Be Mine

Be Mine
Benar-Benar Rencana Busuk part 1



Mega berjalan dengan Elang menuju lantai bawah karena dia akan pulang sebentar ke rumah untuk mengambil beberapa baju Mamanya, sedangkan Kiara berada di lantai atas kamar VVIP ruang rawat inap mama mertuanya.


Didalam mobil, Mega tampak tersenyum senang dan Elang yang melihatnya pun tampak penasaran apa yang membuat calon istrinya itu tersenyum atau mungkin karena dia sudah berbaikan dengan Kiara?


"Kamu terlihat senang sekali Mega, apa kamu merasakan kebahagiaan kembali setelah bersahabat lagi dengan Kiara?"


"Oh iya, aku senang bisa menjadi sahabat lagi dengan Kiara, hatiku rasanya tidak ada beban dan tidak ada rasa sakit lagi dan itu semua karena kamu, Lang. Terima kasih ya Sayang." Mega memegang tangan Elang.


"Aku senang kamu dan Kiara bisa berteman lagi karena kita semua akan menjadi satu keluarga, pasti sangat menyenangkan jika bisa bersama-sama dalam kebahagiaan." Elang langsung ikut tersenyum.


Tidak lama Mega melirik ke arah Elang, dalam hatinya dia berkata jika dia melakukan semua ini memang untuk Elang agar Elang tidak membencinya dan tetap melanjutkan pernikahan mereka, tapi jauh di lubuk hati Mega. Dia sama sekali masih membenci Kiara, dia senang karena tadi sudah membuat makanan yang dibawa oleh Kiara jatuh berserakan sehingga Elang tidak akan bisa dapat memakannya. Mega tidak rela jika Elang memuji masakan wanita lain walaupun itu kakak iparnya.


Di dalam kamar, Kiara sedang mengupas buah untuk mama mertuanya karena mama mertuanya itu ingin makan buah. Tidak lama Alexa terbatuk, Kiara segera mengambilkan air minum yang ada di samping tempat tidur mama Alexa.


"Kok tidak enak sekali ya rasanya air putih ini? Kiara apa tidak ada minuman yang ada rasanya? Teh manis atau susu begitu, ini tidak enak sekali rasanya hambar. Aku ingin muntah rasanya."


Kiara mengedarkan pandangannya mencari sesuatu, mungkin dia bisa membuatkan minuman lain untuk mamanya, tapi ternyata di sana tidak ada apa-apa hanya buah-buahan, biskuit dan beberapa botol air mineral.


"Memangnya Tante boleh minum selain air putih? Nanti aku akan tanyakan pada susternya."


"Jangan, Kiara! Nanti aku dimarahi. Kamu turun saja ke lantai bawah dan berikan teh hangat yang ada di kantin rumah sakit atau kalau boleh kamu belikan minuman lainnya pokoknya aku tidak minum air putih ini tidak enak rasanya."


"Maaf, Tante, aku tidak berani nanti kalau Tante minum selain air putih terus ada apa-apa, aku tidak mau hal itu terjadi."


"Kamu tenang saja, aku tidak akan apa-apa, aku ini sudah sakit malah diberi minuman yang tidak enak, jadi terasa tambah tidak enak rasanya."


Kiara tampak bingung, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan? Akhirnya dia mencoba untuk meyakinkan Mama mertuanya jika ingin minum selain air putih akan ditanyakan dulu ke suster kalau suster mengizinkan dia akan mencarikannya.


"Kamu itu, kan menantuku kenapa tidak patuh padaku? Aku tidak akan apa-apa, Kiara! Berikan saja, nanti kalau ada apa-apa aku yang akan mengatakannya pada suster kalau aku yang ingin minum teh manis karena air putih ini terlalu pahit untukku."


Kiara yang baru saja menjalin hubungan baik dengan mama mertuanya akhirnya dia menuruti dan turun ke lantai bawah untuk membelikan teh manis hangat.


Kiara naik dengan membawa satu cup berukuran sedang berisi teh manis hangat.


"Kiara, terima kasih ya."


"Sama-sama Tante Alexa. Kalau minum jangan banyak-banyak sedikit saja dulu."


"Iya kamu tenang saja aku tidak akan apa-apa." Alexa meminum sedikit teh manis itu, dan kembali dia menunjukkan muka seolah tidak suka dengan minuman yang dibawa oleh Kiara.


"Kenapa rasanya tidak seperti yang aku inginkan?"


"Apa tehnya kurang manis, Tante?"


"Kalau begitu aku akan turun lagi untuk mencarikan es batu atau aku akan membelinya baru lagi. Tante taruh di sini teh hangatnya, mungkin nanti Tante mau."


"Kamu tidak capek naik turun? Biarkan saja, tunggu saja Mega, nanti aku dikira menyiksa menantuku," ucap Alexa ketus.


"Tidak apa-apa, Tante, aku baik-baik saja. Aku akan turun membelikan Tante teh manis dengan es " Kiara kembali keluar dari kamar itu dan turun dengan menggunakan lift.


Di dalam kamarnya Alexa menghubungi seseorang dan dia mengatakan agar orang itu memainkan perannya sekarang.


Kiara yang sudah membeli es teh manis pun berjalan menuju ke lift.


"Kiara, kamu kenapa ada di sini?" sapa seseorang yang Kiara sangat mengenalnya.


"Bibi Yaya sudah sampai ke sini." Kiara langsung memeluk Bibi Yaya.


"Kamu sedang apa, Kiara? Itu teh manis untuk kamu? Apa hari ini kamu sedang mengidam ingin minum teh manis?" tanya Bibi Yaya dengan suara bercanda.


"Ini untuk tante Alexa, Bi, tadi dia batuk dan aku beri minum air putih, tapi katanya tidak enak rasanya dan malahan mau muntah, dia ingin minuman selain air putih dan dia minta teh manis ini jadi aku belikan di sini."


"Kamu jangan naik turun, Kiara, walaupun menggunakan lift tetap saja kamu berjalan dari lantai atas ke sini pun capek. Kamu sedang hamil."


"Aku baik-baik saja, Bi, bayiku juga baik-baik saja, dia pasti senang karena bisa diterima oleh neneknya."


"Maksud kamu apa Kiara?"


"Tante Alexa dan juga Mega katanya akan mencoba untuk menerima aku menjadi menantu keluarga Lukas. Bahkan aku sudah berbaikan dengan Mega, Bi. Kalau dengan tante Alexa ... ya perlahan-lahan, Bi. Setidaknya mereka masih membuka kesempatan untuk aku diterima di keluarganya."


Entah kenapa Bibi Yaya yang mendengar apa yang dikatakan Kiara tidak begitu senang karena sebenarnya Bibi Yaya sangat mengenal Alexa, tapi saat melihat wajah bahagia Kiara, Bibi Yaya berharap sangat besar jika Kiara benar-benar akan diterima oleh Alexa.


"Ya sudah kalau begitu kita menemui Mama mertua kamu di atas. Oh ya! Bibi juga membawakan camilan untuk kamu, cucu bibi ini pasti lapar dan rindu dengan camilan buatanku." Tangan wanita paruh baya itu mengusap lembut perut Kiara.


"Tentu saja aku sangat rindu dengan camilan buatan Bibi, boleh aku mencobanya sekarang?"


"Tentu saja boleh. Apa kamu sudah makan?"


"Sudah, Bi tadi aku membuat masakan dan aku juga membawanya ke sini agar Mega dapat makan pagi daripada harus beli."


"Ya sudah kalau begitu. Ini coba dulu!" Bibi Yaya membuka kotak toples berisi camilan kesukaannya Kiara.


"Kangen sekali makanan ini, rasanya sangat enak. Nanti aku habiskan sendiri dan Mas Arthur tidak boleh minta pokoknya." Kiara tersenyum dengan senang.


Mereka berdua naik ke lantai atas dan saat membuka pintu, Kiara sangat terkejut karena di sana ada dokter yang merawat Mama mertuanya dan dokter itu sepertinya sedang memarahi Mama mertuanya.