
Mega mengajak Elang berkumpul bersama dengan keluarganya di taman, tapi Elang menyuruh Mega untuk ke sana terlebih dahulu karena dia mau ke dapur mengambil air mineral.
"Aku tunggu kamu di sana ya, Lang?"
"Iya, aku akan segera ke sana."
Elang melihat Mega keluar dari pintu menuju taman belakang. Elang kemudian merogoh saku celananya guna mengambil ponselnya.
"Halo."
"Halo, Mas Elang," jawab suara seorang pria di seberang telepon.
"Kamu jangan lupa tugasmu. Pernikahanku kurang satu bulan lagi dan aku tidak mau sampai rencanaku ini gagal nantinya. Kamu paham, kan?" bentak Elang terdengar tegas.
"Mas Elang jangan khawatir karena aku tau yang harus dilakukan."
"Bagus kalau begitu."
Elang dan pria yang dia hubungi segera mematikan panggilan. "Mega memang benar-benar sakit jiwa. Dia bisa melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya, bahkan melukai seseorang."
Elang ingat saat dirinya mendengar Mega mengajak Kiara untuk menunjukan sesuatu di lantai kamarnya, dia penasaran dengan apa yang Mega ingin tunjukkan, akhirnya dia mengikuti Mega dan Kiara diam-diam.
Sayang, Elang tidak dapat melihat apa yang Mega tunjukkan pada Kiara karena pintu yang ditutup. Akhirnya Elang memutuskan ingin kembali ke taman, tapi saat Mega membuka pintu kamar dan turun untuk mengambil air Elang memilih menunggu.
Kecurigaan Elang terbukti dan dia melihat Mega menumpahkan air pada anak tangga yang Elang tentu saja tau jika itu Mega rencanakan agar Kiara nanti jatuh di sana.
Elang tentu saja tidak akan membiarkan wanita yang dia cintai sampai terluka dan dia membersihkan tumpahan air yang disengaja itu.
"Mas, kita pulang sekarang, ya," bisik Kiara.
"Kamu kenapa? Apa baik- baik saja?" Arthur melihat istrinya tampak sedikit pucat.
"Kita pulang saja, Mas. Tangan Kiara mencengkeram tangan Arthur.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang."
Mereka berjalan mendekati keluarga Arthur dan Arthur meminta izin untuk pulang lebih dulu.
"Kenapa terburu-buru, Arthur?"
"Maaf, Tante, aku sedikit lelah dan ingin beristirahat," bohong Kiara. Dia mengatakan itu agar tidak membuat lainnya cemas.
"Kiara lelah, Ma. Bagaimanapun juga dia sedang hamil dan kata dokter Maura kalau hal itu wajar."
"Ya sudah kalau begitu kalian pulang saja." Tangan pria paruh baya itu menepuk pelan pundak putranya.
"Tapi acaraku belum selesai, Sayang. Lagi pula Kiara bisa beristirahat di sini. Dia bisa berbaring di dalam sebentar sampai rasa capeknya hilang dan bergabung lagi di sini," paksa Alexa.
Alexa melihat wajah Kiara yang tampak tidak sehat, dan dia malah ingin memaksa karena dia ingin Kiara tambah menderita saja.
"Tapi Tante--?" Kiara tampak bingung, dan dia melihat pada suaminya.
"Ma, aku dan Kiara mau pulang saja. Kami minta maaf jika tidak mengikuti acara Mama sampai selesai, bagaimanapun juga aku harus menjaga kesehatan istri dan calon bayiku."
Arthur kemudian menggendong Kiara ala bridal style karena dia tidak mau Kiara tambah capek berjalan menuju mobilnya.
"Kalian membuat mama sedih saja." Alexa malah menunjukkan wajah sedihnya.
"Alexa, menantu kita harus banyak beristirahat. Kita juga tidak mau, kan, kalau sampai mereka kenapa-napa?"
"Tapi aku ingin merayakan hari ini bersama Arthur dan para menantuku, apa lagi hubunganku dengan Kiara baru saja terjalin baik."
"Ma, Ayah, kami pulang dulu, dan selamat malam semuanya." Arthur melihat ke arah Elang dan Elang hanya tersenyum kecil.
Arthur membawa Kiara berjalan menuju mobilnya. Kiara yang merasakan sakit pada perutnya, tampak menyandarkan kepalanya pada dada suaminya.
"Mas, kenapa perutku seperti ini rasanya?" ucap Kiara lirih sembari memejamkan kedua matanya menahan sakit.
"Kita ke klinik Tante Maura sekarang, dan aku akan menghubungi Tante Maura."
Arthur menghubungi Tante Maura dan menceritakan apa yang terjadi pada Kiara. Maura segera menyuruh Arthur ke kliniknya karena kebetulan dia sedang berada di klinik dan baru saja membantu pasien melahirkan.
Arthur segera membawa Kiara ke sana. Kiara di dalam mobil diam saja merasakan sakit pada perutnya.
"Kiara, kita sudah sampai." Arthur mencoba membangunkan Kiara.
"Mas, sakit," rintih Kiara sangat lirih.
Arthur tampak terkejut melihat wajah Kiara yang pucat serta banyak mengeluarkan keringat, padahal dia dari tadi di dalam mobil yang ber AC.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" Arthur seketika terlihat cemas. Dia segera turun dan berlari mengitari mobilnya. Arthur segera menggendong tubuh Kiara dan berteriak memanggil Tante Maura.
"Arthur, ada apa?" tanya Morgan.
"Mana mamamu, Morgan? Kiara tampak pucat dan mengeluarkan keringat dingin."
Morgan melihat wajah Kiara yang tampak lemas. "Oh Tuhan! Kamu bawa dia masuk ke kamar ini dan aku akan segera memanggil mamaku."
Morgan ikut cemas dan berlari mencari mamanya. Tante Maura ternyata sudah bersiap menunggu kedatangan Kiara.
"Ma, Kiara sudah datang, dan dia ada di kamar Stroberi."
"Iya, Mama akan segera ke sana. Mo, tolong bawakan tas medis mama, kita ke kamar Kiara sekarang."
Ibu dan anak itu segera menuju ke kamar yang diberi sebutan kamar stroberi. Maura menyuruh Arthur agar tidak cemas.
Maura memeriksa Kiara dengan cepat dan segera memberi suntikan pada tangan Kiara. Dia pun segera memasang infus pada tangan Kiara dan menyuruh Kiara mengambil napas dalam dan mengeluarkan pelan-pelan.
Tante Maura juga memeriksa detak jantung bayi Kiara. Wanita cantik itu terlihat tersenyum lega mendengar detak jantung bayi Kiara. Dia kemudian menyuruh Kiara untuk beristirahat.
"Tante, bagaimana keadaan istriku?"
Maura berjalan agak menjauh dari tempat tidur Kiara. "Biarkan dia beristirahat semalam ini sini, aku akan terus memantau keadaanya."
"Memangnya apa yang terjadi pada Kiara, Tante?"
"Dia seperti mengalami kontraksi palsu, tapi kamu jangan khawatir karena bayinya aku periksa tidak apa-apa."
"Kontraksi palsu?"
"Iya, Arthur, itu bisa terjadi jika ibu hamil pernah mengalami hal yang membuatnya sangat terkejut, biasanya efeknya tidak langsung, tapi beberapa menit atau bahkan j kemudian."
"Hal yang mengejutkan? Tapi tadi Kiara tidak mengalami hal mengejutkan saat berada di acara pesta mamaku?" Kedua alis Arthur tampak mengkerut bingung.
"Mungkin, ada hal yang membuat Kiara tidak sengaja terkejut, walaupun bukan merasakan keterkejutan yang sangat ekstrem. Hal kecil, tapi bagi ibu hamil itu membuatnya terkejut juga bisa memicunya. Dia tidak akan bisa merasa nyaman setelah itu dan akhirnya seperti apa yang Kiara alami saat ini."
"Aku nanti akan bicara dan menanyakan pada Kiara. Tante, terima kasih sudah menolong Kiara dan bayiku."
"Ini sudah tugasku, Arthur. Nanti jika Kiara sudah sadar, aku akan melakukan USG pada perutnya."
Perlahan keadaan Kiara mulai membaik, dia bahkan bisa tersenyum pada Tante Maura yang dari tadi menunggunya di sana.