
Mereka masuk ke dalam dan Arthur memesankan bubur ayam dua mangkuk untuk dirinya dan Kiara.
"Arthur, kemarin waktu Mega membantu acara pengajian ibuku dia meninggalkan uang yang lumayan banyak jika itu disebut sebagai uang bela sungkawa."
"Lalu?"
"Aku mau menitipkan uang ini sama kamu karena uang yang dia berikan terlalu banyak dan aku tidak mau menerimanya."
"Berikan sendiri pada Mega kalau tidak mau menerimanya."
"Masalahnya Mega tidak mau menerima karena katanya itu uang dari mamanya yang tidak bisa datang ke rumahku karena masih banyak kesibukan."
Arthur terdiam sejenak. Sebenarnya Arthur tau kalau mama sambungnya itu tidak akan mau datang ke tempat yang bahkan tidak pernah mamanya bayangkan. Tempat tinggal Kiara adalah perkampungan sederhana, dan lebih baik mamanya menitipkan sejumlah uang yang sangat banyak dari pada harus datang ke sana.
"Kiara, aku tidak akan mau menerima uang itu. Kalau memang kamu tidak mau menerimanya, lebih baik berikan langsung saja pada adikku."
"Kalian berdua memang sama saja," omel Kiara yang hanya ditanggapi dengan senyuman biasa oleh Arthur.
Setelah makan pagi itu, Arthur mengantar Kiara pergi ke sekolahnya dan dia menurunkan Kiara di tempat biasa, di mana tidak akan ada yang mengetahui jika Kiara datang dengan mobil milik Arthur.
"Nanti tidak perlu menjemputmu kalau sibuk."
"Aku tidak sibuk dan nanti aku mau menjemputmu. "
"Arthur, kamu tau tidak? Aku sekarang jadi sering berbohong mencari alasan dari Mega hanya karena perkara kamu ingin mengantar jemput aku."
"Kalau begitu kamu jujur saja jika aku yang mengantar jemput kamu."
"Aku tidak masalah jika Mega menganggap kita ada sesuatu."
"Apa? Kamu ini benar-benar mengesalkan. Arthur, aku kalau bisa jangan sampai orang lain tau tentang pernikahan kita ini. Kita sebisa mungkin menyembunyikannya sangat rapat."
"Kenapa? Apa kamu malu jika mereka mengetahui kamu menikah denganku?"
"Arthur, jika kita menikah karena cinta atau hal yang sangat indah, aku sama sekali tidak akan pernah malu. Aku malah akan sangat bahagia dan bangga memilik suami sepertimu walaupun kamu bukan orang kaya raya seperti saat ini."
Arthur terdiam sejenak. Dia benar-benar harus memikirkan sesuatu agar Kiara tidak terus teringat akan kejadian buruk itu, tapi bagaimana?
"Sebaiknya kamu masuk ke sekolah dulu karena waktunya tinggal beberapa menit lagi."
"Aku memang ingin segera keluar dari mobil kamu."
"Cium tangan dulu," ucap Arthur cepat dan langsung membuat tangan Kiara yang sudah membuka kenop pintu mobil Arthur terhenti.
Kiara menoleh dengan wajah menahan kesal, apa lagi saat melihat wajah datar bin santai Arthur.
Kiara segera mengecup punggung tangan Arthur karena dia tidak mau lama-lama berdebat di sana.
"Dia memang sangat cantik jika seperti itu. Sebaiknya sekarang aku pergi dan meminta solusi pada pakar cinta. Huft!"
Arthur pergi ke kantornya setelah di jalan tadi dia mencoba menghubungi Gio.
"Kamu kenapa malah menyuruhku datang ke sini? Apa ada masalah pekerjaan yang seirus, Arthur?"