Be Mine

Be Mine
BAB 5 Mulai menerima



Selamat membaca


Tempat yang awalnya rapi kini hancur,Revan duduk di kursinya tanpa memperdulikan pecahan kaca yang berserakan di sekelilingnya.


"Kenapa kau selalu menolakku sayang?"ucapnya sambil memandang wajah cerah foto Rachel yang ada di mejanya sekarang.


Pyarr


Revan memecahkan gelas yang ada di mejanya untuk melampiaskan amarahnya. Lalu ia tanpa sadar memegang pecahan kaca tersebut sampai melukai telapak tangannya.


Revan sangat mencintai Rachel dari pertama ia bertemu di Rachel. Tapi entahlah apa yang di rasakan Rachel kepadanya ia tak tau.


Flashback on


*Pengendara itu mengendarai kendaraannya dengan kecepatan batas normal. Tak jarang pengendara lainnya menyupahi pengendara  dengan kecepata yang sangat melebih batas itu. Siapa lagi kalau bukan Revan.


Brak


Revan terjatuh dari kendaraannya karena remnya blong.


Rambut panjang terurai dengan indahnya senyuman yang selalu terukir di gadis yang berumur 15 tahun itu. Revan tersenyum sendiri melihat gadis itu tersenyum. Jarang sekali ia tersenyum palagi karena seorang gadis kecil itu.


Gadis itu menghampiri Revan yang saat ini terluka dengan raut wajah cemasnya membuat Revan gemas sendiri melihatnya.


"Apa kakak tidak apa apa?"tanya gadis itu dengan membantu Revan berdiri dan duduk di kursi pinggir jalan. Sementara Revan hanya tesenyum menanggapi pertanyaan gadis tersebut.


"Acel cuma punya handsaplast"ucap Rachel sambil menempelkan handsaplast di luka kecil Revan.


"Siapa namamu?"tanya Revan kepada gadis di depannya.


"Rachel panggil aja achel"ucap Rachel dengan antusias memperkenalkan dirinya membuat Revan terkekeh geli melihatnya.*


Flashback off


Tanpa Revan sadari ia sudah tertidur di kursi kerjannya setelah mengingat kejadian tersebut yang pasti ia tidak akan melupakannya.


🌹🌹🌹


Rachel mondar mandir tak jelas bingung apa yang harus ia lakukan sekarang? Sampai malam begini Revan tak kunjung kembali ke kamar mereka.


"Apaan sih kenapa juga gue mikirin tuh orang,mending gue tidur"ucapnya sambil mulai merebahkan tubuhnya di kasurnya.


Entah kenpa pikirannya masih di Revan apa dia sudah makan?entalah itu sekarang yang ada di pikiran Rachel.


"Ayo tidur chel pasti dia baik baik saja"gumamnya kepada dirinya sendiri.


Rachel pun berusaha menutup matanya dan tidur ia mencoba berpikir positif. Dan tak lama Rachel pun telelap dalam tidurnya.


🌹🌹🌹


Rachel terbangun dari tidurnya namun Revan masih tak kembali ke kamar mereka. Ia pun segera bangkit dan mulai melakukan ritual mandinya.


Setelah mandi ia pun menyiapkan keperluannya untuk sekolah. Yap,di hari iji ia memutuskan untuk sekolah karena ia disini juga kesepian walaupun ada Bibi Sofia.


"Pagi Bibi Sofia"sapa Rachel dengan senyum ramahnya kepada Bibi Sofia.


"Pagi nyonya"balas Bibi Sofia dengan ramah.


Rachel pun mulai sarapan tanpa memikirkan dimana Revan?apa ia sudah makan?Rachel sudah tak memikirkan Revan.


"Nyonya saya apa tuan baik baik saja?"tanya Sofia membuat Rachel mulai memikirkannya lagi.


"Saya liat dari kemarin tuan tidak keluar dari ruang kerjanya"lanjutnya.


"Bibi Sofia apa boleh aku ke ruang kerjanya?"tanya Rachel tiba tiba keluar membuat Sofia bingung.


"Tentu saja nyonya"ucap Sofia.


Rachel pun melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja Revan dan di ikuti Bibi Sofia di belakangnya. Rachel mencoba membuka pintu namun tidak bisa di kunci.


"Apa ada kunci cadangannya?"tanya Rachel kepada Bibi Sofia.


"Ini nyonya silahkan"ucap Bibi Sofia memberikan kunci cadangan kepada Rachel.


Rachel pun membuka pintu ruang kerja Revan ia sangat terkejut karena banyak sekali barang-barang hancur di sana.


Rachel pun bejalan berhati hati menuju ke Revan yang tidur di meja kerjanya sementara Bibi Sofia hanya bisa diam di luar karena tak mau ikut campur urusan keduanya.


"Kak Revan"ucap Rachel mencoba membangunkan Revan.


Rachel mengamati wajah Revan yang pucat apa Kak Revan sakit? Ia pun memeriksa kening Revan dan benar saja keningnya sangat panas.


"Bibi Sofia bantu aku mengankat Kak Revan"ujar Rachel kepada bibi Sofia.


Rachel dan Bibi Sofia pun memampah Revan untuk menuju ke kamarnya. Walaupun Revan sangat berat menurut keduanya.


"Saya akan memanggil dokter"ujar Sofia dan diangguki Rachel.


Rachel melihat darah kering di tangan Revan ia pun langsung membersihkannya dan melilitnya dengan perban.


Tak lama pun seorang pria dengan jas putihnya memasuki kamarnya siapa lagi kalo bukan  dokter. Dokter segera memerikas Revan.


"Bagaimana keadaannya?"tanyanya setela dokter memeriksanya.


"Hanya perlu istirahat,dan makan yang cukup"ucap dokter "ini resep obat "lanjut dokter tersebut.


"Terimakasih"ucap Rachel menerima selembar kertas.


Bibi Sofia pun mengantar dokter tersebut ke depan sementara Rachel menemani Revan yang saat ini menutup matanya rapat.


"Apa aku jahat?"batin Rachel.


Tbc


Terimakasih 🐱