Be Mine

Be Mine
Berita Bahagia part 1



Kiara perlahan mengerjapkan kedua matanya dan dia tampak melihat ada tangan yang menggenggam tangannya.


"Mas Arthur," panggilnya lirih.


"Kiara kamu sudah sadar? Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya suara itu.


Kiara terkejut mendengar suara yang ternyata bukan suaminya, tetapi melainkan suara orang yang ingin dia hindari.


"Elang?" Kiara seketika menarik tangannya.


"Kiara, kamu jangan khawatir karena aku ada di sini untuk menjaga kamu."


"Mas Arthur mana? Dan aku ada di mana?"


"Arthur itu tidak peduli sama kamu, kenapa kamu masih mencarinya?"


"Kamu jangan berbicara hal yang tidak kamu ketahui, Lang."


"Buktinya, kamu dibiarkan sampai pingsan di jalanan dalam keadaan hamil. Di mana suamimu saat ini, Kiara?"


"Apa? Hamil? Aku hamil?" Kiara terlihat sangat terkejut.


Elang pun jadi bingung. Kenapa Kiara seolah baru tau jika dirinya hamil?


"Bukannya kamu sudah tau jika kamu hamil, Kiara. Waktu itu kamu bilang padaku."


"Itu aku berbohong untuk menghentikanmu berbuat buruk padaku karena aku adalah istri seseorang, Lang. Lang, tapi apa benar aku hamil? Kata siapa?"


"Kamu memang hamil, Kiara. Mommyku yang seorang dokter kandungan yang sudah memeriksamu dan menyatakan jika kamu memang tengah hamil," terang Morgan yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu setelah berbicara dengan Mega di telepon karena Mega baru saja membalas panggilannya.


"Jadi, aku benaran hamil." Kiara menangis bahagia. "Morgan, apa aku boleh meminjam ponselmu untuk menghubungi suamiku karena aku tadi diusir dari apartemen tidak membawa apapun." Kiara seketika kembali sedih mengingat perlakuan mama mertuanya.


"Apa? Kamu diusir dari apartemen dan sekarang kamu masih mau menghubungi si brengsek itu?"


"Namanya Arthur, Lang, dan suamiku bukan pria brengsek." Kiara menatap Elang tajam.


"Kiara, aku pernah melihat suamimu dengan seorang wanita di dalam mobil pada saat hari sudah malam. Dia itu bukan pria baik-baik."


"Aku tau siapa yang bersama dengan suamiku waktu itu, dan sekali lagi aku katakan sama kamu, Lang, suamiku pria yang sangat setia mencintaiku."


"Kiara, siapa yang mengusirmu dari apartemen suamimu?" tanya Morgan penasaran.


"Mamanya Mas Arthur belum mengetahui tentang pernikahanku dengan putranya. Dia mengira aku hanya gadis murahan yang menggoda Mas Arthur, padahal aku sudah menikah secara sah, bahkan di hadapan mendiang ibuku sebelum meninggal."


"Kenapa pernikahan kamu dan Arthur harus disembunyikan, Kiara?"


"Karena Mas Arthur tau jika keluarganya tidak akan mau menerimaku, tapi Mas Arthur tetap mempertahankan aku karena dia sangat mencintaiku."


Morgan seketika melihat pada Elang. Elang pun seolah merasa tersindir.


"Aku juga sangat mencintaimu, Kiara, tapi aku hanya butuh waktu untuk kamu menungguku bisa memperjuangkan kamu karena aku untuk sekarang belum bisa melawan mamaku."


"Kamu tidak perlu melawan mama kamu, Lang karena gadis yang akan menikah denganmu adalah pilihan terbaik dari mamamu. Lang, aku sudah hidup bahagia dengan suamiku dan sebentar lagi aku juga akan menjadi seorang ibu. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama keluargaku, dan aku sekali lagi memohon sama kamu untuk membiarkan aku bahagia, Lang." Wajah Kiara mengatakan hal itu dengan tulus.


"Iya, Lang, cobalah berusaha melupakan Kiara. Kalau kamu menikah dengan Mega, kalian akan menjadi sebuah keluarga besar. Ayolah, Bro! Cinta itu tidak harus memiliki, dan kamu pasti merasa bahagia jika melihat orang yang kamu cintai bahagia." Tangan Morgan menepuk pundak Elang.


"Aku benar-benar kalah sekarang." Elang malah menangis dihadapan Kiara.


Kiara yang melihat keadaan Elang saat ini tampak ada rasa kasihan terlepas dari rasa benci pada Elang mengingat apa yang hampir saja Elang lakukan padanya. Sebenarnya Elang juga tidak bisa disalahkan karena dia hanya saking cintanya pada Kiara.


"Lang, tidak ada yang dikalahkan atau mengalahkan di sini. Terima kasih kamu sangat mencintaiku, tapi maaf jika sekarang dan untuk selamanya aku hanya mencintai suamiku."


"Kamu pasti bisa menerima semua ini, Bro! Kamu pria yang kuat."


Elang tidak menjawab dia beranjak dari tempatnya dan berjalan pergi dari ruangan di mana Kiara dirawat.


"Aku minta maaf, Lang."


"Biarkan saja dia, Kiara. Bagaimanapun juga kamu sudah menikah dan memiliki keluarga kecil sendiri. Selamat ya, Kiara, aku tidak menyangka jika kamu akan menjadi seorang ibu."


"Terima kasih, Morgan. Ini benar-benar berita yang sudah lama aku dan Mas Arthur tunggu." Kiara mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


"Kiara, aku harap kamu jangan membenci sahabatku itu ya? Dia kasihan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, dia harus menerima semua ini."


"Aku tidak membencinya, aku juga tidak ingin memiliki perasaan benci pada siapapun, Morgan."


"Aku tau, kamu sangat baik, bahkan dikhianati sahabat kamu saja, kamu masih sangat baik."


"Maksud kamu?"


"Kiara, aku hanya memberimu saran saja. Jangan terlalu percaya pada Mega dan segala kebaikkannya. Ya! Walaupun dia pernah membantumu, tapi bukan berarti dia malaikat untukmu." Kiara tampak bingung. "Ini ponselku, katanya kamu mau menghubungi suamimu. Cepat hubungi dia dan katakan kalau kamu ada di sini. Dia pasti sangat mencemaskan kamu."


"Iya, Morgan, terima kasih." Kiara segera mengambil ponsel milik Morgan dan dia menghubungi nomor suaminya.


***


Sebelumnya, Arthur yang seolah putus asa karena belum mendapat kabar dari orang suruhannya, memilih pergi ke rumah mamanya yang kala itu di rumah utama, mamanya sedang mengadakan acara arisan para sosialita.


Di sana juga ada orang tua dari Elang dan Mega pun ikut dilibatkan dalam acara itu karena mereka ingin sekalian memperkenalkan Mega sebagai calon tunangan Elang.


"Hai, Ma," sapa Arthur berdiri dengan wajah kesalnya tepat di hadapan para teman mamanya.


"Arthur? Tumben sekali kamu datang ke sini?" Alexa tersenyum senang sembari berdiri menghampiri putranya. "Arthur, kamu duduk dulu karena Mama mau memperkenalkan kamu dengan salah satu teman Mama, dan dia memiliki anak gadis yang sangat cantik."


"Aku tidak ingin berkenalan dengan siapapun. Ma, apa yang sudah Mama lakukan pada Kiara di apartemenku?"


"Arthur, apa gadis murahan itu berani kembali menemuimu?"


"Dia bukan gadis murahan seperti apa yang Mama tuduhkan. Kiara tidak menjual dirinya padaku, tapi Kiara itu adalah istriku," Arthur menekankan ucapannya.


Seketika suasana di sana terfokus pada dua orang yang sedang bicara itu. Alexa tampak terkejut mendengar apa yang baru saja dia dengar. Pun dengan Mega dan mamanya Elang.


"Apa? Istri? Arthur, kamu jangan berbicara sembarangan seperti itu. Di sini ada teman-teman Mama."


"Aku tidak peduli dengan teman-teman, Mama. Aku hanya ingin memberitahu pada Mama agar tidak mengganggu kehidupan keluarga kecilku dengan Kiara. Kami ini adalah suami istri dan aku menikahi Kiara sebelum ibunya Kiara meninggal waktu itu."


"Arthur! Bercanda kamu keterlaluan!"


"Aku tidak bercanda. Aku serius dengan apa yang aku katakan!"