Be Mine

Be Mine
Pelukan Kiara



Kiara dan Mega kembali sibuk dengan buku-bukunya sedangkan Arthur duduk di sana menikmati kopinya sembari menatap pada istrinya yang tampak serius mengerjakan soal latihan dan sesekali Kiara terlihat mengigit pensilnya saat berpikir. Hal itu bagi Arthur sungguh pemandangan yang indah.


"Kiara, aku mengantuk." Mega menguap.


"Masih ada tiga soal lagi yang belum diselesaikan."


"Aduh!" Mega mengeluh kesal.


Kiara yang merasa dilihat oleh seseorang seketika melirik samar pada pria yang memang dari tadi duduk tepat di depannya.


Senyum kecil dari bibir Arthur terlukis indah dan itu ditujukan untuk gadis yang sedang melihatnya.


Kiara seketika mengalihkan pandangannya. Dalam hati Kiara dia menyukai senyuman itu, tapi juga membuatnya nervous saat melihat tatapan Arthur. Pria itu memang memiliki tatapan mata yang tidak bisa dikatakan biasa.


"Kiara, dilanjut besok saja, ya? Suara petir dan gunturnya juga seram sekali, aku mau tidur saja."


"Ya sudah kalau begitu kita tidur saja dan besok kita lanjutkan lagi di sekolah sebelum jam ujian dimulai."


"Iya. Kak Arthur, kamu tidak tidur?"


"Aku masih mau mengerjakan pekerjaanku. Kalian tidur saja."


"Selamat malam, Kak."


"Selamat malam."


Mega berjalan dengan beberapa kali menguap menuju anak tangga. Kiara yang sudah selesai merapikan alat tulisnya dan saat dia akan menuju anak tangga, Arthur dengan cepat memotong jalannya.


"Arthur, ada apa? Aku mau ke kamar dulu."


Pria di depan Kiara itu tidak menjawab. Dia malah berjalan mendekat dan mendaratkan kecupan pada dahi Kiara. "Selamat malam, istriku," ucapnya lirih dan berjalan pergi dari hadapan Kiara.


Kiara membalikkan badannya melihat punggung suaminya yang akhirnya menghilang masuk ke dalam ruang kerja.


"Oh Tuhan! Aku tidak boleh jatuh cinta pada dia. Arthur bukan tipeku dan ingat perjanjian tiga bulan itu, Kiara. Hanya tiga bulan dan semua akan kembali normal. Kamu akan bisa menikmati hidupmu tanpa takut menyembunyikan hubunganmu dengan Arthur," Kiara bermonolog sendiri.


Dia akhirnya melangkah menuju anak tangga untuk menyusul Mega tidur di kamarnya.


Sekitar jam satu dini hari. Kiara terbangun karena merasakan haus. Dia tidak melihat ada air dalam teko kaca yang ada di depan tempat tidurnya dan Mega.


"Di luar masih hujan saja. Jalanan menuju sekolah pasti hari ini banjir. Semoga tidak terjadi kemacetan nanti saat berangkat sekolah."


Kiara turun dari tempat tidur perlahan dan membawa teko kaca berjalan menuju anak tangga untuk ke dapur.


"Arthur? Kamu sedang apa?"


"Kiara? Kamu kenapa belum tidur?"


"Aku mau mengambil air minum."


Arthur melihat di tangan Kiara ada teko kaca yang biasa berada di kamar Mega. "Aku mau membuat kopi lagi karena pekerjaanku masih banyak."


Kiara mengisi tekonya dan dia melihat pada Arthur yang sedang menunggu air panasnya matang.


"Arthur, apa kamu mau aku buatkan kopinya?"


Arthur seketika menoleh pada Kiara. "Memangnya kamu bisa membuat kopi, Kiara?"


"Tentu saja aku bisa! Kamu jangan menghina, ya." Kiara menaruh tekonya dan mengambil alih tempat Arthur.


Arthur memperhatikan istri kecilnya itu sedang membuat kopi untuknya. Beberapa menit kemudian secangkir kopi panas sudah jadi.


"Cobalah dan katakan apa kamu menyukainya?"


Arthur meniupnya perlahan dan kemudian satu seruputan kecil, membuat Arthur dapat merasakan bagaimana rasa kopi buatan Kiara.


"Rasanya lebih enak dan pas dari aku yang biasa membuatnya sendiri."


"Terima kasih, Kiara."


"Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih sama kamu karena tadi sudah menolongku."


"Itu memang sudah tanggung jawabku untuk menjaga kamu."


"Kalau begitu, aku mau kembali ke kamar dulu."


"Kiara, sekali lagi terima kasih kopinya, kopi buatan kamu enak. Jadi, sekarang aku tidak perlu membuat kopi sendiri karena ada istriku nanti yang akan menyiapkan kopi untukku." Arthur tersenyum dan melangkah pergi dari sana.


"Sepertinya aku salah tadi sudah membuatkan kopi untuknya."


Kiara yang hendak melangkah dari dapur, seketika kakinya terhenti. Tangannya gemetar dan perlahan dia menaruh teko yang dia bawa di atas meja dapur.


Suara guntur kembali terdengar sangat keras tidak seperti biasanya. "Arthur ...!" Kiara berteriak spontan memanggil nama Arthur.


Pria yang baru saja melangkah beberapa langkah dari dapur pun terhenti. Arthur membalikkan badan dan berlari menuju ke arah suara yang memanggilnya.


Dug!


"Aduh!" erang Arthur saat kakinya malah menabrak kaki meja karena dia tidak melihat ada meja kayu di sana. Dia meletakkan kopinya di atas meja kayu yang tadi dia tabrak, dan langsung menuju arah suara yang tadi memanggilnya.


Samar, Arthur melihat ada bayangan Kiara dan dia langsung mendekatinya. "Kiara, kamu kenapa?"


Blup!


Arthur tidak mendapat jawaban, tapi dia malah mendapat pelukan erat dari Kiara. "Aku takut," ucap Kiara dengan bibir gemetar.


Arthur mendekapnya erat. "Tidak ada yang perlu kamu takutkan, Kiara."


"Kenapa lampunya harus mati dan suara guntur itu terdengar sangat keras sekali tadi." Kiara berbicara dengan masih mendekap tubuh Arthur.


Arthur baru sadar jika yang dikatakan takut itu karena lampunya rumah Mega yang tiba-tiba padam.


"Kiara, lampunya sudah menyala."


"Aku takut, Arthur."


"Jangan takut karena lampunya memang sudah menyala. Lihatlah."


Kiara perlahan membuka kedua matanya dan benar saja jika lampu di sana ternyata sudah menyala terang seperti sedia kala.


"Tapi kalau masih mau memelukku, aku tidak keberatan." Kepala Arthur menunduk menatap Kiara yang juga mendongak melihat wajah Arthur.


"Sudah tidak." Kiara yang sadar langsung melepaskan tangannya yang melingkar pada pinggang Arthur.


"Aku kira gadis keras kepala seperti kamu tidak takut pada apapun, tapi ternyata hanya lampu mati saja sudah takut."


"Hal itu menyeramkan, Arthur. Apa lagi tadi suara gunturnya keras sekali."


"Kamu kalau takut seperti itu benar-benar menggemaskan, sampai tidak sadar juga kalau tadi bapak penjaga gerbang rumah memberitahu jika lampunya sudah dis nyalakan."


"Apa? Jadi, bapak penjaga gerbang rumahmu melihat kita berpelukan?"


"Tentu saja, bahkan semua CCTV di rumah ini melihat dan merekam adegan kamu sedang memelukku dengan erat."


Kiara langsung mengedarkan pandangannya melihat di setiap sudut ruangan itu, dan benar saja di pojokan langit-langit ada kameranya.


"Arthur, bagaimana ini? Kalau sampai mama kamu tahu dan Mega juga tau, mereka pasti bertanya padaku."


"Kamu tenang saja. Bukannya aku juga pemilik rumah ini, kamu tidak perlu khawatir karena aku yang akan mengatur hal itu."


"Kalau begitu aku kembali ke kamar saja." Kiara mengambil tekonya dan belajar agak cepat dari sana karena dia sebenarnya malu juga tadi malah berteriak memanggil nama Arthur, memeluknya juga.


"Dia memanggil namaku. Pasti dari tadi yang ada di dalam pikirannya itu aku." Arthur tersenyum sendiri.