
Kiara membukanya dan ada sebuah gelang dan kalung manik yang sangat cantik di sana. Kiara tampak bingung sekali lagi menatap gelang manik itu.
"Gelang dan kalung? Untuk apa orang itu memberiku ini? Siapa ya yang mengirim paket ini?" Sekali lagi Kiara tampak berpikir.
Tidak lama ponsel Kiara berdering dan ada panggilan tanpa nama di sana. "Halo."
"Halo kakak ipar, apa kamu menyukai hadiah dariku?"
Wajah Kiara seketika berubah aneh karena dia mengenali suara itu. "Elang. Jadi, ini kamu yang mengirimnya? Kamu tau dari mana alamat apartemenku?"
"Itu hal yang mudah, Kakak ipar. CK! Tidak menyangka jika kita nantinya akan menjadi satu keluarga besar ya, Kiara. Jujur saja aku sangat senang karena aku akan bisa selalu dekat dengan kamu walaupun kamu menjadi kakak iparku."
"Lang, jangan mengganggu hidupku lagi. Aku sudah bahagia dengan Mas Arthur dan kamu nanti juga akan hidup bahagia dengan Mega."
"Iya, aku nanti akan bahagia dengan Mega. Aku memberikan hadiah itu hanya sebagai hadiah selamat atas pernikahan untuk kamu yang nanti akan menjadi kakak iparku. Kiara aku berharap kamu menyukainya walaupun itu mungkin tidak semahal dengan apa yang Arthur selalu berikan sama kam.u karena aku belum bisa memberikan sesuatu yang jauh di atas Arthur."
Kiara paham akan maksud kata-kata Elang. "Lang, aku sama sekali bukan orang yang menginginkan harta. Aku menikah dan memilih Mas Arthur karena aku mencintainya. Lang, sekali lagi aku katakan sama kamu agar tidak mengganggu kehidupanku lagi. Aku mau hidup tenang dan bahagia dengan suamiku."
"Kamu tenang saja kakak ipar, aku tidak akan mengganggu kebahagiaanmu dengan suami brengsekmu itu."
"Jaga ucapanmu, Lang. Hormati dia karena sebentar lagi dia akan menjadi kakak iparmu. Sebaiknya kita tidak perlu banyak bicara lagi." Kiara langsung mematikan panggilan teleponnya."
Elang yang berada di rumahnya tampak tersenyum Miring. "Lihat saja kakak iparku Kiara, aku akan sangat mencintai Mega dan akan aku buat kamu merasa menyesal sudah meninggalkanku dan memilih si brengsek Arthur itu."
Elang melihat foto yang ada di tangannya dan itu adalah foto Kiara saat masih bersamanya. Elang sebenarnya masih terus berpikir tentang apa yang sebenarnya membuat Kiara akhirnya jatuh cinta dan bahkan bisa sampai menikah dengan Elang.
"Mba Tami pasti tau akan hal ini. Apa aku harus bertanya pada Mba Tami? Tapi aku juga tidak yakin dia akan menceritakan sebenarnya. ****! Aku harus memulai pencarian ini dari mana?" Elang terlihat sangat gusar. Orang yang pasti berkata dengan jujur tentang Kiara hanya ibunya Kiara, tapi beliau sudah tidak ada.
Di apartemennya, Kiara akhirnya memilih untuk membuang hadiah dari Elang karena dia tidak mau nantinya Arthur tau dan marah. Kiara juga tidak akan menceritakan tentang paket itu. Sekarang dia berharap Elang tidak akan mengganggunya lagi dengan semua kiriman hadiah itu.
"Kenapa tiba-tiba kepalaku pusing sekali." Kiara berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Dia tampak berjalan agak sempoyongan. "Pasti karena aku terkejut mengetahui Elang sudah tau di mana aku dan Mas Arthur tinggal.
Kiara setelah menghabiskan segelas airnya, dia memilih untuk duduk sebentar sampai sakit di kepalanya menghilang.
***
Malam itu Kiara sudah menyiapkan makan malam untuk menyambut kedatangan Dean dan Mba Manda.
"Sayang, kamu kenapa terlihat agak pucat?" Arthur mengusap pipi istrinya itu.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Mungkin aku hanya kelelahan karena seharian menyibukkan diriku."
"Kamu jangan terlalu lelah seperti ini. Nanti aku akan meminta tolong bibi Yaya membantu kamu di sini."
"Jangan, Mas! Aku nanti bisa pingsan karena kebosanan tidak melakukan apapun. Apa lagi kuliahku juga masih sebulan lagi masuk."
"Tapi kalau kamu sampai jatuh sakit, aku juga merasa menjadi suami yang tidak bisa menjaga istrinya, Sayang."
"Aku tidak apa-apa, Mas, kamu pokoknya jangan khawatir, ya." Kiara memeluk suaminya dan dia minta maaf dalam hati karena dirinya sudah menyembunyikan tentang paket dari Elang itu.
"Selamat malam Pak Arthur," sapa Manda dengan wajah tampak bahagia.
"Selamat malam, Manda. Hai, Superhero! Apa kabar?"
"Hai, Om, aku baik. Oh ya! Tante Kiara mana?"
"Tante Kiara ada di dalam sedang menyiapkan makan malam. Kalian berdua silakan masuk."
Dean tampak takjub melihat isi ruangan apartemen milik Arthur. "Wow! Ini bagus sekali rumah Om Arthur." Bocah itu melihat keluar jendela besar pemandangan yang ada di bawah bangunan tinggi itu.
"Ini Apartemen, Dean," jelas Kiara yang tiba-tiba ada di ruang tamu.
"Tante Kiara!" Mereka saling berpelukan, dan entah kenapa Kiara tampak enggan sekali melepaskan pelukan pada Dean.
"Tante merindukan kamu, Dean. Bagaimana kabar kamu?"
"Aku baik, Tante sendiri bagaimana kabarnya?"
Kiara melepaskan pelukannya dan menatap lembut pada Dean. "Aku baik, Dean. Senang sekali bisa bertemu lagi sama kamu."
"Aku juga, Tante." Dean sekali lagi memeluk Kiara.
Kiara ini ingin sekali menangis karena dia teringat akan nasib Dean yang sejak kecil sudah tidak memiliki kedua orang tua, dan bahkan sekarang dia malah ingin disakiti oleh pamannya sendiri hanya karena harta.
Mereka berempat sudah duduk di ruang makan. Kiara mempersilakan mereka untuk langsung makan malam. Dean tampak senang menikmati makan malam yang dibuatkan oleh Kiara.
"Pak Arthur saya mau mengucapkan banyak terima kasih atas apa yang sudah Pak Arthur lakukan untukku dan Dean."
"Manda, sebenarnya aku juga tidak mau ikut campur dalam masalah keluargamu, tapi Kiara meyakinkan jika aku harus membantumu apa lagi ini menyangkut keselamatan orang lain."
Manda melihat pada Kiara yang duduk di depannya. "Terima kasih, Kiara."
"Tidak perlu berterima kasih, Mba. Aku hanya berharap Mba Manda tidak menyerah untuk mempertahankan sesuatu yang seharusnya menjadi milik Dean. Mba juga jangan takut akan ancaman pria itu, aku yakin dia pasti pria pengecut yang hanya berani mengancam saja. Dasar tidak punya hati!" Kiara tampak kesal.
"Aku sebenarnya tidak takut pada ancamannya, Kiara. Kalau dia melukaiku itu tidak masalah, tapi aku takut dia melukai Dean."
"Mba mami yang sangat baik untuk Dean, dan semoga kalian berdua tidak ada yang sampai terluka."
"Kamu tenang saja, Manda. Kalian berdua akan dijaga dari jauh oleh orang yang aku suruh. Aku akan pastikan pamannya Dean tidak akan berbuat hal yang buruk pada kalian." Manda mengangguk.
Acara makan malam selesai dan sekarang Arthur mengajak Manda dan Dean berada di ruang tengah untuk bisa berbincang bersama.
"Aku akan mengambilkan puding roti yang tadi aku buat. Dean, apa kamu suka puding roti?"
"Tentu saja aku suka, Tante! Aku mau membantu Tante Kiara membawa pudingnya ke sini."