
Bibi Yaya sebenarnya tidak mau pulang, tapi Arthur menyuruhnya untuk pulang agar bisa beristirahat dan tidak perlu cemas pada Kiara karena Arthur akan menjaganya di sana.
Bibi Yaya akhirnya pulang dan besok pagi dia akan datang ke sana untuk menjaga Kiara dan membawakannya makanan kesukaan Kiara.
Waktu menunjukan pukul dua belas malam. Terdengar suara musik yang mengalun pelan dan terdengar santai.
Iya! Ini di sebuah cafe yang memang buka sampai pagi menjelang. Morgan sedang duduk di sana dengan serius berkutat dengan laptopnya.
"Kalau didesain seperti ini pasti akan terlihat bagus," Morgan berdialog sendiri.
"Maaf, ini pesanan, Mas." Seorang gadis yang menggunakan seragam pelayan datang dengan membawa minuman dan camilan pesanan Morgan.
Morgan melihat gadis itu dan tersenyum kecil. "Terima kasih, letakkan saja di situ.
Gadis itu mengangguk perlahan dan dia meletakkan minuman dan makanan Morgan.
Tiba-tiba Morgan tidak sengaja mendengar suara yang dia tau itu berasa dari mana. Morgan melihat pada gadis pelayan yang berdiri di sebelahnya.
"Maaf." Gadis itu tampak malu karena suara perutnya yang keroncongan terdengar oleh Morgan. "Mas, apa ada pesanan lainnya?" tanya Gadis yang sebenarnya masih menahan malu pada Morgan.
Morgan melihat di atas mejanya hanya ada kopi pahit dan kentang goreng.
"Bisa tambahkan roti isi dan susu coklat hangat yang ditambah cream."
"Baik, akan segera saya antarkan." Gadis itu tampak tersenyum kecil dan berjalan dengan semangat menuju dalam dapur.
Morgan kembali meneruskan melihat ke arah laptopnya. Tidak lama ponselnya berdering dan ada nama Elang di sana.
"Ada apa, Lang?"
"Kamu di mana? Aku benar-benar bosan!"
"Aku di cafe biasanya. Kamu bukannya bilang hari ini ada pesta di rumah calon mertuamu, tapi kenapa sekarang bilang bosan?"
"Kamu masih memikirkan Kiara? Lang, kamu itu mau menikah dengan Mega, dan Mega itu adik iparnya Kiara."
"Tidak perlu dijelaskan karena aku sudah tau. Kita ini masih sahabat, kan Mo?"
"Tentu saja. Memangnya kenapa?"
"Semua yang aku ceritakan dan lakukan nantinya, tidak perlu kamu komentari. Cukup diam dan melihat."
"Kalau tindakan kamu salah, bagaimana? Apa aku hanya tetap melihat dan membiarkannya saja?"
"Iya, kamu cukup melihat dan membiarkan saja apa yang aku lakukan."
"Kalau seperti itu namanya bukan teman, Lang."
"Ayolah! Sejak kapan kamu terlalu ikut campur masalah seseorang. Aku tau apa yang aku lakukan dan kalau kamu tau kebenaranya, pasti kamu akan mendukungku."
"Okay! Your life you live, and my life I live."
"Itu baru benar."
"Oh ya! Tadi kamu bilang Kiara ada di pesta itu. Aku mau tanya, memangnya apa yang terjadi di pesta calon mertua kamu sampai membuat Kiara jatuh sakit?"
"Kiara jatuh sakit? Apa maksud kamu, Mo?" Elang tampak penasaran. Ini Elang sudah berada di rumahnya karena acara pesta di rumah utama keluarga Lukas telah selesai.
"Kiara sekarang sedang dirawat di klinik mamaku. Dia mengalami masalah dengan kandungannya."
"Apa? Kiara dirawat di klinik mamamu?" Elang benar-benar terkejut mendengar hal itu karena setahu Elang, rencana Mega untuk membuat Kiara terluka tidak berhasil, tapi kenapa ini malah Kiara sampai dirawat di klinik?
"Kata mamaku, Kiara hampir saja keguguran karena mengalami keterkejutan yang berlebih, tapi sekarang keadaan ibu dan bayinya baik. Tadi aku bertanya sama mamaku lewat telepon."