lima senti.
Arthur yang suka melihat hal itu dengan cepat mengecup bibir Kiara.
"Memangnya aku bilang tidak. mau membuatkan? Baiklah, Ratu di hatiku! Aku akan membuatkan masakan yang enak untuk istriku dan calon bayiku."
Arthur menggandeng tangan Kiara dan mereka turun ke dapur. Arthur menyuruh Kiara duduk dan biarkan Arthur yang memasak.
Beberapa menit masakan dia matang. Mereka berdua makan pagi bersama.
"Mas, nanti aku biar diantar oleh bibi Yaya ke tempat Dean, tapi sebelum ke sana, aku mau membelikan Dean kue kesukaan dan mainan juga. Bolehkan, Mas?"
"Sayang, tentu saja boleh, kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau."
"Terima kasih, Mas. Oh ya, Mas! Aku lupa semalam mau bertanya sama kamu tentang Bibi Yaya."
"Bibi Yaya? Memangnya ada apa dengan Bibi Yaya?"
"Bibi Yaya itu ternyata pandai mengemudi ya, Mas? Dan katanya, ada banyak hal yang belum aku ketahui tentang dirinya."
"Dia tidak hanya menjadi pelayan dan pengasuhku di rumahku dulu, tapi dia salah satu penjagaku yang paling handal. Apa kamu tau jika Bibi Yaya itu bisa bela diri!"
"Apa?" Kiara sampai mulutnya menganga.
"Sayang, mulut kamu masih ada makanannya."
"Kamu serius, Mas? Bibi Yaya bisa bela diri?"
"Aku serius karena ayahku yang seorang pengusaha. terkenal. Jadi, musuh dalam dunia bisnisnya itu banyak sekali, dan saat dulu aku hampir di culik, bibi Yaya lah yang sudah melawan penculik itu dan akhirnya aku bisa selamat. Aku juga diajari bela diri oleh suaminya yang adalah paman Damar."
"Oh iya! Waktu itu Mas Arthur sampai menghubungi suami bibi Yaya untuk menemukan Dean dan akhirnya Dean bisa ditemukan. Memangnya suaminya bibi Yaya itu apa, Mas?"
"Dia mantan seorang anggota mata-mata yang cukup profesional, dan ayahku Kiba memperkerjakannya sebagai salah satu mata-mata dan juga pengawal untuknya. Bibi Yaya itu sebenarnya bukan orang sini. Mereka baru saja pindah. Ya! Sejak ikut kedua orang tuaku, tapi bibi Yaya sangat dekat dengan mendiang Ibuku. Ayahku pun sudah menganggap keluarga Bibi Yaya seperti keluarganya, hanya saja sekarang suami bibi Yaya memiliki pekerjaan sendiri, dan jika dibutuhkan saja suami bibi Yaya siap membantuku."
"Jadi Bibi Yaya dan suaminya itu bukan orang biasa, ya Mas? Wow! Hebat sekali ya! Aku tidak menyangka, padahal mereka berdua terlihat seperti biasa saja, tapi ternyata mereka orang-orang hebat."