
Morgan menggeleng dengan cepat, sepertinya dia sudah membuat sahabatnya, yaitu Elang marah lagi, tapi memang Morgan suka melihat wajah Elang jika marah seperti itu. Habisnya Morgan kesal pada Elang. Elang itu pria yang tidak berani untuk mempertahankan orang yang dia cintai hanya karena takut hidupnya menderita sebab diancam semua fasilitas kemewahannya akan dicabut oleh mamanya.
Meskipun playboy Morgan jika sudah benar-benar jatuh cinta dengan seorang gadis, dia akan mempertahankan meskipun dia akan mendapat kesulitan nantinya karena mendapat gadis yang tepat itu sangat-sangat sulit.
"Elang, lelaki tadi bukan kamu, kan yang mengirim untuk mempermalukan Kiara seperti itu agar Arthur berpikiran jika Kiara gadis yang tidak baik?" tanya Morgan melihat serius pada Elang.
"Kamu menuduhku berbuat hal itu pada Kiara tentu saja aku tidak akan melakukan hal seperti itu pada gadis yang aku cintai."
"Bisa saja, Lang. Bisa saja kamu melakukannya karena kamu ingin Arthur membenci Kiara sehingga kamu nanti bisa mendekati Kiara lagi."
"Aku tidak mungkin sejahat itu sampai merendahkan Kiara. Kalau mau merebut Kiara lagi, nanti setelah aku mendapatkan posisi di perusahaan ayahku diriku dan Arthur akan setara."
"Kalau begitu siapa ya pria tadi? Dan kenapa dia juga sangat tahu tentang masalah ayah Kiara waktu itu? Apa benar Kiara tidak mengenal pria itu? Kenapa Kiara malah terlihat seolah-olah dia gadis yang nakal?" Morgan tampak sedang berpikir.
Undangan ke kamarnya Arthur pun tetap di laksanakan. Mega mengajak teman-temannya pergi ke lantai paling atas menuju ke kamar Arthur.
"Selamat datang dan silakan masuk." Arthur menyambut dengan ramah teman-teman Mega.
"Selamat malam, Kak Arthur!" sapa mereka serentak.
"Waw! Kamar Kak Arthur benar-benar sangat indah." Tia tampak berbinar kedua matanya melihat kamar Arthur yang cukup luas dan di dominasi warna putih. Di sana tidak banyak perabotan, malahan perabotan di sana terkesan minimalis sehingga ruangan Itu tampak sangat besar.
"Kak Arthur, rencana menginap di sini berapa hari? Kalau kami 'kan di sini 3 hari, kalau Kak Arthur berapa hari?" tanya Mega.
"Aku tidak tau, mungkin sampai pekerjaan aku selesai."
"Kak Arthur, kenapa ke sini tidak membawa kekasihnya? Bukankah pemandangan di sini sangat indah, dan pasti sangat romantis jika datang ke sini dengan pasangan kita."
"Hm ...! Kamu sok tau dengan kata-kata romantis, padahal pacar saja selalu putus setelah jalan tiga hari. Terakhir itu kamu jalan seminggu dan akhirnya putus. Kenapa begitu sih, Tia?"
"Kata simbahku, aku tidak boleh pacaran lama-lama, karena nanti takut banyak setan mendekat dan akhirnya terjadi hal yang diinginkan." Tia malah bicara ngasal dan tertawa dengan senangnya.
Arthur tampak senang melihat Kiara sudah bisa tersenyum di sana. Dia ingin sekali memeluk erat istrinya itu, tapi tidak bisa dia lakukan. Jadinya dia hanya bisa menautkan jarinya dengan jari Kiara di belakang punggung Arthur agar tidak diketahui oleh teman-teman Kiara, dan posisi mereka juga sangat pas. Di mana Kiara berdiri tepat di sebelah Arthur.
"Apa yang Kak Arthur tadi lakukan benar-benar hal yang keren. Terima kasih Kak Arthur sudah membela sahabat kami. Pria itu memang pantas untuk di hajar karena mulutnya dan tingkah lakunya itu sangat buruk."
"Kamu benar, Tia. Kiara tidak berhak dipermalukan seperti itu." Arthur melihat ke arah Kiara yang juga sedang menatapnya. "Kamu baik-baik saja, kan, Kiara?"
"Aku baik-baik saja, Mas Arthur. Terima kasih tadi sudah membelaku seperti itu dan percaya jika apa yang dikatakan lelaki itu tidak benar."
"Aku percaya padamu, Kiara." Kedua mata mereka saling menatap dalam. Arthur dan Kiara tidak tau jika apa yang sedang mereka lakukan itu dilihat oleh Mega.
Arthur memesankan pelayanan kamar yang terbaik untuk hari ini karena dia senang bisa mengenal baik teman-teman Mega, tapi tujuan utamanya supaya dia bisa bersama dengan istrinya. Dia bisa menghabiskan malam melihat wajah istrinya.
"Kak Arthur makanan ini enak sekali! Kak Arthur masih lama di sini?"
"Aku sendiri tidak tau berapa lama aku di sini. Memangnya ada apa?"
"Kalau masih lama, aku mau sering-sering diundang makan bersama di sini karena makanan ini enak semua." Tia mengelap mulutnya.
"Eh, teman-teman, kita nanti tidak bisa lama di sini karena besok pagi kita harus bangun pagi-pagi sekali untuk ke pantai melihat matahari terbit. Bukankah ini salah satu list kita juga datang ke sini."
"Kamu tenang saja, Kita semua di sini itu juaranya bangun pagi, kecuali Mega." Mereka serentak melihat ke arah Mega.
"Aku bangun pagi itu untuk apa? Masak juga tidak, cuci baju juga tidak. Kalaupun aku melakukan itu nanti kasihan pelayan di rumahku tidak mengerjakan apa-apa. Jadi, kalau tidak sekolah aku ya bangunnya siang saja," ucap Mega dengan berpangku tangan. Ketiga temannya malah bersorak.
"Mas Arthur, apa boleh aku meminjam kamar mandi sebentar?" tanya Kiara.
"Tentu saja boleh, Kiara, kamu pakai saja kamar mandi yang ada di dalam kamarku."
"Terima kasih kalau begitu."
Tangan Arthur menjulur salah satu mempersilahkan Kiara masuk duluan.
"Mega, Kakak kamu itu benar-benar pria idaman loh, dia juga sangat sopan, lihat saja tadi dengan Kiara. Dia juga seorang jagoan, tidak takut sama sekali dengan pria tidak jelas itu."
Mega tidak mendengar apa yang temannya itu katakan, dia malah fokus melihat Kiara dan Arthur yang sama-sama masuk ke dalam kamar.
"Mega! Kamu lihatin apa, sih?" Tangan Tia yang menggoncangkan tubuh Mega seketika membuat gadis itu tampak tersadar dan melihat pada Tia.
"CK! Ada apa sih, Tia?"
"Aku tadi sedang memuji kakak kamu, dan bertanya padamu, tapi kamu kelihatannya sibuk memperhatikan sesuatu."
"Tidak ada. Kamu itu jangan memuji kakakku terus, percuma saja karena kakakku itu sudah ada yang punya. Nanti kamu yang ada malah menderita seperti aku, mencintai orang yang mencintai orang lain," ucap Mega terdengar sedih.
Tia yang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Mega tampak bingung. Tia melihat pada ketiga temannya yang menjawab kebingungan Tia dengan isyarat mengangkat bahu acuh ke atas.
Di dalam kamar ternyata Kiara sedang memeluk erat suaminya, dia menangis dengan menahan suara tangisannya agar teman-temannya di luar tidak ada yang mendengar.
"Menangis saja agar kamu merasa lega, Sayang, aku tahu hari ini benar-benar hari yang tidak kamu harapkan. Pria itu benar-benar brengsek! Bisa-bisanya dia membuat drama seperti itu."
"Mas, kamu percaya padaku, kan? Kalau aku tidak mengenal pria itu."
"Aku percaya padamu, Kiara, sangat percaya. Kamu hanya mencintaiku dan tidak akan mungkin selingkuh dengan pria lain apa lagi pria seperti tadi."
"Aku juga benar-benar shock tiba-tiba dia itu datang dan mengatakan bahwa dia mengenalku dan dia memiliki hubungan yang jauh denganku, padahal aku sama sekali belum pernah melihat dia sebelumnya, dan kejadian yang benar-benar membuat aku tidak percaya adalah saat dia melempar uang padaku. Aku bukan wanita murah yang bisa dibeli dengan uang seperti itu." Kiara kembali menangis dengan memeluk erat suaminya.
Tangan Arthur mengusap lembut kepala Kiara, dan menyematkan kecupan kecil pada keningnya.
"Sudah, sekarang kamu lupakan saja kejadian itu jangan diingat-ingat lagi, kalau kamu ingat terus malah akan membuat kamu sakit, Sayang." Kiara mengangguk.
Arthur memilih keluar lebih dulu dari dalam kamarnya agar tidak ada yang curiga. Dia keluar sembari berjalan dengan menelepon seseorang.
Tidak lama Kiara yang keluar dari kamar Arthur dan segera menuju meja ruang tamu di mana teman-temannya menunggu.
"Kamu habis menangis lagi, Kiara?" tanya Mega yang melihat mata Kiara agak sembab.
"Aku tidak apa-apa, Mega. Tadi di dalam kamar mandi, aku hanya teringat saja kejadian tadi, tapi aku akan mencoba melupakannya."
"Bagus kalau kamu punya pikiran seperti itu, Kiara. Kita di sini itu ingin bersenang-senang setelah capek mikir pelajaran dan ujian. Jadi, kita nikmati saja liburan kita di sini dengan bahagia karena setelah ini kita akan kembali berkutat dengan buku."
"Iya, tidak menyangka kita akan menjadi anak kuliahan."
Malam itu mereka bersenda gurau bersama-sama. Sampai tepat pukul sembilan malam, Mega dan Kiara izin kembali ke kamarnya. Sebenarnya tadi Arthur mengirim pesan agar nanti malam Kiara tidur lagi di kamar Arthur, tapi Kiara bilang jika hal itu sulit dilakukan karena pasti Mega yang peduli pada Kiara apa lagi setelah kejadian ini tidak akan memperbolehkan Kiara keluar sendirian.
Mega dan Kiara yang berjalan menuju kamarnya terkejut karena melihat ada Elang berdiri di depan kamar Kiara dan Mega.
"Untuk apa Elang ada di sini?"
"Aku juga tidak tau, Mega."
"Dia pasti sedang mencarimu seperti biasa Kiara." Mega berjalan dengan malas.
Kiara berlari kecil untuk menyusul langkah sahabatnya itu.
"Lang, kamu ada apa malam-malam datang ke sini?" tanya Mega.
"Mega, aku ingin bicara denganmu, apa bisa kita bicara berdua?"