Be Mine

Be Mine
Merayu Suami part 2



Kiara mengetuk pintu ruang kerja suaminya, dan dia mendapat jawaban dari dalam.


"Mas," panggil Kiara lirih.


Arthur memberi isyarat agar Kiara menunggunya sebentar karena Arthur sedang menyelesaikan pekerjaannya, apa lagi Arthur juga sedang berbicara dengan seseorang melalui pesawat telepon.


"Sayang, ada apa?"


"Mas, aku mau membeli beberapa barang yang mau aku pakai untuk kegiatan OSPEK di kampus."


"Tapi aku mau mengerjakan beberapa pekerjaan kantor yang harus segera aku selesaikan dan ini nanti aku ada video call dengan rekan kerjaku di Swiss. Apa bisa kamu tunggu dua jam lagi?"


"Mas selesaikan saja pekerjaannya, aku mau pergi dengan ditemani oleh Bibi Yaya."


"Dengan Bibi Yaya?"


"Iya, Mas. Aku akan pergi ke toko dekat apartemen kita ini. Bolehkan, Mas?"


Arthur tampak terdiam sejenak. "Ya sudah kamu boleh pergi, tapi setelah membeli semuanya kamu segera kembali karena ini sudah malam."


"Siap, Sayang! Oh ya, Mas! Aku ada tugas menggambar dena kampus dan aku ada gambaran tentang tata letak kampusku yang aku tadi foto di ruang guru. Apa kamu bisa membuatkannya? Please buatkan ya?" Mohon Kiara.


Arthur tampak berpikir sejenak. "Nanti aku gambarkan, tapi kamu harus membayarku."


"Hah? Membayar, Mas? Mas ini lucu, bukannya uang Mas itu lebih banyak dari aku, aku saja malah dikasi Mas uang tiap bulan."


Arthur berjalan dan mendekat ke arah istrinya, dia memeluk Kiara dari belakang, menekankan dagunya pada pundak wanita kesayangannya itu.


"Memangnya aku bilang kalau minta bayaran uang?"


"Kalau bukan uang, lantas minta aku bayar pakai apa?" Kiara menengok ke samping melihat wajah suaminya yang sudah senyum aneh saja.


"Berikan yang bisa kamu berikan padaku."


"Ini." Kiara menunjukkan perutnya.


Arthur seketika tertawa dengan sikap polos istrinya. "Itu memang sudah menjadi milikku, maksud aku berikan lainnya."


"Mas ini kenapa malah mengajak main tebak-tebakan? Aku mau pergi dulu sebelum hari semakin malam, nanti kasihan Bibi Yaya pulangnya jadi tambah malam."


"Bayar aku dengan tubuhmu," celetuk Arthur yang membuat Kiara seketika melihat dengan mata berkedip beberapa kali. "Jangan menggemaskan seperti itu!" Arthur mengecup dalam pipi Kiara dan wanita itu tampak tersenyum bahagia.


"Aku mencintaimu, Mas."


"Aku juga mencintaimu, Ara."


"Jadi beli tidak," celetuk Bibi Yaya yang ternyata ada dibalik pintu yang tidak tertutup rapat.


Kiara yang kaget seketika melepaskan pelukan Arthur. "Bibi! Aku sampai." Wajah Kiara merona malu.


"Selalu ceroboh, kenapa tidak menutup pintunya dengan rapat? Apa lupa di sini masih ada wanita tua ini?"


"Maaf, Bi. Mas Arthur sih!"


"Kenapa jadi aku yang salah?"


"Aku pergi dulu, Mas." Kiara mengecup punggung tangan suaminya dan dia menggandeng tangan Bibi Yaya keluar dari pintu apartemennya.


"Hati-hati, Sayang!" teriak Arthur dan dengan agak berteriak Kiara menjawab iya.


Kiara dan Bibi Yaya sudah berada di toko yang menjual beberapa alat sekolah dan ada aksesories. Toko itu sangat besar dan termasuk toko yang lengkap karena di bagia atas ada supermarket juga.


"Bi, aku mau ke lantai atas mencari kaleng susu yang nanti bisa aku gunakan."


"Ya sudah, Bibi akan di sini mencari bahan lainnya untuk membuat kalungnya."


Kiara naik anak tangga perlahan-lahan. Sesampai di atas dia menuju lorong di mana aneka macam susu dengan merk berbeda ada di sana.


"Ini saja, nanti isinya bisa dibuat pusing susu." Kiara mengambil beberapa kaleng.


Prang!


Terdengar suara kaleng susu yang dibawa Kiara jatuh berserakan di lantai. "Ya ampun! Kenapa bisa jatuh semua?"


Kiara berjongkok memunguti. Saat dia sedang mengambil satu persatu kaleng susu yang jatuh, ada tangan seseorang yang juga ikut mengambil satu persatu kaleng susu milik Kiara dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan.


"Kalau mau beli barang yang banyak, sebaiknya menggunakan keranjang belanjaan."


Kiara melihat siapa yang sedang berjongkok di depannya. "Kiano? Kamu kok bisa ada di sini?"


"Eh, kamu Kiara, kan? Temannya Margin?"


"Iya, aku Kiara. Kamu kenapa bisa ada di sini?"


Kiano beranjak berdiri dan saat Kiara mau berdiri, dia merasakan sakit pada perutnya. "Kamu tidak apa-apa?" Kiano membantu Kiara berdiri, dia memegang tangan Kiara.


"Aku tidak apa-apa."


"Apa mau minum dulu? Akan aku ambilkan."


Kiara dengan cepat memegang tangan Kiano. "Tidak perlu, Kiano, aku baik-baik saja."


Kiano melihat tangannya yang dipegang oleh Kiara. Kiara yang sadar jika tangannya dilihat oleh Kiano seketika melepaskannya.


"Kamu sendirian?"


"Aku sama Bibi Yaya dan beliau sedang mencari sesuatu di bawah."


Kiano mengambilkan keranjang berisi kaleng susu milik Kiara dan memberikan pada Kiara.


"Terima kasih, Kiano. Oh ya, kamu kenapa bisa ada di sini? Memangnya tempat tinggal kamu dekat sini?"


"Aku memang mau pindah di daerah dekat sini, ini aku mau belanja beberapa barang-barang yang aku butuhkan."


"Oh ... begitu?"


"Iya. Eh, Kiano. Em ... maksudku Kakak Kiano."


"Kakak?" Kiano melihat aneh pada Kiara.


"Iya, Kakak. Kamu, kan tingkatannya jauh di atasku. Jadi, sudah sewajarnya aku memanggilmu dengan sebutan Kakak untuk menghormati orang yang lebih tua."


Kiano tersenyum kecil. "Kalau mau memanggil Kiano saja juga tidak apa-apa, aku tidak akan marah, tapi kalau tetap mau memanggil Kakak juga boleh. Kedengarannya lebih manis."


Kiano sekali lagi memberikan senyum manisnya dan berjalan pergi dari sana. Kiara tampak terdiam di tempatnya. "Ya ampun! Kenapa aku lupa mau bilang kalau termos botolnya ada padaku?" Kiara mencoba mencari Kiano, tapi pria itu sudah tidak ada di sana.


"Kiara, kamu sedang mencari siapa?"


"Kiano, Bi."


"Kiano? Kiano siapa?"


"Itu ... kakak angkatanku yang botol termosnya aku bawa."


"Memang dia ada di sini? Mana?"


"Sudah pergi sepertinya, dia tadi membantunya mengambil kaleng susu yang aku jatuhkan di lantai. Lalu, dia pergi."


"Dia membantu kamu lagi?"


"Iya, Bi. Bi, apa perlu aku cerita sama Mas Arthur tentang hal ini?"


Bibi Yaya tampak berpikir. "Sebaiknya tidak perlu, ini juga bukan hal yang besar."


Kiara mengangguk pertanda setuju. "Benar apa yang Bibi katakan. Ya sudah kalau begitu kita pulang saja karena aku sudah membeli apa yang aku butuhkan."


Kiara dan Bibi Yaya menuju meja kasir dan setelah membayar semuanya mereka kembali ke apartemen.


Kiara dibantu oleh bibi Yaya membuat kalung dari kaleng bekas dan juga membuat name taq.


"Bagus, kan, Bi?" Kiara menunjukkan kalung dari kaleng susu bekas."


Bibi Yaya menahan tawa melihat Kiara memakai kalung itu.


"Bibi ini kalau mau tertawa, ya tertawa saja, tidak perlu ditahan, nanti yang ada sakit perut."


"Kamu lucu sekali memakai atribut seperti itu. Kenapa acara sekolah atau kuliah ini aneh-aneh sekali, ya?"


Kiara melepaskan kalungnya. "Memang sekarang itu seperti ini aturannya, Bi."


"Iya. Bagaimanapun kita tetap dan harus mengikuti aturan yang ada."


"Iya." Kiara melihat jam dinding, di sana jarum jam menunjuk pada angka sembilan. "Bibi kalau mau pulang silakan saja, biar sisanya aku selesaikan sendiri."


Bibi Yaya beranjak dari tempat duduknya dan dia izin pada Kiara untuk pulang. Bibi Yaya tidak izin pada Arthur karena sepertinya Arthur sedang sibuk di ruang kerjanya dan Bibi Yaya tidak mau mengganggunya.


Kiara menyelesaikan beberapa yang belum dia kerjakan.


Beberapa menit kemudian, Arthur keluar dari ruang kerjanya dan menemui Kiara yang ada di ruang tengah sedang mengerjakan tugasnya.


"Sayang, belum selesai? Bibi Yaya sudah pulang?"


"Belum, Mas, tinggal sedikit lagi. Bibi tadi aku suruh langsung pulang saja karena kamu juga kelihatannya sibuk sekali."


"Iya, aku minta maaf karena memang ada beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan."


"Tidak apa-apa, Mas."


"Sayang, mana kertas gambar yang mau aku gambarkan dena kampus kamu?"


"Mas tidak capek? Kalau capek biar aku gambar sendiri."


Arthur duduk di bawah tepat di samping istrinya. "Aku sama sekali tidak capek. Apa lagi nanti aku bisa mendapat imbalan yang setimpal." Arthur melirik pada Kiara.


"Apa sih, mas! Walaupun tidak membantuku, kalau Mas mau juga pasti aku tidak akan menolaknya."


Mereka berdua akhirnya berkerja sama membuat dena lokasi kampus Kiara. Kiara yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, tampak memperhatikan suaminya yang serius menggambar dena lokasinya dengan sangat teliti.


"Gambar kamu bagus sekali. Kamu itu memang serba bisa." Tangan Kiara mengusap perlahan rahang tegas Arthur.


"Jangan mengganggu Kiara. Nanti gambarnya jadi jelek."


"Gambarnya bagus, Mas Arthur," bisik Kiara lirih pada telinga suaminya.


Arthur meletakkan pensilnya dan melihat kesal pada Kiara. "Sepertinya aku harus mengambil bayaranku lebih dulu baru menyelesaikan pekerjaanku."


"Mana ada seperti itu? Semua itu harus melakukan kewajibannya, baru nanti meminta haknya."


"Itu, kan buat orang lain, kalau buat aku beda lagi." Arthur perlahan-lahan mendekat pada istrinya yang terlihat takut didekati oleh suaminya.


"Mas, nanti saja bayarannya, selesaikan dulu gambarku, nanti keburu tambah malam. Tadi itu aku hanya menggoda kamu saja, habisnya aku gemas melihat muka Mas yang lucu kalau lagi serius."


"Tidak mau, kamu yang sudah mengganggu konsentrasiku. Jadi, aku akan menanggapi kamu." Arthur menangkup pipi istrinya dan mengecupi bibir Kiara dengan ritme cepat, tapi terkesan lembut.


Mereka berciuman beberapa menit sampai akhirnya Arthur melepaskan ciumannya.


"Sudah puas?"


"Ya setidaknya bisa mengembalikan moodku yang sempat hilang tadi." Arthur tersenyum kecil dan mulai menggambar lagi.


Kiara pun memberikan pelukan hangat pada suaminya. Hampir satu jam Arthur menggambar dan akhirnya gambar itu jadi.


"Kiara, sudah selesai." Arthur melihat ke samping dan ternyata istrinya malah ketiduran dengan duduk. Kiara menempelkan kepalanya di atas meja.


"Kasihan sekali dia, dia pasti kecapean. Huft!" Arthur menggendong Kiara dan membawanya ke kamar mereka. Arthur membaringkan tubuh Kiara dan dia menyelimutinya.


"Sekarang aku yang kasihan karena tidak mendapatkannya bayaranku. Ingatkan aku besok untuk menagih hakku."


Arthur berjalan turun karena ingin membereskan semuanya, Arthur bukan tipe orang yang suka melihat hal yang berantakan.