
Kiara menikmati makan paginya, dia juga senang sekali karena bibi Yaya mau ikut sarapan pagi dengannya.
"Bi, aku punya rencana, bagaimana kalau nanti siang aku ke kantor Mas Arthur dengan membawakan dia nasi goreng buatanku?"
"Ide yang bagus. Kalau begitu kamu nanti kabari suami kamu jika mau ke sana."
"Tidak perlu, Bi. Aku langsung datang saja ke sana. Aku mau buat kejutan untuk Mas Arthur."
"Ya sudah, terserah kamu saja."
Kiara tampak tersenyum senang, dan dia tidak sabar menunggu waktu makan siang tiba.
Di kampusnya, Momo tampak celingukan mencari sosok sahabat barunya, yaitu Kiara. Kiara hari ini dan sampai masa OSPEK, kan memang tidak masuk.
"Kiara ke mana? Sudah jam segini belum tampak. Apa dia tidak masuk kuliah hari ini?"
"Eh, Si Komo! Ke mana teman kamu si ijo lumutan itu? Kenapa dia tidak masuk hari ini?"
"Aku tidak tau. Mungkin saja dia tidak masuk karena sakit, habisnya kamu sebagai kakak senior memberi hukuman berat sekali."
"Enak saja kamu bicara. Dia itu baik-baik saja karena kemarin malam aku melihat dia makan malam dengan kekasihnya di restoran. Jangan-jangan dibolos lagi karena pulang larut malam dengan kekasihnya. Dasar gadis labil."
"Hah? Dia makan malam dengan kekasihnya? Coba aku hubungi saja dia." Momo mencoba menghubungi ponsel Kiara, tapi tidak dijawab oleh Kiara. Tentu saja tidak dijawab karena Kiara sedang menghabiskan waktu di kolam renang dan ponselnya dia taruh di dalam kamar.
"Berani sekali anak itu bolos saat masih mengikuti OSPEK. Lihat saja nanti kalau dia masuk, aku akan memberi hukuman yang buat dia tidak akan bolos lagi." Wajah Delia tampak terlihat marah.
"Kiara tidak akan mengikuti OSPEK sampai acara ini berakhir," suara Kiano yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas.
"Apa maksud kamu, Kiano?"
"Kiara akan tetap kuliah di sini, tapi dia tidak akan mengikuti kegiatan OSPEK di sini."
"Apa? Peraturan dari mana itu? Memangnya siapa dia bisa berbuat seenak jidatnya seperti itu?"
"Dia sedang hamil, Delia, dan suaminya yang sudah mengizinkan pada rektor agar dia tidak mengikuti kegiatan yang sekarang bisa membahayakan bayi di dalam perutnya."
"Apa?" Delia dan Momo sama-sama terkejut tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Kiara hamil dan sudah menikah?".
"Aku tidak menyangka jika gadis dengan wajah polos dan terlihat lugu itu sampai terseret pergaulan bebas."
"Dia hamil bukan karena pergaulan bebas, dia sudah menikah lama dan baru tau hamil saat lulus sekolah. Dia menikah muda karena ibunya sebelum meninggal ingin melihat Kiara menikah dengan orang yang sangat mencintainya. Tadi aku sudah diberitahu oleh pihak kampus."
"Apa? Gadis itu benar-benar penuh kejutan."
"Kenapa Kiara tidak mengatakan semua itu padaku? Jika dia hamil, pasti aku akan membantunya melakukan tugas OSPEK ini. Kasihan sekali dia sedang hamil, tapi malah dihukum berat. Benar-benar tidak punya perasaan yang memberi hukuman," Momo berkata sembari melirik pada Delia.
"Hei! Jangan menyindirku! Ini semua juga bukan salahku, aku tidak tau kalau dia hamil. Lagi pula kenapa dia malah mendaftar kuliah kalau sedang hamil? Dia bisa kuliah tahun depan saat sudah melahirkan."
"Orang ingin belajar kok malah diatur. Kamu itu yang seharusnya jangan sok memiliki kuasa sebagai Kakak senior yang seenaknya menyuruh adik junior kamu melakukan tugas yang berat, mana kamu judes lagi," ujar Momo kesal.
"Apa kamu bilang?"
"Cukup! Kalian berdua kalau terus bertengkar seperti ini, lebih baik tidak perlu mengikuti kegiatan ini. Silakan saja pergi."
Momo dan Delia akhirnya memilih menghentikan perdebatan mereka karena sudah takut melihat Kiano yang marah.
***
"Bau nasi gorengnya enak sekali," puji Bi Yaya.
"Terima kasih, Bi. Bi, aku ke kamar dulu untuk berganti baju."
Kiara naik ke kamarnya dan saat melihat ponselnya dia agak terkejut di sana ada beberapa kali panggilan dari Momo.
"Momo pasti mencariku karena aku tidak masuk kuliah." Kiara menghubungi balik temannya itu.
"Halo, Kiara!"
"Ada apa, Momo? Maaf, tadi aku sedang menyiapkan makan siang, dan aku meninggalkan ponselku di kamar."
"Kiara, aku sebenarnya tadi khawatir karena kamu tidak masuk kuliah, tapi saat diberitahu Kiano kenapa kamu tidak masuk, aku jadi kaget sekaget-kagetnya."
"Jadi, kalian sudah tau kenapa aku tidak masuk?"
"Iya, Kiara. Kenapa kamu tidak cerita kalau sudah menikah dan sekarang sedang hamil?"
"Aku bukannya tidak mau bercerita, tapi aku menunggu waktu yang tepat saja. Tidak lucu kalau saat acara OSPEK aku bilang kalau sudah menikah dan sedang hamil. Bisa-bisa aku menjadi ejekan di sana. Cap tentang pergaulan bebas bisa langsung melekat sama aku."
"Hem! Tadi si judes nenek lampir Delia juga bilang begitu, tapi saat Kiano menjelaskan semuanya. Dia langsung diam."
"Maaf ya, Momo. Kamu jadi ikut acara OSPEK sendirian, padahal kita berencana nanti selesai acara hari ini kita mau makan bakso bersama di kantin."
"Tidak apa-apa, bagaimanapun juga kesehatan kamu dan bayimu lebih penting. Eh iya! Kapan-kapan aku boleh tidak main ke rumah kamu? Nanti aku ajak Kiano sekali, aku minta tolong untuk mengantarkan aku."
"Em ...." Kiara bingung ini. Apa suaminya akan memperbolehkan Momo dan Kiano datang ke tempatnya? Mungkin kalau Momo dibolehkan, tapi Kiano--?"
"Tentu saja boleh."
"Ya sudah, kalau begitu kamu kirim saja alamat kamu, dan nanti kalau aku mau ke sana, aku hubungi kamu dulu."
"Iya, Momo."
"Ya sudah, Kiara. Jaga diri kamu dan bayimu baik-baik. Wajah anak kamu pasti lucu sekali karena memiliki ayah dan mama yang tampan serta cantik."
Kiara tersenyum di tempatnya. "Terima kasih atas pujiannya."
"Ya sudah kalau begitu. Bye, Kiara;"
Mereka menutup panggilannya dan Kiara kembali bersiap-siapa.
Kiara yang sudah siap, turun ke lantai bawah. "Bi, aku pergi dulu karena mobil online yang aku pesan sudah datang dan dia menunggu di bawah."
"Kamu yakin tidak mau menghubungi suamimu kalau mau ke sana?"
"Tidak perlu, Bi. Aku mau buat kejutan. Nanti aku makan siang di sana, sekalian aku pulangnya nanti sama Mas Arthur saja."
"Ya sudah kalau begitu."
"Bibi janji ya, jangan menghubungi Mas Arthur kalau aku mau ke sana. Nanti tidak jadi kejutan namanya."
"Iya, Bibi tidak akan memberitahu Arthur kalau kamu ke sana, tapi setelah sampai di sana kamu harus segera menghubungi Bibi supaya Bibi tidak khawatir nantinya."
"Siap, Bibi Sayang."
Kiara mengambil kotak makannya dan menciumi punggung tangan Bibi Yaya. Hal itu memang sudah sering Kiara lakukan. Kiara tidak menganggap Bibi Yaya sebagai pembantu di sana, dia lebih menganggap Bibi Yaya seperti ibunya.