
Arthur melirik pada sahabatnya itu. "Tidak perlu karena yang terpenting sekarang, aku harus bisa membuat Kiara mau tinggal bersamaku. Bagaimanapun juga dia adalah istriku dan aku akan melindunginya."
"Aku sudah bilang agar kamu memaksa saja. Gunakan kekuasaanmu sebagai seorang suami, tapi jangan memaksanya di atas ranjang, Arthur. Huft! Takutnya dia akan trauma lagi."
"Kalau soal hal itu, aku tidak akan memaksanya, Gio. Bagaimanapun juga trauma tentang hal itu pasti masih membekas pada diri Kiara dan aku tidak mau mengingatkannya lagi akan hal itu."
"Kalau begitu kamu juga harus bersabar jika menginginkan hal itu." Gio tersenyum seolah menertawakan Arthur.
"Aku tidak terlalu memikirkan hal itu sekarang." Arthur menghabiskan minumannya dan beranjak pergi dari sana.
Keesokan paginya, Kiara seperti biasanya pergi ke sekolah dengan diantar oleh Arthur. Arthur melihat kedua mata Kiara yang agak sembab dan dia tau kenapa mata Kiara seperti itu.
"Kenapa mata kamu? Apa tidurmu tidak nyenyak semalam?"
"Kita berangkat saja ke sekolah, aku tidak mau membahas apapun, Arthur." Kiara bersandar pada kursinya dan melihat ke arah luar jendela.
Arthur tidak mau mengganggu istrinya yang kelihatan sedang tidak baik itu. Arthur fokus mengemudi sampai mobilnya berhenti di tempat biasanya.
"Ki--." Arthur terhenti saat melihat istrinya itu ternyata tertidur dengan bersandar pada kursi di mobil.
Arthur mendekatkan wajahnya dan melihat wajah Kiara yang terlelap. "Sebaiknya aku bangunkan atau aku bawa saja dia pergi dari sini?" Arthur tampak berpikir sejenak sembari terus menatap wajah Kiara.
Arthur akhirnya memutuskan untuk membangunkan Kiara karena dia tau Kiara pasti tidak mau membolos sekolah.
Kiara tampak mengerjapkan kedua matanya dan agak kaget melihat wajah pria yang adalah suaminya.
"Arthur, apa kita sudah sampai di sekolah?" Kiara mengedarkan pandangannya melihat di luar jendela.
"Iya, kita sudah sampai. Kamu mau masuk sekolah atau kita pulang saja?"
Kiara tampak terdiam menatap manik kedua mata Arthur karena posisi Arthur saat ini dekat dengan wajah Ara, bahkan telunjuk Arthur sedang memainkan sehelai rambut Kiara.
"Aku sekolah saja." Kiara dengan cepat melepas sabuk pengamannya dan menarik tangan Arthur untuk mengecup dan segera keluar dari mobil.
Arthur tersenyum kecil melihat tingkah istrinya itu. "Huft! Pasti akan sangat sulit membuatmu mengerti akan semua ini, Ara. Kenapa juga aku harus terlibat dalam perasaan seperti ini?" Mobil pria itu beranjak pergi dari sana.
Kiara berjalan menuju kelasnya dengan wajah bingung sembari memegangi bibirnya. "Tadi, apa Arthur menciumku lagi? Kenapa aku merasa seolah ada yang mencium bibirku saat tidur?"
"Kiara, kamu baru datang? Kenapa aku tidak melihat mobil Arthur? Apa kamu tidak dijemput olehnya?"
"Mega, kamu mengagetkan aku saja."
"Kamu sedang melamun apa? Eh, tunggu!" Mega memegang kedua lengan Kiara untuk menghentikan langkah sahabatnya itu.
"Ada apa, sih?"
"Kamu menangis semalaman? Itu mata kenapa sampai terlihat sembab?"
"Oh ini! Aku tidak apa-apa?"
"Jangan bilang tidak apa-apa. Kamu itu menangis karena kangen sama ibumu atau karena Elang?"
Kiara tampak terdiam sejenak. "Aku nanti akan ceritakan apa yang terjadi semalam denganku." Kiara menggandeng tangan sahabatnya itu untuk masuk ke dalam kelas mereka.
Pelajaran dimulai dengan baik sampai pada akhirnya jam istirahat berbunyi. Mega dengan cepat menuju meja Kiara untuk menagih cerita yang Kiara tadi janjikan padanya.
"Dia seperti sangat jijik padaku karena aku tidak setara dengannya."
"Mamaku sebenarnya begitu orangnya. Makannya, dia cocok dengan Tante Kella, tapi mamaku tidak membatasi aku berteman sama siapapun, hanya pacar mungkin akan seperti Tante Kella." Mega memanyunkan bibirnya.
"Kamu memang pantas mendapatkan pria yang baik, kaya, mapan dan pastinya dia mencintaimu."
Mega melirik pada Kiara. "Kapan aku menemukan dia?"
***
Acara pengajian ibu Kiara sudah selesai. Tidak terasa ibu Kiara meninggalkan putrinya itu sudah hampir seminggu. Kiara sedang berada di dalam kamarnya, dan dia sedang membereskan barang-barang ibunya yang masih belum rapi. Dia akan menyimpannya dengan baik sebagai kenangan yang selamanya Kiara jaga seperti barang-barang milik ayahnya.
"Bu, doakan Kiara bisa mengahadapi ujian besok dengan baik, ya? Aku kangen sekali sama ibu, ibu biasanya yang membangunkan Kiara setiap pagi agar bjsa belajar sebelum masuk sekolah." Air mata gadis itu menetes perlahan sembari memeluk foto ibunya.
Tok ... tok ... tok
Pintu rumah Kiara diketuk oleh seseorang dan hal itu membuat Kiara terhenyak dari lamunannya.
"Siapa yang datang malam-malam begini? Apa dia tidak bisa datang besok saja?"
Kiara beranjak dari tempatnya dan menuju pintu utama rumahnya. Kiara seperti biasanya sebelum membuka pintu dia melihat dari jendela siapa yang mengetuk pintu rumahnya.
"Arthur? Ada apa dia ke sini?"
"Buka pintunya, Kiara," ucap Arthur yang melihat gadis itu mengintip dari jendela. Kiara mau tidak mau akhirnya membuka pintu dan menyuruh Arthur masuk.
"Ada apa kamu ke sini malam-malam seperti ini?"
"Aku membawakan kamu nasi goreng kesukaanmu." Arthur memberikan bungkus plastik yang ternyata berisi dua bungkus nasi goreng pada Kiara.
"Aku tidak lapar, lagi pula aku hanya suka nasi goreng di tempat biasanya aku beli."
"Ini aku beli di sana tadi."
"Apa? Kamu beli di sana? Apa tidak mengantri lama?"
"Aku mengantri, tapi hanya sebentar," ucapnya seperti ada hal yang dia ingin sembunyikan.
Jelas saja antrinya sebentar, orang yang antri di depannya dia tawari uang agar dia didahulukan dan nasi goreng yang dia beli itu harganya dia bayar dua kali lipat dari harga normalnya.
"Kamu kenapa malah menyusahkan diri seperti itu? Aku tidak pernah memintanya kamu melakukan itu, Arthur."
"Nanti saja kalau mau memujiku. Aku lapar karena dari tadi aku belum makan, pekerjaan di kantorku sangat banyak hari ini." Arthur duduk pada sofa Kiara dan dia tampak benar-benar lelah, terlihat dari wajahnya.
Kiara yang masih berdiri di sana hanya terdiam melihat pada Arthur. "Kalau capek, kenapa malah ke sini? Kamu pulang saja dan tidur di rumah kamu."
Arthur melihat pada Kiara. "Aku ingin makan denganmu karena di rumah juga aku tidak ada yang menemani. Lagi pula kamu di rumah sendirian dan aku khawatir denganmu."
"Aku baik-baik saja. Lagi pula aku pernah seperti ini saat ibuku pergi ke rumah saudaranya tetanggaku untuk bekerja membuat masakan dan aku tidak takut."
"Mba Tami menyuruhku untuk menjagamu selama dia pergi ke desanya Banni selama beberapa hari. Bagaimanapun keadaannya sudah beda, Kiara."
"Tidak ada yang beda, Arthur. Setelah kita berpisah, aku juga akan menjalani semua sendiri dan aku meyakinkan diriku untuk siap menghadapi semua ini."