
Kiara dan beberapa teman lainnya berkumpul di lapangan kampus untuk mengikuti OSPEK. Di depan mereka sudah berdiri seorang gadis yang adalah salah satu panitia kegiatan OSPEK kali ini.
Dia sedang memberitahu apa saja tugas yang harus mereka kerjakan selama satu minggu ke depan. Kiara dan Momo dengan fokus mencatat semuanya ke dalam buku note kecil yang mereka bawa.
"Malas sekali harus menggambar Dena kampus ini. Aku itu paling benci pekajaran menggambar dulu di sekolah, eh kuliah masih saja di suruh menggambar," gerutu Momo.
"Kamu gambar sebisanya saja, aku sendiri juga tidak pandai menggambar, tapi tugas ini harus kita kerjakan, kalau tidak nanti kita mendapat hukuman. Kamu pasti tidak mau kalau sampai di hukum."
"Tentu saja tidak mau. Aduh!" seru Momo kesal.
Kiara yang terseyum melihat sikap teman barunya itu. Dia kemudian ingat jika suaminya itukan pandai menggambar. Jadi, nanti dia minta tolong saja pada suaminya itu.
"Kalian berdua! Jangan bicara sendiri kalau aku sedang memberitahu tentang tugas yang harus dilakukan!"
"I-iya, Kak. Aku minta maaf."
Gadis dengan rambut dikuncir ekor kudanya itu melihat terus pada Kiara. "Kamu yang memakai tas berwarna toscha, maju ke sini!"
"Saya, Kak?"
"Iya kamu! Memangnya ada di sini yang memakai tas berwarna aneh selain kamu?"
"Kok aneh sih, Kak. Warna ini kan bagus," celetuk Kiara.
"Pakai jawab juga. Sini, kamu!"
Kiara yang kaget segera berjalan menuju depan dan dia sekarang ada di depan gadis yang wajahnya terlihat sangar. Tangan gadis itu mencengkeram kedua rahang Kiara sembari menolehkan ke kanan dan ke kiri wajah Kiara. Dia sedang mengamati wajah Kiara.
"Kamu itu mau kuliah atau mau pergi ke acara pesta? Kenapa penampilan kamu sangat mencolok seperti ini?"
"Mencolok? Maksud, Kakak?"
"Make up kamu mencolok sekali. Kamu sengaja berdandan seperti ini agar nanti bisa menarik perhatian kakak angkatan. Norak!"
"Aku, kan tidak memakai make up, Kak. Ini hanya pakai lip gloss dan bedak saja. Apa itu dilarang?"
"Jangan bohong, kamu!"
Kiara memang terlihat sangat cantik tidak seperti biasanya, bahkan Arthur pun kerap kali memujinya. Apa mungkin itu bawaan bayinya? Kiara juga berpikir mungkin dia sedang mengandung anak berjenis kelamin perempuan saat mendengar dia dipuji cantik.
"Kiara itu, kan memang cantik dari sananya," celetuk Momo yang kesal melihat perlakuan kakak panitia itu.
"Kamu jangan ikut-ikut, ya! Sini maju juga ke depan!"
Momo dengan santai berjalan maju ke depan dan melihat dengan wajah malas pada gadis di depannya.
"Wajah kamu songong sekali! Jangan sok berani di sini!"
"Wajah aku memang begini, Kak! Ya Tuhan!" Momo sampai menggaruk-garuk kepalanya yang memang gatal dari tadi melihat si kakak panitia itu.
"Nama kamu siapa?"
"Kiara."
"Yang lengkap kalau memberitahu namanya!"
"Kiara Tizania."
"Besok kalau mau berangkat ke kampus, kamu cukup mandi saja dan tidak perlu memakai make up apapun. Satu lagi! Kamu jangan lupa memakai atribut yang sudah aku jelaskan tadi. Mengerti, kan?"
"Mengerti, Kak!"
Sekarang gantian Momo yang juga ditanya oleh kakak panitia itu, dan setelah puas berurusan dengan mereka. Kiara dan Momo kembali ke barisan untuk mengikuti tur kampus, yaitu berkeliling di sekitar kampus untuk mengetahui tata letak setiap ruangan di kampus itu.
Beberapa kakak panitia yang ada di sana tampak menjelaskan semua pada mahasiswa baru yang mengikuti OSPEK kali ini. Setelah itu para mahasiswa baru juga berkenalan dengan rektor, dekan dan juga dosen pengajar di sana.
Kegiatan Kiara hari ini benar-benar melelahkan. "Kiara, kamu baik-baik saja?"
"Tapi wajah kamu kenapa pucat? Sebaiknya kamu minum dulu. Ini, aku ada air minum untuk kamu."
"Terima kasih, tapi aku juga membawa botol minum dan juga membawa bekal makanan." Bibi Yaya memang membawakan bekal makan untuk Kiara karena takut kalau nanti di kampus kantinnya masih belum beroperasi.
"Kamu istirahat dulu saja."
Momo mengajak Kiara untuk duduk sebentar di taman. Mereka duduk di atas rumput kering dan tepat di bawah pohon yang rindang.
Kiara memegangi kepalanya yang sedikit pusing dan tiba-tiba Momo terkejut melihat Kiara yang pingsan.
"Kiara, bangun!" Momo segera menepuk-tepuk pelan pipi Kiara agar bangun, tapi hal itu tidak berhasil membuat Kiara bangun.
"Dia kenapa?" tanya gadis yang tadi berdebat dengan Kiara.
"Dia pingsan, Kak."
"Haduh! Baru sekali mengikuti acara ini, sudah pingsan. Dia pasti pura-pura ini supaya tidak mengikuti kegiatan hari ini sampai selesai."
"Kiara tadi pucat wajahnya. Jadi, dia tidak mungkin berpura-pura."
"Dasar, gadis manja!"
"Biar aku yang membawanya ke ruang kesehatan."
Tiba-tiba ada seseorang datang ke sana dan dia dengan cepat menggendong tubuh Kiara. Momo yang juga di sana dengan cepat mengikuti lelaki itu membawa Kiara menuju ruang kesehatan.
Beberapa menit kemudian, Kiara tampak perlahan membuka kedua matanya. Dia bingung berada di mana?
"Kiara, kami sudah sadar?"
"Momo, aku ada di mana?"
"Kamu ada di ruang kesehatan, kamu tadi pingsan mungkin karena kelelahan mengikuti kegiatan hari ini."
Kiara beranjak dari tempat tidurnya dan duduk bersandar pada tempat tidurnya. "Aku minta maaf sudah menyusahkan kamu."
"Kamu tidak menyusahkan aku, tadi yang membawa kamu ke sini itu si Kiano. Dia ketua panitia OSPEK di sini."
"Kiano?"
"Hai, kamu sudah baikkan. Ini ada teh hangat yang tadi aku beli. Kamu minumlah sedikit agar keadaan kamu lebih baik." Seorang laki-laki memberikan termos berukuran kecil berwarna toscha pada Kiara.
"Kiara, kamu minum dulu."
"I-iya." Kiara mengambilnya dan meminumnya sedikit demi sedikit karena tehnya masih sedikit panas.
"Kiano, kamu bilang itu sama salah satu anggota panitia kamu, si gadis judes itu agar jangan terlalu galak sama mahasiswi baru! Dia iri kayaknya melihat ada yang lebih cantik dari dia. Dia yang penampilannya norak, malah menyalahkan orang lain," terang Momo kesal.
"Siapa maksud kamu? Si Delia? Dia memang begitu, tapi dia gadis yang baik sebenaranya."
"Baik dari mana? Baik dari planet Mars! Wajahku yang begini saja dikata songong. Aku inikan lemah lembut kalau tidak disenggol."
"iya-iya, nanti aku bilangin dia. Dasar bawel!"
"Ih!" Momo memukul tangan lelaki bernama Kiano itu dengan kasar. Kiara yang melihatnya sampai membulatkan kedua matanya."
"Ada apa lagi? Kenapa memukul?"
"Kamu jangan iya-iya saja, tapi benaran ditegur!"
"Iya, nanti aku akan bicara sama dia, tapi kamu harus ingat! Kita ini dikampus dan panggil aku dengan panggilan yang sopan." Kedua mata Kiano menatap tajam pada Momo.
"Iya, maaf, Kakak Kiano," ucap Momo lirih.