
Kiara yang melihat wajah Kiano baru sadar jika dia memeluk pria lain. Kiara segera memundurkan langkahnya.
"Kamu tidak apa-apa, kan?"
"Aku takut, Kak Kiano. Di sana ada hantu." Wajah Kiara tampak pucat.
"Mungkin bukan hantu, tapi tikus. Ya sudah! Kalau begitu kita pergi dari sini saja nanti aku yang akan mengatakan pada Delia kalau kamu tidak bisa menjalani hukuman ini karena kamu tadi pingsan."
"Kita berbohong?"
"Tidak apa-apa. Aku juga seharusnya tidak membiarkan dia membuat hukuman seperti ini, walaupun niatnya hanya untuk menakuti saja, tapi hal ini bisa fatal akibatnya."
"Aku tidak bisa melakukannya, Kak." Kiara terisak.
"Maaf sudah membuat kamu menangis. Kita pergi saja dari sini."
Kiano mempersilakan Kiara jalan lebih dulu di depannya. Kemudian dia mengikuti dari belakang.
Kiano membawa Kiara ke ruang kesehatan, dan kebetulan di sana sedang sepi, Kiano menyuruh Kiara berbaring beristirahat agar nanti drama yang mereka buat seolah nyata.
"Mau aku belikan minuman hangat? Teh atau susu coklat hangat?"
"Aku tidak mau, ini aku sudah membawa minuman sendiri. Oh ya, Kak Kiano, aku lupa mau memberikan ini sama Kakak." Kiara mengeluarkan termos botol milik Kiano. Kiano tersenyum melihat termos botolnya.
"Aku sebenarnya sudah lupa ke mana termos ini, kalau kamu membutuhkannya, ambillah."
Kiara menggeleng dengan cepat. Dia tidak mungkin mengambilnya. Mau perang dunia ke sepuluh sama Arthur.
"Aku mau mengembalikannya."
"Ya sudah kalau begitu." Kiano mengambil termos miliknya. "Kiara, aku minta maaf tadi sudah memeluk kamu, seharusnya hal itu tidak boleh aku lakukan."
"Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu, Kak Kiano karena tadi aku malah berlari tidak melihat dan langsung memelukmu."
"Wajar sih karena kamu sedang ketakutan."
"Eh, tapi kenapa tadi Kak Kiano bisa ada di sana?"
"Aku tadi mau melihat kamu karena takut kamu pingsan seperti waktu itu. Bagaimanapun juga aku nanti yang harus bertanggung jawab dengan semua yang terjadi pada masa OSPEK ini."
"Kak, nanti soal kak Delia, bagaimana?"
"Tenang, nanti aku yang akan mengurusnya. Sekarang aku akan pergi dulu dan kamu di sini saja sampai nanti ada yang menyusulmu ke sini." Kiano berjalan pergi dari sana.
Kiano kembali ke kelas dan dia memberitahu jika Kiara ada di ruang kesehatan karena pingsan, dia ketakutan di gudang belakang sekolah. Delia sedikit terkejut mendengar hal itu.
"Sebaiknya hentikan saja hukumannya karena jika sampai ada apa-apa, maka mereka bisa dapat masalah yang besar.
Delia akhirnya menurut dan dia menyuruh seseorang menjemput Kiara yang ada di tempat kesehatan.
Kiara kembali ke kelas dan mereka semua mengumpulkan dena kampus yang sudah mereka buat.
"Kiara, ini kamu yang membuat sendiri?" tanya Delia sembari menunjukkan gambar dena kampus milik Kiara.
"Itu aku membuatnya dibantu oleh kekasihku, Kak."
Pandangan Kiano seketika melihat pada Kiara.
"Gambarnya aku akui bagus sekali dari sekian banyak yang mengumpulkan, gambar milik kamu sangat bagus."
"Terima kasih, Kak."
"Aku tidak memuji kamu, tapi kekasihmu."
Kiara hanya bisa tersenyum ada kecil. Mas Arthur memang terbaik bagi Kiara.
Kegiatan hari ini sudah selesai dan Kiara berjalan ke luar dari dalam gedung kampusnya, dia berjalan bersama dengan Momo.
"Kiano!" panggil Momo yang melihat Kiano berjalan nyelonong ke arah tempat parkir sepeda motor.
"Aku pulang bareng sama kamu, ya?"
"Aku mau ke rumah sakit, memangnya kamu mau ikut?"
"Iya, tidak apa-apa. Lagi pula aku sudah lama tidak bertemu dengan Tante Aya."
"Aku mau mengambil motorku dulu." Kiano melihat ke arah Kiara dengan wajah datar lali dia pergi ke tempat parkir.
Momo melihat ada yang aneh dengan wajah Kiano saat melihat pada Kiara. Pun dengan Kiara.
"Ada apa sih?"
"Maksud kamu?" Kiara heran dengan pertanyaan Momo.
"Kamu sama Kiano, kenapa aku melihat ada hal yang tidak biasanya?"
"Aku tidak ada apa-apa sama Kiano."
"Serius?" Momo melihat curiga pada Kiara.
"Tentu saja, memangnya aku ada apa?"
"Sayang!" terdengar suara panggilan dan Kiara melihat ada sosok sang suami yang dia cintai sudah berdiri di depan pintu mobilnya.
"Mas Arthur!" Wajah Kiara seketika tampak bahagia. Momo yang melihat Arthur di sana mulutmu sampai terbuka lebar.
"Dia kekasih kamu?" Kiara mengangguk. "Kamu serius?" Sekali lagi Momo terlihat tidak percaya.
"Iya, dia kekasihku-- orang yang sangat aku cintai. Mau aku kenalkan?"
"Dia tampan sekali, dan bukan seperti Om-om yang ada di pikiranku." Momo melihat Arthur dari atas sampai bawah dan kembali lagi ke atas dengan mulut terbuka lebar.
Arthur yang kala itu hanya memakai kemeja putih dengan kedua lengan di tekuk ke atas memang tampak mempesona. Dia berjalan mendekat pada Kiara dan mendaratkan kecupan pada dahi Kiara.
"Aku tidak terlambat menjemput kamu, kan?"
"Aku baru saja keluar dari kelas, Mas. Mas, ini kenalkan. Dia Momo yang waktu itu aku ceritakan sama Mas Arthur.
"Halo, Momo." Arthur mengulurkan tangannya dan Momo menjabat tangan Arthur.
"Halo! Jadi, kamu kekasihnya, Kiara?"
"Kekasih?" Arthur melihat bingung pada Kiara. Kiara langsung mengangguk cepat. "Oh, iya." Wajah Arthur seketika berubah.
"Ternyata kekasih Kiara tampan sekali. Maaf, waktu Kiara bercerita jika kekasihnya sudah bekerja dan usia kalian beda jauh, aku kira Kiara pacaran sama Om-om, tapi setelah melihat kamu, ternyata Kiara tidak salah pilih kekasih." Arthur hanya menanggapi dengan senyum yang dipaksakan.
"Momo, ayo pulang!" teriak Kiano dari arah yang agak jauh dari Kiara dan Arthur berdiri.
"Iya, Kiano! Kiara dan Mas Arthur aku pergi dulu. Eh, iya! Kapan-kapan kita bisa keluar bareng. Nanti aku ajak Kiano juga biar kita bisa berkenalan dan berteman."
"Iya, Momo. Hati-hati ya, Momo."
Momo melambaikan tangan dan berlari pergi menemui Kiano. Kiano yang ada di atas motornya dengan helm tertutup, melihat pada Kiara dan Arthur.
Arthur memeluk Kiara dengan erat dan bahkan sekali lagi mengecup pucuk kepala Kiara. Dia seolah sedang menunjukan pada orang yang wajahnya ada di balik helm itu, jika Kiara adalah miliknya. Posesif Arthur kembali kumat.
Momo yang sudah di atas motor Kiano melambaikan tangannya sekali lagi pada Kiara. Kiara pun membalas hal yang sama.
"Itu yang namanya Kiano? Apa sudah kamu kembalikan botol termosnya?"
"Sudah, Mas. Mukanya kenapa cemberut seperti itu?"
"Kenapa tidak bilang kalau kamu sudah menikah denganku? Malu punya suami Om-om?"
"Mas ini bicara apa sih? Jangan mulai deh, Mas!" Wajah Kiara tampak kesal saat suaminya mulai kumat posesifnya.
"Kita bicara di rumah saja." Arthur menggandeng tangan Kiara dan mereka berjalan menuju mobil.