Be Mine

Be Mine
Ada Apa Ini?



Jujur, dalam hati Kiara dia juga sebenarnya sanksi dengan apa yang dikatakan Elang pada Mega. Elang tidak mungkin jatuh cinta pada Mega secepat itu, apa lagi kemarin dia hampir saja melakukan hal buruk pada dirinya. Apa yang sebenarnya Elang rencanakan?


"Kamu harusnya senang dong karena Elang akhirnya mau menikah sama kamu."


"Iya, tapi apa Elang sudah terbuka hatinya dan mau menerima semua ini?"


"Mungkin saja karena dia tidak ada cara lain. Jadi, dia akan menerima kamu menjadi calon istrinya. Mega, aku yakin cinta itu akan datang dengan sendirinya asalkan kita tulis mencintai seseorang." Kiara ingat tentang dirinya dan Arthur.


Mega melihat pada Kiara kemudian dia mengangguk beberapa kali.


"Semoga nanti acara pertunangan aku dan Elang dapat berjalan dengan lancar, Kiara."


"Pasti. Kalau begitu sekarang kamu bersiap karena kita ditunggu sama Tia di bawah untuk jalan-jalan pagi sekalian membeli oleh-oleh sebelum besok kita pulang."


Setelah semua siap, Mega yang baru melangkah beberapa langkah keluar dari kamarnya mengatakan ingin ke kamar Elang untuk mengajak Elang ikut juga. Kiara yang masih marah dan kesal pada Elang memilih tidak mau menemani Mega ke kamar Elang, dia memilih turun saja menemui Tia.


"Kalau begitu aku ke kamar Elang sendiri saja. Benar juga apa yang kamu katakan, Ara. Memang mulai sekarang kamu harus menjauh sejauh-jauhnya dari Elang agar dia benar-benar melupakan kamu."


"Aku mengerti akan hal itu, Mega. Kalau begitu aku turun ke bawah saja dulu."


Kiara memilih turun ke bawah menemui Tia. Saat sampai di bawah, Kiara melihat Tia dan tiga orang temannya sedang bersama dengan Arthur. Tampak jelas di sana Tia sedang berbicara dengan suaminya.


"Hai, Tia."


"Kiara, kamu ke mana saja? Kamu dan Mega masih tidur dari tadi? Terus? Mega mana?"


"Dia masih ke kamar Elang untuk mengajak Elang jalan-jalan sekalian."


"Oh ... begitu. Eh, Mega itu sepertinya cinta sekali sama Elang, ya?" Tia melirik pada Arthur.


"Tentu saja harus saling mencintai, bukannya mereka mau bertunangan."


"Maaf, ya Kak Arthur, tapi aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku lihat."


"Tidak apa-apa karena semua orang berhak bicara."


"Aku tau kalau Mega dan Elang akan bertunangan, tapi itukan karena dijodohkan, bukan karena mereka berpacaran lama seperti kamu dan Elang dulu, tapi aku melihat Mega suka sekali dengan Elang."


"Ya mungkin Mega bahagia bisa bertunangan dengan pria sebaik Elang," ucap Kiara ragu-ragu sembari melirik pada suaminya yang menunjukkan wajah datarnya.


"Atau bisa juga Mega sebenarnya dari dulu suka sama Elang, tapi itu wajar sih! Siapa gadis yang tidak suka sama pria setampan dan sepandai Elang, apa lagi dia kapten baseball di sekolah kita. Sayangnya dia sudah memilih kamu duluan Kiara."


Kiara malah nyengir aneh. "Sebaiknya tidak perlu membahas hal ini lagi, Tia. Kita tunggu Mega saja.


Tidak lama Mega turun dan terlihat bergandengan tangan dengan Elang. Elang memakai topi hitam dan agak menutupi wajahnya yang agak memar akibat pukulan dari Arthur kemarin.


"Itu si kapten baseball yang baru kita bicarakan. Eh, lihat! Dia bergandengan tangan dengan Mega!" seru Tia kaget.


Kiara yang di sana langsung mengatakan ingin pergi ke kamar mandi sebentar dan menyuruh teman-temannya untuk jalan duluan saja karena nanti dia akan menyusul.


"Hai, semua! Maaf, kalian sudah lama menunggu?"


"Iya, kamu lama sekali!" celetuk salah satu teman Tia yang dari tadi menunggu dengan Tia di bawah.


"Iya, ini tadi sebenarnya Elang tidak mau ikut karena kemarin malam dia habis berkelahi dengan orang yang mau mengambil dompetnya saat Elang dan Morgan di luar."


"Oh ya? Kamu tidak apa-apa, Lang?" tanya Tia kaget.


"Tidak apa-apa." Elang melihat datar pada Arthur. Pun dengan Arthur juga melihat Elang datar.


"Kenapa kamu malah lawan, sih Lang? Kamu berikan saja dompetmu, bukannya kamu anak orang kaya, uang kamu hilang juga tidak berpengaruh besar sama kamu, daripada kamu babak belur."


"Hem ...! Sejati apa cari mati? Kalau pencuri itu membawa senjata tajam bagaimana?"


"Iya, juga sih!"


"Tertusuk pisau masih jauh lebih baik daripada harus merasakan hati yang tiba-tiba ditikam oleh hal yang sangat menyakitkan."


"Waduh! Kok dalam ya kedengarannya," celetuk Tia.


"Mega, kita pergi sekarang saja sebelum hari semakin siang."


"Iya. Eh, tapi Kiara mana?" Mega celingukan mencari Kiara."


"Anak itu seperti biasa tidak lupa absen sama jin penunggu kamar mandi." Tia malah terkekeh.


"Dia di kamar mandi lagi? Hem ... dasar! Kiara itu selalu saja begitu."


"Kita di suruh pergi dulu dan nanti kita menyusul."


"Kalian pergi saja dulu karena Gio menghubungiku." Arthur berbohong pura-pura menerima telepon dari Gio.


"Nanti Kakak ajak Kiara sekalian menyusul kita di pasar tradisional dekat hotel ini ya, Kak?"


"Iya, Mega." Arthur berjalan agak jauh dari sana untuk menerima telepon dan ternyata dia menghubungi istrinya.


"Iya, Mas."


"Mega dan teman-teman kamu sudah jalan duluan. Aku menunggumu di lobby, Sayang."


"Iya, aku akan segera ke sana, Mas."


Kiara berjalan menghampiri suaminya dan melihat sekitar. Setelah memastikan semua aman, dia memeluk suaminya dengan erat.


"Kamu cemburu melihat Elang menggandeng tangan Mega?"


"Mas kenapa malah bertanya seperti itu? Aku sama sekali tidak merasakan perasaan apapun sama dia, Mas. Aku malah sangat bahagia jika Elang benar-benar jatuh cinta pada Mega."


"Kamu tau Kiara? Aku sebenarnya ingin sekali memukul wajah Elang lagi."


"Mas!"


"Dia kemarin hampir menodai kamu karena dia masih ingin kamu menjadi miliknya, tapi sekarang dia malah bersikap seperti itu pada Mega. Apa maksudnya seperti itu?"


Sebenarnya Kiara juga berpikiran hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Arthur, tapi Kiara memilih diam karena dia sendiri tidak mau berprasangka buruk pada Elang.


Mungkin saja Elang sadar setelah dia tau bahwa Kiara sudah menikah dan tidak mungkin dia bisa memiliki Kiara lagi, tapi bisa juga ada hal lain yang Kiara tidak tau apa itu.


"Mau menyusul teman-teman kamu atau kita pergi berdua ke tempat lain?" tanya Arthur saat melepaskan pelukannya pada Kiara.


Kiara menatap bingung melihat suaminya. "Sebaiknya kita menyusul mereka saja agar mereka tidak bertanya nantinya."


"Apa kamu akan baik-baik saja?"


Kiara menggeleng. "Aku tidak tau, Mas, tapi aku akan berusaha untuk baik-baik saja."


"Ya sudah kalau begitu." Arthur menggandeng tangan Kiara agar istrinya itu lebih merasa tenang.


Mereka berdua tampak saling melemparkan senyuman. "Aku mencintaimu, Mas."


"Aku juga mencintaimu, istriku."