Be Mine

Be Mine
Tidak Mau Bicara part 1



Kiara dan Arthur masih saling diam. Arthur pun tidak mau mengganggu Kiara dulu, dia memilih untuk membiarkan istrinya itu lebih tenang.


"Kiara, kamu makan dulu," ucap Bibi Yaya yang berada di depan pintu kamar Kiara.


"Aku tidak lapar, Bi."


"Bukan buat kamu, tapi buat bayi di dalam perutmu. Dia harus kamu pikirkan, Kiara."


Kiara terdiam sejenak, kemudian dia membuka pintu kamarnya. "Bibi sudah membuatkan kamu makanan kesukaanmu."


Kiara menghapus air matanya. "Aku tidak mau makan sama Mas Arthur."


"Suami kamu juga belum makan dari tadi."


"Biarkan saja."


"Jangan begitu. Arthur itu sangat mencintaimu, dan hal yang dia lakukan tadi hanya salah paham."


"Bi, walaupun itu temannya, dia harusnya bilang jika dia sudah menikah dan berpelukan bahkan mencium seperti itu adalah hal yang tidak perlu dia lakukan di sini. Aku tidak bisa menerimanya, Bi. Bibi tau tidak sih bagaimana rasanya hatiku?" Kiara rasanya kesal sampai dia menangis.


Bibi Yaya memeluknya, mencoba menenangkan Kiara yang mungkin saat ini hatinya benar-benar diliputi dengan rasa cemburu.


"Ya sudah, kalau begitu kamu makan dulu karena bayi di dalam perutmu pasti merasa lapar, apa lagi tadi ibunya menangis dan marah-marah, itu bisa membuat lapar." Bibi Yaya coba menggoda Kiara.


Kiara akhirnya mau makan dan dia turun ke ruang makan. Saat melihat suaminya di sana sedang menunggu dirinya. Kiara menghentikan langkahnya.


"Kiara, ayo makan!" ajak Bibi Yaya.


"Aku makan di kamar saja, Bi. Bibi bisa aku mintai tolong untuk membawa makanan aku ke kamar saja?"


"Kenapa tidak makan di sini saja?"


Arthur kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Makan saja di sini dan aku akan ke ruang kerjaku saja."


"Arthur, kamu juga belum makan."


"Nanti saja aku makannya, Bi, lagi pula aku tadi sudah makan nasi goreng buatan istriku." Arthur berjalan ke arah Kiara, tangannya memegang perut Kiara. "Makan yang banyak, ya sayang."


Kiara hanya bisa menatap suaminya dengan masih memasang mode wajah kesal.


Kiara duduk dan bibi Yaya menyiapkan makan malam untuknya. "Marah boleh, tapi jangan sampai berlarut, Kiara karena akan bisa dengan mudah rumah tangga kalian digoyahkan, apa lagi kamu tau jika keluarga Arthur tidak menyetujui pernikahan kalian, jangan sampai mereka mendengarnya."


Kiara tidak menjawab ucapan bibi Yaya. Dia mendengarkan, tapi tetap saja hatinya masih sakit, apa lagi teringat tentang pelukan dan pipi suaminya dicium dengan lembut oleh wanita yang Arthur klaim sebagai temannya.


Kiara membantu bibi Yaya membereskan meja makan. Kiara lebih memilih menyibukkan dirinya daripada dia nanti teringat hal yang membuatnya marah.


"Kiara, bibi sudah membereskan semuanya, dan sebentar lagi bibi akan dijemput. Kamu kalau nanti tengah malam lapar, ada kue yang sudah bibi buatkan dan sudah bibi taruh di dalam kamar kamu. Jadi, jangan naik turun nantinya."


"Bibi Yaya baik sekali, tau saja jika aku tengah malam kadang-kadang ingin makan." Kiara terseyum kecil.


"Tentu saja, kandungan kamu semakin hari akan semakin membesar dan nantinya pasti ingin makan sesuatu. Mendiang ibunya Arthur juga begitu. Ayahnya Arthur dulu sering berpergian ke luar negeri dengan ibunya Arthur untuk urusan bisnis, tapi sejak ibunya Arthur hamil dia lebih sering di rumah karena Alan tidak memperbolehkannya untuk ikut, tapi setiap Alan pulang dari luar negeri selalu membawakan hadiah untuk mendiang ibu mertuamu."


"Ayah Alan memang orang yang sangat baik dan sikapnya sangat manis. Sayang sekali aku tidak bisa mengenal ibu mertuaku."


"Nyonya besar pasti senang memiliki menantu seperti kamu."


"Sebelum Bibi dijemput, Bibi ceritakan lagi hal yang tidak aku ketahui tentang mendiang ibu mertuaku."


"Bibi akan ceritakan, sekalian cerita tentang masa kecil suami kamu."


"Kalau itu tidak perlu, Bi."