Be Mine

Be Mine
Menginap Hari Pertama



Kedua mata Kiara mendelik saat tubuhnya berada tepat dia atas tubuh Arthur. Iya, Arthur malah menarik dan memeluk Kiara dengan erat.


"Arthur ... lepaskan!" Kiara memukuli tubuh pria itu agar terbangun.


Arthur yang kaget lantas membuka kedua matanya, dia juga bingung kenapa tangannya malah memeluk tubuh Kiara.


"Kamu kenapa bisa berada di pelukanku?"


"Lepaskan dulu, Arthur!"


Arthur akhirnya melepaskan pelukannya dan dia beranjak duduk. Kiara tampak sebal membersihkan tubuhnya.


"Kamu jangan berpura-pura tidur, padahal kamu sengaja ingin memelukku."


"Siapa yang berpura-pura? Memangnya kamu lihat aku tadi sedang apa? Tidur 'kan? Aku tadi bermimpi memeluk seorang pencuri yang ingin mencuri dompetku, tapi kenapa malah memeluk kamu?"


Wajah Kiara masih ditekuk kesal. "Aku tadi ke sini ingin bertanya di mana mobilmu karena di luar tidak ada mobilmu?"


"Oh soal itu. Aku tadi ke sini diantar oleh supirku dan dia pergi membawa mobilku. Aku sudah memikirkan hal ini. Jika kamu tidak mau pergi denganku, maka, aku yang akan tinggal di sini dan aku tau bagaimana membuat agar kamu tidak mendapat masalah dengan tetanggamu."


"Arthur, aku benar-benar memohon agar kamu pergi dari sini. Aku takut tetanggaku tau keberadaan kamu di sini."


Arthur berdiri dari tempatnya dan menatap Kiara dengan datar. Kiara yang mendapat tatapan seperti itu, agak ngeri.


Tangan Arthur menelusup dengan cepat pada pinggang Kiara, menariknya mendekat dan sekali lagi menatapnya dengan lekat.


"Arthur, kamu mau apa?" Kiara mencoba memberi jarak antar dirinya dan Arthur. Tangannya menapak pada dada bidang pria itu.


"Aku mengantuk dan ingin tidur. Lagi pula besok kamu harus bangun pagi." Arthur mendekatkan wajahnya pada Kiara.


"Arthur, kamu--." Kiara memejamkan kedua matanya, dia agak takut jika Arthur menciumnya lagi, tapi dia tidak bisa berteriak.


Cup


Kecupan lembut tepat pada pipi Kiara. "Selamat malam dan segera tidurlah." Arthur melepaskan pelukannya. Dia kembali naik ke atas tempat tidur dan memejamkan lagi kedua matanya.


Kiara seolah tubuhnya lemas. Dia akhirnya memutuskan kembali ke kamar ibunya dan memejamkan kedua matanya walaupun sulit.


Keesokan paginya. Kiara yang sudah bangun, dia ingin segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Namun, dia lupa jika seragam sekolahnya berada di dalam kamarnya dan di sana ada tamu tak diundang yang dia tidak ingin temui.


"Hari ini adalah hari pertama aku menghadapi ujian yang menentukan kelulusan sekolahku. Aku masuk saja dan berpura-pura seolah dia tidak ada di dalam kamarku."


Kiara membuka pintu kamarnya dan dia tampak terkejut karena tidak melihat ada Arthur di dalam kamarnya.


"Dia di mana? Apa di sudah pulang? Keterlaluan sekali! Dia pergi tanpa permisi, tapi syukur deh kalau begitu, kehidupanku menjadi lebih tenang kalau begini."


Kiara segera mengambil baju seragamnya dan berlari kecil menuju kamar mandi karena dia sudah kebelet.


"Arthur?" Kiara yang kaget segera menutup kedua matanya dan dengan cepat membalikkan badannya.


"Kiara? Kamu kenapa tidak mengetuk pintu dulu?"


"Aku tidak tau kalau kamu berada di dalam kamar mandi. Aku kira kamu sudah pergi dari rumahku."


Kiara yang tidak mau berlama-lama di sana, mencoba membuka pintu kamar mandinya, tapi ternyata pintunya tidak bisa dibuka dan Kiara ingat jika memang pintu kamar mandinya rusak. Pintu itu akan mudah dibuka dari depan, tapi akan sangat sulit jika dibuka dari dalam. Jadi, tidak bisa ditutup rapat dari dalam dan harus di kaitkan saja kuncinya agar pintunya seolah tertutup.


"Pintunya 'kan rusak. Bagaimana ini?" Kiara tampak cemas. Dia cemas harus berada satu ruangan di mana Arthur sedang dalam keadaan polos.


"Pintunya tidak bisa dibuka, Ya? Bagus sekali," ucapnya yang membuat Kiara sebenarnya ingin menoleh, tapi dia urungkan.


Sekarang kecemasan Kiara semakin bertambah kala merasakan langkah kaki Arthur mendekat padanya.


"Arthur, kamu mau apa?" Kiara kembali memejamkan kedua matanya dengan rapat.


"Kamu kenapa takut sekali saat aku mendekatimu? Kamu takut atau malah berharap aku melakukan sesuatu padamu?" Arthur berbisik tepat pada telinga Kiara dan suara Arthur terdengar sangat lembut.


"Jangan bicara yang tidak-tidak, Arthur! Atau aku akan serius berteriak kalau kamu sampai berbuat buruk lagi padaku dan aku tidak peduli walaupun kamu suamiku!"


"Kenapa kamu masih terus berpikir bahwa aku akan berbuat buruk lagi sama kamu?" suara Arthur terdengar sedih.


Tangannya meraih anduk yang ada di depan Kiara dan memakainya untuk menutup bagian bawahnya.


Arthur sekarang berdiri di depan Kiara untuk mencoba membuka pintu kamar mandinya dan akhirnya bisa terbuka.


"Kalau mau mandi, kamu mandi saja karena aku sudah selesai."


Entah kenapa Kiara seolah merasa bersalah dengan ucapannya tadi. Dia melihat Arthur berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Beberapa menit kemudian. Kiara yang sudah dengan baju seragam lengkapnya masuk ke dalam kamarnya untung mengambil tas serta kaos kaki sekolahnya.


Saat membuka pintu dia melihat Arthur yang memakai kemejanya yang kemarin dia pakai dan tangan satunya memegang ponsel dan sedang berbicara dengan seseorang.


"Bibi Yaya akan menyiapkan beberapa bajuku dan nanti siang kamu ambil."


Kiara yang mendengar pembicaraan Arthur tampak kaget. "Arthur, kamu serius mau menginap di sini lagi?"


"Tentu saja, dan aku akan di sini terus, bahkan kalau mau aku akan menetap di sini."


"Arthur, kamu tidak akan bisa hidup di sini. Semalam saja kamu pasti tidak dapat tidur. Arthur, aku mohon sekali lagi agar kamu pergi dari sini."


"Dan aku akan katakan berulang kali jika aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian di sini, Kiara."


"Sebentar lagi mba Tami akan datang, dia hanya beberapa hari pergi ke desa mas Banni. Jadi, kamu tidak perlu menjagaku."


"Kiara, kalau kamu tidak mau aku tinggal di sini. Ikut aku pergi ke apartemenku dan kamu bisa berjalan pergi dan tinggal di rumah saudara dari kedua orang tuamu yang masih ada."


"Aku tidak mau, Arthur. Ya sudah kalau kamu tidak mau pergi dari sini. Terserah kamu!"


Kiara berdiri di depan cermin kacanya. Dia menguncir rambutnya tinggi ke atas dan memakai sedikit bedak dan lipglos. Kiara memang tidak terlalu suka berdandan.


Kiara menyambar tasnya dan saat akan bejalan keluar dari pintu kamarnya, tiba-tiba tangannya di pegang oleh Arthur.


"Ada apa? Aku mau berangkat sekolah. Kalau kamu mau makan bisa membuat sendiri atau makan saja di kantormu."


Arthur menarik tangan Kiara mendekat ke arahnya. Kiara yang tidak mau menjadi GR lagi seperti waktu itu, hanya menurut dan ingin tau apa yang akan dilakukan oleh Arthur terhadapnya.