
Kiara sudah kembali ke apartemen, dia terlihat duduk lemas di sofa panjang yang ada di ruang tengah.
"Kamu memikirkan tentang Manda, Kiara?"
"Iya, Bi. Aku kasihan sekali dengan Mba Manda. Bibi juga bingung harus memberikan solusi apa tentang hal ini."
"Nanti tinggu mas Arthur saja enaknya bagaimana?"
"Kiara, kamu sama sekali tidak cemburu jika suaminya membantu Manda? Tadi kamu cerita sama Bibi kalau Manda itu pernah menyukai suamimu."
"Aku tidak cemburu, Bi. Mas Arthur itu sayangnya cuma buat aku, dan aku percaya sekarang seribu persen sama dia."
"Banyak sekali seribu persen!"
Kiara tersenyum. "Bi, aku mau mandi dulu sebelum mas Arthur pulang, dia itu suka sekali menciumiku, katanya bauku menenangkan. Huft! Memangnya aku aroma terapi? Aku kadang sebal, padahal aku belum mandi waktu itu, tapi dia suka. Aku jadi merasa disindir sebenarnya waktu itu."
Gantian Bibi Yaya yang tersenyum. "Katanya percaya seribu persen. Siapa tau Arthur memang mengatakan hal yang sebenarnya."
"Walaupun sebenarnya, tapi dalam masalah itu aku seolah ragu-ragu. Sudahlah, Bi, aku mau mandi dulu, nanti keburu suamiku datang."
"Ya sudah, mandi sana. Bibi mau menyiapkan makan malam untuk kalian.
Kiara berada di dalam kamarnya. Dia masih belum masuk ke dalam kamar mandi, malahan dia duduk di atas tempat tidur dengan membawa handuk mandinya.
"Kasihan sekali Dean, kalau sampai ada apa-apa mba Manda, bagaimana nasib Dean?" Kiara masih tampak berpikir.
Tidak lama ponselnya berdering dan Kiara melihat itu dari Mega. "Mega? Ada apa dia menghubungiku?"
"Kiara, ini aku Mega."
"Iya, Mega, aku tau karena aku masih menyimpan nomor kamu. Ada apa?"
Mega wajahnya terlihat malas. Dia bahkan sudah memblokir nomor Kiara, tapi dia buka lagi karena dia harus terlihat natural menjalani aktingnya.
"Aku senang kamu masih menyimpan nomorku. Oh ya! Nanti malam kamu bisa tidak datang ke rumah utama karena Mama dan ayahku ingin mengundang kamu dan kakakku makan malam bersama."
"Makan malam?"
"Iya, sebenarnya mamaku sedang mengadakan acara pesta kecil-kecilan hari ini di rumah utama, dan hanya mengundang beberapa teman baiknya saja sebagai rasa bahagia karena mamaku sembuh dari sakitnya. Apa kamu mau datang?"
"Nanti aku bilang dulu sama Mas Arthur. Aku tentu saja senang sekali diundang oleh mama kamu untuk datang."
Di sebenarnya telepon Mega malah menunjukan senyum miringnya, seolah dia senang jika Kiara hadir di sana.
"Mamaku sudah menghubungi Kakakku, tapi dari tadi belum dijawab, dan aku disuruh untuk menghubungi kamu."
"Iya, kami akan datang. Mas Arthur pasti juga setuju, Mega."
"Ya sudah, kalau nanti kakakku memberi kepastian, kamu kirim pesan saja sama aku."
"Iya, Mega."
Kiara tampak senang. Setelah dia menutup teleponnya, Kiara segera masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit, dia keluar dengan handuk mandinya dan mencari baju di dalam walk in the closetnya.
Kiara bingung nanti di acara makan malam, dia pakai apa ya? Kiara mencoba mencari bajunya dengan membelah satu demi satu gantungan bajunya sampai dia tidak sadar jika di dalam kamar itu Arthur yang baru datang memperhatikannya.
"Pakai ini saja."
"Pakai itu terlalu cantik nantinya. Memang mau ke mana?"
Bruk!
"Mas Arthur! Aduh! Tanganku!" Kiara yang kaget sikutnya sampai menabrak tepi laci yang terbuka.
"Sayang, aku minta maaf. Mana yang sakit?"
"Aku minta maaf, tadi aku tidak bermaksud mengejutkan kamu, malahan aku mau diam saja melihat kamu berganti baju."
"Mesum sekali. Lihat ini! Sikutku jadi sakit, Mas!" Kiara mengusap sikutnya pelan."
Arthur melihat sikut istrinya dan perlahan-lahan mengusapnya serta memberi kecupan di sana.
"Sudah tidak sakit, kan?"
Kiara menggeleng cepat sembari tersenyum. Arthur kemudian memeluk istrinya itu dan memberi kecupan pada keningnya.
"Sini, aku bantu pakai bajunya. Oh ya! Kenapa memakai baju ini? Apa kamu pergi?"
Kiara mengatakan jika dia baru saja dihubungi oleh Mega yang mengundangnya makan malam. Arthur mengecek ponselnya dan benar saja di sana ada panggilan dari mamanya.
"Mas, aku mau datang ke sana. Ini perdana aku bisa berkumpul dan makan bersama dengan keluargamu."
Arthur tampak berpikir sejenak. Sebenarnya dia sedikit curiga dengan sikap mamanya yang mengajak makan malam, tapi sekali lagi karena melihat wajah bahagia Kiara. Dia akhirnya menyetujuinya.
"Ya sudah, kita akan hadir makan malam di sana."
"Ya sudah, kalau begitu kamu mandi dan bersiap-siap. Aku akan turun untuk menemui bibi Yaya agar tidak membuat makan malam terlalu banyak."
"Mau turun seperti itu? Pakai dulu bajunya."
"Ya ampun! Aku tidak ingat kalau belum memakai bajuku." Kiara saking senangnya sampai lupa.
Arthur dengan cepat mengambil baju Kiara. Kiara yang melihat hal itu tampak kaget. "Mas, sini baju! Kenapa kamu bawa?"
"Aku yang akan membantu kamu memakainya, Sayang."
Kiara akhirnya menurut karena untuk apa juga dia memberontak pada suaminya sendiri? Apa lagi Kiara sangat suka dengan setiap belaian suaminya itu.
"Bagus sekali tubuhnya."
"Mas, jangan lama-lama, nanti aku masuk angin."
"Perut kamu sudah mulai terlihat, dan lucu sekali." Arthur mengusap perut Kiara dengan lembut.
"Kamu itu, ya! Ayo cepat! Aku sudah kedinginan."
"Jangan mencari alasan. Bilang saja kalau pengen itu, aku dengan senang hati akan memberikannya."
"Aku ganti baju sendiri ya kalau begitu," ancam Kiara.
"Iya-iya." Arthur segera memakaikan baju pada istrinya kemudian. Kiara mengecup pipi Arthur sebagai ucapan terima kasih.
"Kenapa mencium pipi?"
"Itu artinya aku sayang sama Mas. Mas! Cepat mandi, lalu kamu bersiap-siap. Aku akan menyiapkan bajumu."
Kiara mendorong Arthur agar masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian dia merapikan rambutnya dan menggunakan bedak dan lipstik saja. Kiara menyiapkan baju untuk suaminya sebelum dia turun ke lantai bawah.
"Bi. Wow! Baunya enak sekali, aku jadi lapar."
"Kalau lapar makan saja dulu. Arthur juga tidak akan memarahi kamu. Bibi ambilkan ya?"
"Bi, tadi Mega telepon, dan dia mengundang aku dan mas Arthur makan malam di rumah utama, katanya sih di sana ada pesta kecil-kecilan, dan hanya mengundang teman-teman dekat Tante Alexa sebagai rasa syukur dia sudah sembuh."
Bibi Yaya terdiam sejenak. "Bibi jangan sedih! Aku akan tetap makan masakan Bibi ini dan nanti di sana bisa makan lagi." Kiara meringis.
Bibi Yaya menarik kursi dan dia duduk di sebelah Kiara. "Kiara, apa kamu yakin nanti akan pindah ke rumah utama?" Bibi Yaya terlihat bertanya dengan serius.
Kiara mengangguk beberapa kali. "Memangnya kenapa, Bi?" tanya Kiara dengan wajah heran dan penasaran.