
Saat masih bicara dengan suaminya, Kiara mendengar suara knop pintu seperti di buka oleh seseorang dari luar.
"Mas, nanti kita bicara lagi."
Mega muncul di depan pintu dan melihat Kiara baru saja mematikan panggilan teelponnya.
"Mega, kok kamu sudah naik? Apa kamu tidak bicara dulu dengan Elang?"
Mega menaruh tasnya dan duduk di atas tempat tidurnya. "Elang itu membenciku, Kiara, dia tetap saja menyalakan aku atas perjodohan ini. Di dalam pikiran Elang itu yang ada hanya kamu dan kamu saja, padahal aku sudah katakan jika kamu sudah memiliki seorang kekasih."
Kiara tampak kasihan melihat sahabatnya itu. Mega benar-benar harus berusaha agar Elang bisa bersikap baik padanya.
"Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, Mega, tapi aku juga tidak tau harus berbuat apa?" Kiara duduk di sampingnya Mega.
"Kamu tidak memiliki salah, Kiara, takdir yang salah dalam hal ini. Kamu tau, Kiara? Hadiah yang kemarin aku beli denganmu, Elang tidak mau menerimanya."
"Oh, ya?" Kiara seketika kaget mendengar hal itu.
Mega mengagguk. Mega mengatakan jika Elang menolak karena bisa membeli itu semua sendiri, dan dia tidak ingin Mega terlalu perhatian sama dia.
"Aku sampai membawa kado itu ke sini, Ara, aku masih berharap agar Elang mau menerimanya."
Kiara tampak berpikir sejenak. "Mana kadonya dan biar aku yang bicara dengan Elang?"
Mega akhirnya mengambil kado yang memang dia bawa. Mega memberikan kado itu pada Kiara. Kiara mengambil kado itu dan kebetulan letak kamar Elang satu lantai di atas kamar Kiara.
"Kamu yakin mau memberikan kado itu pada Elang, Kiara?" tanya Mega ragu.
"Iya, bagaimanapun Elang itu harus menghargai apa yang diberikan seseorang padanya."
Kiara membawa kado itu dan keluar dari kamarnya menuju kamar Elang. Di dalam lift Kiara mencoba menenangkan dirinya hingga pintu lift terbuka dan Kiara menuju kamar Elang.
Kiara mengetuk pintu kamar Elang beberapa kali sampai akhirnya pintu dibuka oleh Elang. Kedua mata Elang tampak berbinar melihat siapa yang ada di depan pintu kamarnya.
"Kiara? Kamu ada apa ke sini? Silakan masuk."
"Tidak perlu, Lang, kita bicara saja di sini."
"Bicara? Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"
"Ini." Tangan Kiara memberikan sesuatu pada Elang, dan Elang tau dari kemasannya jika itu kado yang kapan hari Mega pernah berikan padanya.
"Itu kado dari Mega, kan?"
"Iya, dan tidak sepantasnya kamu menolaknya karena Mega memberikan ini dengan niat yang sangat tulus agar kamu tidak membenci atau menyalakannya atas apa yang terjadi antara kamu dan dia."
"Kiara, Mega itu bekerja sama dengan kakaknya untuk memisahkan kita." Elang tiba-tiba memegang tangan Kiara.
"Lang." Kiara melepaskan pegangan tangan Elang. "Mega dan kakaknya tidak pernah ada hubungan dengan perpisahan hubungan kita. Kita berpisah itu karena memang sudah jalannya seperti ini, dan jangan mencari kesalahan orang lain."
"Kita berpisah karena kamu selingkuh dengan kakaknya Mega, dan kebetulan kamu mengetahui kalau mamaku tidak merestui hubungan kita. Jadi, kamu umpankan hal itu sebagai alasan agar kita dapat berpisah."
"Bagaimana dengan hubunganmu bersama gadis yang kamu cium di dalam mobilmu?"
"Kiara, apa yang dikatakan Morgan sama kamu itu tidak benar, aku tidak ada hubungan apapun dengan gadis itu."
"Elang, aku sebenarnya tidak mau membahas masalah itu karena bagiku sudah tidak penting. Terserah kamu mau memiliki hubungan dengan siapapun, tapi untuk saat ini aku mohon kamu hormatilah Mega sebagai calon istri kamu. Kalian akan bertunangan dan aku sangat senang melihat kalian bersama."
"Kiara, apa di hati kamu benar-benar sudah tidak ada cinta untukku?"
"Tidak ada sama sekali, Lang."
"Lang, ini semua tidak ada hubungannya dengan Mas Arthur. Cinta itu bukan kita yang mengatur, tapi semua itu datang dengan sendirinya. Lang, aku ke sini hanya ingin mengatakan agar kamu bisa menerima Mega sebagai calon istrimu. Dia tidak bersalah sama sekali dalam hal ini."
Mega mengambil tangan Elang dan menyerahkan kado dari Mega, kemudian Kiara berjalan pergi dari sana.
***
Malam hari tiba, anak-anak berkumpul di restoran dekat hotel mereka untuk makan malam bersama. Kiara tampak saling menyuapi makanan dengan Mega.
Elang dari tempatnya melihat hal itu, kedua mata Elang tidak lepas sama sekali melihat pada Kiara.
"Mega itu cantik kalau dilihat terus menerus ya, Lang?" tanya Morgan.
"Aku tidak sedang melihat pada Mega. Aku sedang memperhatikan Kiara, dan bagaimana caranya agar Kiara mau kembali padaku?" Elang berbicara dengan terus melihat pada Kiara.
"Kamu gila, ya? Bukannya kamu akan bertunangan dengan Mega. Lang, jangan jahat seperti itu pada Mega. Kasihan dia kalau kamu menyakitinya."
Elang hanya melirik pada Morgan, setelah itu Elang beranjak pergi dari tempatnya.
"Mega, aku ke kamar mandi dulu, ya."
"Mau aku antar?"
"Ya ampun! Memangnya aku anak kecil yang harus diantar mau ke kamar mandi."
"Siapa tau kamu nanti ada yang menculik."
"Kamu bisa saja, untuk apa menculikku? Minta tebusan pun sama siapa?" Kiara terkekeh lalu berjalan pergi dari sana.
Kiara berjalan dengan senang menuju kamar mandi karena dia ingin menghubungi suaminya. Beberapa kali Kiara mencoba menghubungi suaminya, tapi Arthur tidak membalas panggilan Kiara.
"Mas Arthur ini ke mana? Apa dia sudah tidur? Bukannya ini masih jam delapan malam. Apa dia pergi ke rumah sakit untuk menemani Dean? Kalau dia mau ke rumah sakit seharusnya dia memberitahu dulu."
Kiara wajahnya seketika tampak kesal, dia memasukan ponselnya di dalam saku dan berjalan menuju kamar mandi.
"Hei!"
Tiba-tiba tangan Kiara ditarik cepat oleh seseorang, dan dibawa ke tempat yang sepi. Kiara disandarkan pada dinding di sana.
"Kamu--." Kiara seketika terdiam melihat siapa orang yang menarik tangannya.
"Apa kamu merindukan aku, Sayang?" Terlukis senyum manis dari sudut bibir pria itu.
"Mas!" Kiara dengan senangnya memeluk orang yang dari tadi dia rindukan. "Mas, kamu bagaimana bisa ke sini?" Kiara berbicara masih dengan memeluk erat suaminya.
Arthur melepaskan pelukannya dan dia memberikan ciuman yang dalam pada bibir Kiara.
"Aku sangat merindukan kamu, Ara. Rasanya hampa sekali di apartemen saat tidak ada kamu di sana."
"Aku juga merindukan kamu, Mas, dan tadi aku mencoba menghubungimu karena ingin tau kamu sedang apa, tapi ternyata kamu ada di sini." Kiara sekali lagi memeluk suaminya dengan erat.
"Kiara, ayo ikut aku."
"Ke mana, Mas?"
"Ke kamarku."
"Ke kamar kamu?" Wajah Kiara tampak bingung.
Arthur menggandeng tangan istrinya dan membawanya pergi masuk ke dalam lift. Kiara masih bingung saja dengan maksud suaminya. Apa suaminya ini juga membuka kamar di hotel tempat Kiara menginap?