
Kiara hampir saja tidak bertemu dengan Selena karena saat Kiara baru saja sampai di bawah. Selena hendak keluar dari pintu utama gedung apartemennya. Selena dari tadi masih menunggu di bawah dan berharap Arthur turun menemuinya, tapi ternyata Arthur tidak kunjung datang, bahkan ponselnya pun dia hubungi tidak dijawab.
"Selena, bisa kita bicara sebentar?"
Selena sedikit terkejut saat melihat siapa yang malah memanggilnya. Dia kemudian kembali menutup pintu utama gedung apartemen itu.
"Gadis miskin, apa Arthur yang memberitahumu aku berada di sini? Dan apa dia juga yang menyuruhmu menemuiku di sini?"
"Mas Arthur tidak akan ada yang dia sembunyikan dariku dan aku ke sini untuk menemuimu itu karena keinginanku sendiri."
"Ada apa kamu ingin menemuiku? Apa kamu ingin menunjukan jika kamu sudah menang karena Arthur sangat mencintaimu dan benar-benar melupakan aku?" Selena menunjukan wajah angkuhnya.
"Selena, aku sama sekali tidak merasa sebagai pemenang dalam hal ini karena bagiku di sini tidak ada yang dikalahkan. Aku di sini hanya ingin meminta kamu untuk tidak mendekati suamiku lagi. Aku tidak pernah menyakitimu, hubunganmu dan Mas Arthur berakhirnya itu karena apa yang kamu pilih, bukan karena aku dan sekarang Mas Arthur sudah bahagia denganku. Jadi, aku mohon untuk tidak merusak kebahagiaan yang ingin aku dan Mas Arthur bangun."
Wajah Selena seketika berubah saat melihat sebuah ketulusan dari wajah Kiara, dan memang benar jika bukan Kiara yang membuat Arthur pergi dari Selena. Semua itu karena Selena sendiri.
"Aku sangat menyesal waktu itu sudah salah memilih. Aku dibutakan oleh cinta dan sekarang aku ingin memperbaiki semuanya dengan Arthur."
"Tapi keadaan sekarang sudah berubah, Selena. Mas Arthur sudah bersamaku dan aku tau jika dia sangat mencintaiku, bahkan kita akan memiliki seorang bayi--buah cintaku dan Mas Arthur."
"Aku bisa melihatnya jika memang Arthur sangat mencintaimu, dia bahkan tidak pernah berbicara kasar padaku walaupun aku menyakitinya, tapi jika ada sesuatu yang menyakitimu, dia sangat marah. Jujur saja aku ingin menyangkal semua itu, aku masih berharap di hati Arthur yang paling dalam hanya ada aku, tapi ternyata aku salah sebesar. Dia benar-benar sudah melupakan cintanya padaku." Selena menundukkan kepalanya menangisi dirinya sendiri.
Tangan Kiara terangkat perlahan dan memegang tangan Selena yang memegang kotak makan yang niatnya tadi ingin Selena berikan pada Arthur.
"Kamu wanita yang cantik dan kuat dengan apa yang sudah terjadi padamu. Aku yakin jika kamu akan bisa melalui sedikit lagi jika ada yang menggangu hidupmu."
Selena mengangkat kepalanya. "Kamu yang menjadi pengganggunya, Kiara, tapi aku tau jika tidak akan bisa mengalahkan kamu."
Selena memberikan kotak makannya ke tangan Kiara. "Kamu tau? Aku benar-benar tidak menyangka akan dikalahkan gadis sepertimu."
Selena berjalan pergi dari sana. Kiara hanya terdiam terdiam mencoba menenangkan hatinya. Dia kemudian berjalan kembali ke unit apartemennya.
Arthur segera membukakan pintu saat dia mendengar bel pintunya dibunyikan.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" Arthur segera mengecek keadaan Kiara.
"Aku baik-baik saja, Mas. Mas kira aku akan adu jotos dengannya? Aku sedang hamil."
Arthur langsung memeluk erat istrinya. Jujur saja dia takut Kiara kenapa-napa saat mengatakan akan mengajak Selena berbicara.
"Kiara, itu kotak makan siapa?" tanya Bi Yaya yang melihat Kiara membawa kotak makan.
"Ini kotak makan dari Selena.Tadi dia memberikan padaku dan langsung pergi. Mas, mau memakannya?"
"Tidak mau! Berikan saja pada penjaga di bawah. Kenapa juga kamu membawanya?"
"Jangan begitu. Dia tadi memberikan baik-baik, dan tidak sopan kalau langsung kita berikan orang lain di depan matanya."
"Ya sudah! Biar Bi Yaya yang memberikan pada penjaga di bawah."
"Apa? Kamu mau memakannya? Jangan dimakan, Ara!"
"Kenapa? Takut diberi racun sama Selena? Dia tidak akan meracuni orang yang sangat dia cintai."
Kiara berjalan dengan membawa kotak makan dari Selena.
Arthur melihat pada Bibi Yaya. Bibi Yaya hanya bisa menunjukan ekspresi datar.
"Kenapa dia sekarang seolah membela Selena, Bi?" Bibi Yaya hanya bisa menjawab dengan mengangkat kedua bahunya ke atas.
Arthur dan Kiara makan pagi bersama. Di meja itu ada masakan buatan Kiara dan ada juga makanan yang Selena tadi bawakan.
"Kiara, kamu serius mau makan makanan dari Selena?"
Kiara mengangguk dan mencicipinya sedikit. "Enak juga, Mas."
"Tentu saja enak, itu makanan dari restoran, tapi aku sudah tidak suka karena bagiku masakan istriku yang paling enak."
"Terima kasih, Mas." Kiara menunjukan senyum senangnya.
Bibi Yaya juga bahagia melihat kebahagiaan mereka berdua.
***
Arthur pergi ke kantornya dan di apartemen Kiara tampak duduk menonton televisi karena dia tidak diperbolehkan oleh bibi Yaya membantu membersihkan kamar, padahal Kiara ingin membantu, dia bosan kalau harus duduk terus dan tidak berbuat apapun.
Tidak lama bel pintu berbunyi. Kiara yang melihat Bibi Yaya naik ke lantai atas segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat ke arah pintu.
"Mega! Aku senang sekali kamu datang ke sini!" Kiara dengan cepat memeluk sahabatnya itu, tapi Mega malah dengan kasar melepaskan pelukan Kiara.
"Aku datang ke sini bukan untuk berpelukan sama kamu," ucapnya ketus.
"Mega, kamu silakan masuk dulu kalau begitu." Kiara merasa sedikit agak kaget dengan sikap Mega, tapi dia mencoba untuk tetep bersikap baik.
"Walaupun tidak kamu suruh masuk, aku juga akan masuk karena ini adalah apartemen kakakku." Mega berjalan masuk sembari mengedarkan pandanganya melihat suasana di sana.
"Iya, ini memang milik kakak kamu dan kamu boleh sering datang ke sini. Kita bisa saling bercerita seperti dulu." Kiara terlihat berbinar mengatakan hal itu.
"Kita bukan sahabat yang seperti dulu, Kiara. Kamu bukan sahabat yang baik untukku."
"Mega, aku harus melakukan apa agar kamu mau memaafkan segala kesalahanku. Aku ingin kita bisa seperti dulu." Kiara memegang tangan Mega, tapi lagi-lagi Mega menepis tangan Kiara dengan kasar.
"Aku membencimu, Kiara, aku sangat membencimu, bukan hanya karena kamu menikah diam-diam dengan Kakakku, tapi karena kamu juga masih mendekati Elang dan juga membuat kedua orang tuaku bertengkar! Apa yang sebenarnya kamu inginkan dengan semua ini, Kiara? Aku tidak cukup dengan apa yang sudah aku berikan sama kamu?"
"Mega, aku sama sekali tidak memiliki niat apapun dengan semua ini. Aku masih Kiara yang kamu kenal, dan tentang Elang aku sama sekali tidak ada hubungan lagi dengannya."
"Tidak ada hubungan lagi? Kamu jangan pura-pura sok polos dan lugu! Kalian diam-diam bertemu dan bahkan sampai berpelukan! Yang membuat aku sangat marah, kalian melakukan hal itu di acara bahagiaku!" seru Mega dengan nada tinggi.