Be Mine

Be Mine
Perkelahian



Sarapannya pagi sudah tersedia. Mega turun dan melihat ada kakak dan sahabatnya sudah ada di meja makan.


"Kalian sudah di sini?"


"Iya, tadi aku bingung mau melakukan apa setelah mengerjakan latihan soal. Jadi, aku turun dan mau membantu pekerjaan di dapur."


"Kamu itu kenapa malah berkerja di sini? Biar aku bicara dengan kepala pelayan di sini."


"Mega, tidak perlu seperti itu. Mereka sebenarnya tidak memperbolehkan, tapi aku memaksa."


"Iya, dan aku yang sudah mengizinkannya. Kita makan saja sekarang karena aku sudah lapar, dan ini salad sayur kamu. Kakak sendiri yang membuatkan untukmu." Arthur memberikan semangkuk salad sayur pada Mega.


"Wow ...! Terima kasih, Kak."


"Kamu suka sekali dengan salad sayur."


"Iya, kita harus makan sayur, tidak hanya menyehatkan, tapi bisa membuat aku tetap langsing dan cantik," ucapnya genit.


Kiara tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya itu.


Mereka sudah selesai makan pagi dan siap berangkat ke sekolah. Saat berjalan keluar Kiara agak bingung karena di sana dia tidak melihat ada mobil Mega. Malahan ada dua motor yang satu motor sport dan satu motor matic.


"Kiara, kita naik motor saja ke sekolah hari ini."


"Mobil kamu rusak?"


"Tidak rusak, tapi tadi pak supirku memberitahu jika terjadi banjir di jalan menuju ke arah sekolah, apa lagi ada pohon tumbang dan pastinya macet. Kita naik motor untuk menghindari kemacetan," terang Mega.


"Kita akan mencari jalan pintas menuju ke arah sekolahmu."


"Ayo, Kiara!"


Kiara bingung karena dia melihat Mega yang sudah naik ke atas motor matic dan ada pria paruh baya yang tak lain adalah supir Mega berada di depan Mega.


"Aku sama siapa?"


"Denganku, Kiara." Arthur menggulung lengan kemeja hitamnya dan dia memberikan helm pada Kiara.


"Sama kamu? Mega, kenapa kamu tidak naik motor dengan kakakmu saja?"


"Aku? Dibonceng Kak Arthur? Mending aku tidak masuk sekolah. Kamu sama Arthur saja dan jangan lupa berdoa sebelum motornya jalan." Mega terkekeh dan dia menyuruh supirnya jalan.


"Mega ...!" panggil Kiara, tapi Mega sudah pergi dari sana.


"Naik, Kiara. Kamu tidak mau terlambat 'kan?" Kiara melihat pada Arthur dengan wajah datar . "Kiara, kamu hari ini ada ujian."


"Iya." Kiara naik ke atas motor dengan wajah ditekuk.


"Pegangan yang erat karena aku tidak mau disalahkan kalau kamu jatuh."


"Begini saja dan aku tidak akan jatuh jika kamu tidak mengebut."


Arthur tidak mau banyak bicara, dia menarik tangan istrinya agar mau memeluknya. "Aku pastinya akan mengebut karena untuk mengejar waktu masuk sekolahmu dan hari ini aku ada rapat di kantor."


"Kalau bingung dengan rapat kamu, kenapa tidak menyuruh salah satu supirmu lagi saja mengantarku? Atau kalau tidak biarkan aku naik motor online saja?"


"Enak saja, kalau begitu kamu harus memeluk pria lain. Jangan berharap Kiara."


Hati kecil Kiara ingin sekali tersenyum mendengar apa yang Arthur baru saja katakan.


Mereka berdua berangkat menuju sekolah Kiara. Dan benar saja jalanan di sana banjir dan macet, tapi Arthur sudah berbelok mencari jalan pintas menuju sekolah mereka yang hanya bisa menggunakan motor karena jalannya tidak terlalu besar.


"Kiara, nanti kalau kamu tinggal di rumahku, kamu tidak perlu membawa baju atau keperluanmu lainnya, hanya alat sekolah saja karena nanti aku akan mengajak kamu berbelanja kebutuhanmu."


"Itu penting bagiku, Kiara karena sudah kewajibanku memenuhi semua kebutuhan istriku."


"Nanti yang susah kamu kalau rumahmu ada banyak barangku. Arthur, perjanjian itu hanya tiga bulan dan saat kita berpisah dan kamu menikah lagi dengan wanita yang kamu cintai dan mencintaimu, barang-barangku akan menjadi masalah nantinya karena aku tidak mau membawa serta itu."


"Kita tidak tau apa yang terjadi nanti di perjalanan tiga bulan itu Kiara." Arthur samar menunduk melihat tangan Kiara yang memeluknya dengan erat.


Mereka sampai di depan gerbang sekolah. Kiara melepaskan pelukannya dan turun dari motor Arthur. "Arthur, aku tidak bisa mengecup tangan kamu karena di sini banyak yang akan melihatnya nanti, apa lagi ada Mega juga."


"Tidak apa-apa. Kamu kerjakan soalnya dengan tenang dan teliti. Aku pergi dulu, nanti aku jemput."Kiara mengangguk dan Arthur pergi dari sana


Kiara masuk ke dalam gedung sekolah dan dia melihat ada Elang di sana. Elang berjalan menghampiri Kiara, tapi Kiara mencoba menghindari Elang.


"Kiara, aku ingin bicara sebentar sama kamu." Tangan Elang menahan tangan Kiara.


Arthur yang ternyata belum pergi dari sana melihat hal itu. Arthur ingin turun dari motornya karena dia tidak suka melihat tangan istrinya dipegang oleh Elang, tapi niatnya itu diurungkan karena melihat ada Mega di sana, dan Arthur berharap Mega membuat Elang menjauhi Kiara.


"Ada apa, Elang?" Kiara mencoba melepaskan tangan Elang.


"Kiara, aku hanya memegang tanganmu. Kenapa? Apa kamu lebih suka disentuh oleh Kakaknya Mega?".


"Apa maksudmu?"


"Aku sudah curiga, kamu dan kakaknya Mega itu ada hubungan, kan? Kamu bahkan tidak merasa risih saat memeluk di atas motor."


"Aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu karena memang itu tidak perlu."


Kiara yang hendak pergi sekali lagi ditahan tangannya oleh Elang. "Apa saja yang sudah Arthur lakukan padamu?"


"Lepaskan, Lang," Kiara mengatakan dengan menekankan ucapannya pelan.


"Aku juga bisa memberikan apa yang Kakaknya Mega berikan sama kamu. Bahkan mungkin ciumanku lebih baik dari Arthur. Dia pasti sudah pernah menciummu 'kan?


"Jangan bicara sembarangan Elang!"


Kiara tidak mau mendengarkan Elang karena apa yang Elang katakan sangat menyakitkan dia. Arthur yang melihat dari tempatnya tersenyum senang melihat penolakan yang dilakukan oleh Kiara.


"Kiara." Elang tiba-tiba memeluk Kiara dari belakang.


Kiara langsung terpaku di tempatnya. Mega yang melihat dari tempatnya berdiri dari tadi tampak mendelik.


Bruk!


Tubuh Elang tersungkur ke tanah. "Jangan menyentuhnya seperti itu!"


"Arthur?" Kiara tampak mendelik melihat Arthur melempar tubuh Elang ke tanah.


"Kakak!" Mega berlari menuju kakaknya.


Elang dengan cepat bangkit dan mendorong tubuh Arthur dengan marah. "Memangnya apa urusanmu dengan Kiara. Kiara itu kekasihku."


Arthur mengeraskan kedua rahangnya, dia ingin sekali menghajar Elang, tapi Kiara dengan cepat menahan tubuh Arthur.


"Arthur! Jangan membuat keributan di sini."


"Kakak ini kenapa?" Mega tampak bingung melihat hal ini.


"Kiara dan kamu sudah putus, dan dari tadi aku lihat kamu sudah berlalu tidak sopan dengan memaksa ingin memegang Kiara, padahal dia tidak mau. Jaga sikapmu!"


"Aku tidak pernah mau memutuskan Kiara. Kiara yang memang ingin putus, tapi aku sama sekali tidak mengiyakan hal itu."