
Kiara mencoba menghubungi suaminya di luar kamar hotelnya. "Mas, kamu kenapa tadi menghubungiku? Aku sudah bilang jika aku satu kamar dengan Mega."
"Aku minta maaf sama kamu, tadi aku tidak tau jika Mega yang menjawab panggilanku, Kiara."
"Tapi kenapa dia tadi tidak mengenali suara kamu, Mas?" Kiara tampak bingung.
"Aku tadi menutup mulutku dengan saputangan, jadi dia tidak sampai mengenali suaraku."
"Sebenarnya ini juga salahku yang lupa menggantinya ke mode silent."
"Sayang, kenapa tadi kamu langsung pergi tanpa membangunkan aku? Aku sangat terkejut tidak melihatmu di sampingku."
"Aku minta maaf, Mas, tadi aku mau membangunkan kamu, tapi saat melihat kamu yang tidur sangat lelap dan sepertinya kamu sangat kecapekan, aku jadi tidak tega, Mas."
"Seharusnya kamu tadi tidak perlu pergi, Ara. Besok pagi saja kamu kembali ke kamarmu."
"Tidak bisa, Mas. Tadi saja aku kembali ke kamar bertemu dengan salah satu guruku, dan ternyata Mega juga belum tidur, dia malah mau mencariku. Kalau aku nanti dikira hilang, pasti nanti akan menjadi masalah yang lebih besar."
"Ya sudah, kalau begitu besok ke kamarku lagi. Aku menunggumu."
"Iya, Mas. Kalau begitu aku mau tidur dulu. Kamu juga beristirahatlah karena aku melihat kamu sangat lelah."
"Iya, sebenarnya tadi perjalanan ke sini sangat melelahkan, tapi keinginanku bertemu kamu sangat kuat, dan lelahku terbayar setelah bertemu denganmu, Kiara."
"Mas, selamat malam."
"Selamat malam, Ara." Mereka bersamaan mematikan panggilan teleponnya. "Oh... Aku benar-benar sangat mencintainya, Tuhan."
Arthur membaringkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur dengan tersenyum sendiri membayangkan malam percintaanya dengan Kiara yang baru saja terjadi.
Kiara kembali masuk ke dalam kamarnya. Kiara melihat Mega yang sedang duduk dengan ponsel di tangannya.
"Kiara, pacar kamu orang bule?"
"Hah? Bule?" Kiara bingung dan dia naik ke atas ranjang, duduk di sebelah Mega.
"Iya, apa dia orang luar negeri? Soalnya tadi dia mengatakan) namanya Max."
"Max?" Wajah Kiara yang sekarang tampak bingung. Dia tidak tau apa saja yang tadi Arthur bicarakan dengan Mega.
"Kenapa kamu jadi bingung begitu? Memangnya namanya kekasihmu bukan Max? Lalu, kenapa dia mengatakan namanya Max?"
"Oh... nama panjangnya memang ada Maximenya, tapi aku lebih suka memanggilnya Mas Radit."
"Oh... Jadi namanya Radit. Dia bukan bule?"
"Dia blasteran. Ibunya orang indonesia asli, dan ayahnya orang Inggris." Kiara menjabarkan kedua orang tua suaminya.
"Kamu kenal dari mana? Perasaan kamu jarang sekali, atau bahkan tidak pernah jalan-jalan keluar, tapi kenapa bisa kenalan dengan pria blasteran?"
"Dia pernah beli kue di toko kueku, dan aku pernah mengirim kue ke rumahnya, dari situ kita berkenalan." Kiara asal saja bercerita.
"Jadi, kamu dan Kak Arthur memang sebatas teman baik karena kamu lebih memilih si Max itu. Bagus kalau begitu."
"Bagus bagaimana maksud kamu?"
"Kamu tidak setuju jika aku pacaran dengan kakak kamu? Bukannya waktu itu kamu pernah bilang senang jika memang aku memiliki hubungan dengan kakak kamu."
"Iya, tapi setelah tau jika mamaku tidak akan menerima hal itu, aku jadi kasihan sama kamu kalau sampai mendapat penghinaan dari mamaku, Kiara." Mega melirik pada Kiara. "Ada satu lagi sebenarnya yang membuat aku sekarang berharap kamu memang tidak ada hubungan dengan kakakku."
"Apa itu, Mega?"
"Elang," ucap Mega dengan tatapan tajamnya.
"Elang? Memangnya kenapa dengan Elang?"
"Hal itu tidak akan baik, Kiara."
"Maksud kamu?"
"Kalau kamu menjadi kekasih kakakku Arthur dan aku menikah dengan Elang yang ada Elang akan semakin tidak bisa melupakan kamu. Apa lagi kalau kamu sampai menikah dengan kak Arthur."
"Tapi walaupun aku menikah dengan mas Arthur, aku juga tidak akan tinggal satu atap dengan kamu dan Elang. Kakak kamu juga tidak akan melakukan hal itu."
"Tetap saja hal itu tidak akan baik karena bisa saja rasa cinta yang dulu pernah tumbuh di hati kalian berdua bisa bangkit lagi karena nanti jika ada acara keluarga kalian pasti akan sering bertemu. Pokoknya buatku hal itu tidak baik."
Kiara tampak terdiam sejenak. Dia sekarang malah tambah tidak karuan saja perasaannya setelah mendengar adik iparnya mengatakan hal itu.
"Kamu kenapa Kiara? Tidur, yuk! Besok pagi kita akan berjalan-jalan menikmati pemandangan alam yang sangat indah." Mega tampak merentangkan kedua tangannya berbaring di atas ranjangnya.
"Iya, kamu tidur saja dulu."
Kiara kembali terdiam memikirkan sekali lagi perkataan Mega. "Kiara! Tidur! Kamu kenapa langsung berubah aneh begitu? Apa karena kata-kataku tadi?" Kiara menggeleng, tapi Mega ini tau siapa Kiara.
"Kita tidur saja." Kiara berbaring di samping sshabatnya.
"Aku bukannya menghina kamu tidak pantas dengan kakakku, tapi aku lebih ke melindungimu, Kiara." Tangan Mega memeluk Kiara sambil rebahan.
"Iya, aku tau."
"Lagi pula aku yakin kamu lebih mencintai kekasih kamu itu karena aku lihat ada tanda cinta darinya yang kamu biarkan dia melakukannya, beda sekali dengan sikap kamu saat pacaran dengan Elang. Kamu dulu saja tidak mau dicium oleh Elang, tapi dengan si Max itu, kamu malah membiarkan dia memberimu tanda cinta."
Kiara menoleh pada Mega yang malah cekikikan menahan tawa. "Maksud kamu apa, Mega?" Kiara benaran bingung sekarang.
"Itu, ada tanda merah pada leher kamu. Kapan dia memberikannya? Apa kemarin malam dia ke tempat kamu?" Tangan Mega menunjuk pada leher Kiara.
Kiara langsung bangun dari tempatnya dan menuju cermin bulat yang ada di dekat wastafel. "Ya ampun!" Kiara kaget melihat tanda merah yang tadi Arthur berikan, dan Kiara tidak menyadari kapan tanda itu Arthur ciptakan? Mungkin saat Kiara sedang terlena kecupan yang Arthur berikan, padahal Kiara sudah mengatakan jangan memberi tanda merah pada tubuhnya.
Kiara mencoba menghilangkan tanda itu, tapi tentu saja tanda itu tidak bisa dihilangkan dengan mudah, tanda itu akan hilang jika ditutupi oleh cream.
"Sudah biarkan saja, besok aku akan mengoleskan cream wajah milikku agar tidak terlihat. Kalau sampai guru kita dan anak-anak lainnya melihat, pasti pandangan mereka tentang sosok kamu yang baik dan polos akan berubah."
Kiara sebenarnya bisa mengatakan atau mengelak jika tanda itu digigit serangga, tapi Kiara sudah terlanjur panik saja. Jadi, Mega sudah pasti bisa menebak itu tanda apa.
Kiara kembali berbaring di samping Mega. Wajah Kiara tampak malu untuk dia melihat ke arah Mega.
"Kamu cinta sekali dengan kekasihmu? Aku jadi penasaran bagaimana tampan Mas Radit kamu itu. Ayo kenalkan." Mega menggoyang-goyangkan tubuh Kiara.
"Mega, kita tidur saja." Kiara malah berbalik badan membelakangi Mega.