Be Mine

Be Mine
Rencana Alexa dan Mega



Arthur dan Kiara berada di kantin karena mamanya sudah tidur setelah diberi obat. Mega memilih menunggu mamanya di dalam kamar.


"Kiara, bagaimana menurut kamu jika kita tinggal di rumah utama seperti apa yang mama inginkan?"


"Aku mau saja, Mas. Siapa tau dengan aku tinggal di sana perlahan mama dan Mega akan benar-benar menerimaku."


Arthur tampak terdiam sejenak. Dia ingat pembicaraan mamanya dengan dirinya tadi. Mama Alexa ingin Arthur dan Kiara tinggal di rumah utama setelah Mega menikah dengan Elang. Dia ingin kedua anaknya berkumpul di rumah besar itu karena di sana Alexa merasa kesepian sebab Alan lebih banyak menghabiskan waktunya di luar negeri untuk urusan bisnis. Sebenarnya Arthur agak sedikit curiga dengan keinginan mamanya itu, tapi dia tidak mau berpikir buruk pada Mamanya-- orang yang selama ini juga ikut andil menjaga dan membesarkannya, apa lagi selama ini dia dijaga dengan baik oleh mama sambungnya itu.


"Mas, kenapa?" Kiara melihat suaminya yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak ada apa-apa. Aku akan memikirkan dulu tentang keinginan mama itu. Kiara, aku akan mengantar kamu pulang dan setelah itu aku akan kembali ke sini untuk menemani Mega sampai nanti Elang datang.


Elang tadi dihubungi Mega dan dia akan segera kembali pulang.


"Jangan, Sayang, nanti kamu capek, apa lagi ini di rumah sakit dan kamu sedang hamil."


"Aku janji, kalau nanti Elang datang aku akan segera pulang." Arthur memegang tangan Kiara.


Kiara akhirnya menurut, dia di antar pulang dan sampai di apartemen, Arthur menitip pesan agar penjaga di sana juga benar-benar mengawasi Kiara dan tetap mengingatkan agar wanita yang dia pernah tunjukan fotonya dilarang masuk. Entah kenapa Arthur masih saja waspada pada Selena.


Arthur kembali ke rumah sakit dengan membawakan minuman hangat serta makanan untuk Mega.


"Apa mama tadi terbangun? Mama tidak bangun. Kak, kalau kamu mau pulang silakan, aku akan menjaga mama sendiri di sini sampai Elang datang."


"Aku akan menemani kamu sampai Elang datang. Kiara tadi sudah aku antar pulang walaupun dia ingin tetap berada di sini."


"Untuk apa juga dia di sini?"


"Mega, apa kamu tidak bisa memaafkan semua ini dan kembali menjadi Mega yang ceria dan tidak ada rasa benci. Apa kamu tidak ingat dengan kenangan kamu dan Kiara saat menjadi sahabat.


Mega ingat, tapi semua itu Mega lakukan karena ada rencana yang sedang dia jalankan. "Kak, aku sudah bilang kalau aku kecewa sama dia karena membohongiku dengan menikah diam-diam sama kamu. Aku seolah tidak dianggap sahabatnya. Jadi, sekarang untuk apa aku menganggap dia sahabat? Dan karena kehadiran dia di sini keluarga kita jadi seperti ini. Kak, aku sudah mengatakan hal ini. Kakak terserah mau berpikir apa, tapi jujur saja aku belum bisa memaafkan semua ini."


"Lalu, bagaimana tentang keinginan mama yang ingin aku dan Kiara tinggal bersama kalian setelah kamu menikah dengan Elang


Mega tampak terdiam sejenak. "Sebenarnya mama pernah bilang jika nanti kita sama-sama menikah dengan orang yang tepat. Mama ingin kita berdua tinggal di rumah utama karena Mama ingin selalu bisa berkumpul dengan anak-anaknya. Mama juga akan mengurangi aktifitasnya di luar, tapi ternyata salah satu menantu Mama bukan yang mama harapkan. Mungkin karena itu mama terus memikirkan hal ini dan akhirnya sakit."


Arthur juga ingat jika mamanya pernah bilang seperti itu. Arthur setuju, tapi saat ini hal itu sangat berbeda karena Kiara bukan menantu idamannya.


"Kakak turuti saja apa keinginan mama, mungkin lambat laut kita bisa menerima Kiara."


Tepat tengah malam Elang datang ke sana setelah Arthur meminta izin pada staf rumah sakit, dan karena Elang sudah datang, maka Arthur izin pulang, dan dia besok akan datang ke sana dengan Kiara.


"Mas, mama kamu tidak apa-apa, Kan?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu kenapa belum tidur?"


"Kau tidak bisa tidur, Mas. Oh ya! Mega sama Elang, kan? Dia tidak sendirian, kan?" tanya Kiara lagi.


"Iya dia bersama dengan Mega, kamu kenapa sangat cema? Sayang, apa di hati kamu tidak ada rasa benci dengan mamaku dan Mega?"


"Mas, aku tidak mau memiliki rasa benci karena hal itu malah akan membuat hidupku tidak nyaman. Mama dan Mega boleh membenciku, tapi aku tidak akan membenci mereka karena mereka keluargaku."


Arthur memeluk istrinya itu dengan hangat. Dia sangat senang memiliki istri sebaik Kiara dan mungkin jika dia mengajak Kiara tinggal bersama dengan mamanya, seperti yang tadi mamanya katakan, maka akan dapat membuat keluarganya dan istrinya menjadi dekat satu sama lain.


Di ruangan mamanya. Elang sudah tidur karena dia kecapean, sedangkan Mega tampak duduk di samping ranjang mamanya.


Alexa perlahan terbangun dari tidurnya dan melihat ada Mega di sana. "Sayang, kamu kenapa belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur, Ma. Mama sendiri kenapa malah bangun?"


"Mama sudah cukup tidurnya. Bagaimana akting mama? Bagus bukan?"


"Bagus. Sekarang semua orang percaya kalau mama sakit. Ma, jujur saja aku dari tadi memikirkan rencana membawa Kiara tinggal satu atap denganku dan Elang. Apa itu tidak salah?"


"Salah bagaimana?"


"Ma, bukan Elang pernah punya masa lalu dengan Kiara dan aku tidak mau ada cinta yang nanti tumbuh lagi karena Elang dan Kiara sering bertemu."


"Sayang, kamu jangan berpikiran seperti itu. Mama lihat Elang sangat mencintaimu, dan Kiara juga tidak akan suka sama Elang karena dia sudah mendapat mangsa yang jauh lebih besar."


"Tapi tetap saja aku masih khawatir, Ma."


"Kamu tenang saja nanti biar mama yang mengurus itu semua. Elang tidak akan mendekati Kiara lagi."


"Aku percaya saja sama apa yang Mama rencanakan. Kita harus secepatnya membuat Kiara dan Arthur berpisah, Ma." pandangan mata Mega menatap tajam.


Dia tidak sabar ingin sekali lagi membuat Kiara menderita, bahkan sangat menderita.


"Semoga kakak kamu mau pindah ke rumah. Mama tidak mau tiba-tiba sok sadar dan minta maaf agar kakak kamu kembali, nanti yang ada kakak kamu curiga. Jika kita masih menunjukan kebencian kita pada Kiara, tapi ingin mereka tinggal sebab mama ingin dekat dengan Arthur serta ingin mewujudkan keinginan Mama, mungkin hal itu akan diterima oleh kakakmu "


"Kiara, kamu akan merasakan kesedihan yang teramat saat orang yang kamu sayangi dan cintai akan meninggalkan kamu karena itu juga yang aku rasakan sekarang,"