Be Mine

Be Mine
Malam Pertama part 1



Kiara melihat ke arah suaminya, dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Arthur.


"Ma, sebelumnya aku minta maaf karena harus mengatakan hal ini." Kiara seketika melihat heran pada suaminya.


"Ada apa memangnya, Arthur?"


"Ma, aku sudah putuskan jika kami tidak bisa tinggal di rumah utama bersama dengan kalian."


Wajah Kiara seketika berubah heran. "Mas, kenapa begitu? Bukannya waktu itu kamu setuju dan kamu tidak bilang masalah tentang tidak jadi tinggal di rumah utama."


"Nanti akan aku jelaskan sama kamu. Aku minta maaf jika keputusan ini aku ambil tanpa berbicara denganmu."


"Arthur, mama ini sudah mau menerima Kiara menjadi bagian dari keluarga kita, makannya mama mengajak dia untuk tinggal di rumah utama."


"Iya, Kakak ini bagaimana? Aku sudah sangat senang jika Kiara mau tinggal di rumah utama denganku. Nanti aku bisa menjaga Kiara dsn bayinya."


"Mas, kamu ini kenapa?"


Arthur memegang tangan istrinya. "Ma, sekali lagi aku minta maaf dengan keputusan yang sudah aku ambil ini, tapi lebih baik aku dan Kiara tinggal di tempat kami berdua karena aku bisa lebih banyak memilik privasi dengan Kiara."


"Kakak kenapa? Apa Kakak takut karena Kiara akan tinggal satu rumah dengan Elang? Kak, Elang itu sudah menjadi suamiku dan aku yakin dia sudah melupakan Kiara, bahkan istri kamu malah sudah lama menganggap Elang hanya sebagai teman baik."


Elang menatap datar pada Mega. Di dalam hatinya dia ingin sekali mencekik Mega karena Mega lah yang sudah membuat dirinya dan Kiara berpisah.


"Bukan karena itu, Mega. Aku percaya akan kesetiaan Kiara, hanya saja aku memang ingin hanya tinggal berdua dengannya sebelum nanti anak kita lahir.


"Hormati saja keputusan Arthur yang memang tidak ingin tinggal di rumah utama, lagi pula akan lebih baik jika berumah tangga tidak tinggal dengan orang tua ataupun mertua."


Alexa melihat kesal pada suaminya yang malah mendukung keputusan Arthur, padahal Alexa dan Mega ingin jika Kiara bisa tinggal di rumah utama agar Kiara tidak sampai melahirkan pewaris utama keluarga Lukas.


"Kalau di rumah aku selalu di temani oleh ayah, maka aku tidak akan kesepian sampai berharap kedua anakku tinggal di sana mengajak pasangannya."


"Kamu tau sendiri bagaimana pekerjaanku. Setelah semua ini selesai, aku janji akan lebih banyak menemani kamu." Alan memegang tangan istrinya.


"Mas, apa sudah bulat keputusanmu untuk tidak tinggal di rumah utama?"


"Sudah, Kiara dan nanti kita akan bicarakan ini di rumah saja." Arthur berdiri dan mengajak Kiara untuk berpamitan karena mereka berdua harus pulang sekarang.


Acara pernikahan Mega benar-benar selesai. Arthur yang sudah sampai di rumahnya sedang membuatkan susu ibu hamil untuk Kiara yang sedang ngambek di dalam kamarnya.


"Sayang, minum susunya dulu."


Kiara dengan cepat mengambil gelas dari tangan suaminya dan dia meneguk susu itu hingga habis.


"Ini!" Kiara memberikan gelasnya dengan wajah cemberut.


"Marah denganku karena aku tidak jadi tinggal di rumah utama?"


"Mas ini tidak mau aku diterima oleh keluarga Mas Arthur ya? Kalau aku tinggal di sana, nanti aku bisa lebih dekat dengan mama Alexa dan hubunganku bisa sangat baik. Aku juga kan ingin kembali merasakan memiliki seorang ibu. Kata orang-orang kalau ibu mertua itu sama seperti ibu sendiri jika menantu tinggal di rumah mertuanya."


Arthur duduk di depan istrinya. Tangannya pun mengusap lembut pipi Kiara. "Kalau ibuku masih ada, aku pasti akan senang kamu bisa dekat dan tinggal dengannya, tapi ini mama Alexa, Kiara."


"Memangnya kenapa kalau mama Alexa? Bukannya dia ibu sambung kamu dan kamu sudah menganggapnya ibumu sendiri."


"Itu benar, tapi mama Alexa belum menganggap kamu menantunya."


"Maksud Mas Arthur?"


"Bagaimana jika aku katakan kalau mamaku memiliki maksud tertentu dengan menyuruh kita tinggal di rumah utama." Kiara tampak bingung.


"Niat jahat maksud, Mas Arthur?"


"Mas kenapa malah berpikiran buruk sama mama kamu sendiri?"


"Kiara, aku tidak berpikiran buruk, tapi apa yang terjadi sama kamu waktu itu yang hampir saja menyakiti bayi dalam perutmu, aku sudah merasa jika mereka hanya ingin menyakitimu, dan aku putuskan lebih baik menjauhi mereka."


"Itu hanya kecelakaan yang tak disengaja atau di rencanakan, Mas."


"Sayang, aku sudah mengambil keputusan dan aku harap kamu mengikuti apa yang aku putuskan. Aku sangat mencintaimu dan tidak mau kamu sampai terluka. Lagi pula lebih menyenangkan jika kita bisa berdua seperti ini." Arthur mengecupi leher Kiara dengan lembut.


"Aku tau, Mas, tapi akan lebih menyenangkan lagi jika kita bisa bersama terus anggota keluarga lainnya, akan lebih ramai maksudku."


"Kalau begitu kita memiliki anak lebih dari satu saja, misalnya lima."


"Hah? Lima?"


"Katanya ingin terlihat ramai."


"Iya, tapi aku tidak disuruh hamil sampai lima kali, Mas. Mas saja yang hamil."


"Kalau aku bisa, aku mau menggantikan kamu, tapi aku kan tidak bisa, Kiara."


"Sudahlah! Sebaliknya aku tidur saja daripada capek bicara sama Mas Arthur, apa lagi aku besok kuliah."


Kiara malah berbaring di sebelah Arthur dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. "Kiara."


"Aku lelah, Mas, jadi jangan meminta itu denganku."


"Itu apa? Bercinta maksud kamu?" Kiara mengangguk. "Siapa yang minta bercinta, Sayang? Aku hanya mau mengambil bantalku yang kamu pakai."


Kiara malah tersenyum. "Mas Arthur menyebalkan!" Kiara tidur membelakangi Arthur setelah memberikan bantal Arthur.


Arthur pun tidur dan memeluk Kiara dari belakang. Kiara sebenarnya sangat sedih dan kecewa karena tidak jadi tinggal di rumah utama, tapi setelah mendengar apa yang suaminya katakan, dia memang harus mematuhi walaupun dia masih ragu, apa benar jika mertuanya itu hanya pura-pura baik padanya?


Di dalam kamar hotel yang dihias seperti sebuah kamar pengantin, tampak Elang sedang berdiri di dekat meja dengan beberapa minuman hangat di sana.


"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Mega yang melihat punggung suaminya.


"Aku sedang membuatkan kamu teh hangat. Kamu hari ini pasti lelah dan butuh minuman yang hangat."


Elang tersenyum dan segera memberikan secangkir teh pada gadis yang baru dia nikahi.


"Terima kasih ya, Sayang." Mega dengan perlahan meminum teh buatan Elang. Elang pun menyeruput tehnya.


Mega meletakkan cangkir tehnya dan sekarang dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Elang.


"Lang, aku sangat bahagia sekali hari ini."


"Aku juga sangat bahagia sekali, Mega." Tangan Elang melingkar pada pinggang Mega.


"Kamu capek tidak?"


"Sedikit."


Mega tersenyum malu. "Lang, aku mau malam ini kita melakukan malam pertama di sini."


"Apa kamu sudah siap? Aku lihat wajah kamu tampak lelah."


"Aku memang lelah, tapi aku akan melakukan tugasku sebagai seorang istri."


Elang menunjukkan senyum tipisnya.