Be Mine

Be Mine
Perhatian Biasa



Kiano izin kembali ke lapangan untuk mengurusi acara OSPEK hari ini. Setelah Kiano pergi dari sana, Kiara melihat heran pada Momo.


"Kamu kenal baik sama Kiano, Momo?"


"Tentu saja, dia itu, kan, kakak sepupuku."


"Kakak sepupu?" Kedua mata Kiara mendelik.


"Iya, dan dia yang membuat aku tidak jadi kuliah keluar negeri. Dia yang merekomendasikan kampus ini dan akhirnya mamiku tertarik. Jadilah aku kuliah di sini."


"Oh begitu." Kiara manggut-manggut.


"Kamu sendiri kuliah di sini karena jalur undangan atau lainnya?"


"Aku mendapat undangan masuk ke sini dan saat mengikuti tes ternyata aku bisa lolos karena nilaiku bagus."


"Wow! Kamu keren sekali. Sudah pintar, cantik, dan kelihatannya kamu orang yang baik. Kiara, aku senang bisa berkenalan sama kamu, nanti kalau aku tidak bisa mengerjakan tugas, kamu jangan sungkan mengajariku, ya?"


"Iya, aku pasti mengajari kamu." Kiara meringis.


"Kamu benar-benar paket lengkap. Baik juga, kamu sama seperti si Kiano itu. Dia salah satu mahasiswa pintar di sini. Tidak hanya pintar sih! Dia juga populer di sini."


"Oh iya!"


Beberapa menit kemudian, karena di rasa sudah baik. Kiara kembali ke lapangan bersama Momo untuk mengikuti kegiatan selanjutnya.


"Kenapa kamu? Belum makan ya? Makannya, kalau mau berangkat kuliah itu makan dulu, jangan malah menyusahkan orang begini."


"Aku tadi sudah makan, kok, Kak, hanya saja mungkin aku kecapekan tadi."


"Kamu anak orang kaya, ya? Manja sekali."


"Aku bukan anak orang kaya, Kak, dan aku minta maaf jika menyusahkan. Dari kemarin memang kondisiku kurang baik, tapi aku tidak mau membolos di hari pertama masuk kuliah."


Kiara tidak mungkin langsung bilang jika dia sedang hamil. Auto pingsan nanti anak-anak sekampus itu.


"Kiano ini," gerutu Momo sembari melihat pada Kiano yang berdiri di depan para mahasiswa. Momo memberi kode pada Kiano dengan mendelikkan kedua matanya agar Kiano melakukan sesuatu.


"Nama kamu Kiara, kan?"


"Iya, Kak."


"Kamu boleh pulang dulu. Istirahat saja di rumah dan jangan lupa minum obat agar lebih baik."


"What?" Gadis yang bernama Delia itu melihat kaget pada Kiano. "Kiano, kegiatannya belum selesai, kenapa kamu suruh dia pulang?"


"Delia, dia sedang sakit, kamu mau kalau dia kenapa-napa? Tidak apa-apa kalau kamu mau tanggung jawab."


"A-aku--." Gadis itu bingung sekarang.


"Kiara kamu pulang saja, dan nanti kalau ada informasi, akan aku share di grup. Kamu sudah gabung ke grup, kan?"


"Sudah, Kak, tapi aku tidak apa-apa, kok. Aku masih bisa mengikuti kegiatan hari ini sampai selesai."


"Jangan, kamu pulang saja karena kesehatan itu lebih penting dari apapun. Pulanglah dan beristirahatlah."


"Iya, Kiara, kamu pulang saja. Kalau kamu tambah sakit, nanti malah tidak bisa mengikuti semua kegiatan ini," terang Momo.


Kiara pun akhirnya mau pulang karena dia juga tidak boleh meremehkan keadaannya, apa lagi dia sedang hamil. Dia sendiri hari ini lupa tidak meminum vitaminnya.


Kiara meminta izin dan dia berjalan keluar dari gedung kampusnya.


"Kiano, jangan bilang kamu suka sama gadis itu," bisik Delia lirih.


"Apa sih, kamu? Memangnya kenapa kalau aku suka sama dia?" ucap Kiano tegas.


"Kasihan dia kalau sampai disukai oleh kamu. Banyak mahasiswi di sini nanti yang akan memusuhi dia." Delia malah seolah menertawakan Kiano.


Kiara sekarang berdiri tidak jauh dari gedung kampusnya. Dia bingung mau menghubungi Arthur atau pulang sendiri saja?


"Apa aku pulang sendiri saja? Tapi nanti Mas Arthur pasti marah kalau aku pulang sendirian."


Kiara duduk di bangku yang ada di atas trotoar.


"Itukan Kiara. Kenapa dia duduk di sana?"


"Mungkin sudah pulang dari kampus. Gedung sebelah itu, kan, kampusnya Kiara."


"Ini baru jam berapa? Kenapa dia sudah pulang?"


"Kamu kenapa peduli sekali pada Kiara? Masih suka sama dia?"


"Mega, siapa yang masih suka sama Kiara? Kalau aku suka, aku akan memilih masuk ke kampus di mana Kiara kuliah, tapi aku lebih memilih kuliah satu kampus sama kamu."


"Lalu, kenapa kamu seperti sangat perhatian pada Kiara?"


"Dia itu calon kakak iparku, dan dia sedang hamil. Apa kamu tidak kasihan melihat dia duduk sendiri di tepi jalan seperti itu?"


"Terus, kita mau apa?" Mega tidak mau terlalu menunjukan sikap buruknya karena Elang bisa saja nanti membencinya.


"Kita hampir dia dan bertanya apa ada sesuatu yang sedang terjadi padanya."


"Ya sudah kalau begitu. Kita putar balik saja."


Elang akhirnya memutar balik arah mobilnya dan sekarang dia tepat berhenti di depan Kiara. Elang turun dari mobilnya dan menghampiri Kiara.


"Elang, kamu kenapa ada di sini?"


"Aku sedang bersama Mega. Kami baru saja pulang dari kampus karena ada urusan sedikit. Kamu sudah masuk kuliah, kan?"


"Iya, ini hari pertamaku OSPEK. Kamu sendiri?"


"Aku masih libur dulu, dan tiga hari lagi baru aku dan Mega masuk untuk mengikuti OSPEK."


"Mega ada bersama kamu?"


"Iya, dia ada di dalam mobil." Di dalam mobil Mega sedang melihat ke arah luar dari balik jendela kaca mobil Elang.


"Kamu kenapa malah berhenti di sini?"


"Kiara, kamu kenapa duduk sendiri di sini? Apa kamu sudah pulang dari tempat kuliahmu?"


"Tadi aku pingsan saat mengikuti kegiatan hari ini, dan karena itu aku disuruh pulang lebih awal."


"Tapi kamu tidak apa-apa, Kan? Maksudku kamu dan bayimu baik-baik saja, kan?" Elang merubah ekspresi wajahnya yang tadi khawatir menjadi datar.


"Aku tidak apa-apa, sebaiknya kamu pulang saja karena aku mau mencoba menghubungi lagi Mas Arthur untuk menjemputku."


"Bagaimana kalau kamu aku antar pulang saja. Bukannya jalan kita searah ke apartemen kamu."


"Jangan, Lang, nanti tidak enak sama Mega."


"Kamu jangan khawatir karena Mega sendiri juga setuju kamu pulang diantar olehku dan dia."


"Apa itu benar?"


"Iya, Kiara."


Kiara berpikir apa mungkin Mega sudah perlahan mau menerimanya kembali? Kiara akhirnya mau ikut ke dalam mobil Elang karena tadi juga dia menghubungi suaminya, tapi tidak dijawab. Kiara pun masih ingin memperbaiki hubungannya dengan Mega.


Kiara duduk di bangku belakang. Dia mencoba menyapa Mega dengan memanggil namanya, tapi Mega hanya membalas dengan deheman dan tanpa menoleh pada Kiara yang duduk di belakangnya.


Elang menjalankan mobilnya dan memutar balik kembali arahnya untuk menuju ke arah apartemen Kiara.


Mega yang duduk di sebelah Elang dengan cepat menggenggam tangan calon suaminya yang tidak memegang kemudi.


Mega seolah ingin menunjukan pada Kiara jika sekarang Elang itu adalah miliknya, tapi hal itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap Kiara.