
Kiano melirik pada Delia, dan dia kemudian menunduk untuk membantu Kiara memunguti barang yang terjatuh.
"Terima kasih Kak Kiano."
"Tidak apa-apa Kiara." Tangan Kiano tidak sengaja memegang tangan Kiara. Kiara yang merasakan tangannya tersentuh oleh Kiano segera menariknya. "Maaf," ucap Kiano cepat.
Delia memutar bola matanya jengah melihat hal itu. "Kiano, gadis ijo lumut ini harus diberi hukuman karena sudah datang terlambat."
"Tapi dia tadi sudah mengatakan alasannya."
"Hah! Alasan? Kamu percaya dengan alasannya? Biasanya, kalau orang salah itu mencari seribu alasan agar tidak dihukum."
"Ya sudah, kalau Kiara dihukum karena datang terlambat, maka aku juga harus dihukum karena datang terlambat juga."
"Kamu---?" Delia tampak bingung dengan apa yang dikatakan oleh Kiano. Kiano memang datang terlambat, tapi Kiano itu ketua panitia OSPEK di sana.
"Kamu harus adil, Delia."
"Baiklah, kalau begitu aku akan adil. Kiara, kamu akan aku hukuman squat jump dua puluh kali. Kiano juga akan melakukannya."
"Apa, Squat jump?" Kiara agak kaget mendengar hukuman yang diberikan padanya. Dia tidak mungkin melakukan hal itu karena dia sedang hamil, tapi bagaimana dia mengatakannya?
Kiano tampak melihat ada rasa cemas di wajah Kiara saat Delia memberikan hukumannya padanya.
"Ayo cepat lakukan! Kamu tidak dengar apa yang aku perintahkan sama kamu, gadis ijo lumut?"
"Kak, a-ku--?" Kiara tampak benar-benar bingung.
"Kamu hukumannya menyapu daun-daun yang ada di taman saja. Setelah itu kembali ke barisan di sini," ucap Kiano seketika.
"Kiano! Kamu itu kenapa mengubah hukuman yang aku perintahkan?" Wajah Delia mendengus kesal.
"Jangan terlalu kejam, dia seorang gadis, apa lagi kemarin dia tidak enak badan dan sampai pingsan."
"Tapi aku di sini yang memutuskan semuanya."
"Tapi aku ketuanya dan aku juga berhak memberi hukuman apa pada Kiara. Kiara, kamu segera ke taman dan bersihkan daun di sana. Aku yang akan menggantikan hukuman squat jump kamu. Jadi, nanti aku tinggal menambah dari dua puluh menjadi empat puluh."
"Tapi apa tidak apa-apa, Kiano?"
Lelaki dengan wajah charming dan terkesan datar itu tampak tersenyum kecil pada Kiara. "Aku sudah biasa melakukan hal itu, bahkan sampai hampir seratus lebih."
Di barisannya, Momo tampak senang melihat wajah Delia yang dari awal dia mengikuti OSPEK sudah kesal dan pengen mencakarnya itu terlihat kalah telak sama Kiano.
"Rasakan itu nenek sihir!" umpatnya lirih.
Kiara akhirnya pergi ke taman setelah dia memakai semua atribut yang disuruh. Kiano pun tampak melakukan hukumannya.
"Dia baik sekali. Kalau Mas Arthur tau semua ini, dia bisa-bisa semakin posesif dan aku benar-benar bakal diultimatum tidak boleh kuliah, padahal aku terlambat seperti ini juga gara-gara dia. Kesal rasanya dengan sikap Mas Arthur yang sangat posesif itu." Kiara menyapu dengan wajah ditekuk kesal.
Tidak lama ponselnya berdering dan dia melihat ada nama suaminya di sana.
"Dia menghubungiku, pasti mau bertanya apa aku sudah mengembalikan termosnya dan bicara apa saja sama Kiano?" Kiara sekali lagi menunjukan wajah kesalnya.
"Halo, sayang, kamu sedang apa? Kenapa bisa menjawab panggilan teleponku?"
"Tentu saja bisa karena aku sedang mendapat hukuman," ucap Kiara terdengar ketus.
"Iya! Dan semua ini gara-gara Mas Arthur yang membuat aku datang terlambat masuk sehingga aku harus dihukum."
"Aku? Memangnya aku salah apa?" Ini Arthur waktu mengatakan hal itu mukanya tampak polos banget kek orang gak salah.
"Mas sih! Kenapa sangat posesif karena termos milik Kiano itu. Kita meributkan hal itu sampai aku terlambat masuk dan dihukum oleh kakak panitia di sini."
"Aku akan ke sana dan menemui kakak angkatan kamu, sekalian kalau perlu aku akan menemui rektor di sana."
"Jangan, Mas! Bukannya seperti itu caranya! Mas, aku ini ingin kuliah yang normal, tidak mau seolah aku menggunakan kekuasaan kamu untuk membuat jalanku di sini lancar tanpa tersentuh. Aku tidak mau di sebut sok di sini, aku tidak apa-apa dihukum karena memang aku salah sudah terlambat datang."
Kiara tampak terdiam sejenak. Dia berpikir jika apa yang dikatakan istrinya memang benar. Dia bisa saja menggunakan kekuasaannya sehingga apa yang dilakukan Kiara tanpa kendala, tapi itu juga akan membuat Kiara seolah sok, dan itu bukan sifat Kiara.
"Aku minta maaf karena sudah membuat kamu dihukum. Kamu dihukum apa, Sayang?"
Mulut Kiara yang mau mangap menceritakan jika Kiano lagi-lagi menolongnya dari hukuman yang bisa membuat dia memiliki masalah dengan kandungannya, Kiara ralat dan hanya menceritakan jika dia diberi hukuman menyapu taman yang tidak terlalu besar yang ada di kampusnya.
"Sayang, jangan terlalu lelah. Apa kamu tidak bilang kalau kamu sedang hamil?"
"Mas, bukannya aku tidak mau bilang, tapi tunggu waktunya, apa lagi aku baru masuk dan ini masih masa OSPEK. Kalau aku tiba-tiba mengatakan jika aku hamil, bisa-bisa orang-orang di sana pingsan, dan lebih parahnya bisa menganggap aku hamil karena pergaulan bebas."
"Lalu, kalau kamu tidak mengatakan hal itu, kamu bisa mendapat hukuman yang berat atau di suruh melakukan kegiatan yang berat juga, Sayang."
"Mas tenang saja karena aku nanti bisa mencari alasan yang tepat."
"Ya sudah kalau begitu kamu harus menjaga kesehatan kamu dan bayi kita."
"Iya, Sayang. Mas, aku selesaikan dulu pekerjaanku, ya? Mas nanti jangan lupa makan siang. Jangan sampai sibuk dengan pekerjaan jadi lupa makan."
"Iya, aku tidak akan lupa makan siang. Ya sudah kalau begitu. Aku mencintaimu, Sayang."
"Aku juga mencintaimu, Mas, dan bayi kita juga mencintai ayahnya."
Arthur terseyum senang mendengar ucapan Kiara. "Ayah juga mencintaimu, Bayi kecil, baik-baik sama ibumu."
"Iya, Ayah."
Kiara menutup panggilan teleponnya dan dia kembali menyelesaikan hukumannya.
Di ruangannya, Arthur tampak memandangi foto Kiara dan dirinya yang ada di atas meja kerjanya.
"Aku sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," suara seseorang yang ternyata sudah berada di dalam ruangannya.
"Gio? Sejak kapan kamu ada dia sini?"
"Baru saja. Aku melihat pintu ruangan kamu yang terbuka dan si cantik sekretarismu itu tidak ada di mejanya. Jadi, aku masuk saja dan melihat kamu memandangi foto Kiara."
"Aku baru saja menghubungi dia tadi, dan kamu tau, aku beberapa hari ini merasakan sikapmu sangat posesif padanya, seperti aku takut kehilangan dia."
Gio mengkerutkan kedua alisnya bingung dengan perasan yang diungkapkan oleh sahabatnya itu.
"Kenapa bisa begitu? Apa kamu curiga Kiara akan selingkuh?"
"Kiara memaksa kuliah. Awalnya aku setuju saja dan mendukung saat dia mengatakan hal itu, tapi entah kenapa saat dia mau masuk kuliah pertama kali, aku merasa takut dia didekati oleh mahasiswa di sana yang usianya masih lebih muda dari pada aku."