
Mba Tami agak shock mendengar jika hari ini, di ruangan rumah sakit itu, Kiara akan melangsungkan pernikahan dengan pria yang menjadi idolanya dalam beberapa hari ini.
Mba Tami benar-benar bingung, kenapa Kiara harus sampai menikah dengan mas Arthur? Ada apa sebenarnya?
Semua sudah diselesaikan dengan cepat oleh Arthur dengan bantuan Gio. Arthur duduk berdampingan dengan Kiara.
Saat ini perasaan dan hati Kiara tidak karuan. Pernikahan ini sama sekali tidak siap dia terima. Namun, beda dengan Arthur, pria itu tampak tidak ada keraguan atau kebingungan di dalam hatinya.
Di sana dia minta diajari sebentar mengucapkan kalimat ijab qobul. Arthur mendengarkan dengan serius apa yang penghulu itu katakan.
Acara di mulai dengan Arthur meminta dokter yang menangani ibu Kiara pun menjadi saksi acara sakral itu.
Arthur menyiapkan beberapa lembar uang sebagai mas kawin. Dia sebenarnya sedikit kecewa tidak bisa menyiapkan pernikahan yang mewah untuk Kiara, tapi itu semua nanti akan dia wujudkan setelah dia hari ini benar-benar disahkan menjadi suami bagi Kiara.
Acara pun dimulai. Kiara tampak menangis melihat ke arah ibunya yang keadaanya terlihat semakin melemah.
Arthur mencoba mengambil napas panjang untuk menangkan dirinya. Gio terlihat memberikan semangat pada sahabatnya itu. Mba Tami masih terlihat tidak percaya jika dia harus menyaksikan pernikahan pria yang dia idolakan.
Beberapa menit kemudian, terdengar seseorang menyatakan jika pernikahan hari ini sah dan mereka berdua resmi menjadi suami dan istrinya.
Gio tidak percaya jika Arthur bisa mengucapkan ijab qobul sangat lancar hanya dengan sekali tarikan napas dan dia juga baru diajari beberapa menit yang lalu.
Terlihat wajah kalem ibu Kinan tersenyum lega setelah mendengar jika sekarang Kiara memiliki suami yang dia harapkan akan bisa menjaga dan melindungi Kiara saat dia nanti pergi meninggalkan Kiara.
"Arthur," panggil Ibu Kinan lirih.
Arthur beranjak menghampirinya. Tangan wanita itu menjulur dan Arthur menggenggamnya erat.
"Aku pasti akan menjadi Kiara dengan baik karena dia sekarang adalah tanggung jawabku."
"Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih padamu."
"Ibu!" Kiara menangis memeluk ibunya.
"Ibu senang salah satu keinginan ibu sudah terwujud. Kiara, kamu sekarang sudah menjadi istri, bersikaplah yang baik pada suamimu. Kamu masih ingat semua yang ibu katakan padamu, kan?" Kiara mengangguk perlahan.
Tangan wanita paruh baya itu berusaha membalas pelukan putrinya.
"Ibu?" Kiara merasakan pelukan tangan ibunya terlepas perlahan dan Kiara melihat kedua mata ibunya sudah terpejam dengan sempurna.
"Ibu Kinan!" Arthur mencoba membangunkan wanita yang baru saja menjadi ibu mertuanya itu. Namun, ibu Kinan sama sekali tidak merespon.
"Ibu ... ibu!" Tangis Kiara seketika pecah dan dia tau jika ibunya sudah pergi untuk selamanya.
Kiara berteriak dan menangis dengan histeris. Arthur yang ada di dekatnya memeluk Kiara dengan erat. Mba Tami yang ada di sana juga tidak bisa membendung air matanya.
"Aku tidak mau kehilangan ibuku, Arthur!" seru Kiara dengan air mata yang mengalir dengan deras.
"Ibu kamu sudah tidak merasakan sakit lagi, Kiara. Ibu kamu sudah pergi dengan tenang."
"Aku mau ibuku, aku mau ibuku! Ibu belum melihatku lulus sekolah. Aku mau ditemani ibuku di acara perpisahan sekolah nantinya. Ibu sudah berjanji padaku!" Kiara benar-benar terpukul kehilangan ibunya. Arthur hanya bisa memeluk Kiara saat ini. Dia tau jika Kiara benar-benar hancur.