Be Mine

Be Mine
Deal



Kiara tampak terdiam sejenak memandang wajah pria di depannya itu. Hati Kiara seolah berkata jika pria di depannya ini adalah orang yang tulus, tapi sekali lagi seolah ada hal yang masih membuatnya belum bisa menerima sikap Arthur.


"Baiklah, aku mau menerima perjanjian itu. Tiga bulan 'kan? Tiga bulan itu tidak lama dan aku yakin jika aku bisa menjalaninya walaupun berat, tapi setelah itu aku akan mendapatkan kebebasanku."


Arthur beranjak dari tempatnya, dia berdiri tepat di depan Kiara. "Iya, Kiara, hanya tiga bulan." Arthur berharap tiga bulan itu dia dan Kiara bisa menemukan harapan yang sama, yaitu sama-sama tidak ingin saling menjauh, bahkan mungkin cinta karena Arthur sendiri belum benar-benar tau apa yang dia rasakan pada Kiara.


"Tapi saat ini biarkan aku tinggal dulu di rumah Mega karena aku sudah berjanji akan menemaninya."


"Iya, kamu boleh tinggal di sini dulu dengan Mega. Aku juga akan berada di sini bersama dengan kalian."


Tidak lama Mega datang ke sana dengan Gio. Di tangan Mega ada satu gelas coklat hangat yang Mega buatkan untuk Kiara.


Mega mengamati gerak-gerik Arthur terhadap Kiara. Gio yang mengetahui hal itu asal menyeplos saja dan mengatakan jika Mega curiga jika Arthur menyukai Kiara.


"Kak Gio ini kenapa malah mengatakan pada mereka? Kalau begini aku jadi tidak bisa mengawasi mereka berdua."


"Kamu mau mengawasi aku, Mega? Untuk apa? Aku dan kakak kamu tidak ada hubungan apa-apa," terang Kiara.


"Kalau ada hubungan juga tidak apa-apa, Kiara. Aku malah senang jika Arthur memiliki kekasih pengganti Selena karena dengan begitu mamaku tidak perlu pusing mencarikan calon istri untuknya."


Gio seketika mendelik. "Kamu mau dijodohkan, Arthur? Kenapa nasib kita sama?"


"Aku tinggal menolaknya dan tinggal membawa kekasihku nanti. Perjodohan itu tidak akan terjadi," ucap Arthur santai sembari berjalan menuju pintu keluar. "Gio, ayo keluar! Biarkan Kiara berganti baju. Aku juga ingin bicara empat mata sama kamu di ruang kerja."


"Baiklah! Lady's kalian santai saja, anggap rumah sendiri," celetuk Gio.


"Inikan memang rumahku!" Mega mengkerutkan alisnya kesal.


Gio malah terkekeh dan berjalan keluar mengikuti Arthur. Di dalam kamar sekarang hanya ada dua gadis cantik yang saling melihat di sana.


"Kamu kenapa melihatku seperti itu?"


"Bagaimana menurut kamu kakak aku itu?"


"Siapa? Arthur?"


"Siapa lagi, Kiara? Kakak aku cuma satu, yaitu Arthur cuma dia walaupun dia kakak sambungku."


"Memangnya dia kenapa?"


"Dia baik-baik saja, Kiara! Yang aku tanyakan itu, bagaimana menurutmu tentang Arthur? Jangan malah seolah-olah kamu tidak tau maksudku. Kamu pasti mengerti karena kamu gadis yang pandai."


"Arthur baik, tampan, dan kaya. Apa lagi?"


Mega lamgsung menepuk jidatnya. "Kamu memang belum bisa melupakan Elang, ya?"


"Kenapa malah membawa nama Elang? Aku sudah tidak mau mengingat atau berharap banyak dengannya lagi."


"Sama kakakku saja kalau begitu." Mega menunjuk wajah menggoda pada Kiara.


"Aku tidak menyukai kakak kamu, dan seperti apa yang kamu katakan tadi kalau aku tidak suka pria yang usianya jauh di atas aku. Mega, aku mau ganti baju dulu karena aku juga sudah lapar."


Di dalam ruang kerja, Gio tampak wajahnya terkejut mendengar tentang perjanjian yang Arthur buat dengan Kiara.


"Kamu serius dengan perjanjian yang kamu katakan itu?"


"Aku serius, mungkin hanya cara seperti ini kami bisa dekat dan benar-benar menjalani rumah tangga yang seharusnya."


"Kamu siap jika nanti akan kehilangan gadis itu Arthur?" Gio melihat serius pada Arthur.


Tatapan Arthur pun terlihat datar pada sahabatnya itu. "Aku harus siap. Jika itu akan mendatangkan kebahagiaan untuknya."


"Kamu mencintai Kiara?"


"Aku tidak tau, hanya saja setelah kejadian itu dengannya ada hal yang tidak bisa aku jelaskan. Aku bahkan bingung. Inginnya aku Memberikan uang tutup mulut dan mengancamnya dengan kekuasaan yang aku punyai dan pastinya dia tidak akan bisa melawan, tapi hatiku rasanya menentang itu."


Gio tersenyum kecil. "Arthur, setidaknya kamu sudah berusaha berbuat baik dengan ingin mempertahankan pernikahan kalian, kalaupun memang tidak bisa, aku yakin semua akan tetap baik-baik saja. Aku hanya bisa mendukungmu dan berharap yang terbaik untuk kalian berdua nantinya."


Gio benar-benar tidak menyangka seorang Kiara bisa merubah pria seperti Arthur. Hal seperti ini bukanlah sifat Arthur.


***


Malam itu Kiara belajar dengan Mega di ruang tengah dengan ditemani nyala api dari perapian yang ada di sana. Di luar juga ternyata malam ini hujan sangat deras.


"Tumben sekali malam ini hujan, dahal tadi siang udaranya sangat terik. Apa mungkin karena kamu ya, Kiara?"


Kiara yang sibuk mencari jawaban atas soal yang ingin dia jawab, seketika melihat ke arah Mega. "Kenapa jadi aku yang dihubungkan dengan hujan malam ini?"


"Kamu sih menolak aku jodohkan dengan Arthur, sehingga Arthur sedih dan langit pun ikut sedih." Mega malah tertawa tidak jelas.


Kiara hanya memutar bola matanya jengah. Pria yang tadi sempat menjadi bahan pembicaraan dua gadis itu datang dengan tangan membawa nampan berisi roti sandwich dan susu.


"Wah...! Sandwich buatan kamu ya, Kak? Sudah lama aku tidak menikmatinya. Kiara coba makan sandwich buatan Arthur, aku jamin kamu pasti nanti bisa jatuh cinta."


"Kalau itu bisa membuat jatuh cinta, aku tidak mau mencobanya." Kiara melirik pada Arthur.


"Bukan jatuh cinta sama Arthur, yang aku maksud jatuh cinta sama rasa sandwich buatannya. Ini coba." Mega memberikan satu pada Kiara.


"Kamu takut sekali jatuh cinta padaku. Hati-hati nanti bisa jatuh cinta benaran denganku."


Arthur mengambil segelas kopinya dan duduk santai sambil menyeruput pelan kopinya. Mega yang melihat tatapan Kiara pada Arthur malah terkekeh pelan.


"Bagaimana rasa sandwichnya? Kak Arthur itu pandai sekali membuat sandwich yang enak karena dia menambahkan saus buatannya sendiri, itu katanya resep dari mendiang Ibunya."


"Lumayan," ucap Kiara lirih. Setidaknya kata lumayan memiliki arti yang tidak memuji juga tidak menghina. Kiara mau mengatakan jika sandwich itu enak, takut Arthur besar kepala, tapi ingin mengatakan tidak enak, di dalamnya ada saus dari resep mendiang ibunya Arthur yang sekarang adalah ibu mertua Kiara.


"Dasar! Kenapa kalian berdua kalau ditanya jawabannya singkat, padat, jelas dan menjengkelkan," Mega menekankan pada kata terakhir.


"Lebih baik kita lanjutkan saja belajarnya karena hari juga semakin malam."


"Iya, murid teladan." Mega seolah menggoda Kiara.