Be Mine

Be Mine
Bertemu Seseorang Part 2



Kiara memandang Manda dari atas sampai bawah. Dia tidak mengelak jika Wanita bernama Manda ini sangat cantik dan bisa dibilang sempurna walaupun sudah memiliki anak.


"Halo, Mba Manda." Kiara mengulurkan tangan mengajak Manda berjabatan.


Manda yang agak ragu, tapi karena melihat pada Arthur dia akhirnya menerima jabatan tangan Kiara.


"Selamat malam, Bu Kiara."


"Jangan memanggilku, Bu. Panggilan saja Kiara karena usia aku masih di bawah, Mba Manda." Kiara tersenyum kecil.


"Tapi, Bu Kiara istri dari atasan saya."


"Mas Arthur juga tidak akan marah. Iya, kan, Mas?" Kiara melihat pada Arthur dan pria itu mengangguk.


"Iya, Kiara."


"Om Arthur, ayo kita naik bianglala. Mami aku minta naik itu katanya takut soalnya sangat tinggi." Tangan Arthur tiba-tiba ditarik oleh Dean.


"Dean, kamu jangan seperti itu. Om Arthur mau jalan-jalan ke tempat lain." Manda berusaha memberitahu putranya.


"Aku mau naik itu Mami. Habisnya Mami takut aku ajak naik itu," rengek bocah kecil itu.


"Tapi Om Arthur mau pulang, Dean. Ini juga sudah malam, apa kamu tidak ingin pulang?"


"Aku mau naik bianglala dulu, Om. Om Arthur temani aku saja ya?"


Arthur tampak bingung, dia melihat pada Kiara. Kiara yang tidak tega melihat bocah kecil itu sangat ingin naik bianglala, akhirnya mengizinkan jika Arthur boleh menemani Dean naik bianglala.


"Dean, setelah naik bianglala kamu harus pulang karena besok harus masuk sekolah. Bagaimana?"


"Iya, Om. Dean akan pulang setelah naik bianglala yang besar itu."


"Maaf, Pak Arthur, kalau Dean menyusahkan sekali lagi." Wajah Manda tampak merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Manda."


Arthur menggandeng tangan Dean dan mereka berjalan pergi menuju area permainan bianglala. Kiara dan Manda berjalan di belakang mereka mengikuti.


"Dean sangat menyukai Pak Arthur. Mungkin dia rindu akan sosok papinya," celetuk Manda dan seketika membuat Kiara melihat ke arah Manda. "Maaf, Kiara, aku minta maaf jika Dean mengganggu acara kalian."


"Tidak apa-apa, Mba Manda. Mas Arthur memang sosok yang baik dan penyayang oleh karena itu aku jatuh cinta padanya."


"Kalian sudah lama menikah? Jujur saja saat melihat kamu tadi aku kira kalau kamu adiknya Pak Arthur karena kamu masih sangat muda untuk menikah dengan pria sematang pak Arthur."


"Aku baru menikah beberapa bulan dengan Mas Arthur."


"Aku benar-benar tidak menyangka jika istrinya Pak Arthur masih sangat muda sekali. Apa kalian dulu dijodohkan?"


Kiara bingung menanggapi pertanyaan Manda karena mereka dipertemukan dari kejadian yang sangat tidak diinginkan Arthur ataupun Kiara.


"Kami tidak dijodohkan, pertemuan kita adalah hal yang kita sendiri tidak menyangka akan hal itu."


"Tapi aku tidak menyangkal. Siapapun yang melihat sosok Pak Arthur pasti akan menyukainya. Dia pria baik, kaya raya dan juga sangat tampan."


Kiara melihat jika Manda seperti sedang menjabarkan sosok suaminya adalah pria yang juga dia kagumi.


"Tapi aku jatuh cinta bukan karena apa yang dia miliki, tapi yang ada pada diri Arthur."


Manda malah tersenyum miring pada Kiara seolah apa yang diucapkan Kiara adalah hal yang mustahil.


"Pak Arthur bisa dibilang pria yang nyaris sempurna, apa orang akan percaya jika menikah dengannya hanya karena jatuh cinta dengan sifatnya?"


Manda berjalan pergi dari sana karena melihat Arthur dan putranya yang sudah turun dari arena bianglala.


"Mami ...!" panggil Dean dan dia berlari dengan cepat ke arah Manda. Manda segera memeluk putranya itu dan menggendongnya.


"Apa kamu senang?"


"Iya, aku sangat senang sekali, Mami. Pemandangan dari atas sungguh indah!" serunya senang.


"Pak Arthur, terima kasih sekali lagi."


Kiara yang melihat dari kejauhan tampak merasa sedang melihat keluarga yang sempurna dan bahagia.


"Kenapa mereka jadi terlihat sangat pas?"


Arthur menoleh dan dia tersenyum melihat ke arah istrinya yang sedang memperhatikannya dari tadi.


"Sesuai janji kamu tadi, Dean. Sekarang kamu harus mau pulang karena ini sudah malam dan besok harus sekolah."


"Iya, Om. Terima kasih, Om." Dean yang digendong oleh Manda mendekat dan mencium pipi Arthur. "Andai aku punya papi seperti Om Arthur, aku pasti sangat bahagia."


"Dean!" Manda mendelik pada putranya.


"Tidak apa-apa, Manda. Aku juga pasti senang memiliki putra sepintar dan seberani kamu. Semoga suatu hari Om akan memiliki anak sepintar dan seberani kamu." Arthur melihat pada Kiara yang sekarang berdiri di sampingnya.


Arthur akhirnya mengajak Kiara pulang. Pun dengan Manda juga mengajak putranya pulang.


"Kamu kenapa diam saja?"


Arthur yang berjalan menuju parkiran tampak heran melihat Kiara yang sekarang terlihat terdiam.


"Aku tidak apa-apa, hanya capek saja," ucapnya lirih.


"Mau aku gendong?"


"Tidak mau."


"Ayolah!" Arthur memotong jalan Kiara dan duduk berjongkok membelakangi Kiara."


"Aku tidak mau, Mas." Kiara berjalan melewati Arthur.


"Kalau tidak mau, aku akan duduk di sini terus."


"Duduk saja," ucap Kiara santai kembali melanjutkan jalannya.


Agak jauh Kiara menoleh kanan kiri dan ternyata tidak ada suaminya. Kiara melihat dari kejauhan Arthur masih duduk berjongkok di tempatnya semula.


"Mas!" seru Kiara dari kejauhan. Kiara berlari kecil menghampiri suaminya. "Kamu menyebalkan!" ucapnya dan kemudian Kiara naik ke atas punggung Arthur. Arthur berdiri dan membawa Kiara berjalan menuju tempat parkir mobil mereka.


"Aku kira kamu tidak akan peduli denganku."


"Sebenarnya aku tidak mau peduli, tapi aku tidak mau kamu diambil si Manda itu."


"Kamu cemburu? Manda dan aku tidak ada hubungan apa-apa selain pekerjaan, Ara."


"Hm...!"


"Tapi kalau aku tidak bertemu kamu duluan, pasti aku akan memilihnya."


"Ya sudah, sana pergi!" Kiara malah berusaha turun dari punggung Arthur.


"Aku hanya bercanda, Sayang. Aku sangat mencintai kamu, dan aku senang kamu cemburu seperti ini."


"Ternyata rasa cemburu itu sangat tidak enak. Buat dada sesak saja." Kiara yang bersikap manja mengeratkan lingkaran tangannya dan dia pun menyandarkan kepalanya pada pundak suaminya.


"Memangnya kamu tidak pernah cemburu sama Elang?"


"Tidak pernah karena memang Elang tidak pernah aku lihat dekat dengan gadis lain. Dia sangat setia padaku."


"Aku juga setia, tapi kalau aku disukai wanita lain, itu bukan salahku, kan?"


"Makannya, jangan suka tebar pesona. Menyebalkan sekali setiap jalan sama kamu selalu saja mata mereka melihat terus ke arahmu."


"Aku tidak pernah tebar pesona, Sayang. Kalau aku suka tebar pesona, Istriku bisa lebih dari satu."


"Jangan harap ya."


Arthur tertawa senang mendengar jawab Kiara. "Aku tidak berani karena susah sekali mendapatkan hati kamu." Kiara mengecup pipi suaminya dari samping.