
Kiara sedang terdiam di dalam salah satu ruangan di kamar mandi. Dia bukannya tidak ingin keluar dari sana, tapi langkahnya terhenti saat dia mendengar obrolan beberapa wanita di luar pintunya.
Para wanita itu sedang membicarakan seseorang yang datang dengan digandeng oleh Arthur dan tentu saja Kiara tau jika wanita yang dimaksud adalah dirinya.
Percakapan mereka bukan membahas hal yang baik tentang Kiara, tapi lebih ke arah menghina Kiara. Kiara tidak tau kenapa mereka bicara seburuk itu mengenai dirinya? padahal mereka saja tidak mengenal Kiara.
Kiara terkejut saat dia mendapat panggilan dari suaminya. Kiara pun akhirnya memutuskan keluar dari ruangan itu dan membuat beberapa wanita yang tadi membicarakannya terdiam.
"Gadis pintar, kamu pintar sekali menggoda seorang pria kaya. Kasihan sekali kamu, masih muda sudah menjual diri."
"Aku tidak menjual diri, kamu kalau bicara harus dijaga." Kiara tampak marah.
"Kamu kalau tidak menjual diri pada Arthur yang kaya raya itu, dia tidak mungkin akan mau sama kamu."
"Kami ini saling mencintai."
Byur!
Tiba-Tiba salah satu dari ketiga wanita di sana mengambil segayung air dan menyiramkan pada tubuh Kiara.
"Kamu pantasnya memang disiram dengan air agar tubuh kamu bersih, tidak jadi wanita kotor."
Kiara menangis sembari memegangi perutnya. Dia tidak mungkin akan mengajak gelud para wanita itu karena mengingat ada bayi kecil di dalam perutnya.
Kiara berjalan keluar dengan tubuh basah kuyup dan air mata yang sekarang keluar lebih banyak.
"Rencana kita berhasil, aku akan menghubungi Tante Kella dan meminta uang kita."
Kiara berjalan dengan tergesa-gesa. Arthur yang dari tadi menghubungi Kiara, tapi tidak dijawab tampak gusar.
"Kiara?" Kedua mata Arthur melihat Kiara yang berjalan dengan rambut dan baju basah mendekat padanya. "Kiara kamu kenapa?"
"Mas!" Kiara seketika menangis dalam pelukan Arthur.
"Kiara, katakan ada apa? Kenapa kamu bisa seperti ini?"
Kiara tidak menjawab, dia masih terus menangis dalam dekapan Arthur. Tia dan yang lainnya juga ikut kaget melihat hal itu, dan mereka segera menghampiri Kiara.
"Kak Arthur, Kiara kenapa?" tanya Tia cemas
Arthur hanya bisa menggeleng pelan. Dia akan membiarkan Kiara menuntaskan tangisannya agar lega.
Kiara dengan sesenggukan menarik tubuhnya dan menatap pada wajah suaminya yang juga sedang menunggu penjelasan Kiara.
"Kamu duduk dulu." Arthur mengajak istrinya duduk dan Tia segera memberikan air minumnya.
"Kiara, ada apa? Kenapa sampai bisa basah seperti ini?" Tia mengusap wajah dan rambut Kiara yang basah dengan saputangan yang dia bawa.
"Tadi di toilet ada beberapa wanita yang membicarakan tentang kita, Mas, tapi apa yang mereka katakan sangat menyakitkan."
"Apa yang mereka katakan?"
"Mereka bilang aku gadis yang pintar menjual diriku pada pria kaya seperti kamu." Kiara bercerita dengan terbata.
"Salah satu dari mereka menyiramku dengan air, katanya agar aku bersih, tidak menjadi wanita kotor." Kiara kembali menangis.
Kedua rahang Arthur seketika mengeras, tangannya pun mengepal sangat erat.
"Kiara, mana sih para wanita itu? Biar gantian aku siram mereka agar mulut dan pikirannya bersih dari hal buruk yang ada di hati mereka!"
"Iya, seenaknya saja dia bicara dan memperlakukan Kiara seperti ini!"
Teman-teman Kiara tampak sangat marah. Arthur membuka kemejanya dan menutupi tubuh istrinya.
"Kita sebaiknya kembali ke acara utama karena ada yang harus aku selesaikan di sana."
"Mas, kita pulang saja."
Arthur menatap istrinya lekat. "Apa kamu mau di mobil saja? Aku akan ke ruang utama."
"Mas mau apa? Ini hari spesial Mega dan kamu jangan membuat keadaan di sini menjadi tidak baik."
Kiara seolah tau jika suaminya ini pasti akan melakukan sesuatu dan itu bukan hal yang baik.
"Tidak akan ada apa-apa. Kamu tenang saja." Arthur mengusap lembut pipi istrinya.
Arthur meminta tolong Tia membawa Kiara ke mobilnya dan dia akan menemui keluarganya.
Acara di ruang utama masih sangat meriah dan para tamu juga terlihat saling bercengkrama satu sama lain.
Arthur berjalan menuju ke atas panggung dan mengambil alih mix yang dipegang oleh MC di sana.
"Kak Arthur mau apa?" tanya Mega heran.
"Selamat malam semuanya. Maaf, mungkin kalian bingung kenapa aku ada di atas sini. Pertama-tama perkenalkan namaku Arthur Maxian Lukas, dan aku adalah kakak dari gadis cantik yang bertunangan hari ini. Mungkin sebagian besar dari kalian tau siapa aku, tapi mungkin ada yang belum tau."
"Arthur sedang apa?" Alexa tampak terkejut melihat putranya di sana.
"Aku sangat senang sekali melihat senyum bahagia di wajah adik yang paling aku sayangi, tapi di sini juga aku merasa kecewa dengan apa yang sudah terjadi pada wanita yang datang bersamaku. Aku ingin memberitahu pada kalian tentang siapa wanita yang datang bersamaku. Namanya Kiara Tizania, dia bukan dari keluarga kaya raya, Kiara hanya gadis sederhana yang baru saja lulus sekolah, dan dia adalah istriku." Wajah Arthur seketika terlihat dingin.
"Istrinya?" Semua orang yang memang tau siapa Arthur terkejut mendengar apa yang Arthur katakan.
"Arthur sudah menikah, Alexa? Dan istrinya hanya seorang gadis biasa?" tanya salah satu rekan bisnis ayah Arthur.
Alexa tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu rekan bisnis suaminya sekaligus teman sosialitanya.
"Perlu kalian tau, jika Kiara menikah denganku bukan karena dia melakukan sebuah rencana licik yang hanya ingin mengincar hartaku, tapi kamu menikah karena aku sangat mencintai Kiara, dan pernikahan kamu sudah berjalan beberapa bulan di mana Kiara tidak mau orang-orang mengetahui hal ini karena dia memang mencintaiku dengan tulus tanpa melihat siapa aku."
"Kenapa Arthur malah berbicara di depan semua orang? Pasti ini Kiara yang menyuruhnya agar aku menjadi malu dihadapan semua orang di sini," gerutu Alexa dengan wajah marah.
"Aku sangat mencintai istriku itu dan hari ini dia mendapat perlakuan yang sangat buruk dari beberapa wanita yang entah dari mana asalnya. Mereka dengan sangat buruk menghina istriku bahkan melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya mereka lakukan sebagai sesama wanita. Istriku bukan wanita kotor atau tidak tau diri seperti yang kalian katakan. Dia wanita terhormat dan memiliki attitude yang sangat baik, dan mungkin melebihi kalian yang menganggap status sosial kalian di atasnya."
"Memangnya apa yang sudah terjadi pada Kiara?" Elang berdialog dengan lirih.
"Di sini aku hanya ingin mengatakan agar tidak memandang seseorang dari status sosialnya karena kita semua sama. Oh ya! Dan satu lagi, aku akan mencari orang-orang yang sudah memperlakukan istriku dengan sangat buruk karena kalian harus meminta maaf pada istriku, jika kalian tidak melakukannya. Jangan salahkan jika sesuatu terjadi pada kalian. Terima kasih." Arthur benar-benar terlihat sangat marah di atas panggung itu.